Biografi Seorang PJ One Day One Post

 

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Bermula dri cita-cita ingin menjadi motivator handal dan menyukai dunia puisi yang sempat di tentang oleh ibunya. Seorang Prinstiani Aprilia terjun ke dunia tulis menulis. Menyalurkan segala ide yang sudah lama terpendam karena bingung menyalurkannya seperti apa.

Hingga di pertemukan dengan Jihan Mawaddah yang sering membagi pengalmannya sebagai member dari ODOP. Akhirnya beliau menggeluti dunia menulis dengan terjun pada 2 komunitas menulis, membaca buku serta menuliskan ulasan buku tersebut.

Kak Pristiana yang sekarang menjabat menjadi salahsatu PJ di Grup Oprec ini selalu mencoba untuk konsisten menulis, semua orang dengan kesibukan masing-masing pasti selalu menginginkan cita-citanya tercapai. Menyibukkan diri pada dunia organisasi sembari sesekali menulis adalah aktifitas yang masih selalu di geluti.

Ketika saya menanyakan bagaimana beliau mendapatkan ide menulis? Jawaban beliau nonton ataupun membaca buku tapi,membaca adalah hal  yang sering beliau lakukan, maka dari itu beliau mengikuti program “One week One Book” saya rasa juga cukup banget. Apalagi saya sendiri juga memnag sangat jarang membaca buku, padahal membaca adalah pondasi untuk seorang penulis.

Poin terpenting yang saya dapatkan adalah bergabung dengan komunitas adalah kunci dalam mempertahankan bakat yang sudah lama terpendam karena butuhnya kita menjalin interaksi dengan orang lain. Tanpa membandingkan dengan pencapaian orang lain ya..

Yang penting kita bergerak untuk menjadi lebih baik setiap harinya.

Bercerita Untuk Kesekian Kali.

Sumber: Pinterest

Kali ini mau ngomongin tentng pengalaman beberapahari lalau. Ketika mengikuti keluarga melakukan sembelih Qurban pada salahsatu tempat tinggal keluarga besar dari mbah kung dari pihak Suami. Di salah satu pedesaan pada daerah Pasuruan. Tidak terlalu menjorok ke dalam tapi memang nuansa pedesaannya sangat terasa.

o..iya saya bukan bermaksud untuk mendeskriditkan orang yang berada di desa. Karena saya akui sekali bahwa orang pedesaaan pun memiliki banyak hal yang belum tentu saya miliki. Bukan hanya soal harta tapi juga asset hidup yang mereka punya. Walau untuk berQurban kebanyakan mungkin belummenyadari akan hal ini.

Sebab, saya pun belum ada kesnggupan ke arah yang sama. Yaps, berQurban untuk diri sendiri karena terbatasnya pendapatan pribadi haha.semoga tahun depan kami sekeluarg bisa memenuhi keinginan dalam berQurban tahun ini. Mudah-mudahan berQurban sapi sampe 5 ekor. Bwohohohoho. Ya…Namanya bermimpi msa iya sttengah-setengah.

Kembali ke pedesaan di daerah Pasuruan ya… saya ikut serta ketika membagikan daging dan menghitung jumlah yang haru di bagikan. Di samping seorang ibu-ibu yang bolak balik ngeliatin tulang kaki sapi yang sedang di potong-potong oleh seorang bapak petugas panitia Qurban.

Karena terlihat gelisah, saya berinisiatif untuk menanyakan sebab gelisahnya “kenapa bu?”

“anu nduk, aku mau minta tulang”

“bilang aja bu”

“aku mau yang banyak sumsumnya”

“yang mana? Ini ta?” tanya saya sambil memberikan bebeapa pilihan yang sesuai dengan selera beliau.

“bukan, yang itu” beliau menunjuk Tulang yang mendekati dengkul sapi, entah apa istilahnya.

“ini bu” saya menyerahkan sambil mengambilkan plastic.

Tau gak sih? Memang yang di dapatkan beliau adalah tulang yang isi sumsumnya banyak dan segar banget. Beliau sumringah luar biasa. Kesenengan banget sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. Bolak balik melihat tulang itu sambil terus mengusap-usap plastiknya. Hangat sekali di hati ini.

Saya yang hanya menyaksikan tanpa berQurban saja merasakan Bahagia yang tiada tara, apalagi jika berkesempatan untuk berQurban ya…

“seneng banget bu?”

“iya nduk, abis ini aku mau buat bakso. Udh lama gak makan bakso soale”

Sumber: Pinterest

Aaaaahhh, mau merebes mili tapi kok ya,..malu banget.

Yang menurut saya adalah hal sepele ternyata bisa sangat berarti untuk orang lain. Inilah bentuk nyata kenapa kita di anjurkan untuk berbagi dengan apa yang menurt kita paling berharga. Karena ada hak orang lain di dalam harta yang telah Allah titipkan.

Toh, bersedekh juga nyatanya bukan hanya membahagiakan orang yang kita beri. Tapi ternyata sangat membahagiakan kita sebagai pemberi. Senyum yang di ciptakan dari tulusnya penerima adalah energi kebahagian yang dalam. Tidak dapat di ganti dengan apapun.

Apalagi jika kita sedang sedih. Banyak-banyaklah berbagi hal yang bermanfaat. Bahkan yang nilainya kecil sekalipun. Karena kecil menurut kita, bisa jadi sangat berarti untuk mereka. Bahagiakan orang lain jika kitaingin berbahagia.

Semua Pengalaman Dan Kemajuan Kehidupan Orang Lain, Patut Untuk Di Pelajari.

Sumber: Pribadi

Judul beberapa bulan yang lalu saya menonton podcast “titik kumpul” yang snagat terkenang di hati. Sebenarnya sudah menjadi rutinitas saya mendengarkan podcast tersebut apalagi ketika sedang beraktifitas pada beberapa spot rumah. Tidak tau maksudnya apa, sekarang seperti harus selalu berteman jika melakukan beberapa hal.

Namun, kegiatan kemarin serasa lebih istimewa terlebih ketika sambil mendengarkan Praz Teguh menceritakan pengalamannya selama umroh bersama dengan istrinya. Di tambah antusiasnya Abdur, Mamat dan Bang Arie ketika mendengarkannya.

Bermula dari perjalanannya ke Turky terlebih dahulu dengan maksud agar lebih fokus dalam menjalankan ibadah nantinya. Dan setiap pengalamannya yang membuat saya semakin senang mendengarkannya juga ada rasa tercengang. ketika beliau berusaha untuk menyingkirkan godaan hawa nafsu untuk meminum minuman keras adalah hal yang patut mendapatkan apresiasi lebih, kesadaran dan tanpa tuntutan dari siapapun, akhirnya beliau berhasil menahan.

Saya memang tergolong yang selalu kagum dengan setiap progress beliau dalam menjalankan kehidupan, dari yang bukan siapa-siapa plus menjalani setiap step kehidupannya dengan cara yang menurut saya sangat baik, apalagi dari cara beliau memilih ruang lingkup pertemanan dan mungkin menyesuaikan dengan hati nuraninya.

Selalu ada kalimat “Ibunya dulu mendo’akan seperti apa ya…hingga anaknya dewasa pun tetap bisa memberikan hal kebaikan sambil mengatas namakan beliau untuk pembangunan masjid dari hasil stand up yang berjudul “Ibu”. Belum lagi, cara Ibunya tetap ikhlas walau anaknya tidak sesuai dengan keinginannya” dan saya termasuk yang sangat kagum dengan perjuangan Ibu n Ayahnya untuk tetap membesarkan hati anaknya. Terlepas dengan apapun yang sudah di lewati oleh mereka. Belum lagi cara Praz treat adek-adeknya seperti teman akrab yang bahkan dia bisa menceritakan banyak hal kepada adiknya” Tidak semua orang beruntung soal itu. Karena banyak sekali yang tidak bisa menceritkan beratnya masalah yang dia jalani terutama kepada keluarganya. Ah apapun itu, banyak hal yang bisa ambil pelajarannya.

