Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

 


Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti tidak ada habisnya berada pada ruang lingkup yang itu-itu melulu bahkan hingga beberapa tahun lamanya.
Bayangkan, berapa waktu jungkir baliknya pikiran dan hati yang selalu merasa heran dengan pola sama. Pasti akan menemukan rasa bosan dan heran dengan lika likunya yang tidak menemukan ujung. Setiap merasa mendapat jalan keluar malah munyer lagi ke arah sama seperti beberapa peristiwa silam.
Seringnya, sudah sangat paham pola hidup yang pasti akan berputar pada hal sama. Mungkin bisa sedikit mengurangi efek ketika berusaha tenang dan menerima meskipun belum juga menemukan penyelesaian. Tapi, sepertinya sudah menjadi jalan kehidupan yang sewajarnya. Lari dari permasalahan pasti akan menemukan problem yang ketika ditelisik mengerucut pada keadaan sama seperti semula.
Seiring waktu, ketika sudah menemukan muara yang memberikan ketenangan hati dan berserah dengan apapun yang terjadi dalam kehidupan. Bukan langsung meminta untuk diselesaikan setiap masalah yang mendatangi namun menerima dengan pengertian. Bahwa yang mendatangi memang sudah waktunya menghampiri, tapi sebagai manusia hanya bisa menerima sambil berkata "Oke. Jika begini maunya, tapi aku pasti dengan cara yang berbeda dalam menyikapinya. Terima kasih telah menghampiri."
Dan benarlah, pasrah adalah jalan keluar. Mengembalikan semua hal kepada Allah adalah cara yang paling mujarab. Sekalipun dengan perjalanan yang terkesan lebih rumit dan sulit untuk menerimanya. Tapi ketika hati sudah lebih tenang malah akan di datangkan penyelesaiannya dengan cara yang tak terduga.
Sadar gak sih, semua ini terjadi karena kebanyakan berfikir pada hal-hal yang tidak ada ujungnya. Tapi ketika di hadapkan dengan kedekatan kepada tuhan malah akan menjadi jalan keluar, minimal menenangkan hati ketika sudah semakin rungsing. Tapi kebanyakan kita tidak bisa menerima jika dihadapkan pada kalimat orang lain yang mejastifikasi karena berkurangnya waktu untuk ibadah.
Banyak orang yang perlu di beri support tanpa penghakiman. Menelusuri hati dengan berempati pada peristiwa yang sedang orang lain alami. Sekali lagi tanpa menghakimi. Sebagian kita masih sulit untuk tidak serta merta menahan untuk memberikan jalan keluar yang tidak diminta. Paling sulit adalah mendengarkan orang lain.
Permasalahan paling sulit di masa ini adalah mendengarkan orang lain. Biasanya pada gak sabar untuk memberikan masukan tanpa diminta, malah ditambahi dengan tuduhan-tuduhan yang membuat pemilik masalah menjadi semakin tersudut. Makanya banyak ahli psikologis yang mengatakan "masalah mental tidak serta merta karena kurangnya iman"
Tidak bisa langsung dibenarkan,  tapi tidak juga disalahkan. Harus bisa menilai dengan beberapa sisi agar mendapat jawaban yang pantas dan menenangkan hati. Karena luka psikologis itu memang sudah terbentuk sedari lama dan belum menemukan hal yang bisa menenangkan untuk mereka.
Ketika ia sudah diterima dengan segala problemanya. Menenangkan haatinya. Malah akan membuatnya semakin tenang. Walaupun ia berproses pastinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...