Semua Berawal Disini (part 3)

sumber gambar: pinterest

 “aku dan mas pram sudah enggak saling cinta din, mana setelah beberapa tahun menikah ini, kami belum juga di karuniai anak” begitu pesan WA Sheila.

Ah, Sheila, betapa banyak pasangan diluar sana yang lebih lama kondisi rumah tangganya dengan segala problemanya juga belum dikaruniai buah hati. Apalagi dengan kondisi ekonomi yang tidak berlebih bahkan tidak cukup dan tergolong sangat kurang, sedang kalian adalah pasangan yang sangat sempurna, kau dan mas pram dari keluarga dan pekerjaan yang bisa menghasilkan lebih dari cukup setiap bulannya.

Begitu gerutuku ketika membaca WA dari Sheila.

“sudah kalian bicarakan belum sih” jawabku penasaran

“sudah Din, aku sudah omongin soal keinginanku untuk segera memiliki anak, tapi mas pram selalu saja menolak, ktanya ingin segera sukses dulu, jadi nanti menghidupi anak-anak tidak empot-empotan lagi” begitu jawab Sheila singkat

Padahal mereka adalah pasangan romantic versiku, yang hampir setiap bulan menghabiskan waktu bersama untuk jalan-jalan keluar kota hingga luar negri, yang bisa membeli papun yang diingini, tanpa memikirkan abis beli ini itu nanti bagaimana makan untuk esok hari

Aku adalah sosok yang paling sering mupeng dengan kemewahan mereka, apalagi ketika aku memutuskan untuk dirumah saja, tidak mengambil job lain, sejak kembarku lahir, sudah hampir 5 tahun lamanya aku hanya berkutat dirumah, paling ya…sekali-kali masih ttap nerjualan online walau bukan menjadi prioritasku sekarang, sebab kembarku sudah semakin besar, dan meminta lebih diperhatikan, jika tidak, pasti akan ada amukan massa yang tidak kunjung usai, sebelum diberikan es krim durian kesukaan mereka.

Rasanya ingin sekali aku mengatakan hal bahwa aku lebih sedih posisinya daripada Sheila. Tapi semua aku urungkan, begitu aku mengingat, bahwa setiap orang memiliki permasalahan yang cukup rumit menurut dirinya sendiri, dan mungkin bisa lebih ringan dibandingkan orang lain dalam menghadapinya.

Begitu aku sadar dengan lamunanku, aku tanyakan kembali apa maunya Sheila sebagai seorang perempuan, apakah perpisahan adalah salahsatu solusi yang sangat mentok dan tidak bisa mendapatkan solusi yang lainnya?

Sheila menjawab “aku sudah muak dengan pertanyaan “kapan pram akan memiliki anak Sheila?” dari keluarganyaa yang sering menyindirku din, mana mas pram juga tidak membelaku sama sekali, dia diam saja dengan pertanyaan orang lain yang sering menyudutkanku”

Aku hanya terdiam, karena aku mengingat, betapa keluarga bang dimas selalu memprrioritaskanku sebagai seorang menantu dan membelaku mati-matian jika ada keluarga lain yang mencoba untuk menjelek-jelekkanku. Benar ya…permaslahan orang lain ternyata lebih rumit daripada dugaan sendiri.

“kamu sudah nyoba untuk memeriksakan gak La? Apa kalian ada masalah dengan reproduksi ataupun hal-hal yang lainnya?” tanyaku kembali padanya. Hanya untuk memastikan saja sebenarnya.

“sudah din” jawab Sheila, ah, benar dugaanku, tidak mungkin sekelas Sheila tidak mampu memeriksakan hal tersebut terhadap ahli.

“terus apa kata dokter tentang kondisi kalian?”

“ya..ada sedikit permasalahan kesehatan aja din, dan itu bisa di obatain walau dengan kondisi yang cukup lama”jawab Sheila

“tapi, mas pram tidak peduli dengan apa yang aku rasakan din. Seharusnya kan ketika aku merasakan ini, dia bisa lebih peka dengan apa yang aku rasakan, minimal dia bisa memberikan dukungan yang lebih positif, bukan malah cuek dengan apa yang aku alami”

“malah mas pram jadi jarang pulang ke rumah kami din, aku tuh sampe bingung, sebenarnya ada apa dengan mas pram? Kenapa dia akhir-akhir ini jadi jaang sekali pulang”

“jangan jangan dia ada wanita lain di belakangku din?” sambung Sheila dengan cepat

“huss, gak boleh suudzan Sheila, istighfar”

“tapi……….”

---------- bersambung -----------

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...