Semua Berawal Disini (part 5)

 

sumber gambar: pinterest

“kasian banget mereka bang” kataku singkat, sangking terkejutnya sambil rasa kantukku seperti hilang ditelan bumi.

“iya dek, apa yang bisa kita bantu ya..”

Ternyata bang dimas pun peduli dengan hal itu. Memang temanku hanya 1 yang sering sekali berkomunikasi denganku, bahkan Sheila dan pram sangat sering membantu kami, terutama ketika salah satu dari anak-anak kami harus di rawat di rumah 1 tahun yang lalu, mereka langsung menawarkan diri untuk mengasuh akash, selagi aina berada di rumah sakit.

Banyak hal lain yang dibantu oleh mereka tidak hanya itu.

“padahal tadi Sheila baru saja WA aku bang, gara-gara pram sangat berbeda sebulan ini, sampai tidak pernah pulang, dia khawatir pram punya wanita lain di luar”

“sepenglihatan abang, pram bukan tipe laki-laki begitu sih dek” bang dimas menimpali

“iya bang, makanya tadi aku bilang ke Sheila, untuk tidak berprasangka buruk sama suaminya”

“terus kek mana ya…bang, apa pram ingin kondisinya sekarang kita beritahu ke Sheila ya?”

“nanti abang tanyaakan lagi pram ya…”

“terus, pram itu selama ini tidur dimana bang?”

“dirumah adiknya yang masih lajang dek, itupun dia tidak menyampaikan tentang kondisinya, karena dia malu”

“ya…Allah, segera abang tanyakan ya…biar Sheila juga tidak berandai-andai yang tidak jelas”

“insyaAllah, besok abang langung tanyakan, dan nyampaikan kondisi Sheila juga ya…”

“iya bang”

Tidak lama kemudian, bang dimas sudah lelap di sampingku. Kupandangi wajahnya yang teduh itu. Aang adalah suami terbaik, terima kasih sudah bekerja keras untuk kami ya.

Keesokan harinya

Handphoneku bordering, dan kulihat Sheila yang sedang menelponku.

“dina aku mau datang ke umahmu ya…aku kangen dengan Aina dan Akash”

“dengan senang hati”

Karena Sheila mau datang, perjalanan dia ke rumah kami bisa menghabiskan waktu selama 1,5 jam lamanya, belum lagi jika diwarnai dengan kemacetan, bisa sampai 2,5 jam di perjalanan. Jadi aku masih bisa membuatkannya makan dann cemilan-cemilan biar bisa menjamunya walau tipis tipis.

Tiba-tiba dia menelponku lagi

“din jangan siapin apapun ya…aku bawa makanan banyak banget untuk kalian”

Ah, sahabatku ini memang tidak pernah membuatku repot.

“okey siap!”

Aina dan Akash aku siapkan mereka agar wangi dan bersih.

Sampai mereka bertanya “bu, kita mau kemana?” hahaha

“nanti tante Sheila mau datang, jadi kalian haruss ganteng dan cantik” kataku menimpali mereka

“yeeeyy!! Ada tante Sheila” mereka girang

Tak membutuhkaan waktu lama untuk menunggunya, sepertinya jalanan tidak padat dan lancer jaya

“Assalamualaikuuuumm” kata Sheila di depan rumah”

“waalaikumsalaaaaam” jawab kembarku serentak

“iiiih, tante kangen banget sama kalian, ainda dan akash bagaimana kabarnya?””

“Alhamdulillah sehat tante, kami pun kangen banget dengan tanteee” seperti biasa Aina pasti yang paling semangat menjawab dengan suara kanak-kanaknya itu.

“liat tante bawain apa untuk kalian”

“waaaaa, ada dinosaurus dan boneka, pasti untuk aina dan akash ya…tante?”

“iya doooong, yang dino untuk akash, yang boneka untuk aina”

“waaaa, Alhamdulillah”

Sambil mereka lalu ke kamar tempat mainan mereka

Aku hanya memperhatikan Sheila yang memakai kacamata hitam yang tidak kunjung dibukanyaa ketika berbicara dengan kembarku

“hey, apa kabarmu kawan?” kata Sheila kepadaku yang sejak tadi terdiam

“Alhamdulillah sehaaat”

“kamu bawain mainan untuk anak-anak, untuk aku apa?, gembolannya banyak banget begitu, gak ada yang khusus untuk aku gitu?” cecarku

“ini semua untukmu din” katanya sambil menyodorkan beberapa gembolannya, kecuali tas warna biru yang tidak di sosorkannya padaku

“hahahha, Alhamdulillah”

“seneng kamu kan”

“iya dong”

------ bersambung -----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...