![]() |
| Sumber: Pribadi |
Judul beberapa bulan yang lalu saya menonton podcast “titik kumpul” yang snagat terkenang di hati. Sebenarnya sudah menjadi rutinitas saya mendengarkan podcast tersebut apalagi ketika sedang beraktifitas pada beberapa spot rumah. Tidak tau maksudnya apa, sekarang seperti harus selalu berteman jika melakukan beberapa hal.
Namun, kegiatan kemarin
serasa lebih istimewa terlebih ketika sambil mendengarkan Praz Teguh menceritakan
pengalamannya selama umroh bersama dengan istrinya. Di tambah antusiasnya Abdur,
Mamat dan Bang Arie ketika mendengarkannya.
Bermula dari
perjalanannya ke Turky terlebih dahulu dengan maksud agar lebih fokus dalam
menjalankan ibadah nantinya. Dan setiap pengalamannya yang membuat saya semakin
senang mendengarkannya juga ada rasa tercengang. ketika beliau berusaha untuk
menyingkirkan godaan hawa nafsu untuk meminum minuman keras adalah hal yang
patut mendapatkan apresiasi lebih, kesadaran dan tanpa tuntutan dari siapapun,
akhirnya beliau berhasil menahan.
Saya memang tergolong
yang selalu kagum dengan setiap progress beliau dalam menjalankan kehidupan, dari
yang bukan siapa-siapa plus menjalani setiap step kehidupannya dengan cara yang
menurut saya sangat baik, apalagi dari cara beliau memilih ruang lingkup
pertemanan dan mungkin menyesuaikan dengan hati nuraninya.
Selalu ada kalimat
“Ibunya dulu mendo’akan seperti apa ya…hingga anaknya dewasa pun tetap bisa
memberikan hal kebaikan sambil mengatas namakan beliau untuk pembangunan masjid
dari hasil stand up yang berjudul “Ibu”. Belum lagi, cara Ibunya tetap ikhlas
walau anaknya tidak sesuai dengan keinginannya” dan saya termasuk yang sangat
kagum dengan perjuangan Ibu n Ayahnya untuk tetap membesarkan hati anaknya.
Terlepas dengan apapun yang sudah di lewati oleh mereka. Belum lagi cara Praz treat adek-adeknya seperti teman akrab yang bahkan dia bisa menceritakan banyak
hal kepada adiknya” Tidak semua orang beruntung soal itu. Karena banyak sekali
yang tidak bisa menceritkan beratnya masalah yang dia jalani terutama kepada
keluarganya. Ah apapun itu, banyak hal yang bisa ambil pelajarannya.
Kembali ke pembahasan podcast titik kumpul dalam episode menceritakan pengalaman Praz dalam perjalanan umrohnya. Setelah pejalanan di Turki Praz dan Ai Istrinya bertolak ke Madinah. Dan disinilah semua bemula. Dia benar-benar ibadah, walau harus berhadapan juga dengan Ebel (kalian harus nonton secra langsung tentang cerita ini) disini.
Nah, begitulah bukti
pertemanan Praz, Ketika mendengarkan ceritnya itu saya saja terbawa emosi,
karena saya tidak bisa sesabar itu dlam menghadapi orang lain, cuman disini seperti
membuktikan bahwa Praz emang seorang pengayom dan memiliki kesabaran yang cukup
baik.
Dan yang semakin membuat
saya kagum adalah ketika dia dengan leluasa berbicara “mungkin karena aku
terbiasa dengan dunia podcast ya.. jadi aku santai aja ketika harus bertanya
banyak hal kepada pembimbing umrohku waku itu karena aku sadar kalau aku gak
paham, alhamdulillah ustadznya sabar menjelaskan apa yang aku tanyakan itu,
soalnya aku kan betul-betul gak tau”. Semua hal pasti akan berefk pada kehidupan
sebab itulah Allah memberikn sebuah jalan takdir yang tidak pernah kita
sangka-sangka, begitu kurang lebih perasaan saya ketika mendengar beliau
bercerita.
Ketika Praz meenceritakan
tentang pengalamannya itu terutama ketika shalat di Masjid Nabawi dan hanya
membayangkan wajah ibunya dia bisa menangis tersedu-sedu, juga sambil melakukan taubat
dan menyadari kekeliruan jalan hidup yang selama ini di jalaninya, membuat saya
semakin yakin bahwa Allah tak pernah pilih kasih dalam menyayangi hambaNya.
Praz yang memiliki ikrar tak main-main dalam hidupnya agar di bombing oleh
Allah supaya nantinya dia menjlani hari-hari sebagai orang yang taat dalam
ibadah.
Dan puncak “Bahagia” yang
saya rasakan adalah ketika dengan gambling, dia menceritakan seputar
perjalanannya ketika berada di Makkah. Awal-awal dia rasa biasa saja, takjub
luar biasa karena menyadari ternyata selama ini, inilah tujuan sebuah kiblat.
Jika di runut sebenarnya setiap orang pasti akan punya cerita yang
berbeda-beda, tapi untuk orang yang tipe seperti praz pasti memiliki “rasa” yang
berbeda pula.
Ketika awal menjalani
prosesi Thawaf dia biasa-biasa saja, namun ketika menuju akhir Thawaf barulah
tangisan tak terbendung, ngalir begitu saja dan ketika mendengar cerita dengan
seksama malah semakin rindu dengan melakukan ibadah disana.
Saya dulu termasuk orang
yang tidak memiliki ketertarikan melakukan umroh atupun haji karena sadar diri
tidak memiliki dana yang memadai, apalagi semakin sadar bahwa jika ingin
melakukan hal itu pastilah membutuhkan dana yang begitu besar. Namun, ktika
sadar bahwa melakukaan ibadh umroh taupun haaji adalah panggilan Allah yang
bisa membuatnya semakin yakin untuk berangkat. Ketika kita memohon dan
memantaskan diri untuk di panggil kesana pastilah Allah akan memberikan jalan
yang entah seperti apa caranya nanti. Allah yang memiliki kehendak, kita hanya
meminta dan menjalani takdir yang ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar