Aku Tidak Terlambat, Aku Sedang Diproses

 Tidak ada yang salam dengan aku. Aku cuma sedang diproses.

Akhirnya aku paham satu hal: hidup ini bukan soal cepat-cepat sembuh, tapi soal siap menerima proses. Semua terjadi sesuai waktu yang Allah tentukan, bukan waktu yang aku mau.

Nyaman yang selama ini aku kejar ternyata bukan sesuatu yang instan. Butuh waktu, butuh keberanian, bahkan butuh bantuan medis untuk menurunkan kecemasan yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Dan jujur, itu bukan hal yang mudah untuk diterima.

Aku sempat merasa gagal. Merasa lemah. Merasa terlalu bergantung pada obat, seakan menduakan Tuhan. Tapi perlahan aku sadar, ikhtiar tidak pernah bertentangan dengan iman. Justru ini bagian dari cara Allah mengajarkan aku tentang merawat diri.

“Memang sudah waktunya,” kalimat ini jadi pegangan. Karena ternyata, tenang itu bukan datang dari luar, tapi dari keberanian untuk berhenti melawan keadaan.

Kalau kamu sedang di fase lelah, cemas, atau merasa tertinggal—mungkin bukan kamu yang terlambat. Bisa jadi kamu sedang diproses. Dan proses itu valid.

Bergeraklah. Cari cara. Baca, belajar, terapi, menulis, berdoa. Apa pun itu—asal kamu tidak diam di tempat yang menyakitimu.

Karena healing itu bukan soal estetik, tapi soal konsisten bertahan.



Belajar Menulis dan Berdamai dengan Diri: Refleksi Perjalanan Seorang Ibu

Pinterest

 Hari ini saya kembali mencari tahu tentang cara menulis yang lebih menarik, meskipun saya menyadari bahwa dunia kepenulisan tetap membutuhkan pembimbing. Jujur, saya sangat menikmati aktivitas baru ini, dengan harapan dapat menjadi ruang untuk menghasilkan sesuatu secara materi, walaupun kerap maju-mundur karena merasa belum pantas.

Saya sadar tidak memiliki banyak kemampuan selain menulis. Oleh karena itu, menulis harus menjadi sesuatu yang saya tekuni dengan sungguh-sungguh, meskipun harus merangkak dari awal. Jika diperhatikan, sejak dulu sebenarnya saya sudah menulis, tetapi sering berhenti di tengah jalan karena kurang percaya diri.

Isi kepala terbiasa berisik tanpa tahu bagaimana menumpahkannya. Bukan karena tidak memahami platform, melainkan karena saya sendiri yang menutup diri. Terbiasa merasa dikerdilkan terhadap banyak pilihan hidup dan tidak mendapatkan dukungan sesuai harapan.

Kini saya menyadari bahwa tidak semua hal yang saya lakukan harus mendapatkan apresiasi. Bisa jadi, orang lain pun tidak terbiasa memberi apresiasi karena mereka sendiri jarang menerimanya. Saat ini, saya memilih menjalani apa yang saya mau, selama tidak merugikan dan tidak mendapat keberatan dari orang-orang terdekat.

Di tengah peran sebagai ibu rumah tangga dengan aktivitas yang seolah tidak pernah selesai, saya mulai memahami pentingnya memberi ruang untuk diri sendiri. Tiga puluh lima tahun hidup, sebagian besar saya habiskan dengan mengerdilkan diri. Aktivitas untuk diri sendiri sempat membuat saya merasa egois, padahal justru itulah cara agar saya lebih menikmati peran hidup yang saya jalani.

Saya percaya, ketika seorang ibu sudah nyaman dengan dirinya sendiri, ia akan lebih mudah mencintai sekitarnya. Namun, menyalurkan cinta tidaklah mudah jika seseorang tidak merasa bahagia dengan dirinya. Mengapresiasi diri adalah kebutuhan setiap manusia, meskipun banyak yang belum terbiasa melakukannya.

Jika setiap orang tua mampu mengelola dirinya sendiri, maka ia akan lebih mudah membimbing keluarganya menuju kebahagiaan. Perspektif negatif terhadap diri hanya akan membuat kita stagnan: tetap beraktivitas, tetapi tanpa makna dan mudah tersulut emosi.

Karena itu, mengenali diri sendiri menjadi langkah penting, termasuk mengajarkan anak untuk berdamai dengan dirinya. Tujuannya bukan untuk menyalahkan pola asuh orang tua, melainkan memperbaiki pola yang kurang sehat dan meneruskan kebaikan yang telah diberikan.

Pendidikan, terutama pendidikan agama, tetap menjadi fondasi utama dalam keluarga. Meskipun sering dianggap remeh, justru di sanalah nilai paling mendasar tentang kesadaran diri, empati, dan tanggung jawab dibentuk.

Menemukan Humor di Tengah Hidup yang Terasa Berat

Saya sedang berusaha konsisten menulis dan menemukan kembali semangat melalui berbagai referensi, salah satunya dari Pinterest. Menariknya, ide justru sering muncul ketika hidup terasa paling melelahkan. Di titik itu, menulis menjadi cara untuk menata ulang pikiran sekaligus melatih diri agar tetap produktif.

Saat diminta menuliskan memori lucu, saya sempat kebingungan. Namun perlahan, saya teringat banyak momen sederhana bersama anak-anak. Salah satunya ketika anak pertama bertanya, “Bunda, segitiga sama kaki itu gimana?” dan saya menjawab dengan refleks, “Segitiga yang kakinya sama.” Jawaban polos itu justru membuat saya tertawa sendiri, meski anaknya tidak terlalu terhibur.

Anak kedua sering menghadirkan kejutan dengan pertanyaan acak dan logika yang di luar dugaan. Banyak hal yang belum mampu saya jawab, sehingga saya memilih belajar kembali dan menyampaikan penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana.

Dengan anak ketiga, kami justru menemukan kesamaan minat, terutama soal persneling dan pernak-pernik menulis. Aktivitas ini semakin bermakna sejak saya menjalani terapi dengan psikiater dan psikolog. Menulis bersama menjadi ruang aman yang mempererat hubungan kami.

Sementara itu, memori bersama suami yang paling membekas adalah ketika beliau menghadiahi saya sebuah tablet—alat yang selama setahun hanya saya sebutkan tanpa pernah menuntut. Hadiah itu terasa sangat mahal, bukan karena harganya, tetapi karena perjuangan di baliknya.

Momen terlucu versi saya justru datang dari diri sendiri: saat pikiran terlalu sibuk membuat skenario tentang takdir. Psikiater menyebut otak saya over active. Setelah menjalani pengobatan, saya belajar untuk lebih tenang, tidak memaksakan jawaban atas semua hal, dan lebih mudah berdamai.

Di titik itu saya sadar, hidup memang sering kali terasa absurd. Namun ketika kita berhenti menuntut segalanya dan mulai berserah, justru di situlah humor dan kelegaan muncul. Dan saya hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Ah, hidup memang selucu ini.”

Pinterest


Drama Otot Di bulan Desember

Sejak hari Senin saya sudah rungsing karena nyeri otot yang sangat mengganggu aktivitas saya, sampai-sampai tangis pun tidak bisa terelakkan. Yang bikin saya bingung adalah: minggu lalu saya juga bermasalah dengan otot, sudah fisioterapi ke rumah sakit, dan hasilnya sehari setelah itu badan saya enteng banget. Jadinya saya banyak beraktivitas, walaupun akhirnya ujung-ujungnya tingkat kesakitan minggu ini jadi berbeda.

Kalau ditelaah lagi, kayaknya karena saya belum pulih secara paripurna tapi tetap memaksakan diri dengan aktivitas full seharian pada hari Sabtu (6 Desember) untuk mempersiapkan keberangkatan ke Probolinggo untuk acara syukuran. Ditambah lagi kondisi di dalam mobil yang kecil membuat tubuh saya terlipat-lipat. Jadilah nyeri otot saya semakin menjadi-jadi.

Tepat hari Senin, akhirnya suami saya membawa saya fisioterapi lagi, kali ini dengan dokter yang berbeda (karena menurut saya dokter minggu lalu memang kurang). Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan dokter yang sangat informatif. Namanya dr. Rahmad. Beliau menjelaskan bahwa saya kelelahan dan dibiarkan terlalu lama, sehingga semuanya jadi kaku dan membuat otot saya kurang perform begitulah istilahnya.

Untungnya suami saya ikut masuk, jadi beliau menjelaskan semuanya dengan gamblang. O iya, ada hal yang membuat saya sangat terharu melihat gelagat suami saya kali ini. Beliau terlihat antusias ketika menjelaskan kondisi saya yang kalau sedang beraktivitas, susah sekali berhenti. “Dia ini strong mom, dok,” katanya.

Saat itu saya hanya tersenyum sambil bersyukur melihat sikap suami yang mulai menunjukkan perubahan seperti yang saya inginkan selama ini. Ya, selama ini saya ingin beliau ikut serta berkembang ke arah yang lebih baik dan tidak terlalu diam serta pasif.

Walaupun begitu, tetap saja ada rasa aneh. Ada kekhawatiran “ditinggal” dan saya "sendirian" lagi. Tapi saya sadar, kalau hal seperti ini terulang terus, overthinking saya tidak akan pernah menemukan ujungnya. Huft. ps, karena semua ini bermula dari overthinking.

Bukannya bersyukur dan mengapresiasi, malah mencurigainya. Padahal seharusnya saya menikmati saja rezeki yang Allah karuniakan ini. Ya Allah, maafkan hamba. Tapi terima kasih sudah mengabulkan apa yang saya inginkan selama ini.

