Berdamai dengan Cara Kita

 

gambar: canva

Percaya gak sih bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menyelesaikan permasalahan dalam hidupnya? Jika ditanyakan sendri dalam hal begitu pasti kita akan menjawab pasti mempercayainya, sebab sebagian orang pasti banyak yang sudah paham kalau orang lain itu di ciptakan dengan masing-masing caranya dalam menyelesaikan apapun.

Ada yang ingin maju dan menganggap setiap yang terlewati menjadikan pecut tersendiri dalam episode kehidupannyaa. Ada jugaa yang ingin dengan jalan stagnan sambil mempelajari apa yang di lewatinya. Ada juga yang memakai cara mundur untuk maju.

Apakah itu salah? Tidak ada yang salah. Yang salah itu jika kita sebagai sesame manusia menyamaratakan apa yang dialami kita dengan yang dilewati orang lain. Kira-kira rasa empatimu sedang “jelongop” kemana? Cobalah belajar dari 2 belah pihak. Tanyakan padanya apa yang sudah dilewatinya? Bagaimana cara dia berjuang melewati hal pahit itu? Dan berhasil bangkit dri keerpurukan.

Jangan anggaap dirimu adalah yang paling benar.

Semua Berawal Disini (part 7)

sumber gambar: pinterest

“dek, pram mau di ajak ke rumah kita” pesan singkat dari bang dimas kepadaku.

“okey bang, nanti kalau sudah dirumah, aku bangunkan Sheila, dia baru saja tidur”

“iya dek”

1 jam berselang, akhirnya bang dimas dan pram pun sampai, tanpa babibu, aku langsung menyuruh mereka untuk makan, gak lama makaanan yang dibeli Sheila tadi sorepun habis di santap oleh mereka.

Sepertinya selera mkan mereka sama ataupun mereka sedang kelaperan.

Ketika aku pastikan mereka selesai dan membereskan sisa piring kotor, heila langung aku bangunkan.

“Sheila, ada bang dimas dan pram tuh diruang tamu”

Dia langsung kaget. Dan membenarkan jilbab yang dikenakannya.

Dan dia langsung ke kamar mani untuk mencuci wajahnyaa.

“Bang Dimas kok sama mas pram?”

“iya tadi mereka janjian untuk kesini”

“kamu kasi tau yaa…kaalau aku disini?”

“ya..aku kasi taaulah, mana tau permasalahan kalian bisa segera diredam”

“hmmmm, yaudah deh”

“aku tunggu di ruang tamu ya..” kataku singkat

Aku menunggunya sambil meembicarakan sesuatu hal dengan pram dan bang dimas, tidak ada pembicaraan yang sangat berarti ih, hanyaa membicaaraakaan tingkah polah anak-anak saja.

Tidak lama kemudian, datanglah Sheila.

Pram hanya menunduk

“ya…Allah, kok udah kayak mau ada aktivitas lamaraan sih” kataku sambil tertawa

“aku dah lama kayaknya merhatikaan wajaah Sheila din” kata pram

“mas pram gimana kabarnyaa? Kok gak pulang-pulang sih? Pulang pun Cuma buat ganti baju, selama ini mas tinggal dimana? Gak mau ya..ketemu sama aku?” cecar Sheila

“aku di rumah dicky La, aku gak enak pulang dan ketemu kamu”

“ya…Allah, padahal aku ngiraanyaa kamu punya wanita lain loh” timpak Sheila

“astaghfirullah!” serentak kami mengucapkaan kata itu

“semuanya salah aku sih, gak kasi kabar dan malah lari dari kamu, kita itu udah belasan tahun menikh La, masa aku tega ninggalin kamu dan nyari wanita lain, ya…enggak sepadanlah” kata pram

“Terus, kenapa mas menghindar dari aku? Apa karena penyakit yang di vonis dokter waktu itu?”

“enggak La, aku malah sedih dengan vonis dokter yang di tujukan ke kamu, makanya aku menghindar, karena aku pingin berpikir sebentar. Dan mikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaaikan hal itu kepada keluargaku, agar cecaran itu tidak sampaai laagi ke teelingamu La”

Sheila hanyaa terdiam. Aku dan bang dimas pun tidak bisa bicara, karena ini murni hanyaa antara mereeka saja, kami hanyaa sebagai penengah di antara mereka.

“setelah kamu di vonis ddokter dengan penyakit itu, kamu taau gak apa yang aaku lakukaan La? Aku bertemu lagi dengan dokter tersebut dan menceritakan keluh kesahku, murni karena aku ingin taau saja. Akhirnya dokter itu menyuruh aku ke dokter spesiali urologi untuk cek semua kesehatan spermaku, karena aku paham La, kita belum ddikaruniai anak, bukan hanya ada kesalahan rahimmu tapi juga pasti ada faktor dari aku”

“selama ini yang aku taau dan belajar dari oraang lain di kantor, yang sudah lebih dulu berumah tanggaa, aku menceritakan keluh kesahku, walau hanya kepada 1-2 orang saja yang aku anggaap bisa menyimpaan rahasia. Mereka memberiku saran untuk periksa La, itulah makanya aku beranikan untuk memerikasakan kesehatanku sesudah kamu periksa”

“hasilnyaa, ternyata aku mandul La. Pas di beri penjelasaan oleh dokter, rasanya dduniaku seperti runtuh La. Ternyata sebab tidak bisanya kita memiliki keturunan ada di aku jugaa. Jadi tidak bisa semua menyalahkaan kamu sepenuhnya. Tapi, jiwa kelaki-lakian aku seperti tidak lagi menapak, palah artinya aku ebagai laki-laki yang manduk. Aku takut kamu tidak bisa menerima kondisiku La. Makanya aku sampai pergi ke rumah Dicky, hanya untuk tidur, selebihnya aku gunakan di luar”

“kemarin aja, pas kebetulan aku berjumpa bang dimas. Pas aku baru saja terduduk di depan  kantornya. Aku dari berjaalan-jalan sendiri saja. Aku sudah buntu banget saat itu, aku bingung bagaimaana caaranyaa aaku haru menyampaikan haal ini padamu La, aku malu. Alhamdulillah, ya…Allah kasi kesempatan aku untuk menyampaikan haal penting ini”

“walau aku tau, kamu pasti sangat tersakiti dengan sikapku yang terkesan lari dari masalah”

“La maafkan aku ya, soal penyakitmu nanti kita obati bersama, aku sudah tau dari bang dimas, kalau kamu sudah cerita kepada dina soal sikapku dan kamu berkeinginan untuk cerai dari aku. Aku mewajarkan kok La kalau kamu sampai punya pemikiran seperti itu” pram mengeluarkan segala keluh kesahnya.

Sheila, aku, dan bang dimas hanya bisa menunduk dan menangis, terutama aku dan Sheila yang tidak habisnya mengeluarkan air mata.

Pelan tapi pasti Sheila langsung bersujud di kaki pram.

“aku minta maaf mas” hanya itu yang terulang-ulang dari lisannya.

Pram pun tak kuasa menahan tangis sambil mengangkat Sheila, mereka berpelukan dan saling meminta maaf.

Aku dan bang dimas hanya bisa berpegangan tangan, genggaman bang dimas kuat sekali. Aku paham dengan kata hati bang dimas yang sangat berkecamuk.

“aku minta maaaf ya.,,.mas, sudah berprasangka buruk sama kamu, padahal kamu juga sedang menderita. Gak apa-apa mas, kita jalani dunia ini berdua saja. Aku tidak apa-apa tanpa anak, asal mas pram selalu menemani aku” kata Sheila sambil terbata-bata

“aku malu La, apa yang bisa aku sampaikan pada keluargamu dan keluargaku” pram menimpali

“nanti kita haadapi sama-sama ya…mas, tidak ada masalah yang lengkap tanpa penyelesainnya. Kita tawaakkal aja pada Allah, insyaAllaah pasti akan ada jalan di depan sana”

Ah, sungguh indah Allah membuatku harus terus bersyukur dengan apapun yang berada di depan mataku sekarang.

-------- TAMAT---------

Semua Berawal Disini (part 6)

sumber gambar: pinterest

 “makan yok din, aku laper banget. Udah 4 hari aku gak berselera makan, aku inget, dulu kalau aku lagi ada masalah dan tidak berselera makan, pasti aku akan mengajakmu makan dan hanya melihatmu menyantap makanan yang ada di depanmu” kata Sheila

Benar banget, aku sampai heran kenapa Sheila senang sekali melihat caaraku makan. Katanyaa cara maakanku bisa membangkitkaan selera makannya.

“ayoklaah, kamu bawa apa aja emang?”

“kamu periksa sendiri dong”

Benar saja aku kaget, banyak banget yang dibelinya

“ini kamu pingin makan bareng atau mau hajatan La?”

“aku pingin makan yang banyak din, biar sehat kayak kamu, kali aja, kalau aku makan, jadi lebih bersemangat”

“okey siap”

Semua jenis makanan dibeli oleh Sheila, sampai aku bingung, bagaimana menghabiskan ini semua. Hingga aku punya ide untuk WA bang dimas

“bang, hari ini pulang jam berapa?”

“belum tau dek, taapi kayaknya sore, kenapa?”

“ini ada Sheila dirumah kita, dia bawa makanan banyak banget. Dina khawatir gak bisa menghabiskan kalau hanya kami yang makan, jadi pinginnya abang juga ikutan menghabiskan biar gaak mubzir aja sih bang”

“okey siap, nanti kan aabang bantu menghabikan heheh”

“kenapa sheila datang ke rumah dek?”

“gak tau, kangen ma anak-anak katanya, dan pingin makan bareng ma aku, gara-gara sudah 4 hari dia gak selera makan hhe”

“ooo gitu, o iya dek, abang tadi udah menghubungi pram, katanya: dia gak masalah kalau adek menyampaikan perihal dia kepada Sheila, itupun setelah abang ceritain ke dia bagaimanaa pemikiran Sheila terhadapnya”

“o Alhamdulillah, apa kita jumpakan mereka aja dirumah bang? Abang bisa permisi untuk pulang lebih cepat gak?”

“iya ya…, bentar abang coba izin dulu dan hubungi pram, mudah-mudahan dia mau ya, dan abangpun mendapatkan izin”

“iya bang, ditunggu kabar selanjutnya yaa..”

Sheila masih asik bermain dengan Aina dan Akash. kacamata hitam yang dipakainya tidak juga dia lepaskan sampai anak-anak memaksa utnuk melepas, ketika sudah dilepas, aku kaget setengah mati, ternyata matanya sembab seperti habis menangis lama sekali.

Pun matanya merah seperti orang kurang tidur.

“Aina Akash, tante Sheila main dengan ibu dulu ya… tante Sheila capek kayaknya belum istirahat tadi malam”

“iya bu”

Sheila mengikutiku ke ruang tamu

“ayolah, katanya mau makan bareng aku, malah asik main dengan anak-anak”

“kamu juga asik banget dengan hp, segitu kangennya dengan dimas?”

Kami tertawa bersama

Kami pun menyantap makanan yang telah dibeli oleh Sheila, rata-rata adalah makanan kesukaanku dan bang dimas, hanya 2 jenis makanan yang disukai oleh Sheila. Ah, Sheila memang selalu manis jika mengingat tentang kesukaan sahabatnya

“kamu gak bisa tidur tadi malam? Pram gak pulang lagi?” kataku memecah suasana

“iya din, aku kangen dengan Mas Pram, rumah kami sepi sekali, aku Cuma ditemani mbak lela, kadang-kadang aku suruh mbak lela nemeni aku tidur di kamar, sangking kesepiannya aku”

“sudah berapa lama sih pram bersikap begini dengan kamu?”

