Drama Otot Di bulan Desember

Sejak hari Senin saya sudah rungsing karena nyeri otot yang sangat mengganggu aktivitas saya, sampai-sampai tangis pun tidak bisa terelakkan. Yang bikin saya bingung adalah: minggu lalu saya juga bermasalah dengan otot, sudah fisioterapi ke rumah sakit, dan hasilnya sehari setelah itu badan saya enteng banget. Jadinya saya banyak beraktivitas, walaupun akhirnya ujung-ujungnya tingkat kesakitan minggu ini jadi berbeda.

Kalau ditelaah lagi, kayaknya karena saya belum pulih secara paripurna tapi tetap memaksakan diri dengan aktivitas full seharian pada hari Sabtu (6 Desember) untuk mempersiapkan keberangkatan ke Probolinggo untuk acara syukuran. Ditambah lagi kondisi di dalam mobil yang kecil membuat tubuh saya terlipat-lipat. Jadilah nyeri otot saya semakin menjadi-jadi.

Tepat hari Senin, akhirnya suami saya membawa saya fisioterapi lagi, kali ini dengan dokter yang berbeda (karena menurut saya dokter minggu lalu memang kurang). Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan dokter yang sangat informatif. Namanya dr. Rahmad. Beliau menjelaskan bahwa saya kelelahan dan dibiarkan terlalu lama, sehingga semuanya jadi kaku dan membuat otot saya kurang perform begitulah istilahnya.

Untungnya suami saya ikut masuk, jadi beliau menjelaskan semuanya dengan gamblang. O iya, ada hal yang membuat saya sangat terharu melihat gelagat suami saya kali ini. Beliau terlihat antusias ketika menjelaskan kondisi saya yang kalau sedang beraktivitas, susah sekali berhenti. “Dia ini strong mom, dok,” katanya.

Saat itu saya hanya tersenyum sambil bersyukur melihat sikap suami yang mulai menunjukkan perubahan seperti yang saya inginkan selama ini. Ya, selama ini saya ingin beliau ikut serta berkembang ke arah yang lebih baik dan tidak terlalu diam serta pasif.

Walaupun begitu, tetap saja ada rasa aneh. Ada kekhawatiran “ditinggal” dan saya "sendirian" lagi. Tapi saya sadar, kalau hal seperti ini terulang terus, overthinking saya tidak akan pernah menemukan ujungnya. Huft. ps, karena semua ini bermula dari overthinking.

Bukannya bersyukur dan mengapresiasi, malah mencurigainya. Padahal seharusnya saya menikmati saja rezeki yang Allah karuniakan ini. Ya Allah, maafkan hamba. Tapi terima kasih sudah mengabulkan apa yang saya inginkan selama ini.

O iya, apa pesan yang saya dapatkan?
Hmmm… saya harus lebih sering menghargai tubuh ketika sudah memberi sinyal “lelah”. Harus lebih rajin relaksasi, memanjakan otot dengan kompres, olahraga pelan-pelan, dan kembali menikmati proses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...