Memaknai kehidupan

                                       

                                          picture: google

            Beberapa hari yang lalu menonton podcast the sungkar family, tentag cerita mereka di masa kecil dan segala tingkah polah mereka juga jungkir baliknya keluarga mereka menjalani kehidupan, dikarenakan mereka adalah anak artis yang sebagian besar dari kita semua pasti menilai, hidupnya selalu berada di atas, berkecukupan bahkan bisa bermewah-mewah, nyatanya, mereka juga melawati masa “gelap” dalam kehidupan mereka. Namun, bukan itu poin yang akan saya ungkapkan. Saya lebih focus pada pengalaman mereka berjuang dari nol lalu menjadi 100 lalu jungkir balik lagi ke angka 0 terus ke 100 kembali. Terutama kenangan yang diungkap oleh kia sebagai anak pertama.



            Kia melihat sendiri dan mengingat semua kenangan pahit yang dialami orngtuanya, dari diacuhkan ketika meminta bantuan ataupun di rendahkan oleh orang yang masih kategori keluarganya. Rasanya pasti sangat menyakitkan. Walau tidak bisa focus ke hal yang kurang enak aja ya… masih banyak kenangan yang membahagiakan bisa tercipta tanpa mengingat yang kurang enak untuk di kenang.

            Menciptakan rasa bahagia ketika mengingat masa kecil adalah hal yang sangat lumrah. Untuk mengingat kembali apa yang ada dalam pikiran kita  itu akan menjadi hal yang sangat membahagiakan. Jangan di tanya bagian mana yang membuat kita berkecil hati karena kenangan yang mengganggu, dankenangan semasa kecil sangatlah indah. Kita bisa bebas lepas, tanpa beban pikiran dan kehidupan. Memori apa saja yang bisa diingat ketika masa itu masih menari-nari di dalam pikiran kitaa.

1.     Memori bermain dengan teman seumuran.

Anak kelahiran tahun 90-an pasti tidak asing dengan main lompat tali, congklak, kain karet, perang-perangan, layang-layang, gobaak sodor dan banyak lagi. Bermain hingga dipanggil ibu untuk berhenti dan beistirahat. Sempat gak sih menjalani 1 permainan yang paling membuat terkenang? Kalau saya peribadi ada, mainin tanah liat yang bisa dibentuk menjadi bala tentara, di pakaikan baju dari kertas rokok yang sudah dimodifikasi menjadi pakaian-pakaian bala tentara itu, plus membentuk movil-mobil dan alat perangnya dengan biaya yang sangat minim pastinyaa, mengulik daya kreatifitas, mendaur ulang bahan-bahan yang sudah ada, tanah liat ini, jika di analogikan pada mainan anak sekarang itu adalah plastisin dan slime. Belum lagi, ketika main BP boneka kertas warna warni yang bajunya bisa diganti dengan hanya mencantolkan dari kerah baju kertas ke leher si boneka kertas. Dan bermain masak-masakan yang mendekati nyata. Misal: membuat mie dari daun kepompong yang sudah digulung lalu di potong-potong. Ah indahnya.

 

                                            picture: google

 2.     Memori semasa sekolah.

Belajar di sekolah, bermain dan bertengkar sudah menjadi bumbu keseharian di sekolah, jangan ditanya bagaimana menceritakannya. Dan poin yang akan saya tekankan adalah: ketika mengingat masa sekolah, ingat juga jasa guru-guru kita. Jangan abai dalam mengingat jasa mereka, sebab bisa jadi dengan kita mengingat dan berusaha untuk silaturrahim dengan mereka, hidup kita semakin baik dan lancar. 

picture: google

3.     Memori dengan orangtua. 

picture: pinterest

Kalau memori yang satu ini tidak bisa kita hilangnya yaa…, mana mungkin juga dihilangkan, dikarenakan banyak hal yang bisa kita aplikasikan ketika kita dewasa. Terlepas ada kenangaan manis ataupun kenangan pahit yang selalu melayang di alam bawah sadar kita, itu semua bisa di ambil pelajaran.

 

4.     Pahitnya kenangan menyakitkan.

Terkadang ada masanya dimana kita mengingat ada orang-orang yang berani merendahkan orangtua kita sendiri di depan anaknyaa. Dikarenakan si anak masih kecil, lalu orang bisa seenaknya saja mengataakan yang kurang baik. Padahal anak dapat memahami dan mungkin mengingatnya hingga ia dewasa, belum lagi berbagai macam cibiran yang dilakukaan orang dewasa (waktu itu). Sakit banget jika teringat masa tidak meyenangkan itu, memberanikan diri untuk mengungkaapkan rasaa “Dendam” itu sangatlah campur aduk rasanya, tidak berani menyampaikaan, namun tetanam dalam diri rasa kesalnya. Walau, lebih baik di ungkapkan saja ya.


                    picture: google

 5.     Efek yang berpengaruh terhadap masa dewasa.

Apapun kenyataan manis dan pahit yang sudah terlewati semasa kita kecil bisa menjadi cambuk luar biasa untuk kita agar selalu berlaku baik terhadap siapapun, ketika dewasa kita bisa lebih berhati-hati dalam bersikap dan selalu mempercayai, bahwa ada hukum “jungkir balik” dalam kehidupan, mungkin kita dulu berada di posisi di bawah, karena Allah anggap kita maampu bertahan dengan posisi tersebut dan lagi kita bisa berjuang menghadapi kenyataan, istilahnya jiwa kita siap dengan perjalanan kehidupan yang kita jaalani.

Kenangan manis kita juga bisa pertahankan untuk generasi kita selanjutnya juga menjadi bahan cerita ke anak cucu, dengan harapan mereka pun bisa mendapat pelajaran dan meneruskan kebaikan-kebaikan yang sudah tercipta.

                                        picture: pinterest

 

 

Rabby Radhiya.

Tanggul, 8 septermber 2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 komentar:

  1. saya generasi 80-an dan masih ingat benar sama permainan2 yang disebutkan diatas. seruuuuu. kenangan masa kecil yang indah sedikit banyak akan memerangruhi sikap kita di saat dewasa. menjadi orang yang emosiny stabil salah satu manfaatnya. pun kenangan yang pahit dapat membentuk karakter kita menjadi orang yang labil

    BalasHapus

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...