| sumber gambar: pinterest |
“makan yok din, aku laper banget. Udah 4 hari aku gak berselera makan, aku inget, dulu kalau aku lagi ada masalah dan tidak berselera makan, pasti aku akan mengajakmu makan dan hanya melihatmu menyantap makanan yang ada di depanmu” kata Sheila
Benar banget,
aku sampai heran kenapa Sheila senang sekali melihat caaraku makan. Katanyaa cara
maakanku bisa membangkitkaan selera makannya.
“ayoklaah,
kamu bawa apa aja emang?”
“kamu
periksa sendiri dong”
Benar saja
aku kaget, banyak banget yang dibelinya
“ini kamu
pingin makan bareng atau mau hajatan La?”
“aku pingin
makan yang banyak din, biar sehat kayak kamu, kali aja, kalau aku makan, jadi
lebih bersemangat”
“okey siap”
Semua jenis
makanan dibeli oleh Sheila, sampai aku bingung, bagaimana menghabiskan ini
semua. Hingga aku punya ide untuk WA bang dimas
“bang, hari
ini pulang jam berapa?”
“belum tau
dek, taapi kayaknya sore, kenapa?”
“ini ada Sheila
dirumah kita, dia bawa makanan banyak banget. Dina khawatir gak bisa
menghabiskan kalau hanya kami yang makan, jadi pinginnya abang juga ikutan
menghabiskan biar gaak mubzir aja sih bang”
“okey siap,
nanti kan aabang bantu menghabikan heheh”
“kenapa sheila
datang ke rumah dek?”
“gak tau,
kangen ma anak-anak katanya, dan pingin makan bareng ma aku, gara-gara sudah 4
hari dia gak selera makan hhe”
“ooo gitu, o
iya dek, abang tadi udah menghubungi pram, katanya: dia gak masalah kalau adek
menyampaikan perihal dia kepada Sheila, itupun setelah abang ceritain ke dia
bagaimanaa pemikiran Sheila terhadapnya”
“o Alhamdulillah,
apa kita jumpakan mereka aja dirumah bang? Abang bisa permisi untuk pulang
lebih cepat gak?”
“iya ya…,
bentar abang coba izin dulu dan hubungi pram, mudah-mudahan dia mau ya, dan
abangpun mendapatkan izin”
“iya bang,
ditunggu kabar selanjutnya yaa..”
Sheila masih
asik bermain dengan Aina dan Akash. kacamata hitam yang dipakainya tidak juga
dia lepaskan sampai anak-anak memaksa utnuk melepas, ketika sudah dilepas, aku
kaget setengah mati, ternyata matanya sembab seperti habis menangis lama
sekali.
Pun matanya
merah seperti orang kurang tidur.
“Aina Akash,
tante Sheila main dengan ibu dulu ya… tante Sheila capek kayaknya belum
istirahat tadi malam”
“iya bu”
Sheila mengikutiku
ke ruang tamu
“ayolah,
katanya mau makan bareng aku, malah asik main dengan anak-anak”
“kamu juga
asik banget dengan hp, segitu kangennya dengan dimas?”
Kami tertawa
bersama
Kami pun
menyantap makanan yang telah dibeli oleh Sheila, rata-rata adalah makanan
kesukaanku dan bang dimas, hanya 2 jenis makanan yang disukai oleh Sheila. Ah, Sheila
memang selalu manis jika mengingat tentang kesukaan sahabatnya
“kamu gak
bisa tidur tadi malam? Pram gak pulang lagi?” kataku memecah suasana
“iya din,
aku kangen dengan Mas Pram, rumah kami sepi sekali, aku Cuma ditemani mbak lela,
kadang-kadang aku suruh mbak lela nemeni aku tidur di kamar, sangking
kesepiannya aku”
“sudah
berapa lama sih pram bersikap begini dengan kamu?”
“ya,…kayak
aku ceritakan sama kamu tadi malam din, sudah hampir sebulan”
“kamu ga ada
keinginan untuk pisah dengan dia kan La?”
“kalau gak
jelas begini ya..mending aku pisah aja din, dia gak jelas, jangan-jangan dia
punya wanita lain di luar sana, aku kan gaak tau gimana dia kalau diluar”
“huss,
jangan ngomong gitu ah, pasti dia punya alasan yang belum bisa dia ungkaapkan
ke kamu La”
“ya..iya tapi
apa? Dia itu kan tau aku lagi gak sehat, jiwa dan ragaku pula yang kurang sehat
sekarang. Dia juga tau, bagaimana perasaanku yang dicecar dengan berbagai macam
pertanyaan dari keluarganya, dan dia hanya diam seribu bahasa tanpa mau
membelaku”
Aku hanya
bisa terdiam, jika itu ada di posisiku, aku mungkin lebih jatuh daripada Sheila.
------
bersambung ------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar