 |
| sumber gambar: pinterest |
“dek, pram
mau di ajak ke rumah kita” pesan singkat dari bang dimas kepadaku.
“okey bang,
nanti kalau sudah dirumah, aku bangunkan Sheila, dia baru saja tidur”
“iya dek”
1 jam
berselang, akhirnya bang dimas dan pram pun sampai, tanpa babibu, aku langsung
menyuruh mereka untuk makan, gak lama makaanan yang dibeli Sheila tadi sorepun
habis di santap oleh mereka.
Sepertinya selera
mkan mereka sama ataupun mereka sedang kelaperan.
Ketika aku
pastikan mereka selesai dan membereskan sisa piring kotor, heila langung aku
bangunkan.
“Sheila, ada
bang dimas dan pram tuh diruang tamu”
Dia langsung
kaget. Dan membenarkan jilbab yang dikenakannya.
Dan dia
langsung ke kamar mani untuk mencuci wajahnyaa.
“Bang Dimas
kok sama mas pram?”
“iya tadi
mereka janjian untuk kesini”
“kamu kasi
tau yaa…kaalau aku disini?”
“ya..aku
kasi taaulah, mana tau permasalahan kalian bisa segera diredam”
“hmmmm,
yaudah deh”
“aku tunggu
di ruang tamu ya..” kataku singkat
Aku menunggunya
sambil meembicarakan sesuatu hal dengan pram dan bang dimas, tidak ada
pembicaraan yang sangat berarti ih, hanyaa membicaaraakaan tingkah polah
anak-anak saja.
Tidak lama
kemudian, datanglah Sheila.
Pram hanya
menunduk
“ya…Allah,
kok udah kayak mau ada aktivitas lamaraan sih” kataku sambil tertawa
“aku dah
lama kayaknya merhatikaan wajaah Sheila din” kata pram
“mas pram gimana
kabarnyaa? Kok gak pulang-pulang sih? Pulang pun Cuma buat ganti baju, selama
ini mas tinggal dimana? Gak mau ya..ketemu sama aku?” cecar Sheila
“aku di
rumah dicky La, aku gak enak pulang dan ketemu kamu”
“ya…Allah,
padahal aku ngiraanyaa kamu punya wanita lain loh” timpak Sheila
“astaghfirullah!”
serentak kami mengucapkaan kata itu
“semuanya
salah aku sih, gak kasi kabar dan malah lari dari kamu, kita itu udah belasan
tahun menikh La, masa aku tega ninggalin kamu dan nyari wanita lain, ya…enggak
sepadanlah” kata pram
“Terus,
kenapa mas menghindar dari aku? Apa karena penyakit yang di vonis dokter waktu
itu?”
“enggak La,
aku malah sedih dengan vonis dokter yang di tujukan ke kamu, makanya aku
menghindar, karena aku pingin berpikir sebentar. Dan mikirkan bagaimana cara yang
tepat untuk menyampaaikan hal itu kepada keluargaku, agar cecaran itu tidak
sampaai laagi ke teelingamu La”
Sheila hanyaa
terdiam. Aku dan bang dimas pun tidak bisa bicara, karena ini murni hanyaa
antara mereeka saja, kami hanyaa sebagai penengah di antara mereka.
“setelah
kamu di vonis ddokter dengan penyakit itu, kamu taau gak apa yang aaku lakukaan
La? Aku bertemu lagi dengan dokter tersebut dan menceritakan keluh kesahku,
murni karena aku ingin taau saja. Akhirnya dokter itu menyuruh aku ke dokter
spesiali urologi untuk cek semua kesehatan spermaku, karena aku paham La, kita
belum ddikaruniai anak, bukan hanya ada kesalahan rahimmu tapi juga pasti ada
faktor dari aku”
“selama ini
yang aku taau dan belajar dari oraang lain di kantor, yang sudah lebih dulu
berumah tanggaa, aku menceritakan keluh kesahku, walau hanya kepada 1-2 orang
saja yang aku anggaap bisa menyimpaan rahasia. Mereka memberiku saran untuk
periksa La, itulah makanya aku beranikan untuk memerikasakan kesehatanku
sesudah kamu periksa”
“hasilnyaa,
ternyata aku mandul La. Pas di beri penjelasaan oleh dokter, rasanya dduniaku
seperti runtuh La. Ternyata sebab tidak bisanya kita memiliki keturunan ada di
aku jugaa. Jadi tidak bisa semua menyalahkaan kamu sepenuhnya. Tapi, jiwa
kelaki-lakian aku seperti tidak lagi menapak, palah artinya aku ebagai
laki-laki yang manduk. Aku takut kamu tidak bisa menerima kondisiku La. Makanya
aku sampai pergi ke rumah Dicky, hanya untuk tidur, selebihnya aku gunakan di
luar”
“kemarin
aja, pas kebetulan aku berjumpa bang dimas. Pas aku baru saja terduduk di
depan kantornya. Aku dari
berjaalan-jalan sendiri saja. Aku sudah buntu banget saat itu, aku bingung
bagaimaana caaranyaa aaku haru menyampaikan haal ini padamu La, aku malu. Alhamdulillah,
ya…Allah kasi kesempatan aku untuk menyampaikan haal penting ini”
“walau aku
tau, kamu pasti sangat tersakiti dengan sikapku yang terkesan lari dari masalah”
“La maafkan
aku ya, soal penyakitmu nanti kita obati bersama, aku sudah tau dari bang
dimas, kalau kamu sudah cerita kepada dina soal sikapku dan kamu berkeinginan
untuk cerai dari aku. Aku mewajarkan kok La kalau kamu sampai punya pemikiran
seperti itu” pram mengeluarkan segala keluh kesahnya.
Sheila, aku,
dan bang dimas hanya bisa menunduk dan menangis, terutama aku dan Sheila yang
tidak habisnya mengeluarkan air mata.
Pelan tapi
pasti Sheila langsung bersujud di kaki pram.
“aku minta
maaf mas” hanya itu yang terulang-ulang dari lisannya.
Pram pun tak
kuasa menahan tangis sambil mengangkat Sheila, mereka berpelukan dan saling
meminta maaf.
Aku dan bang
dimas hanya bisa berpegangan tangan, genggaman bang dimas kuat sekali. Aku paham
dengan kata hati bang dimas yang sangat berkecamuk.
“aku minta
maaaf ya.,,.mas, sudah berprasangka buruk sama kamu, padahal kamu juga sedang
menderita. Gak apa-apa mas, kita jalani dunia ini berdua saja. Aku tidak
apa-apa tanpa anak, asal mas pram selalu menemani aku” kata Sheila sambil
terbata-bata
“aku malu
La, apa yang bisa aku sampaikan pada keluargamu dan keluargaku” pram menimpali
“nanti kita
haadapi sama-sama ya…mas, tidak ada masalah yang lengkap tanpa penyelesainnya. Kita
tawaakkal aja pada Allah, insyaAllaah pasti akan ada jalan di depan sana”
Ah, sungguh
indah Allah membuatku harus terus bersyukur dengan apapun yang berada di depan
mataku sekarang.
--------
TAMAT---------