“ya,…kayak aku ceritakan sama kamu tadi malam din, sudah hampir sebulan”

“kamu ga ada keinginan untuk pisah dengan dia kan La?”

“kalau gak jelas begini ya..mending aku pisah aja din, dia gak jelas, jangan-jangan dia punya wanita lain di luar sana, aku kan gaak tau gimana dia kalau diluar”

“huss, jangan ngomong gitu ah, pasti dia punya alasan yang belum bisa dia ungkaapkan ke kamu La”

“ya..iya tapi apa? Dia itu kan tau aku lagi gak sehat, jiwa dan ragaku pula yang kurang sehat sekarang. Dia juga tau, bagaimana perasaanku yang dicecar dengan berbagai macam pertanyaan dari keluarganya, dan dia hanya diam seribu bahasa tanpa mau membelaku”

Aku hanya bisa terdiam, jika itu ada di posisiku, aku mungkin lebih jatuh daripada Sheila.

------ bersambung ------

Semua Berawal Disini (part 5)

 

sumber gambar: pinterest

“kasian banget mereka bang” kataku singkat, sangking terkejutnya sambil rasa kantukku seperti hilang ditelan bumi.

“iya dek, apa yang bisa kita bantu ya..”

Ternyata bang dimas pun peduli dengan hal itu. Memang temanku hanya 1 yang sering sekali berkomunikasi denganku, bahkan Sheila dan pram sangat sering membantu kami, terutama ketika salah satu dari anak-anak kami harus di rawat di rumah 1 tahun yang lalu, mereka langsung menawarkan diri untuk mengasuh akash, selagi aina berada di rumah sakit.

Banyak hal lain yang dibantu oleh mereka tidak hanya itu.

“padahal tadi Sheila baru saja WA aku bang, gara-gara pram sangat berbeda sebulan ini, sampai tidak pernah pulang, dia khawatir pram punya wanita lain di luar”

“sepenglihatan abang, pram bukan tipe laki-laki begitu sih dek” bang dimas menimpali

“iya bang, makanya tadi aku bilang ke Sheila, untuk tidak berprasangka buruk sama suaminya”

“terus kek mana ya…bang, apa pram ingin kondisinya sekarang kita beritahu ke Sheila ya?”

“nanti abang tanyaakan lagi pram ya…”

“terus, pram itu selama ini tidur dimana bang?”

“dirumah adiknya yang masih lajang dek, itupun dia tidak menyampaikan tentang kondisinya, karena dia malu”

“ya…Allah, segera abang tanyakan ya…biar Sheila juga tidak berandai-andai yang tidak jelas”

“insyaAllah, besok abang langung tanyakan, dan nyampaikan kondisi Sheila juga ya…”

“iya bang”

Tidak lama kemudian, bang dimas sudah lelap di sampingku. Kupandangi wajahnya yang teduh itu. Aang adalah suami terbaik, terima kasih sudah bekerja keras untuk kami ya.

Keesokan harinya

Handphoneku bordering, dan kulihat Sheila yang sedang menelponku.

“dina aku mau datang ke umahmu ya…aku kangen dengan Aina dan Akash”

“dengan senang hati”

Karena Sheila mau datang, perjalanan dia ke rumah kami bisa menghabiskan waktu selama 1,5 jam lamanya, belum lagi jika diwarnai dengan kemacetan, bisa sampai 2,5 jam di perjalanan. Jadi aku masih bisa membuatkannya makan dann cemilan-cemilan biar bisa menjamunya walau tipis tipis.

Tiba-tiba dia menelponku lagi

“din jangan siapin apapun ya…aku bawa makanan banyak banget untuk kalian”

Ah, sahabatku ini memang tidak pernah membuatku repot.

“okey siap!”

Aina dan Akash aku siapkan mereka agar wangi dan bersih.

Sampai mereka bertanya “bu, kita mau kemana?” hahaha

“nanti tante Sheila mau datang, jadi kalian haruss ganteng dan cantik” kataku menimpali mereka

“yeeeyy!! Ada tante Sheila” mereka girang

Tak membutuhkaan waktu lama untuk menunggunya, sepertinya jalanan tidak padat dan lancer jaya

“Assalamualaikuuuumm” kata Sheila di depan rumah”

“waalaikumsalaaaaam” jawab kembarku serentak

“iiiih, tante kangen banget sama kalian, ainda dan akash bagaimana kabarnya?””

“Alhamdulillah sehat tante, kami pun kangen banget dengan tanteee” seperti biasa Aina pasti yang paling semangat menjawab dengan suara kanak-kanaknya itu.

“liat tante bawain apa untuk kalian”

“waaaaa, ada dinosaurus dan boneka, pasti untuk aina dan akash ya…tante?”

“iya doooong, yang dino untuk akash, yang boneka untuk aina”

“waaaa, Alhamdulillah”

Sambil mereka lalu ke kamar tempat mainan mereka

Aku hanya memperhatikan Sheila yang memakai kacamata hitam yang tidak kunjung dibukanyaa ketika berbicara dengan kembarku

“hey, apa kabarmu kawan?” kata Sheila kepadaku yang sejak tadi terdiam

“Alhamdulillah sehaaat”

“kamu bawain mainan untuk anak-anak, untuk aku apa?, gembolannya banyak banget begitu, gak ada yang khusus untuk aku gitu?” cecarku

“ini semua untukmu din” katanya sambil menyodorkan beberapa gembolannya, kecuali tas warna biru yang tidak di sosorkannya padaku

“hahahha, Alhamdulillah”

“seneng kamu kan”

“iya dong”

------ bersambung -----

Semua Berawal Disini (part 4)

sumber gambar: Pinterest

“sheila kamu sudah tanyakan soal itu ke mas pram? Atau kalau kamu merasa tidak enak, mungkin bisa di obrolkan sambil ngapain gitu” kataku bukan untuk memanas-manasi, tapi ada kekhawatiran saja.

“belum sampai tahap itu sih din, Cuma aku khawatir saja, karena sejak kami memeriksakan soal kesehatan kami, mas pram jadi pendiam dan dingin sama aku, aku berpikir, mas pram kecewa dengan aku yang tak kunjung memberikan dia anak ditambah ternyata aku punya sakit” jawab Sheila cepat.

“tapi, aku coba cari tau dulu ya…din, aku takut tersakiti sih, taapi aku juga penasaran, kenapa mas pram jadi ssering tidur diluar” sambungnya laagi.

“coba kamu miinta petunjuk dengan Allah La, insyaAllah, nanti juga akan diberi jawaban melalui doa-doamu” kataku mengakhiri chat kami

“iya din, insyaAllah, terima kasih ya, sudah bersedia mendengarkan keluh kesahku”

“dengan senang hati Sheila, jangan sungkan lo ya…kalau mau cerita lagi sama aku, aku bersedia dengerin kok” kataku menutup percakapan malam itu.

 

 

Jam didinding rumah kami sudah menunjukkan pukul 22.30 wib, dan belum ada tanda Bang Dimas akan pulang ke rumah, akhirnya aku WA bang dimas

“abang jam berapa pulangnya, udah malam kali loh ini” tanyaaku ssingkat padat pada bang dimas

Bang dimas tidak langsung menjawab WA dariku, mungkin masih sangat serius menyelesaikan dokumen.

15 menit kemudian

Belum juga ada tanda-tanda bang dimas akan menjawab WA dariku, akhirnya aku panggil

“bang”

Masih juga krik..krik..krik tak dijawab

Akhirnya aku memberanikan diri untuk menelponnya, bang dimas adalah tipe orang yang langsung mengangkat telpon jika telponnya bordering.

