| sumber gambar: Pinterest |
Dina menunggu hasil ketika Sheila untuk dikirimkan. Tapi ketikan itu tidak kunjung sampai hingga belasan menit berlalu, ia ingin bertanya pun segan, khwatir Sheila tidak bisa focus dalam mengetik. Akhirnya dina pun hanya menunggu sambil beselancar juga.
Dan, di
menit ke 30 pun akhirnya pesan dari Sheila pun menunnjukkan notifikasinya. Dina
langsung membuka pesan itu, sambil bergumam heran. Karena tidak biasa sekali
sahabatnya bergelagat demikian.
“din, aku
mau cerita”
Ternyata
hanya itu hasil ketikan yang selama 30 menit ditunggu.
“iya, kamu
mau cerita apa?” ketik dina
“tapi, aku
malu”
“dih, kenapa
pakai malu, kayak sama siapa aja cuy” sambung Dina semakin heran
“hmmmmm ”
“yaudah,aku
tunggu sampe kamu benar-benar siap cuy”
“aku ingin
pisah dengan mas Pram, din” begitu kata Sheila singkat
Dina kaget
bukan kepalang, tidak menyangka sahabatnya akan menyatakan hal yang sangat
“tabu” itu.
Memang
akhir-akhir ini, Sheila sering sekali mengeluhkan soal Pram (suaminya)
kepadanya, tapi Dina tak habis pikir, Sheila akan memiliki keinginan untuk
berpisah dengan Pram.
“kenapa La?
Kok sampai punya pikiran begitu?” kata Dina mencoba memancing agar sahabatnya
bisa menceritakan apa yang ada di benaknya, mana tahu bisa membantu segala
gundahnya.
“emang
masalah yang kemarin belum selesai juga? Kamu sudah bicara dengan Mas Pram
belum? Sambung dina panjang lebar
“aku lelah
dengan sikap mas pram din, dia gak pernah paham dengan semua keinginanku, di
ajak bicarapun dia terlihat ogah-ogahan, padahal aku sudah pakai cara yang biasanya
dia sukai loh” katik Sheila ssingkat.
Kenapa dina
katakana singkat? Karena biasanya bisa lebih panjang dari itu.
“iya, aku
paham apa yang kamu rasakan La” jawab Dina menimpali
Selagi
menunggu Sheila mengetik, Dina menjadi bernostalgia tentang beberapa tahun
silam.
Sheila
memang sahabatnya sedari dia sekolah di SMA Panca Buana Kediri. Tidak ada yang
Istimewa dengan pertemanan kami, hanya karena kami sebangku saja. Tapi, Sheila
adalah anak yang popular di sekolah kami, karena kepawaiannya memainkan alat
music. Jadilah tidak heran jika banyak yang menyukainya, selain parasnya juga
cantik dan dari keluarga terpandang pula.
Berbeda jauh
dengan Dina yang dari keluarga biasa-biasa saja, dan juga tidak memiliki
prestasi apa-apa di sekolah. Tapi, Sheila sangat nyaman berteman dengan Dina, karena menurutnya Dina tulus
menemaninya.
Hingga
mereka mnyelesaikan sekolah di SMA pun ternyata persahabatan mereka berlanjut
hingga kuliah, walau mereka tidak berada di 1 Universitas yang sama, tapi,
ternyata komunikasi mereka tetaplah terus tersambung.
Suatu hari
Sheila berteriak pada Dina
“Din, mas Pram
ingin menikahiku!!” teriaknya tepat di kala mereka sedang berada di salahsatu
café dan kondisi di café tersebut pun ramai bukan main.
Sudah jelas
terbayang, bagaimana ssikap orang-orang kepada kami.
“waaaah,
selamaaaaattt La!” kata Dina setengah berteriak juga.
Mas Pram
adalah salahsatu teman bang Andi. Abangnya Sheila nomer 2. Mas Pram ini jugaa
sering bermain ke rumah Sheila untuk membantu Bang Andi mengerjakan tugas kuliah.
Berhubung Mas Pram adalah orang yang tipenya sangat cair kepada semua orang,
dan membuat keluarga Sheila pun senang dengan sikapnya yang cair juga sopan. Itu
yang membuat orangtuanya pun setuju dengan rencana pernikahan mereka.
Sheila dan mas
pram sudah menikah 5 tahun lebih dulu daripada Dina, walau sudah menikah Dina
tetaplah menjadi teman curhat Sheila selama awal masa pernikahan mereka.
“ibuuuuuuuuuu”
panggil Aina.
Aah, membuat
Dina terkejut dan menyelesaikan lamunannya.
“ada apa
nak?” Tanya Dina
“mau pipis”
jawan Aina
Pikiran tentang
Sheila dan Mas Pram pun langsung terputus,.
Ah, nanti
setelah Aina tidur kembali akan aku liat kembali WA dari Sheila.
______Bersambung_______
Tidak ada komentar:
Posting Komentar