Sudah lama sekali ingin memutuskan untuk berhenti menulis. Tapi ternyata produktifitas diri terasa ketika memberikan waktu untukhal yang saya sangat sukai ini. Tiba-tiba saja ingin menulis banyak hal agar isi kepala saya segra fresh dan realeas dengan drama kehidupan dengan chapter berikutnya yang lebih baik, begitu harapannya.
Teringat pda tanggal 2 ramadhan tahun 2002 yang
sangat berat. tidak hanya untuk saya tapi juga keluarga, tiba-tiba saja ummi
drop hingga harus masuk ruang ICU, sebagai anak yang belum pernah berprestasi
apapun jiwa dan raga terasa terguncang. Takut kehilangan pastinya. Beberapa
hari itu, ketika ummi sedang masa
perawatan, posisi saya yang berada di luar biasa, hampir setiap hari menangis
hingga ummi keluar ICU barulah tangisan itu terhenti.
Ummi melewati masa terburuknya, pikiran sudah mulai
tenang. Walau keinginan pulang semakin menjadi-jadi karena adik yang di Semarang
memutuskan untuk menjenguk ummi di Medan. Sebagai anak sulung pastinya saya
sangat menyesali diri sendiri yang belum kunjung di beri kemampuan untuk
memiliki materi lebih. Tidak ingin memberatkan banyak pihak juga. Jadi menahan
segaalnya adalah hal tersulit pada saat itu.
Namun, sebenarnya ada peran Abi disini kenapa saya
menahan keinginan untuk segera pulang. karena khawatir akan memberatkan beban
suami. Jadilah saya harus memendam kekecewaan, tapi begitulah kejadiannya walau
semua terlewati dan ummi sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik daripada
kemarin-kemarin.
Dan akhir ramadhan tahun 2023 kali ini di tutup
dengan rasa sakit yang di derita oleh suami. Menghitung hari masa kesakitan
yang terasa lama sekali, padahal baru 3 hari saja. Airmata yang biasa sangat
mudah saya tumpahkan, kali ini terasa sulit untuk menumpahkan di depan suami,
sebab, tak tega pastinya.
Suami bukanlah sosok yang mudah bersakit-sakit.
Segala hal bisa di tahannya sekalipun itu menyakitkan, tapi kesakitan kali ini
agaknya terasa sangat kompleks dan sangat sakit. Bahkan, hingga saya pun tidak
bisa tidur dengan nyenyak. “syaraf terjepit” judulnya. Sebuah penyakit kompleks
yang bermula karena rasa sepele yang berlebihan terhadap sinyal tubuh.
Tubuh memang memiliki kekuatan lebih apalagi ketika
terasa sangat sehat dalam menjalani aktifitas. Tapi, ternyata ianya punya masa
tidak menyanggupi beban itu. Akhirnya betul-betul meminta untuk di
istirahatkan. Pun, saya juga yang harus membatasi setiap aktifitas beliau.
Semua ter backup. Sebenanya ada sedikit airmata yang harus tertumpahkan juga
tanpa sepengatahuan beliau.
Tapi, tidak apa-apa sebenarnya. Manusiawi kok, jika
menangis karena sedih. Toh tubuh dan pikiran harus tenang juga dalam menghadapi
segala liku perjalanan kehidupan. Sebentar lagi ramadhan berlalu, semoga kita
semua dapat di beri kesempatan untuk bertemu dengannya kembali pada tahun
berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar