Tapi, ketika sadar dengan hal tersebut pasti akan mengambil sedikit pesan yang tersirat dari kejadian tersebut.
Seperti halnya saya yang kemarin hampir seharian mentengin timeline X untuk melihat perkembangan dan narasi serta bukti yang di "jembrengin" oleh fans tentang proses melamar Salma salsabil.
Banyak yang menyayangkan, bahkan termasuk saya. Tapi, setelah saya pikir-pikir soal cinta memang akan di buat buta oleh semua yang di katakan oleh orang lain. Bahkan hingga di titik gak akan bisa di kasi tau secara logika karena memang se buta itu.
Mengingatkan saya pada diri sendiri. Ketika memutuskan untuk menikah pada usia yang sangat muda. Banyak yang menyayangkan keputusan saya tersebut, tapi tidak saya gubris karena menurut saya mereka yang menyayangkan memang sedang iri dengan ritme kehidupan saya.
Semua terasa indah. Hingga kami memutuskan untuk pindah dan dekat dengan mertua. Allahu Akbar, ternyata kehidupan pernikahan yang real memang ketika dekat dengan keluarga. Ujian mulai menghampiri, bahkan hingga ingin untuk bercerai.
Kenapa kehidupan sangat terasa jungkir balik? Karena ketika kami merantau, semua bisa kami handle sendiri. Bahkan saya tidak akan bicara kepada siapapun tentang rumitnya masa perkenalan kami. Semua ekspektasi itu runtuh, tidak hanya saya. Tapi, juga pastinya suami merasakan hal yang sama.
Tapi, kami sadar dan semakin belajar. Bahwa kebersamaan tak seindah kalimat awal ketika hal² indah banyak di omongin oleh orang yang lebih berpengalaman.
Menikah itu indah. Tapi, ketika kita belum siap dengan berbagai macam Lika liku serta ilmu malah menjadi Boomerang tersendiri.
Menikah itu rumit. Tapi, ketika kita siap dalam berbagai macam goncangan dan ritmenya pasti kita akan melewati ombaknya.
Dengan semua hal yang saya lewati. Saya menjadi orang yang sangat menentang pernikahan muda untuk semua kalangan. Karena menikah bukanlah solusi atas kehidupan kita. Ada banyak hal yang seharusnya bisa di lakukan hingga merasa puas dengan berbagai pencapaian.
Setiap ada yang ingin menikah mau itu dalam usia yang terbilang matang pun. Saya selalu bertanya kepada mereka "sudah selesai dengan diri sendiri blm?" Atau "apa yang di pikirkan soal pernikahan, coba deh di jelaskan sesuai dengan pemahaman kamu". Dan jika jawaban mereka hanya menye² saya dengan sangat gamblang akan memarahi. Hahahhaa hmmmm sekalian saya takut²i juga sih.
Saya pukul rata, mau itu perempuan ataupun laki² pasti akan saya marahi jika alasannya tetaplah menye² saja.
Dan 1 hal yang bisa saya simpulkan. Kenapa ada orang yang berani mengambil keputusan besar untuk hidupnya. Ada peran orangtua yang tidak cukup di berikan kepada buah hatinya. Seperti saya yang dulu tidak bisa dekat dengan ayah. Dan tidak memiliki teman cerita. Susah percaya Dnegan orang lain, dan begitu mudahnya jatuh cinta hanya karena laki² bisa memberikan kenyamanan. Walau ada beberapa ikrar yang selalu di tekankan oleh orangtua saya dan kebanyakan laki² ogah memutuskan.
Namun, ketika ada yang berani mengambil keputusan besar tersebut.
Semuanya terbentuk sebagaimana keluarga dan orangtua membentuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar