Mungkin Melupakan Terlalu Sulit. Tapi Memaafkan Juga Pasti Akan Melapangkan Dadamu.

 Ketika rasa kecewa ini sedang berada di puncaknya, hati serta pikiran tidak mampu sinkron dalam menyikapi yang telah terjadi, semuanya berakhir dengan mati rasa yang tidak bisa di ungkap dengan kata-kata.

Aku sadar rasa ini tidak akan ada yang memahami, karena yang bisa merasakannya hanya diri sendiri. Namun, yang saya sadari, semua rasa kecewa tidak akan dapat terobati jika hanya bekutat paa diri sendiri.

Banyak faktor yang ingin disalahkan, tapi bibir ini kelu dalam mencari kambing hitam, karena hati dan pikiran tidak terbiasa hanya menyalahkan pihak tertentu tanpa melihat pada beberapa sebab yang biasa terjadi.

Tidak semua orang memahami apa yang terjadi pada orang lain, selain ia sendiri pernah melewati hal yang sama. Kali ini ingin menulis tentang keberadaan diri yang sering tidak dianggap, agaknya sudah mendarah daging dalam kehidupaan saya. Tidak hanya saat ini, bahkan itu semua terjadi sedari saya kecil hingga menginjak usia dewasa.

Jika idealnya seorang anak banyak yang di tanya tentag pendapat dan di dengarkan, namun, hal itu tidak terjadi pada saya.

Ingin gak sih di ikut sertakan dalam menentukan cita-cita pribadi dan di dukung sepenuhnya? Ya…ingin bangetlah. Tapi, ternyata orang-orang yang saya harapkan tidak melakukan hal tersebut. Entah karena di anggap tiak memiliki kemampuan itu  atau karena terlalu naif. Entahlah.

Ketika mindset sudah tercipta begitu, siapa yang harus di salahkan? Tidak ada. Tugas saya saat ini hanyalah berusaha untuk kedepannya menjadi orang yang tidak menciptakan kesedihan untuk orang lain. Walau sadar sedari dini juga, tidak semua orang harus saya beri kebahagiaan. Tapi, hanya mengusahakan untuk merasakan rasa sakit ini hanya saya yang memahami dan mengusahakan tidak terjadi kepada orang lain. Terutama anak dan keluarga.

Di hargai keberadaannya adalah hal yang paling saya sukai. saya memang tidak memahami bagian-bagian besar yang di jalani orang lain, tapi setidaknya saya paham bagaimana memperjuangkan diri agar tetap bertahan dalam gejolak hati dan pikiran.

Sejauh ini saya telah banyak menyalahkan oran lain. Namun, saya juga ingin meminta maaf, sebab rasa ini telah sangat menyakiti. Entah tersebab apa, keluarga sendiri tidak bisa bercengkrama puas terhadap saya. sebeenarnya ingin bertanya, salah saya dimana? Walau sebenarnya menyadari bahwa pola pikir saya juga harus di benahi, hehe

Menuangkan pikiran dalam tulisan adalah salahsatu cara sya mengobti diri sendiri agar segala hal yang biasa terpendam ini tidak hanya brkutat dalam pikrian saja, mungkin lambaat laun, saya tidak hanya menuliskan tentang diri sendiri. Tapi juga menuliskan banyak hal yang lebih banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Karena saya sadar, semua ini pasti menimbulkan negative thinking yang mungkin bisa berlebihan dalam menanggapinya. Tapi saya izin untuk menyembuhkan rasa ini sampai waktu yang tidak bisa di tentukan.

Sepertinya saya akan lega jika dilupakan, biarlah hanya orang-orang yang terdekat saja yang berada dalam memori. (apalah saya ini?) begitulah pertanyaan dalam diri. Walau sebagian diri selalu saja mengatakan, “buktikan kalau kau bisa bangkit dan menjalankan kehidupan dengan cara yang lebih baik lagi”

Tapi yang harus diingat adalah jangan kecewa jika mereka tetap saja tidak menganggap keberadaanmu.  Bahkan mugkin hanya segelintir cerita yang kau dapatkan, sepertinya sudah lebih dari cukup. Biarkan saja mereka hingga mereka datang dan meminta bantuanmu. Dan ketika itu terjadi kau sudah tidak berkutat lagi dengan rasa sakit yang pernah ada.

Kau mungkin sudah memaafkan mereka, walau kau belum melupakan segala sakit yang sudah terlanjur ada. jangan lupa untuk selalu berdo'a.

Sumber: Pinterest

Mengulang Beberapa Momen Yang Sudah Lewat.

 Sudah lama sekali ingin memutuskan untuk berhenti menulis. Tapi ternyata produktifitas diri terasa ketika memberikan waktu untukhal yang saya sangat sukai ini. Tiba-tiba saja ingin menulis banyak hal agar isi kepala saya segra fresh dan realeas dengan drama kehidupan dengan chapter berikutnya yang lebih baik, begitu harapannya.

Teringat pda tanggal 2 ramadhan tahun 2002 yang sangat berat. tidak hanya untuk saya tapi juga keluarga, tiba-tiba saja ummi drop hingga harus masuk ruang ICU, sebagai anak yang belum pernah berprestasi apapun jiwa dan raga terasa terguncang. Takut kehilangan pastinya. Beberapa hari itu, ketika ummi  sedang masa perawatan, posisi saya yang berada di luar biasa, hampir setiap hari menangis hingga ummi keluar ICU barulah tangisan itu terhenti.

Ummi melewati masa terburuknya, pikiran sudah mulai tenang. Walau keinginan pulang semakin menjadi-jadi karena adik yang di Semarang memutuskan untuk menjenguk ummi di Medan. Sebagai anak sulung pastinya saya sangat menyesali diri sendiri yang belum kunjung di beri kemampuan untuk memiliki materi lebih. Tidak ingin memberatkan banyak pihak juga. Jadi menahan segaalnya adalah hal tersulit pada saat itu.

Namun, sebenarnya ada peran Abi disini kenapa saya menahan keinginan untuk segera pulang. karena khawatir akan memberatkan beban suami. Jadilah saya harus memendam kekecewaan, tapi begitulah kejadiannya walau semua terlewati dan ummi sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik daripada kemarin-kemarin.

Dan akhir ramadhan tahun 2023 kali ini di tutup dengan rasa sakit yang di derita oleh suami. Menghitung hari masa kesakitan yang terasa lama sekali, padahal baru 3 hari saja. Airmata yang biasa sangat mudah saya tumpahkan, kali ini terasa sulit untuk menumpahkan di depan suami, sebab, tak tega pastinya.

Suami bukanlah sosok yang mudah bersakit-sakit. Segala hal bisa di tahannya sekalipun itu menyakitkan, tapi kesakitan kali ini agaknya terasa sangat kompleks dan sangat sakit. Bahkan, hingga saya pun tidak bisa tidur dengan nyenyak. “syaraf terjepit” judulnya. Sebuah penyakit kompleks yang bermula karena rasa sepele yang berlebihan terhadap sinyal tubuh.

Tubuh memang memiliki kekuatan lebih apalagi ketika terasa sangat sehat dalam menjalani aktifitas. Tapi, ternyata ianya punya masa tidak menyanggupi beban itu. Akhirnya betul-betul meminta untuk di istirahatkan. Pun, saya juga yang harus membatasi setiap aktifitas beliau. Semua ter backup. Sebenanya ada sedikit airmata yang harus tertumpahkan juga tanpa sepengatahuan beliau.

Tapi, tidak apa-apa sebenarnya. Manusiawi kok, jika menangis karena sedih. Toh tubuh dan pikiran harus tenang juga dalam menghadapi segala liku perjalanan kehidupan. Sebentar lagi ramadhan berlalu, semoga kita semua dapat di beri kesempatan untuk bertemu dengannya kembali pada tahun berikutnya.

 

Ingin Selalu Sehat? Pola Pikirmu Adalah Peran Terpenting

semangat itu kalau tidak dipupuk memang menghasilkan sesuatu yang bikin perasaan menjadi tidak menentu.

perihal semangat ini sepertinya berbanding lurus dengan keimanan. menurut saya pribadi sih, memang terlalu objektif menilai soal semangat dan keimanan namun jika di rasakan lagi sepertinya ada kesamaan yang signifikan. inget deh ketika iman sedang menurun, semangat kita dalam menjalankan ibadah akan menurun secara drastis. Biasanya lebih di kenal dengan kata futur.

Jadi, benarlah ketika kita berdo'a untuk di kuatkan hati agar tidak mudah terbolak balik dan berpegang teguh pada kebenaran. minta kepada Allah adalah hal yang paling tepat. karena jika hanya mengandalkan refreshing dan healing saja pastinya tidak akan ada apa-apanya. walau sebenarnya itu juga di butuhkan karena semua yang ada di dunia memang harus di nikmati. mana mungkin kita bisa bertahan hanya duduk dan berdiam diri saja, diam dalam pikiran saja.

Bilapun tidak ada keinginan untuk bercengkrama dengan sesama manusia, setidakny kita menikmati alam yang sudah Allah sediakan. Allah menciptakan semuanya juga dengan maksud kan?

Saya teringat dengan Nasehat Ustadz Adi Hidayat tempo hari membicarakn soal menikmati hal keduniaan yang sudah Allah sediakan. Apapun itu harus di cari, di nikmati taapi dengan niat yang baik agar ia meninggalkan pesan dan menjadi bekal untuk kehidupan setelah dunia ini pastinya. “bukankah kita hidup di dunia hanya untuk menabung bekal “pulang kampung” nantinya?” begitu pesan akhir beliau.

Apapun yang ada di dunia memang harus kita pakai, jngan menyiksa diri hanya karena beberapa patokan hidup yang di pegang. Karena sederhana juga kan pilihan yang memang harus kita ambil. Sebab, jelas berlebihan dalam hdiup juga tidak di perbolehkan. Begitu juga dengan mengambil keputusan soal ketenangan hati. Ambil manfaat dari ketidak tenangan hati yang sedang menghampiri . tapi, jangn terlalu teburu-buru mengambil kesimpulan ya… bagaimanapun setres yang sedang menghampiri tidak memiliki peran yang sangat signifikan jika pikiran kita dapat mengontrolnya dengan baik.

Cara berpikir kita tuh punya peran penting dalam Kesehatan. Jangan karena pola pikir kita yang sedang kacau malah membuat Kesehatan menjadi terancam. Usahakan tidak di perbudak dengan pikiran ya…kawan. Alihkan semua pikiran jelek ke kegiatan yang lebih positif, apapun itu yang membuat lebih tenang. Menangis juga termasuk salahsatunya.

Sumber: Pribadi

Iman, semangat, pola pikir dan Kesehatan memang saling berkesinambungan. Tapi, jika membutuhkan ahli, datangilah. Jangan takut dengan stigma yang mungkin akan kau dapatkan. Kesehatanmu adalah yang utama.

Mau Berharap Pada Siapa? Jika Kau Sendiri Tidak Percaya Pada Kemampuanmu?

Soal impian hanya kau sendiri yang bertanggung jawab untuk menggapainya.

Apakah kau merasa pantas dengan semua impian itu? Atau hanya angan yang hanya bisa kau ukir dalam diam. Jangan kau gantungkan impian hanya karena kau merasa lemah. Bukankah banyak sekali orang-orang yang memiliki kekurangan tapi masih tetap maju dalam menggapai impiannya?

Apalagi kau yang sebenarnya masih bisa lebih memperjuangkannya, walaupun mungkin terasa tidak memungkinkan. Tapi, ingat lagi! Impianmu adalah tanggung jawab yang harus segera kau tuntaskan.

Jangan mudah mundur pada hal yang sebenarnya masih bisa kau usahakan. Lawan semua lara yang terasa berat itu, jangan mau lagi di perbudak kemalasan apalagi rasa tidak percaya diri yang selama ini kau sadari semua itu ternyata membuat kau layu.

Kau menyadari bahwa segala upaya pasti akan memiliki rintangan. Sukses itu tak bisa di dapat kecuali dengan perjuangan. Tidak ada orang yang bisa menggapai cita-citanya tanpa melewati proses yang cukup panjang.

Walau standar perjuangan setiap orang berbeda, tapi yang harus kau sadari ada kata “perjuangan” di setiap jiwa para pejuang. Ketika kau sudah sadar, perbaiki lagi segala niat yang selama ini telah membuatmu mampu mengambil keputusan itu.

Biarkan orang menganggap mu aneh, nyatanya itu hanya anggapan belaka. Yang pastinya mereka hanya mampu menilai tanpa memberikan dukungan. Biarkan saja mulut mereka sampai berbusa membicarakan caramu menggapai cita. Tapi kau buktikan dengan nyata. Bahwa cita-citamu itu memang ada dan terbukti nantinya.

Mungkin tulisan ini sangatlah terbilang terburu-buru. Nyatanya saya sendiri juga memang sedang menguatkan niat yang sudah mulai kendur.

Saat ini bukan karena tidak ada ide, tapi karena kesehatan saya yang membuat semakin merasa terpuruk. Ada beberapa hal rasa kecewa yang tidak bisa saya sebutkan bentuk kekecewaan itu terhadap apa. Tapi sepertinya segala usaha yang sedang saya atur malah membuat semakin merasa tidak berguna.

Ah, dasar manusia ya...hahaha. padahal saya sendiri sangat memahami, bahwa saya pun masih dalam tahap berjuang dan sadar bahwa semuanya memang butuh di perjuangkan. Masalah kesehatan memang harus di bicarakan kepada para ahli. Tapi kekuatan diri juga dapat membentuk semangat itu.

Berpikiran positif terhadap takdir yang Allah beri. Fokus kepada amanah yang sudah Allah anugerahkan. Jangan biarkan semua itu bergumul hanya pada pikiran tanpa mau bergerak.

Sudah lama sekali menyadari bahwa bergerak adalah kunci.

Jangan mau di perbudak oleh pikiran sendiri.

Belajar Mengatur "Suasana Hati" Dari Seorang Penulis Genre Romantis

 Tadi malam setelah menyelesaikan salahsatu tulisan yang harus saya tuliskan pada blog ini, saya membuka account X.

Sumber: Pribadi

Ternyata “narabahasa” (sebuah account yang sering memberikan literasi tentang dunia literasi Bahasa) sedang melaksanakan “Space” kalau di platform youtube ataupun yang lainnya lebih dikenal dengan “Podcast”. Sebenarnya saya belm pernah mengikuti space itu, tapi entah kenapa, tadi malam ingin ikut saja.

sumber Pribadi

Ternyata yang menjadi bintang tamunya adalah Kak Ollyjayzee. Orang-orang yang terbiasa mendengar nama beliau dan membaca karyanya pasti akan mengenal tentang karya yang sudah beliau lahirkan. Dan  tim Narabahasa akhirnya mengundang beliau untuk menjabarkan tentang pengalaman beliau yang telah melahirkan belasan karya tulis dalam bentuk novel fiksi dengan genre romantis  baik dalam bentuk digital ataupun fisik.

Ternyata saya baru paham beliau memang suka dengan dunia tulis sejak kecil dan dulu sering mengirimkan hasil tulisannya pada beberapa majalah anak. Namun, hobinya itu sempat tertunda karena beliau bekerja pada sebuah perusahaan jadi tidak bisa fokus menghidupkan Kembali blognya.

Sumber: Pribadi

Lalu, ketika sudah resign dari kerjaan akhirnya beliau melanjutkan hobi menulisnya itu dengan niat agar semakin banyak aktifitas yang bisa membuat lebih produktif. Selain, beliau jug sebenarnya memiliki berbagai macam organisasi yang beliau perhatikan, namun ternyata kecintaan beliau terhadap dunia kepenulisan tak pernah surut.

Ada hal yang cukup membuat saya terperangah ketika beliau menyampaikan alasan serius menjalani dunia kepenulisan. Karena beliau menyukai aktifitas membaca dan sering sekali ada kata, kalimat, tanda baca bahkan hingga alur yang tidak sesuai dngan kemauannya yang menjadikan beliau semakin semangat melahirkan karya.

 “kalau tidak kita yang menciptakan sesuai kemauan, mau berharap sama siapa?” sambung beliau. Saya hanya mengangguk saja, memang masuk akal ya.. misal: ketika sedang menonton juga, peran yang kita ingini seharusnya sesuai dengan kemauan penonton. Nyatanya penulis scenario mengharapkan berbeda. Begitu juga dengan penulis, belum lagi jika kita sedang membaca. Ada aja gitu komentar dari hati yang ingin mengkritik padahal mungkin gaya menulis si penulis itu memang sepeerti itu. Bila ingin sesuai dengan seleramu ya…ciptakan saja sendiri hahaha

Lalu, yang juga menarik dari pertanyaan moderatornya tentang “mood” sebagai penulis. Apkah itu berpengaruh pada setiap tulisan yang kak olly ciptakan? “hmmm, soal mood ya…seharusnya kita tuh bisa loh mengatur mood sambil berpikir kalau kita th seharusnya jangan mau di atur oleh mood. Soal komitmen menulis kan kita sendiri yang buat dan mau tidak mau uka tidak suka memang seharusnya kita pegang janji itu dengan terus menulis setiap hari walau hanya sedikit kat yang akan kita tuliskan. Tujuannya agar ide itu tidak mandek dan memang harus di paksa. Biasakan juga untuk selalu memilah milih mana yang harus kita prioritaskan dalam pikiran. Jangan semua energi kita serap, apalagi di era sekarang. Informasi dan peluang kita untuk memberikan komentar terhadap apa yang terjadi kan sangatlah besar. Tapi piker lagi, semua itu punya efek gak untuk hidup kita atupun karya yang mau kita ciptakan? Bijaklah dalam mengatur mood”

Sangat tertohok ketika beliau membahas itu. “kalaupun memang mood sudah tidak bis akita atur, carilah kesibukan yang membuat kita terdistraksi. Misal nonton, baca novel, masak ataupun tidur. Asal tidak berlarut sampai tidak bergerak sama sekali” sambung kak olly

Selama ini saya juga termasuk orang yang sangat menomor satukan mood. Tapi, pas mendengarkan nasehat itu, mlah membuat saya semakin semangat. Jaga Kesehatan itu adalah intinya. Yok, jadi penulis yang bisa menghasilkan karya yang sesuai dengan hati. Agar esensi karya tersebut sampai kepada orang lain dengan niat kita masing-masing.

Ingat, Warisan Tidak Hanya Berbentuk Harta Benda. Jangan Lupa Dengan Hal Ini!

 Siang ini saya sudah menangis bombay karena mendengar cerita ust Luqmanul hakim pada sebuah potongan video yang di unggah oleh salahsatu akun tiktok. Beliau menceritakan kisah seorang ibu yang mengunjungi anaknya ketika masih mondok. Setiap berkunjung ke pondok untuk mengunjungi anaknya, beliau selalu membeli alat kebersihan kamar mandi, menyikatnya dengan bersih. Dan ketika sudah selesai dengan aktifitas tersebut beliau berdo’a “ya…Allah, kamar mandi ini akan di pakai oleh banyak orang, semoga yang saya lakukan ini menjadi wasilah untuk masa depan anak saya yang lebih baik” kurang lebih begitu paparan ust Luqman.

Ustadz Lukmanulhakim

“dan ibu-ibu yang menyikat kamar maandi itu adalah mamak saya” sambung beliau. Air mata saya langsung meleleh tidak karuan.  disini videonya


Sesak di dada yang luar biasa, orangtua yang baik pasti akan menjadikan anaknya sebagai seseorang yang baik pula. Mungkin ilmunya kurang mumpuni, tapi tirakat yang di lakukan secara disiplin dan tulus itu pasti akan mengetuk pintu langit. Allah pasti akan mengabulkan semua cita-citanya.

Saya menangis bukan hanya karena cerita beliau, tapi juga karena mengingat perjuangan orangtua kami. Bukan hanya orangtua kandung saya, tapi beberapa orang yang menjadi panutan saya selama ini. Panutan dalam segala hal pastinya. Mereka yang tidak pernah menjabarkan secara frontal segala perjuangan yang telah mereka torehkan, ternyata cukup menjadi contoh saja telah menjadikan saya mendapat impact yang baik dalam kehidupan saya.

Sebut saja ummi abi, orangtua kandung saya yang menghabiskan Sebagian besar masa mudanya untuk berkhidmat kepada masyaraakat sekitar. Membangun beberapa hal yang cukup membuat saya berdecak kagum lengkap dengan segala rintangannya. Saya sebagai anak pertama cukup memahami, bahkan tanpa mereka sadari selentingan tidak sedap lebih mendominasi ke dalam pikiran saya. sebab, yang membicarakannya lupa, bahwasannya anak-anak itu memiliki memori yang tidak bisa di anggap enteng. jeleknya, saya banyak mengingat kenangan buruk tersebut 😔

Walau saya yakin seluruh perjuangan mereka memang di niatkan untuk kebaikan di masa depan. Mungkin tidak di peruntukkan langsung ke anak cucunya. Namun, nyatanya semua itu terlalu dalam terpatri dalam hati saya. Ada berbagai macam pelajaran yang bisa saya simpulkan, dan agaknya hanya sampai dalam pikiran saya sendiri bersama pasangan. Agar nantinya menjadi penunjuk jalan kami untuk merangkai kehidupan yang lebih baik.

