Semua Berawal Disini (part 6)

sumber gambar: pinterest

 “makan yok din, aku laper banget. Udah 4 hari aku gak berselera makan, aku inget, dulu kalau aku lagi ada masalah dan tidak berselera makan, pasti aku akan mengajakmu makan dan hanya melihatmu menyantap makanan yang ada di depanmu” kata Sheila

Benar banget, aku sampai heran kenapa Sheila senang sekali melihat caaraku makan. Katanyaa cara maakanku bisa membangkitkaan selera makannya.

“ayoklaah, kamu bawa apa aja emang?”

“kamu periksa sendiri dong”

Benar saja aku kaget, banyak banget yang dibelinya

“ini kamu pingin makan bareng atau mau hajatan La?”

“aku pingin makan yang banyak din, biar sehat kayak kamu, kali aja, kalau aku makan, jadi lebih bersemangat”

“okey siap”

Semua jenis makanan dibeli oleh Sheila, sampai aku bingung, bagaimana menghabiskan ini semua. Hingga aku punya ide untuk WA bang dimas

“bang, hari ini pulang jam berapa?”

“belum tau dek, taapi kayaknya sore, kenapa?”

“ini ada Sheila dirumah kita, dia bawa makanan banyak banget. Dina khawatir gak bisa menghabiskan kalau hanya kami yang makan, jadi pinginnya abang juga ikutan menghabiskan biar gaak mubzir aja sih bang”

“okey siap, nanti kan aabang bantu menghabikan heheh”

“kenapa sheila datang ke rumah dek?”

“gak tau, kangen ma anak-anak katanya, dan pingin makan bareng ma aku, gara-gara sudah 4 hari dia gak selera makan hhe”

“ooo gitu, o iya dek, abang tadi udah menghubungi pram, katanya: dia gak masalah kalau adek menyampaikan perihal dia kepada Sheila, itupun setelah abang ceritain ke dia bagaimanaa pemikiran Sheila terhadapnya”

“o Alhamdulillah, apa kita jumpakan mereka aja dirumah bang? Abang bisa permisi untuk pulang lebih cepat gak?”

“iya ya…, bentar abang coba izin dulu dan hubungi pram, mudah-mudahan dia mau ya, dan abangpun mendapatkan izin”

“iya bang, ditunggu kabar selanjutnya yaa..”

Sheila masih asik bermain dengan Aina dan Akash. kacamata hitam yang dipakainya tidak juga dia lepaskan sampai anak-anak memaksa utnuk melepas, ketika sudah dilepas, aku kaget setengah mati, ternyata matanya sembab seperti habis menangis lama sekali.

Pun matanya merah seperti orang kurang tidur.

“Aina Akash, tante Sheila main dengan ibu dulu ya… tante Sheila capek kayaknya belum istirahat tadi malam”

“iya bu”

Sheila mengikutiku ke ruang tamu

“ayolah, katanya mau makan bareng aku, malah asik main dengan anak-anak”

“kamu juga asik banget dengan hp, segitu kangennya dengan dimas?”

Kami tertawa bersama

Kami pun menyantap makanan yang telah dibeli oleh Sheila, rata-rata adalah makanan kesukaanku dan bang dimas, hanya 2 jenis makanan yang disukai oleh Sheila. Ah, Sheila memang selalu manis jika mengingat tentang kesukaan sahabatnya

“kamu gak bisa tidur tadi malam? Pram gak pulang lagi?” kataku memecah suasana

“iya din, aku kangen dengan Mas Pram, rumah kami sepi sekali, aku Cuma ditemani mbak lela, kadang-kadang aku suruh mbak lela nemeni aku tidur di kamar, sangking kesepiannya aku”

“sudah berapa lama sih pram bersikap begini dengan kamu?”

“ya,…kayak aku ceritakan sama kamu tadi malam din, sudah hampir sebulan”

“kamu ga ada keinginan untuk pisah dengan dia kan La?”

“kalau gak jelas begini ya..mending aku pisah aja din, dia gak jelas, jangan-jangan dia punya wanita lain di luar sana, aku kan gaak tau gimana dia kalau diluar”

“huss, jangan ngomong gitu ah, pasti dia punya alasan yang belum bisa dia ungkaapkan ke kamu La”

“ya..iya tapi apa? Dia itu kan tau aku lagi gak sehat, jiwa dan ragaku pula yang kurang sehat sekarang. Dia juga tau, bagaimana perasaanku yang dicecar dengan berbagai macam pertanyaan dari keluarganya, dan dia hanya diam seribu bahasa tanpa mau membelaku”

Aku hanya bisa terdiam, jika itu ada di posisiku, aku mungkin lebih jatuh daripada Sheila.

------ bersambung ------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...