O iya, apa pesan yang saya dapatkan?
Hmmm… saya harus lebih sering menghargai tubuh ketika sudah memberi sinyal “lelah”. Harus lebih rajin relaksasi, memanjakan otot dengan kompres, olahraga pelan-pelan, dan kembali menikmati proses.

Curhat Asam Lambungku

 

Sumber: Pinterest

          Beberapa  hari ini asam lambung kambuh entah karena mikirin apa. Kadang tuh ngerasa heran sendiri terhadap pikiran sendiri yang seharusnya bisa sangat memahami apa isinya. Tapi Ketika menuliskannya malah menjadi buntu banget. Padahal seharusnya bisa dengan gamblang menjabarkannya, walaupun dengan Bahasa sendiri karena yang paling mengerti pikiran kita ya..diri sendiri kan? Walau tetep aja  buntu banget kalua tentang menjabarkan apa yang di rasakan.

          Agaknya harus memiliki kemampuan mendeskripsikan satu per satu apa yang sedang di pikirkan, tidak hanya seputar “buang sampah” saja. Tapi juga da makna yang tersirat setiap menjabarkan apa yang telah di rasakan selama itu. Satu persatu di jadikan poin-poin yang dapat di jabarkan dengan gamblang juga akan menjadi banyak hal yang seharusnya tidak menjadi beban pikiran kan?

          Tau gak sih? Perubahan itu butuh banyak sekali proses yang harus di pelajari setiap waktu. Bukan hanya memikirkan saja ya…tapi juga mempelajari apa yang harus di pelajari selama beberapa waktu. Kalua bisa tidak menghabiskan waktu hanya untuk “belajar”. Butuh sekali seorang mentor atau memberikan batas dan patokan yang harus di buat. Agar waktu tidak habis begitu saja.

Sumber: Pinterest

          Hal tersebut bisa di pelajari pada beberapa platform, tapi pembimbing juga sangat di butuhkan. Jangan serta merta menelan info yang beredar dan mematokkan pada diri sendiri tanpa bimbingan orang yang kompeten di bidangnya. Jadi teringat pengalaman saya pribadi pada minggu lalu.

          Seorang ahli memberikan saya pemahaman tentang informasi yang saya dapatkan dari platform media social. Saya mencoba untuk mempraktekkan, malah membuat saya setres aan beberapa kegiatan yang saya canangkan tersebut. Kata beliau “dengan profesi anda sekarang saja (sebagai ibu rumah tangga), sebenarnya anda sudah banyak sekali kegiatannya loh. Ya…kan? Kalua tambahan itu malah membuat anda setres, coba di pikirkan dan di liat Kembali, tujuan anda mengumpulkan kegiatan itu untuk apa? Jika malah membebani, maka lebih baik di introspeksi lagi soal kegiatan-kegiatan tersebut”.

          Hmmm, benar juga. Setelah saya ingat-ingat lagi. Saya terlalu bersemangat, sampai lupa mengingat tujuan melakukan hal tersebut karena apa.

Ayo gengs, di urutkan lagi kegiatan-kegiatannya. Jangan sampai kita mengenyampingkan kewajiban yang harus di tunaikan. Dan malah focus kepada hal yang tidak harus di selesaikan saat itu juga.

Sumber: Pinterest


Tentang Yang Sudah-Sudah

Ada kalanya semua hal yang terjadi di dunia ini memang ada sangkut paut yang mendekatkan kita kepada hal tersebut. Entah sebelum hal itu belum, sudah dan akan terjadi nantinya. 
Tapi, ketika sadar dengan hal tersebut pasti akan mengambil sedikit pesan yang tersirat dari kejadian tersebut.

Seperti halnya saya yang kemarin hampir seharian mentengin timeline X untuk melihat perkembangan dan narasi serta bukti yang di "jembrengin" oleh fans tentang proses melamar Salma salsabil.

Banyak yang menyayangkan, bahkan termasuk saya. Tapi, setelah saya pikir-pikir soal cinta memang akan di buat buta oleh semua yang di katakan oleh orang lain. Bahkan hingga di titik gak akan bisa di kasi tau secara logika karena memang se buta itu. 

Mengingatkan saya pada diri sendiri. Ketika memutuskan untuk menikah pada usia yang sangat muda. Banyak yang menyayangkan keputusan saya tersebut, tapi tidak saya gubris karena menurut saya mereka yang menyayangkan memang sedang iri dengan ritme kehidupan saya. 

Semua terasa indah. Hingga kami memutuskan untuk pindah dan dekat dengan mertua. Allahu Akbar, ternyata kehidupan pernikahan yang real memang ketika dekat dengan keluarga. Ujian mulai menghampiri, bahkan hingga ingin untuk bercerai. 

Kenapa kehidupan sangat terasa jungkir balik? Karena ketika kami merantau, semua bisa kami handle sendiri. Bahkan saya tidak akan bicara kepada siapapun tentang rumitnya masa perkenalan kami. Semua ekspektasi itu runtuh, tidak hanya saya. Tapi, juga pastinya suami merasakan hal yang sama. 

Tapi, kami sadar dan semakin belajar. Bahwa kebersamaan tak seindah kalimat awal ketika hal² indah banyak di omongin oleh orang yang lebih berpengalaman. 

Menikah itu indah. Tapi, ketika kita belum siap dengan berbagai macam Lika liku serta ilmu malah menjadi Boomerang tersendiri. 
Menikah itu rumit. Tapi, ketika kita siap dalam berbagai macam goncangan dan ritmenya pasti kita akan melewati ombaknya.

Dengan semua hal yang saya lewati. Saya menjadi orang yang sangat menentang pernikahan muda untuk semua kalangan. Karena menikah bukanlah solusi atas kehidupan kita. Ada banyak hal yang seharusnya bisa di lakukan hingga merasa puas dengan berbagai pencapaian. 

Setiap ada yang ingin menikah mau itu dalam usia yang terbilang matang pun. Saya selalu bertanya kepada mereka "sudah selesai dengan diri sendiri blm?" Atau "apa yang di pikirkan soal pernikahan, coba deh di jelaskan sesuai dengan pemahaman kamu". Dan jika jawaban mereka hanya menye² saya dengan sangat gamblang akan memarahi. Hahahhaa hmmmm sekalian saya takut²i juga sih.

Saya pukul rata, mau itu perempuan ataupun laki² pasti akan saya marahi jika alasannya tetaplah menye² saja. 

Dan 1 hal yang bisa saya simpulkan. Kenapa ada orang yang berani mengambil keputusan besar untuk hidupnya. Ada peran orangtua yang tidak cukup di berikan kepada buah hatinya. Seperti saya yang dulu tidak bisa dekat dengan ayah. Dan tidak memiliki teman cerita. Susah percaya Dnegan orang lain, dan begitu mudahnya jatuh cinta hanya karena laki² bisa memberikan kenyamanan. Walau ada beberapa ikrar yang selalu di tekankan oleh orangtua saya dan kebanyakan laki² ogah memutuskan.

Namun, ketika ada yang berani mengambil keputusan besar tersebut. 

Semuanya terbentuk sebagaimana keluarga dan orangtua membentuknya. 

Sudah gitu aja. Sumber: Pinterest.com

Membangun Habit

 

Sumber: Pinterest.com

    Membangun sebuah kebiasaan itu tidak mudah. namun, jika tidak di atur dan selalu belajar pola yang baik, pasti akan merasa kebingungan. bukan bermaksud mankut-nakuti sihh yaaaa. tapi membangun dan berproses itu butuh sedikit berjuang karena ritme tubuh dan diri yang sudah terlanjut terbiasa dengan kegiatan rutin yang begitu-begitu saja.

    Lalu, bagaimana cara membangunnya? saya termasuk orang yang berpikir cukup lama perihal ini. kadang-kadang kebingungan yang menyertai walau pusing tujuh keliling ketika berusaha untuk belajar dan mengimplikasikan dalam kehidupan. sedikit rumit dan membutuhkan dana juga. ternyata itu yang saya sadari. namun, ketika kita sudah merasa bahagia dengan hal itu malah semakin ringan ketika menjalaninya.

    Saya petakan apa yang di inginkan, sembari mencari tau dan try error terus. berbulan-bulan dalam kebingungan soal ini. tapi, ternyata ketika sudah klik malah ketagihan. mencari tau di berbagai macam platform dan mengikuti kata hati adalah hal yang paling ampuh. bukan sekadar ikut-ikutan saja ya.

Sumber: Pinterest.com

    Karena banyaknya contoh yang bertebaran malah kadang membuat bingung. tapi, tetap kembalikan kepada kondisi diri . jangan mengikuti standar orang lain, karena proses yang mereka jalankan pasti berbeda dengan kita. 

    sebenarnya terhadap ilmu apapun kita memang di tuntut untuk bijak dalam memilah-milah mana yang cocok untuk diri kita sendiri, namun, urusan hati dan kenyamanan agaknya harus di nomor satukan juga. terlebih kita sebagai muslim memiliki aturan yang tidak bisa di remehkan. 

    Belajar dari yang kredibel dalam ilmu tersebut sembari belajar dari berbagai macam sisi. insyaAllah akan menjadikan kita semakin bijak dalam menjalankan ilmu tersebut. begitu juga dalam membangun habit atau kebiasaan dalam hidup.

    Semoga bermanfaat

Semangat berproses. Sumber: Pinterest.com


Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...