Semua orang memiliki jalan cerita, entah itu jalan yang baik ataupun yang buruk. Namun, nyatanya. Orang yang memiliki akal pikiran yang baik pasti akan menyibukkan dirinya untuk melakukan hal yang positif, jadikan kebaikan sebagai barometer dan yang udah terlanjur negtif buang saja sejauh mungkin.

Terima kasih kepada panutan-panutan saya. segala kebaikannya akan menjadi cerita Panjang untuk anak cucu kalian. Agar warisan itu menjadi kebiasaan. Perjuangannya akan kami teruskan walau dengan cara yang mungkin terlihat kurang elegan. Tapi pasti akan memiliki nilai yang sama.

Selalu Bingung Jika Di Tanya "Alasan". Namun, inilah saya!

 Setelah menginjak usia segini banyak baru sangat menyadari bahwa setiap saya melakukan sesuatu memang butuh “strong why” dalam melakukan banyak hal, tergolong sangat terlambat, tapi kenapa tidak ada salahnya untuk selalu memperbaiki kan?

 Terutama pada banyak hal yang sangat kita sukai. Bukan untuk menganggarkan diri pastinya, tapi agar niat itu selalu menemukan muaranya ketika hati dan pikiran mulai tidak sinkron dalam menjalani “hobi” yang sudah terlanjur di senangi, apalagi jika di barengi dengan bakat.

Sebenarnya saya sudah bolak balik menuliskan alasan saya menjadikan tulisan sebagai jalan pintas saya dalam menyembuhkan diri yang terlalu senang menyimpan dalam hati dan pikiran. Namun, ternyata tidak mudah dalam menguatkan segala niat agar tidak mudah runtuh. Jika di tanya berkali-kali pasti akan berubah-ubah apa yang menjadi niat besar saya, biasalah manusia.

Sumber: Pinterest

Walau bermula dari menyembuhkan luka, namun ada yang lebih membuat saya mau tidak mau selalu bertahan dengan kegemaran merangkai kata-kata ini. “ingin goresan isi kepala ini menjadi warisan amat berarti untuk anak cucu” adalah hal yang paling terpatri. Nyatanya warisan ini adalah PR yang harus terus di perjuangkan. Sebab, tidak semua orang memiliki kemampuan merangkai kata dalam bentuk tulisan yang berarti.

Jadi, bilapun di tanya lagi apa yang menjadi alasan saya menulis? Mengadopsi dari nasehat syeikh Sayid Qutb “satu peluru memang bisa menembus 1 kepala. Namun 1 tulisan bisa menembus ribuan kepala bahkan jutaan kepala”. Nah, inilah yang sangat menggugah saya untuk Kembali memaksa diri nyemplung ke ODOP, karena pernah mengikuti OPREC pada beberapa tahun yang lalu jadi sedikit banyak saya memahami alurnya. Di paksa untuk membiasakan diri menulis di salahsatu platform.

Dengan harapan nantinya ketika saya sudah terbiasa dengan kebiasaan ini. kemungkinan  bisa semakin baik lagi kualitas tulisan yang akan saya torehkan. Agar nantinya bisa menjadi pesan untuk mereka yang senang dengan tulisan saya. menjadi  warisan kebanggaan pastinya, sebab saya selalu iri dengan penulis yang konsisten dengan caranya menyampaikan buah pikirnya, sebab bisa menjadi penyemangat saya untuk menyontek cara penyampiannya. Jika kemarin hanya fokus kepada warisan kepada anak cucu. Sepertinya kali ini ingin menajdi warisan kepada siapapun yang senang dengan tulisan saya.

Sumber: Pinterest

Untuk rencana beberapa tahun ke depan? InsyaAllah saya akan lebih banyak untuk belajar dan mempraktekkan apa yang sudah saya pelajari, mungkin juga selalu memperbaharui semua bentuk “strong why” yang saya miliki. Saya memutuskan mencintai semua proses yang akan di jalani ke depan, sudah tidak berani lagi berpikiran yang muluk-muluk. Semoga Allah meridhoi niat saya.

 

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...