“Assalamualaikum dek”

“waalaikumsalam bang”

“iya dek, kenapa? Udah malam kali ya..” Tanya bang dimas

“iya bang, kok lama kali abang garap dokumennya, apa belum selesai juga?”

“sebenarnya udah dek, dan abang pun sudah turun dari kantor, cuman tadi pas di depan kantor abang liat Pram, Pram suaminya Sheila dek” kata bang dimas.

“loh? kok tiba-tiba abang ketemu sama Pram?” tanyaku heran

“linglung dia dek, ini abang bawa ke café dekat kantor”

“yaudah, abang tenangin dia dulu ya..”

“insyaAllah dek”

Ah, pikiranku semakin berkecamuk. Ada apa dengan Sheila dan pram?

---------

2 jam kemudian

Bang dimas udah datang. Aku yang tidak bisa tidur karena memikirkan bang dimas dan pram jadi hanya diam aja di ruang depan.

“assalamualaikum” kata bang dimas

“waalaikumsalam, udah makan malaam bang?” tanyaaku

“udah, tadi bareng pram dek”

“o iya, yaudah, abang mau mandi dulu, ini dah dina siapin air anget” kataku sambil mengambil tas dan mengambil baju kotornya.

“iya dek, abang mandi aja dulu, dah gerah kali”

“okey bang, dina siapin baju abang ya”

Aku sambil menata tempat tidur kami dan mematikan beberapa lampu yang masih menyala, juga memeriksa kembali Aina dan Akash yang sedang tidur. Sepertinya aman sampai besok pagi, karena tadi semuanya sudah pipis lagi sejam yang lalu.

“dek, pram itu ternyata mandul” kata bang dimas begitu keluar dari kamar mandi kamar kami.

“hah? Ya..Allah” aku kaget banget

“katanya hampir sebulan ini dia gak ingin pulang ke rumahnya, dan gak mau bertemu dengan Sheila” sambung bang dimas.

“dia periksa atas kemauannya sendiri atau bagaimana bang?” tanyaku

“iya, karena memang keinginannya sendiri, karena dia kasian dengan Sheila yang di cecar habis-habisan sama keluarganya. Jadi mereka periksa, kata pram, Sheila pun ternyata ada masalah, makanya pram pun mengambil keputusan untuk memeriksakan, karena dia merasa gak adil jika semua ini ditanggung sendiri sama Sheila”

Aku terdiam, terpaku.

----bersambung---

Semua Berawal Disini (part 3)

sumber gambar: pinterest

 “aku dan mas pram sudah enggak saling cinta din, mana setelah beberapa tahun menikah ini, kami belum juga di karuniai anak” begitu pesan WA Sheila.

Ah, Sheila, betapa banyak pasangan diluar sana yang lebih lama kondisi rumah tangganya dengan segala problemanya juga belum dikaruniai buah hati. Apalagi dengan kondisi ekonomi yang tidak berlebih bahkan tidak cukup dan tergolong sangat kurang, sedang kalian adalah pasangan yang sangat sempurna, kau dan mas pram dari keluarga dan pekerjaan yang bisa menghasilkan lebih dari cukup setiap bulannya.

Begitu gerutuku ketika membaca WA dari Sheila.

“sudah kalian bicarakan belum sih” jawabku penasaran

“sudah Din, aku sudah omongin soal keinginanku untuk segera memiliki anak, tapi mas pram selalu saja menolak, ktanya ingin segera sukses dulu, jadi nanti menghidupi anak-anak tidak empot-empotan lagi” begitu jawab Sheila singkat

Padahal mereka adalah pasangan romantic versiku, yang hampir setiap bulan menghabiskan waktu bersama untuk jalan-jalan keluar kota hingga luar negri, yang bisa membeli papun yang diingini, tanpa memikirkan abis beli ini itu nanti bagaimana makan untuk esok hari

Aku adalah sosok yang paling sering mupeng dengan kemewahan mereka, apalagi ketika aku memutuskan untuk dirumah saja, tidak mengambil job lain, sejak kembarku lahir, sudah hampir 5 tahun lamanya aku hanya berkutat dirumah, paling ya…sekali-kali masih ttap nerjualan online walau bukan menjadi prioritasku sekarang, sebab kembarku sudah semakin besar, dan meminta lebih diperhatikan, jika tidak, pasti akan ada amukan massa yang tidak kunjung usai, sebelum diberikan es krim durian kesukaan mereka.

