Semua Berawal Disini (part 7)

sumber gambar: pinterest

“dek, pram mau di ajak ke rumah kita” pesan singkat dari bang dimas kepadaku.

“okey bang, nanti kalau sudah dirumah, aku bangunkan Sheila, dia baru saja tidur”

“iya dek”

1 jam berselang, akhirnya bang dimas dan pram pun sampai, tanpa babibu, aku langsung menyuruh mereka untuk makan, gak lama makaanan yang dibeli Sheila tadi sorepun habis di santap oleh mereka.

Sepertinya selera mkan mereka sama ataupun mereka sedang kelaperan.

Ketika aku pastikan mereka selesai dan membereskan sisa piring kotor, heila langung aku bangunkan.

“Sheila, ada bang dimas dan pram tuh diruang tamu”

Dia langsung kaget. Dan membenarkan jilbab yang dikenakannya.

Dan dia langsung ke kamar mani untuk mencuci wajahnyaa.

“Bang Dimas kok sama mas pram?”

“iya tadi mereka janjian untuk kesini”

“kamu kasi tau yaa…kaalau aku disini?”

“ya..aku kasi taaulah, mana tau permasalahan kalian bisa segera diredam”

“hmmmm, yaudah deh”

“aku tunggu di ruang tamu ya..” kataku singkat

Aku menunggunya sambil meembicarakan sesuatu hal dengan pram dan bang dimas, tidak ada pembicaraan yang sangat berarti ih, hanyaa membicaaraakaan tingkah polah anak-anak saja.

Tidak lama kemudian, datanglah Sheila.

Pram hanya menunduk

“ya…Allah, kok udah kayak mau ada aktivitas lamaraan sih” kataku sambil tertawa

“aku dah lama kayaknya merhatikaan wajaah Sheila din” kata pram

“mas pram gimana kabarnyaa? Kok gak pulang-pulang sih? Pulang pun Cuma buat ganti baju, selama ini mas tinggal dimana? Gak mau ya..ketemu sama aku?” cecar Sheila

“aku di rumah dicky La, aku gak enak pulang dan ketemu kamu”

“ya…Allah, padahal aku ngiraanyaa kamu punya wanita lain loh” timpak Sheila

“astaghfirullah!” serentak kami mengucapkaan kata itu

“semuanya salah aku sih, gak kasi kabar dan malah lari dari kamu, kita itu udah belasan tahun menikh La, masa aku tega ninggalin kamu dan nyari wanita lain, ya…enggak sepadanlah” kata pram

“Terus, kenapa mas menghindar dari aku? Apa karena penyakit yang di vonis dokter waktu itu?”

“enggak La, aku malah sedih dengan vonis dokter yang di tujukan ke kamu, makanya aku menghindar, karena aku pingin berpikir sebentar. Dan mikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaaikan hal itu kepada keluargaku, agar cecaran itu tidak sampaai laagi ke teelingamu La”

Sheila hanyaa terdiam. Aku dan bang dimas pun tidak bisa bicara, karena ini murni hanyaa antara mereeka saja, kami hanyaa sebagai penengah di antara mereka.

“setelah kamu di vonis ddokter dengan penyakit itu, kamu taau gak apa yang aaku lakukaan La? Aku bertemu lagi dengan dokter tersebut dan menceritakan keluh kesahku, murni karena aku ingin taau saja. Akhirnya dokter itu menyuruh aku ke dokter spesiali urologi untuk cek semua kesehatan spermaku, karena aku paham La, kita belum ddikaruniai anak, bukan hanya ada kesalahan rahimmu tapi juga pasti ada faktor dari aku”

“selama ini yang aku taau dan belajar dari oraang lain di kantor, yang sudah lebih dulu berumah tanggaa, aku menceritakan keluh kesahku, walau hanya kepada 1-2 orang saja yang aku anggaap bisa menyimpaan rahasia. Mereka memberiku saran untuk periksa La, itulah makanya aku beranikan untuk memerikasakan kesehatanku sesudah kamu periksa”

“hasilnyaa, ternyata aku mandul La. Pas di beri penjelasaan oleh dokter, rasanya dduniaku seperti runtuh La. Ternyata sebab tidak bisanya kita memiliki keturunan ada di aku jugaa. Jadi tidak bisa semua menyalahkaan kamu sepenuhnya. Tapi, jiwa kelaki-lakian aku seperti tidak lagi menapak, palah artinya aku ebagai laki-laki yang manduk. Aku takut kamu tidak bisa menerima kondisiku La. Makanya aku sampai pergi ke rumah Dicky, hanya untuk tidur, selebihnya aku gunakan di luar”

“kemarin aja, pas kebetulan aku berjumpa bang dimas. Pas aku baru saja terduduk di depan  kantornya. Aku dari berjaalan-jalan sendiri saja. Aku sudah buntu banget saat itu, aku bingung bagaimaana caaranyaa aaku haru menyampaikan haal ini padamu La, aku malu. Alhamdulillah, ya…Allah kasi kesempatan aku untuk menyampaikan haal penting ini”

“walau aku tau, kamu pasti sangat tersakiti dengan sikapku yang terkesan lari dari masalah”

“La maafkan aku ya, soal penyakitmu nanti kita obati bersama, aku sudah tau dari bang dimas, kalau kamu sudah cerita kepada dina soal sikapku dan kamu berkeinginan untuk cerai dari aku. Aku mewajarkan kok La kalau kamu sampai punya pemikiran seperti itu” pram mengeluarkan segala keluh kesahnya.

Sheila, aku, dan bang dimas hanya bisa menunduk dan menangis, terutama aku dan Sheila yang tidak habisnya mengeluarkan air mata.

Pelan tapi pasti Sheila langsung bersujud di kaki pram.

“aku minta maaf mas” hanya itu yang terulang-ulang dari lisannya.

Pram pun tak kuasa menahan tangis sambil mengangkat Sheila, mereka berpelukan dan saling meminta maaf.

Aku dan bang dimas hanya bisa berpegangan tangan, genggaman bang dimas kuat sekali. Aku paham dengan kata hati bang dimas yang sangat berkecamuk.

“aku minta maaaf ya.,,.mas, sudah berprasangka buruk sama kamu, padahal kamu juga sedang menderita. Gak apa-apa mas, kita jalani dunia ini berdua saja. Aku tidak apa-apa tanpa anak, asal mas pram selalu menemani aku” kata Sheila sambil terbata-bata

“aku malu La, apa yang bisa aku sampaikan pada keluargamu dan keluargaku” pram menimpali

“nanti kita haadapi sama-sama ya…mas, tidak ada masalah yang lengkap tanpa penyelesainnya. Kita tawaakkal aja pada Allah, insyaAllaah pasti akan ada jalan di depan sana”

Ah, sungguh indah Allah membuatku harus terus bersyukur dengan apapun yang berada di depan mataku sekarang.

-------- TAMAT---------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...