Kembali ke pembahasan podcast titik kumpul dalam episode menceritakan pengalaman Praz dalam perjalanan umrohnya. Setelah pejalanan di Turki Praz dan Ai Istrinya bertolak ke Madinah. Dan disinilah semua bemula. Dia benar-benar ibadah, walau harus berhadapan juga dengan Ebel (kalian harus nonton secra langsung tentang cerita ini) disini.

Nah, begitulah bukti pertemanan Praz, Ketika mendengarkan ceritnya itu saya saja terbawa emosi, karena saya tidak bisa sesabar itu dlam menghadapi orang lain, cuman disini seperti membuktikan bahwa Praz emang seorang pengayom dan memiliki kesabaran yang cukup baik.

Dan yang semakin membuat saya kagum adalah ketika dia dengan leluasa berbicara “mungkin karena aku terbiasa dengan dunia podcast ya.. jadi aku santai aja ketika harus bertanya banyak hal kepada pembimbing umrohku waku itu karena aku sadar kalau aku gak paham, alhamdulillah ustadznya sabar menjelaskan apa yang aku tanyakan itu, soalnya aku kan betul-betul gak tau”. Semua hal pasti akan berefk pada kehidupan sebab itulah Allah memberikn sebuah jalan takdir yang tidak pernah kita sangka-sangka, begitu kurang lebih perasaan saya ketika mendengar beliau bercerita.

Ketika Praz meenceritakan tentang pengalamannya itu terutama ketika shalat di Masjid Nabawi dan hanya membayangkan wajah ibunya dia bisa menangis tersedu-sedu, juga sambil melakukan taubat dan menyadari kekeliruan jalan hidup yang selama ini di jalaninya, membuat saya semakin yakin bahwa Allah tak pernah pilih kasih dalam menyayangi hambaNya. Praz yang memiliki ikrar tak main-main dalam hidupnya agar di bombing oleh Allah supaya nantinya dia menjlani hari-hari sebagai orang yang taat dalam ibadah.

Dan puncak “Bahagia” yang saya rasakan adalah ketika dengan gambling, dia menceritakan seputar perjalanannya ketika berada di Makkah. Awal-awal dia rasa biasa saja, takjub luar biasa karena menyadari ternyata selama ini, inilah tujuan sebuah kiblat. Jika di runut sebenarnya setiap orang pasti akan punya cerita yang berbeda-beda, tapi untuk orang yang tipe seperti praz pasti memiliki “rasa” yang berbeda pula.

Ketika awal menjalani prosesi Thawaf dia biasa-biasa saja, namun ketika menuju akhir Thawaf barulah tangisan tak terbendung, ngalir begitu saja dan ketika mendengar cerita dengan seksama malah semakin rindu dengan melakukan ibadah disana.

Saya dulu termasuk orang yang tidak memiliki ketertarikan melakukan umroh atupun haji karena sadar diri tidak memiliki dana yang memadai, apalagi semakin sadar bahwa jika ingin melakukan hal itu pastilah membutuhkan dana yang begitu besar. Namun, ktika sadar bahwa melakukaan ibadh umroh taupun haaji adalah panggilan Allah yang bisa membuatnya semakin yakin untuk berangkat. Ketika kita memohon dan memantaskan diri untuk di panggil kesana pastilah Allah akan memberikan jalan yang entah seperti apa caranya nanti. Allah yang memiliki kehendak, kita hanya meminta dan menjalani takdir yang ada.

Agar Stresmu Tak Menjadi Boomerang, Validasi Emosimu Gengs.

Sumber: Pinterest

Kali ini runutan yang mungkin tidak akan kalian baca hingga habis. Sekali lagi maafkan saya sudah berkali-kali curhat yang tiada habisnya. Silakan skip dan hentikan hingga paragraf ini saja.