Rasanya ingin sekali aku mengatakan hal bahwa aku lebih sedih posisinya daripada Sheila. Tapi semua aku urungkan, begitu aku mengingat, bahwa setiap orang memiliki permasalahan yang cukup rumit menurut dirinya sendiri, dan mungkin bisa lebih ringan dibandingkan orang lain dalam menghadapinya.

Begitu aku sadar dengan lamunanku, aku tanyakan kembali apa maunya Sheila sebagai seorang perempuan, apakah perpisahan adalah salahsatu solusi yang sangat mentok dan tidak bisa mendapatkan solusi yang lainnya?

Sheila menjawab “aku sudah muak dengan pertanyaan “kapan pram akan memiliki anak Sheila?” dari keluarganyaa yang sering menyindirku din, mana mas pram juga tidak membelaku sama sekali, dia diam saja dengan pertanyaan orang lain yang sering menyudutkanku”

Aku hanya terdiam, karena aku mengingat, betapa keluarga bang dimas selalu memprrioritaskanku sebagai seorang menantu dan membelaku mati-matian jika ada keluarga lain yang mencoba untuk menjelek-jelekkanku. Benar ya…permaslahan orang lain ternyata lebih rumit daripada dugaan sendiri.

“kamu sudah nyoba untuk memeriksakan gak La? Apa kalian ada masalah dengan reproduksi ataupun hal-hal yang lainnya?” tanyaku kembali padanya. Hanya untuk memastikan saja sebenarnya.

“sudah din” jawab Sheila, ah, benar dugaanku, tidak mungkin sekelas Sheila tidak mampu memeriksakan hal tersebut terhadap ahli.

“terus apa kata dokter tentang kondisi kalian?”

“ya..ada sedikit permasalahan kesehatan aja din, dan itu bisa di obatain walau dengan kondisi yang cukup lama”jawab Sheila

“tapi, mas pram tidak peduli dengan apa yang aku rasakan din. Seharusnya kan ketika aku merasakan ini, dia bisa lebih peka dengan apa yang aku rasakan, minimal dia bisa memberikan dukungan yang lebih positif, bukan malah cuek dengan apa yang aku alami”

“malah mas pram jadi jarang pulang ke rumah kami din, aku tuh sampe bingung, sebenarnya ada apa dengan mas pram? Kenapa dia akhir-akhir ini jadi jaang sekali pulang”

“jangan jangan dia ada wanita lain di belakangku din?” sambung Sheila dengan cepat

“huss, gak boleh suudzan Sheila, istighfar”

“tapi……….”

---------- bersambung -----------

 

Semua Berawal Disini (part 2)

sumber gambar: Pinterest


 Dina menunggu hasil ketika Sheila untuk dikirimkan. Tapi ketikan itu tidak kunjung sampai hingga belasan menit berlalu, ia ingin bertanya pun segan, khwatir Sheila tidak bisa focus dalam mengetik. Akhirnya dina pun hanya menunggu sambil beselancar juga.

Dan, di menit ke 30 pun akhirnya pesan dari Sheila pun menunnjukkan notifikasinya. Dina langsung membuka pesan itu, sambil bergumam heran. Karena tidak biasa sekali sahabatnya bergelagat demikian.

“din, aku mau cerita”

Ternyata hanya itu hasil ketikan yang selama 30 menit ditunggu.

“iya, kamu mau cerita apa?” ketik dina

“tapi, aku malu”

“dih, kenapa pakai malu, kayak sama siapa aja cuy” sambung Dina semakin heran

“hmmmmm ”

“yaudah,aku tunggu sampe kamu benar-benar siap cuy” 

“aku ingin pisah dengan mas Pram, din” begitu kata Sheila singkat

Dina kaget bukan kepalang, tidak menyangka sahabatnya akan menyatakan hal yang sangat “tabu” itu.

Memang akhir-akhir ini, Sheila sering sekali mengeluhkan soal Pram (suaminya) kepadanya, tapi Dina tak habis pikir, Sheila akan memiliki keinginan untuk berpisah dengan Pram.

“kenapa La? Kok sampai punya pikiran begitu?” kata Dina mencoba memancing agar sahabatnya bisa menceritakan apa yang ada di benaknya, mana tahu bisa membantu segala gundahnya.

“emang masalah yang kemarin belum selesai juga? Kamu sudah bicara dengan Mas Pram belum? Sambung dina panjang lebar

“aku lelah dengan sikap mas pram din, dia gak pernah paham dengan semua keinginanku, di ajak bicarapun dia terlihat ogah-ogahan, padahal aku sudah pakai cara yang biasanya dia sukai loh” katik Sheila ssingkat.

Kenapa dina katakana singkat? Karena biasanya bisa lebih panjang dari itu.

“iya, aku paham apa yang kamu rasakan La” jawab Dina menimpali

Selagi menunggu Sheila mengetik, Dina menjadi bernostalgia tentang beberapa tahun silam.

Sheila memang sahabatnya sedari dia sekolah di SMA Panca Buana Kediri. Tidak ada yang Istimewa dengan pertemanan kami, hanya karena kami sebangku saja. Tapi, Sheila adalah anak yang popular di sekolah kami, karena kepawaiannya memainkan alat music. Jadilah tidak heran jika banyak yang menyukainya, selain parasnya juga cantik dan dari keluarga terpandang pula.

Berbeda jauh dengan Dina yang dari keluarga biasa-biasa saja, dan juga tidak memiliki prestasi apa-apa di sekolah. Tapi, Sheila sangat nyaman berteman  dengan Dina, karena menurutnya Dina tulus menemaninya.

Hingga mereka mnyelesaikan sekolah di SMA pun ternyata persahabatan mereka berlanjut hingga kuliah, walau mereka tidak berada di 1 Universitas yang sama, tapi, ternyata komunikasi mereka tetaplah terus tersambung.

Suatu hari Sheila berteriak pada Dina

“Din, mas Pram ingin menikahiku!!” teriaknya tepat di kala mereka sedang berada di salahsatu café dan kondisi di café tersebut pun ramai bukan main.

Sudah jelas terbayang, bagaimana ssikap orang-orang kepada kami.

“waaaah, selamaaaaattt La!” kata Dina setengah berteriak juga.

Mas Pram adalah salahsatu teman bang Andi. Abangnya Sheila nomer 2. Mas Pram ini jugaa sering bermain ke rumah Sheila untuk membantu Bang Andi mengerjakan tugas kuliah. Berhubung Mas Pram adalah orang yang tipenya sangat cair kepada semua orang, dan membuat keluarga Sheila pun senang dengan sikapnya yang cair juga sopan. Itu yang membuat orangtuanya pun setuju dengan rencana pernikahan mereka.

Sheila dan mas pram sudah menikah 5 tahun lebih dulu daripada Dina, walau sudah menikah Dina tetaplah menjadi teman curhat Sheila selama awal masa pernikahan mereka.

“ibuuuuuuuuuu” panggil Aina.

Aah, membuat Dina terkejut dan menyelesaikan lamunannya.

“ada apa nak?” Tanya Dina

“mau pipis” jawan Aina

Pikiran tentang Sheila dan Mas Pram pun langsung terputus,.

Ah, nanti setelah Aina tidur kembali akan aku liat kembali WA dari Sheila.

 ______Bersambung_______

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...