| sumber gambar: pinterest |
“aku dan mas pram sudah enggak saling cinta din, mana setelah beberapa tahun menikah ini, kami belum juga di karuniai anak” begitu pesan WA Sheila.
Ah, Sheila,
betapa banyak pasangan diluar sana yang lebih lama kondisi rumah tangganya
dengan segala problemanya juga belum dikaruniai buah hati. Apalagi dengan
kondisi ekonomi yang tidak berlebih bahkan tidak cukup dan tergolong sangat
kurang, sedang kalian adalah pasangan yang sangat sempurna, kau dan mas pram
dari keluarga dan pekerjaan yang bisa menghasilkan lebih dari cukup setiap
bulannya.
Begitu
gerutuku ketika membaca WA dari Sheila.
“sudah
kalian bicarakan belum sih” jawabku penasaran
“sudah Din,
aku sudah omongin soal keinginanku untuk segera memiliki anak, tapi mas pram
selalu saja menolak, ktanya ingin segera sukses dulu, jadi nanti menghidupi
anak-anak tidak empot-empotan lagi” begitu jawab Sheila singkat
Padahal mereka
adalah pasangan romantic versiku, yang hampir setiap bulan menghabiskan waktu
bersama untuk jalan-jalan keluar kota hingga luar negri, yang bisa membeli
papun yang diingini, tanpa memikirkan abis beli ini itu nanti bagaimana makan
untuk esok hari
Aku adalah
sosok yang paling sering mupeng dengan kemewahan mereka, apalagi ketika aku
memutuskan untuk dirumah saja, tidak mengambil job lain, sejak kembarku lahir,
sudah hampir 5 tahun lamanya aku hanya berkutat dirumah, paling ya…sekali-kali
masih ttap nerjualan online walau bukan menjadi prioritasku sekarang, sebab
kembarku sudah semakin besar, dan meminta lebih diperhatikan, jika tidak, pasti
akan ada amukan massa yang tidak kunjung usai, sebelum diberikan es krim durian
kesukaan mereka.
Rasanya ingin
sekali aku mengatakan hal bahwa aku lebih sedih posisinya daripada Sheila. Tapi
semua aku urungkan, begitu aku mengingat, bahwa setiap orang memiliki
permasalahan yang cukup rumit menurut dirinya sendiri, dan mungkin bisa lebih
ringan dibandingkan orang lain dalam menghadapinya.
Begitu aku
sadar dengan lamunanku, aku tanyakan kembali apa maunya Sheila sebagai seorang
perempuan, apakah perpisahan adalah salahsatu solusi yang sangat mentok dan
tidak bisa mendapatkan solusi yang lainnya?
Sheila menjawab
“aku sudah muak dengan pertanyaan “kapan pram akan memiliki anak Sheila?” dari
keluarganyaa yang sering menyindirku din, mana mas pram juga tidak membelaku
sama sekali, dia diam saja dengan pertanyaan orang lain yang sering
menyudutkanku”
Aku hanya
terdiam, karena aku mengingat, betapa keluarga bang dimas selalu
memprrioritaskanku sebagai seorang menantu dan membelaku mati-matian jika ada
keluarga lain yang mencoba untuk menjelek-jelekkanku. Benar ya…permaslahan
orang lain ternyata lebih rumit daripada dugaan sendiri.
“kamu sudah
nyoba untuk memeriksakan gak La? Apa kalian ada masalah dengan reproduksi
ataupun hal-hal yang lainnya?” tanyaku kembali padanya. Hanya untuk memastikan
saja sebenarnya.
“sudah din”
jawab Sheila, ah, benar dugaanku, tidak mungkin sekelas Sheila tidak mampu
memeriksakan hal tersebut terhadap ahli.
“terus apa
kata dokter tentang kondisi kalian?”
“ya..ada
sedikit permasalahan kesehatan aja din, dan itu bisa di obatain walau dengan
kondisi yang cukup lama”jawab Sheila
“tapi, mas
pram tidak peduli dengan apa yang aku rasakan din. Seharusnya kan ketika aku
merasakan ini, dia bisa lebih peka dengan apa yang aku rasakan, minimal dia
bisa memberikan dukungan yang lebih positif, bukan malah cuek dengan apa yang
aku alami”
“malah mas
pram jadi jarang pulang ke rumah kami din, aku tuh sampe bingung, sebenarnya
ada apa dengan mas pram? Kenapa dia akhir-akhir ini jadi jaang sekali pulang”
“jangan
jangan dia ada wanita lain di belakangku din?” sambung Sheila dengan cepat
“huss, gak
boleh suudzan Sheila, istighfar”
“tapi……….”
----------
bersambung -----------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar