Semua Berawal Disini (part 2)

sumber gambar: Pinterest


 Dina menunggu hasil ketika Sheila untuk dikirimkan. Tapi ketikan itu tidak kunjung sampai hingga belasan menit berlalu, ia ingin bertanya pun segan, khwatir Sheila tidak bisa focus dalam mengetik. Akhirnya dina pun hanya menunggu sambil beselancar juga.

Dan, di menit ke 30 pun akhirnya pesan dari Sheila pun menunnjukkan notifikasinya. Dina langsung membuka pesan itu, sambil bergumam heran. Karena tidak biasa sekali sahabatnya bergelagat demikian.

“din, aku mau cerita”

Ternyata hanya itu hasil ketikan yang selama 30 menit ditunggu.

“iya, kamu mau cerita apa?” ketik dina

“tapi, aku malu”

“dih, kenapa pakai malu, kayak sama siapa aja cuy” sambung Dina semakin heran

“hmmmmm ”

“yaudah,aku tunggu sampe kamu benar-benar siap cuy” 

“aku ingin pisah dengan mas Pram, din” begitu kata Sheila singkat

Dina kaget bukan kepalang, tidak menyangka sahabatnya akan menyatakan hal yang sangat “tabu” itu.

Memang akhir-akhir ini, Sheila sering sekali mengeluhkan soal Pram (suaminya) kepadanya, tapi Dina tak habis pikir, Sheila akan memiliki keinginan untuk berpisah dengan Pram.

“kenapa La? Kok sampai punya pikiran begitu?” kata Dina mencoba memancing agar sahabatnya bisa menceritakan apa yang ada di benaknya, mana tahu bisa membantu segala gundahnya.

“emang masalah yang kemarin belum selesai juga? Kamu sudah bicara dengan Mas Pram belum? Sambung dina panjang lebar

“aku lelah dengan sikap mas pram din, dia gak pernah paham dengan semua keinginanku, di ajak bicarapun dia terlihat ogah-ogahan, padahal aku sudah pakai cara yang biasanya dia sukai loh” katik Sheila ssingkat.

Kenapa dina katakana singkat? Karena biasanya bisa lebih panjang dari itu.

“iya, aku paham apa yang kamu rasakan La” jawab Dina menimpali

Selagi menunggu Sheila mengetik, Dina menjadi bernostalgia tentang beberapa tahun silam.

Sheila memang sahabatnya sedari dia sekolah di SMA Panca Buana Kediri. Tidak ada yang Istimewa dengan pertemanan kami, hanya karena kami sebangku saja. Tapi, Sheila adalah anak yang popular di sekolah kami, karena kepawaiannya memainkan alat music. Jadilah tidak heran jika banyak yang menyukainya, selain parasnya juga cantik dan dari keluarga terpandang pula.

Berbeda jauh dengan Dina yang dari keluarga biasa-biasa saja, dan juga tidak memiliki prestasi apa-apa di sekolah. Tapi, Sheila sangat nyaman berteman  dengan Dina, karena menurutnya Dina tulus menemaninya.

Hingga mereka mnyelesaikan sekolah di SMA pun ternyata persahabatan mereka berlanjut hingga kuliah, walau mereka tidak berada di 1 Universitas yang sama, tapi, ternyata komunikasi mereka tetaplah terus tersambung.

Suatu hari Sheila berteriak pada Dina

“Din, mas Pram ingin menikahiku!!” teriaknya tepat di kala mereka sedang berada di salahsatu café dan kondisi di café tersebut pun ramai bukan main.

Sudah jelas terbayang, bagaimana ssikap orang-orang kepada kami.

“waaaah, selamaaaaattt La!” kata Dina setengah berteriak juga.

Mas Pram adalah salahsatu teman bang Andi. Abangnya Sheila nomer 2. Mas Pram ini jugaa sering bermain ke rumah Sheila untuk membantu Bang Andi mengerjakan tugas kuliah. Berhubung Mas Pram adalah orang yang tipenya sangat cair kepada semua orang, dan membuat keluarga Sheila pun senang dengan sikapnya yang cair juga sopan. Itu yang membuat orangtuanya pun setuju dengan rencana pernikahan mereka.

Sheila dan mas pram sudah menikah 5 tahun lebih dulu daripada Dina, walau sudah menikah Dina tetaplah menjadi teman curhat Sheila selama awal masa pernikahan mereka.

“ibuuuuuuuuuu” panggil Aina.

Aah, membuat Dina terkejut dan menyelesaikan lamunannya.

“ada apa nak?” Tanya Dina

“mau pipis” jawan Aina

Pikiran tentang Sheila dan Mas Pram pun langsung terputus,.

Ah, nanti setelah Aina tidur kembali akan aku liat kembali WA dari Sheila.

 ______Bersambung_______

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...