Belajar Menulis dan Berdamai dengan Diri: Refleksi Perjalanan Seorang Ibu

Pinterest

 Hari ini saya kembali mencari tahu tentang cara menulis yang lebih menarik, meskipun saya menyadari bahwa dunia kepenulisan tetap membutuhkan pembimbing. Jujur, saya sangat menikmati aktivitas baru ini, dengan harapan dapat menjadi ruang untuk menghasilkan sesuatu secara materi, walaupun kerap maju-mundur karena merasa belum pantas.

Saya sadar tidak memiliki banyak kemampuan selain menulis. Oleh karena itu, menulis harus menjadi sesuatu yang saya tekuni dengan sungguh-sungguh, meskipun harus merangkak dari awal. Jika diperhatikan, sejak dulu sebenarnya saya sudah menulis, tetapi sering berhenti di tengah jalan karena kurang percaya diri.

Isi kepala terbiasa berisik tanpa tahu bagaimana menumpahkannya. Bukan karena tidak memahami platform, melainkan karena saya sendiri yang menutup diri. Terbiasa merasa dikerdilkan terhadap banyak pilihan hidup dan tidak mendapatkan dukungan sesuai harapan.

Kini saya menyadari bahwa tidak semua hal yang saya lakukan harus mendapatkan apresiasi. Bisa jadi, orang lain pun tidak terbiasa memberi apresiasi karena mereka sendiri jarang menerimanya. Saat ini, saya memilih menjalani apa yang saya mau, selama tidak merugikan dan tidak mendapat keberatan dari orang-orang terdekat.

Di tengah peran sebagai ibu rumah tangga dengan aktivitas yang seolah tidak pernah selesai, saya mulai memahami pentingnya memberi ruang untuk diri sendiri. Tiga puluh lima tahun hidup, sebagian besar saya habiskan dengan mengerdilkan diri. Aktivitas untuk diri sendiri sempat membuat saya merasa egois, padahal justru itulah cara agar saya lebih menikmati peran hidup yang saya jalani.

Saya percaya, ketika seorang ibu sudah nyaman dengan dirinya sendiri, ia akan lebih mudah mencintai sekitarnya. Namun, menyalurkan cinta tidaklah mudah jika seseorang tidak merasa bahagia dengan dirinya. Mengapresiasi diri adalah kebutuhan setiap manusia, meskipun banyak yang belum terbiasa melakukannya.

Jika setiap orang tua mampu mengelola dirinya sendiri, maka ia akan lebih mudah membimbing keluarganya menuju kebahagiaan. Perspektif negatif terhadap diri hanya akan membuat kita stagnan: tetap beraktivitas, tetapi tanpa makna dan mudah tersulut emosi.

Karena itu, mengenali diri sendiri menjadi langkah penting, termasuk mengajarkan anak untuk berdamai dengan dirinya. Tujuannya bukan untuk menyalahkan pola asuh orang tua, melainkan memperbaiki pola yang kurang sehat dan meneruskan kebaikan yang telah diberikan.

Pendidikan, terutama pendidikan agama, tetap menjadi fondasi utama dalam keluarga. Meskipun sering dianggap remeh, justru di sanalah nilai paling mendasar tentang kesadaran diri, empati, dan tanggung jawab dibentuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...