| sumber gambar: Pinterest |
“sheila kamu sudah tanyakan soal itu ke mas pram? Atau kalau kamu merasa tidak enak, mungkin bisa di obrolkan sambil ngapain gitu” kataku bukan untuk memanas-manasi, tapi ada kekhawatiran saja.
“belum
sampai tahap itu sih din, Cuma aku khawatir saja, karena sejak kami
memeriksakan soal kesehatan kami, mas pram jadi pendiam dan dingin sama aku,
aku berpikir, mas pram kecewa dengan aku yang tak kunjung memberikan dia anak
ditambah ternyata aku punya sakit” jawab Sheila cepat.
“tapi, aku
coba cari tau dulu ya…din, aku takut tersakiti sih, taapi aku juga penasaran,
kenapa mas pram jadi ssering tidur diluar” sambungnya laagi.
“coba kamu
miinta petunjuk dengan Allah La, insyaAllah, nanti juga akan diberi jawaban
melalui doa-doamu” kataku mengakhiri chat kami
“iya din,
insyaAllah, terima kasih ya, sudah bersedia mendengarkan keluh kesahku”
“dengan senang hati Sheila, jangan sungkan lo ya…kalau mau
cerita lagi sama aku, aku bersedia dengerin kok” kataku menutup percakapan
malam itu.
Jam didinding rumah kami sudah menunjukkan pukul 22.30 wib,
dan belum ada tanda Bang Dimas akan pulang ke rumah, akhirnya aku WA bang dimas
“abang jam berapa pulangnya, udah malam kali loh ini”
tanyaaku ssingkat padat pada bang dimas
Bang dimas tidak langsung menjawab WA dariku, mungkin masih
sangat serius menyelesaikan dokumen.
15 menit kemudian
Belum juga ada tanda-tanda bang dimas akan menjawab WA
dariku, akhirnya aku panggil
“bang”
Masih juga krik..krik..krik tak dijawab
Akhirnya aku memberanikan diri untuk menelponnya, bang dimas
adalah tipe orang yang langsung mengangkat telpon jika telponnya bordering.
“Assalamualaikum dek”
“waalaikumsalam bang”
“iya dek, kenapa? Udah malam kali ya..” Tanya bang dimas
“iya bang, kok lama kali abang garap dokumennya, apa belum
selesai juga?”
“sebenarnya udah dek, dan abang pun sudah turun dari kantor,
cuman tadi pas di depan kantor abang liat Pram, Pram suaminya Sheila dek” kata
bang dimas.
“loh? kok tiba-tiba abang ketemu sama Pram?” tanyaku heran
“linglung dia dek, ini abang bawa ke café dekat kantor”
“yaudah, abang tenangin dia dulu ya..”
“insyaAllah dek”
Ah, pikiranku semakin berkecamuk. Ada apa dengan Sheila dan
pram?
---------
2 jam kemudian
Bang dimas udah datang. Aku yang tidak bisa tidur karena
memikirkan bang dimas dan pram jadi hanya diam aja di ruang depan.
“assalamualaikum” kata bang dimas
“waalaikumsalam, udah makan malaam bang?” tanyaaku
“udah, tadi bareng pram dek”
“o iya, yaudah, abang mau mandi dulu, ini dah dina siapin air
anget” kataku sambil mengambil tas dan mengambil baju kotornya.
“iya dek, abang mandi aja dulu, dah gerah kali”
“okey bang, dina siapin baju abang ya”
Aku sambil menata tempat tidur kami dan mematikan beberapa
lampu yang masih menyala, juga memeriksa kembali Aina dan Akash yang sedang
tidur. Sepertinya aman sampai besok pagi, karena tadi semuanya sudah pipis lagi
sejam yang lalu.
“dek, pram itu ternyata mandul” kata bang dimas begitu keluar
dari kamar mandi kamar kami.
“hah? Ya..Allah” aku kaget banget
“katanya hampir sebulan ini dia gak ingin pulang ke rumahnya,
dan gak mau bertemu dengan Sheila” sambung bang dimas.
“dia periksa atas kemauannya sendiri atau bagaimana bang?”
tanyaku
“iya, karena memang keinginannya sendiri, karena dia kasian
dengan Sheila yang di cecar habis-habisan sama keluarganya. Jadi mereka
periksa, kata pram, Sheila pun ternyata ada masalah, makanya pram pun mengambil
keputusan untuk memeriksakan, karena dia merasa gak adil jika semua ini
ditanggung sendiri sama Sheila”
Aku terdiam, terpaku.
----bersambung---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar