![]() |
| sumber foto: pinterest |
Tentang karakter
yang di bangun sedari dini memang menjadi ujian tersendiri untuk setiap
orangtua. Tidak usah memaksakan sekolah
yang harus lebih banyak memahami, apalagi kurikulum sekolah jaman ini sudah di
ubah dengan system pendidikan karakter, walau saya pribadi masih belum percaya
dengan system yang sudah ada klaim dari sekolah tertentu. Karena sebagian
sekolah masihlah mengejar target.
Bukan bermaksud menyalahkan pihak sekolah,
namun, begitulah kenyataan di lapangan, apalagi bagi orangtua yang sudah sangat
memahami. Bahwasannya yang paling mengetahui tentang karakter anaknya adalah
orangtua dan bermula dari rumah saja.
Jadi apa
yang dimaksud dengan karakter? Menurut pusat bahasa Depdiknas, karakter adalah
bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, prilaku, personalitas, sifat,
tabiat, temperamen dan watak. Sedang berkarakter adalah berkepribadian,
berprilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak.
Faktor pembentuk
kepribadian seseorang sangatlah beragam, mulai dari genetic, lingkungan,
orangtua dan sosial. Sepanjang hidup, interaksi dengan orang lain juga
pengalamannya dalam menjalani hidup. Semuanya alamiah, memang terbentuk dari si
anak sendiri. Walau sedari kecil kebanyakan anak-anak memiliki karakter yang
hampir sama, tapi, pasti ada perbedaan yang terlihat karena setiap orang memang
tercipta dengan memiliki karakter yang berbeda-beda pula.
Banyak ahli
yang memiliki macam persepsi tentang penjabaran karakter setiap anak. Namun,
saya sedikit rangkum saja. Yaitu:
1. Anak-anak bersifat unik dan spontan.
Karena memang mereka tercipta dengan berbagai macam keunikan
yang harus kita maklumi dan diberi pengertian pada setiap yang dia lakukan akan
berdampak pada kehidupan mereka.
2. Ceroboh.
Berhubung mereka adalah anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuha dan
keinginan tahuannya yang tinggi, sehingga pastilah akana ada kecerobohan yang
terlihat, tapi, jangan patahkan semangaat mereka, sebab dengan dia mengetahui
bahwa setiap yang dilakukannya pasti akan ada akibat yang dia lakukan.
3. Aktif dan energik.
Sepertinya ini sudah menjadi sangat lumrah, kita pasti sering
mendengar komentar “anak-anak ini seperti tidak ada capeknya, padahal kita yang
melihatnya saja capek banget” namun, seperti itulah mereka. Maklumi saja, walau
sembari kita ingatkan bahwa dia membutuhkan istirahat.
4. Egois dan pemarah.
Anak usia dini sepertinya keras sekali jika mempertahankan
keinginannya. Pun, mudahnya mereka marah pada beberapa hal. Apalagi jika sedang
baru belajar pada sesuatu hal, jika di rasanya sulit biasanya pasti merasakan
kemarahan, jangan memaksanya, biarkan mereka dengan caranya, hingga dia memang
ingin berjuang dengan yang ingin ia ketahui itu.
5. Kemampuan mengingatnya pun terbatas.
Kebanyakan orangtua menginginkan anak mengingat terhadap apa yang
diperintahkan. Dan jika anak terlupa pastinya akan marah. Terutama dalam
merapikan mainan. Padahal menurut orang dewasa, pasti sudah memberi tahu
berulang kaali, namun anak pasti mengulang ‘kesalahan’ itu berulang kali. Padahal
jika orangtua sudah mamahami begitulah karakter anak-anak dan sebatas
kemampuannya itu.
Bagaimana cara
membangun karakter mereka? Dengan memberikan contoh dan mendisiplinkan mereka
itu sudah lebih bijak.
Semoga kita
dapat menumbuhkan karakter baik pada anak.