Menghabiskan waktu dengan berdamai itu tiada ada habisnya jika memang diniatkan untuk berubah, bukan mau saya untuk menjadi seperti ini. Saya sedang “sakit” dengan diagnosa yang tidak ada habisnya dan selalu di nyatakan dengan kata sehat yang tidak sesuai dengan keinginan saya.

Kenapa? Bukannya di nyatakan sehat itu adalah anugerah. Namun, tidak untuk saya yang mengalami ini. Ingin di nyatakan sakit yang lebih spesifik agar fokus pikiran tidak kemana-mana. Dan fokus ke lain hal yang lebih bisa ada di pikiran dengan seksama selagi bisa di cari jalan keluarnya.

Berlari pada banyak hal hanya karena ingin di dengarkan dan di apresiasi saja. Pada beberapa orang yang saya harapkan. Nyatanya itu tidak di dapatkan barang 1 kalimat pun. Apakah itu bentuk rasa pamrih? Tidak sama sekali ya… karena ada karakter orang yang memang ingin di beri apresiasi tanpa di beri apapun dalam bentuk fisik.

Gengs, menjadi seseoang yang sedng Lelah dengan isi kepala itu menjadi hal yang tidak akan bisa di tuliskan. Validasi semua emosi adalah hal yang paling masuk akal. Kadang-kadang orang dengan kepala berisik karena banyaknya hal yang menjadi masalah yang bukan masalah pasti. Mungkin bagi beberapa orang.

Sumber: Pinterest

Terlalu berpikir pada banyaak hal yang tiada ujungnya adalah hal terbaik, biarlah menajdi bebannya sendiri tanpa memikirikan diri sendiri adalah hal keliru. Tapi bagi kaum kepala berisik menjadikan isi kepala agar lebih tenang adalah hal tersulit. Bahkan bisa menggapai kata “kagum” dengan mereka yang berusaha jauh lebih tenang.

Memberikan jeda waktu adalah hal yang paling masuk akal. Mengotakkan isi kepala adalah hal termudah yang bisa di lakukan oleh kaum kepala berisik. Jika butuh bnayak urutan bahkan sampai ribuan urutan pun pasti akan di jalani oleh kau mini. Demi membuat damai isi kepala.

Padahal, jika benar-benar di sadari, pasti akan berimbas baik untuk diri sendiri. Tapi kebanyakan malah lebih banyak memilih untuk berdiam diri untuk tidak produktif dan bergerak malah akan menjadi senjata makan tuan untuk kaum kepala berisik.

Dan lagi, pilihlah semua hal yang membuat bhagiaa. Jangan terpaku dengan jalan takdir, jika paham bahwa sedang tidak baik-baik saja carilah solusinya. Biasakan isi kepala yang runyam itu dengan berbagai macam mengalirkan rasa. Bukankah kita ingin hasil yang sempurna?

Kebanyakan yang saya sadari banget. Kaum kepala berisik seperti saya memang ada keinginan untuk menajadi perfeksionis yang tinggi. Tapi perfeksionis untuk dirinya sendiri saja. Tidak ingin mengecewakan orang lain lebih tepatnya. Walau sering lupa bahwa dirinya sendiri harus  di utamakan juga.


Sumber: Pinterest

Sedang Ingin Menuntaskan Rasa Yang Tidak Pernah Ada Habisnya.

Sumber: Pinterest

Tidak ada hal yang sangat istimewa dalam diri ini. Tapi jika kepala sudah terlanjur berisik pasti akan menghasilkan sikap yang jauh dari kata baik. Hampir semua bentuk tulisan saya pastilah sebatas curhatan yang tidak ada ujungnya. Tapi mohon maklum ya..inilah cara saya “berobat”

Saya tidak meminta untuk di pedulikan, toh yang saya tulis ini hanya Sebagian kecil dari berbagai macam step kehidupan yang saya lewati. Mungkin jika di tuliskan butuh banyak sekali kosa-kata yang tidak ada habisnya jika berhubungan dengan curhat. Karena saya memiliki asam lambung yang cukup parah dan mudah sekali terganggu ketika kepala berisik.

Jika sudah terganggu dengan banyaknya pikiran yang tak kunjung di alirkan, maka akan menciptakan sakit perut dan memakan waktu yang cukup lama. Jika kalian bosan dengan pembukaan tulisan ini. Kalian sangat di perkenankan untuk skip tulisan saya ini, ataupun tulisan saya selanjutnya.

Mengapa mudah sekali terganggu dengan beberapa macam “tekanan”? karena ada banyak masalah yang tidak kunjung saya selesaikan dari dulu dan mengapa saya memahami ini? Banyak belajar dari beberapa pengalaman orang lain adalah kunci yang selalu saya pegang.

Sumber: Pinterest

Bukan mendiagnosa sendiri, namun, nyatnya yang saya alami sudah beberapa kali saya periksa ke ahli. O..iya, terakhir saya periksa ke dokter tentang asam lambung saya di dokter umum hingga periksa jantung karena ada nyeri yang sangat menakutkan.

Saya paham kok, semakin saya mencari tau malah akan menjadi boomerang yang akan “membunuh” saya. namun, begitu saya mendalami ilmu tersebut, saya semakin paham akan tubuh saya sendiri. Jadi tidak melibatkan orang lain lagi dalam memahami diri sendiri.

Saya percaya dengan alarm tubuh yang semakin hari malah makin peka dengan beberapa macam keluhannya. Saya mencari tau pun bukan pada banyaknya literasi yang asal-asalan. Bukan saya banget sebenarnya, karena saya butuh banyak ahli dalam menjelaskan beberapa hal yang berhubungan dengan kesehtan saya sendiri.

Kembali kepada trauma yang tak kunjung sembuh dan berkesinambungan dengan sakit asam lambung itu. Ternyata ketika di runut kembali, saya memang terlalu dalam memikirkan banyak hal. Apakah saya selama ini menyalahkan banyak pihak? PASTI!

Banyak orang saya salahkan selama ini. Sakit hati sendiri. Validasi sendiri dengan banyaknya belajar dan memang haru banyak berdamai dengan kejadian-kejadian yang sudah terlanjur di lewati malah semakin membuat banyak introspeksi diri. Bahkan saya pernah berani menyalahkan Allah atas segala hal yang telah di tuliskan.

Sudah sampai di tahap itulah kepala saya membisikkan yang tidak ada ujungnya. Kadang-kadang ada distraksi karena beberapa aktifitas rumah tangga yang menumpuk dan banyaknya. Jika ada yang bertanya kenapa tidak membagi berisiknya kepala kepada suami? Ah, suami saya sudah tau apa poin berisiknya. Tapi yang bisa menyembuhkannya hanya diri ssaya sendiri.

Hai, hanya diri sendiri yang bisa menyelesaikan, mereka yang ada di ekatmu pati akan selalu menglirkan cinta dan sayang yang tidak ada habisnya. Namun, ketika kau tidak memiliki tekad yang kuat. Bagaimana sembuhmu menghampiri? Jangan siksa diri sendiri ya..


Melihat Komunikasi Sehat Mertua-Menantu Ala Dewi Yull Dan Merdi Octavia

 

Sumber : Pribadi

Ramai sekali di tiktok pembahasan tentang podcast Nikita Willy dengan Dewi Yull dan menantu beliau, Merdi Octavia. Walau sebelumnya saya termasuk yang senang dengan beberapa konten kebersamaan mereka di Instagram. Bahkan sebenarnya Merdi lebih sering membagi kebersamaan dengan suami serta anak-anaknya daripada dengan Dewi Yull. Walau akhirnya saya paham kenapa Merdi membuat konten tentang kekompakannya dengan Dewi Yull memang karena ingin mengedukasi masyarakat tentang kedekatan menantu dan mertua yang selama ini menjadi momok cukup menegangkan hahaha

Di podcast tersebut Niki menampakkan gesture sebagai pendengar yang baik. Karena penyampaian dewi yull sendiri sangat informatif. Saya sendiri ketika mendengarkan podcast tersebut malah sambil memasak. hahaha

Malah entah kenpa ketika mendengarkan paparan Dewi Yull dan Merdi membuat senyam-senyum karena tersanjung sendiri. Padahal bukan saya yang menjalani. Setiap pemaparan dewi yull selalu membuat saya berbisik “nanti sikapku sebagai mertua harus seperti beliau sih, anak, menantu dan cucu harus betah dekat dengan aku” karena pemaparan Merdi juga seperti bangga banget kepada Ibu mertuanya.

Kebanyakan, bahkan mungkin saya sendiri. Masih sedikit memaksakan titik nyaman terhadap Ibu mertua. Apalagi keluarga besar suami. Jika di titik beratkan kepada diri sendiri ya…jauh panggang dari api hahaha masih lebih banyak mangkelnya. Padahal ibu mertua saya sudah baik banget kepada saya. dan saya sebagai menantu masih banyk banget kurangnya. Namanya manusia ya…pasti kebanyakan mau ya.. haha

Ketika Niki bertanya tentang “kan sempat nih 1 rumah. Bagaimana komunikasi kalian selama ini? Biasanya pada cerita orang-orang kan pada tidak nyaman jika tinggal Bersama dengan mertuanya?” lalu dengan bangga merdi menjawab “kalau di aku, justru aku pindah karena udah terlalu nyaman di rumah Ibu. Menurutku, dulu jika aku terus begini malah tidak baik untuk aku dan rumah tangga kami nantinya. Khwatirnya malah membuatku kurang mandiri. Padahal ibu gak pernah ngatur sih kak. Tapi aku khawtir malah aku yang gak ada kemajuan tentang kemandirian. Kan kurang baik ya…dalam rumah tangga ada 2 kepala”

Sumber: Pribadi

Ah, ketika mendengar itu malah hati saya yang menghangat. Kebanyakan seorang istri itu pasti akan menomor satukan dirinya terlebih dahulu daripada si kepala rumah tangga. Istilahnya “tidak ingin ada 2 ratu dalam rumah” sangatlah akrab dengan pandangan-pandangan itu. Merdi malah tiak menomor satukan dirinya. Tapi lebih menjaga wibawa si suami terlbih dahulu. Saya menyimpulkan, merdi pasti merasa sangat dicintai dan selesai dengan semua lika-liku rumah tangganya. Karena memang ia di bebaskan dalam berekspresi dan berkembang selama ini.

Tapi, yang semakin membuat kagm adalah ketika Dewi Yull menimpali pertanyaan Nikita Willy “kalau Ibu bagaimana?” Dewi Yull menjawab “kalau aku sebenarnya membebaskan. Toh ketika memutuskan tinggal bersama kami karena kondisi yang tidak memungkinkan Merdi dan Rama menghadapi sendiri karena  masa kehamilan Merdi yang cukup sulit pada saat itu. Tapi soal cucu dan aku sudah nyaman dengan rutinitas yang sudah terlanjur tercipta itulah pemicu kesedihannya” ah,pemaparannya sangatlah membuat hati menghangat. Ada paham dan respect yang cukup kuat pada keluarga mereka.

Semua penyampaian Dewi Yull, Merdi dan nikita willy ini tuh membuat saya memiliki kesimpulan:

1.     Banyak-banyaklah belajar tentang pola asuh dan komunikasi dengan suami, anak dan ingin hidup dengan alur rumah tangga seperti apa.

2.     Penerimaan tentang sebuah perbedaan zaman.  Janga egois Sebagai orang tua dn yang lebih lama menjalani kehidupan. Karena segalanya itu bergerak dan pasti mengalami kemajuan.

3.     Lapang dada terhadap segla hal yang terjadi dalam kehidupan. Mungkin jika hal tersebut tidak kita lewati, mungkin kita tidak akan memahami soal kehidupan.

4.     Banyak-banyak meminta pertolongan kepada Allah. Terutama soal kekuatan iman anak-anak kita. Do’akan mereka stulus dan sesering mungkin. Minta takdir yang terbaik untuk anak cucu kita.

    Sepertiya hanya itu saja ya.. kalau ingin lebih jelasnya silakan tonton aja di channel youtube Nikita Willy disini.


Membangun "Bonding" Dalam Keluarga. Bermula Dari Komunikasi Yang Sehat.

 Hari berganti hari, setiap kita memang selalu di anugerahi berbagai macam pola kehidupan. Ada sedih yang di lengkapi dengan kebahagiaan. Begitu juga sebaliknya. Tapi, ketika sadar bahwa semua hal yang akan kita lewati pasti membuahkan pelajaran yang banyak makna dan efek dalam kehidupan. Yakini saja bahwa hidup kita sudah di atur sedemikian rupa oleh Sang pencipta. Bahkan daun yang jatuh pun atas izin dariNya. Jadi mau apa yang ditakutkan?

Seperti halnya saya, yang hampir seperti orang gila dalam menghadapi permasalahan. Bahkan permasalahan yang mungkin menurut sebagian orang sangat receh pun bisa membuat saya sangat uring-uringan menghadapinya. Jiwa ini seperti tidak terima mengapa harus diberi permasalahan yang menurut hati  pasti tidak akan ada penyelesain.

Permasalahan Rumah Tangga yang semakin kompleks, padahal bisa diselesaikan hanya dengan lebih banyak berbicara dari hati ke hati dengan pasangan saja, bisa menimbulkan sensitifitas tinggi dalam menjalani hari. Memang yang berhubungan dengan perasaan seperti tidak ada penyelesaiannya, karena membuat gairah beraktivitas harian menjadi carut marut. Semangat itu kalah oleh pikiran dan hati yang sedang tidak stabil.

Bu, Tidak ada yang namanya “pria bisa memahami dengan sendirinya” seperti halnya kita sebagai wanita. Yaps, laki-laki memang memiliki sensifitas yang sangat rendah. Bukan kemauan mereka, namun, memang fitrah mereka seperti itu. Kita sebagai perempuan yang seharusnya memberi pengertian sekaligus pemahaman kepada mereka, apalagi kebanyakan perempuan pasti lebih banyak “kepo” walau bisa lebih di sederhanakan menjadi peduli dengan hal yang paling kecil sekalipun.

Sumber: Pinterest

Laki-laki tidak memiliki fitrah sensitifitas itu. Makanya memang lebih baik kita memberi tahunya, agar mereka paham dan bisa berkomunikasi. Tidak perlu lah pakai cara sindiran dengan harapan “dia akan memahami”.  Jika waktunya tepat sampaikan saja secara langsung, mungkin nantinya akan menemukan solusi dan bisa membangun komunikasi dan kedekatan yang lebih baik lagi.

Toh, kita semua mengetahui bahwa berdiskusi biasanya akan menghasilkan solusi-solusi yang tidak bisa di anggap remeh datangnya darimana, apalagi jika sama-sama tenang ketika memebicarkan beberapa hal. Solusi kan segera datang. Dan bisa juga menjadi pelajaran untuk membudayakan diskusi dalam keluarga dengan harapan kebiasaan itu akan mengakar hingga ke anak cucu, agar kelekatan dalam berkeluarga semakin terjalin dengan bahagia.

Apalagi pada era sekarang, informasi tentang berkomuikasi dengan keluarga menjadi hal yang sangat mudah di cari. Belum lagi informasi tentang efek apa yang terjadi jika komunikasi itu tidak terjalin dengan baik. Agaknya dengan adanya informasi-informasi itu akan menjadikan kita orang-orang yang selalu ingin berbenah.

Sumber: Pinterest


 

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...