Drama Otot Di bulan Desember

Sejak hari Senin saya sudah rungsing karena nyeri otot yang sangat mengganggu aktivitas saya, sampai-sampai tangis pun tidak bisa terelakkan. Yang bikin saya bingung adalah: minggu lalu saya juga bermasalah dengan otot, sudah fisioterapi ke rumah sakit, dan hasilnya sehari setelah itu badan saya enteng banget. Jadinya saya banyak beraktivitas, walaupun akhirnya ujung-ujungnya tingkat kesakitan minggu ini jadi berbeda.

Kalau ditelaah lagi, kayaknya karena saya belum pulih secara paripurna tapi tetap memaksakan diri dengan aktivitas full seharian pada hari Sabtu (6 Desember) untuk mempersiapkan keberangkatan ke Probolinggo untuk acara syukuran. Ditambah lagi kondisi di dalam mobil yang kecil membuat tubuh saya terlipat-lipat. Jadilah nyeri otot saya semakin menjadi-jadi.

Tepat hari Senin, akhirnya suami saya membawa saya fisioterapi lagi, kali ini dengan dokter yang berbeda (karena menurut saya dokter minggu lalu memang kurang). Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan dokter yang sangat informatif. Namanya dr. Rahmad. Beliau menjelaskan bahwa saya kelelahan dan dibiarkan terlalu lama, sehingga semuanya jadi kaku dan membuat otot saya kurang perform begitulah istilahnya.

Untungnya suami saya ikut masuk, jadi beliau menjelaskan semuanya dengan gamblang. O iya, ada hal yang membuat saya sangat terharu melihat gelagat suami saya kali ini. Beliau terlihat antusias ketika menjelaskan kondisi saya yang kalau sedang beraktivitas, susah sekali berhenti. “Dia ini strong mom, dok,” katanya.

Saat itu saya hanya tersenyum sambil bersyukur melihat sikap suami yang mulai menunjukkan perubahan seperti yang saya inginkan selama ini. Ya, selama ini saya ingin beliau ikut serta berkembang ke arah yang lebih baik dan tidak terlalu diam serta pasif.

Walaupun begitu, tetap saja ada rasa aneh. Ada kekhawatiran “ditinggal” dan saya "sendirian" lagi. Tapi saya sadar, kalau hal seperti ini terulang terus, overthinking saya tidak akan pernah menemukan ujungnya. Huft. ps, karena semua ini bermula dari overthinking.

Bukannya bersyukur dan mengapresiasi, malah mencurigainya. Padahal seharusnya saya menikmati saja rezeki yang Allah karuniakan ini. Ya Allah, maafkan hamba. Tapi terima kasih sudah mengabulkan apa yang saya inginkan selama ini.

O iya, apa pesan yang saya dapatkan?
Hmmm… saya harus lebih sering menghargai tubuh ketika sudah memberi sinyal “lelah”. Harus lebih rajin relaksasi, memanjakan otot dengan kompres, olahraga pelan-pelan, dan kembali menikmati proses.

Curhat Asam Lambungku

 

Sumber: Pinterest

          Beberapa  hari ini asam lambung kambuh entah karena mikirin apa. Kadang tuh ngerasa heran sendiri terhadap pikiran sendiri yang seharusnya bisa sangat memahami apa isinya. Tapi Ketika menuliskannya malah menjadi buntu banget. Padahal seharusnya bisa dengan gamblang menjabarkannya, walaupun dengan Bahasa sendiri karena yang paling mengerti pikiran kita ya..diri sendiri kan? Walau tetep aja  buntu banget kalua tentang menjabarkan apa yang di rasakan.

          Agaknya harus memiliki kemampuan mendeskripsikan satu per satu apa yang sedang di pikirkan, tidak hanya seputar “buang sampah” saja. Tapi juga da makna yang tersirat setiap menjabarkan apa yang telah di rasakan selama itu. Satu persatu di jadikan poin-poin yang dapat di jabarkan dengan gamblang juga akan menjadi banyak hal yang seharusnya tidak menjadi beban pikiran kan?

          Tau gak sih? Perubahan itu butuh banyak sekali proses yang harus di pelajari setiap waktu. Bukan hanya memikirkan saja ya…tapi juga mempelajari apa yang harus di pelajari selama beberapa waktu. Kalua bisa tidak menghabiskan waktu hanya untuk “belajar”. Butuh sekali seorang mentor atau memberikan batas dan patokan yang harus di buat. Agar waktu tidak habis begitu saja.

Sumber: Pinterest

          Hal tersebut bisa di pelajari pada beberapa platform, tapi pembimbing juga sangat di butuhkan. Jangan serta merta menelan info yang beredar dan mematokkan pada diri sendiri tanpa bimbingan orang yang kompeten di bidangnya. Jadi teringat pengalaman saya pribadi pada minggu lalu.

          Seorang ahli memberikan saya pemahaman tentang informasi yang saya dapatkan dari platform media social. Saya mencoba untuk mempraktekkan, malah membuat saya setres aan beberapa kegiatan yang saya canangkan tersebut. Kata beliau “dengan profesi anda sekarang saja (sebagai ibu rumah tangga), sebenarnya anda sudah banyak sekali kegiatannya loh. Ya…kan? Kalua tambahan itu malah membuat anda setres, coba di pikirkan dan di liat Kembali, tujuan anda mengumpulkan kegiatan itu untuk apa? Jika malah membebani, maka lebih baik di introspeksi lagi soal kegiatan-kegiatan tersebut”.

          Hmmm, benar juga. Setelah saya ingat-ingat lagi. Saya terlalu bersemangat, sampai lupa mengingat tujuan melakukan hal tersebut karena apa.

Ayo gengs, di urutkan lagi kegiatan-kegiatannya. Jangan sampai kita mengenyampingkan kewajiban yang harus di tunaikan. Dan malah focus kepada hal yang tidak harus di selesaikan saat itu juga.

Sumber: Pinterest


Tentang Yang Sudah-Sudah

Ada kalanya semua hal yang terjadi di dunia ini memang ada sangkut paut yang mendekatkan kita kepada hal tersebut. Entah sebelum hal itu belum, sudah dan akan terjadi nantinya. 
Tapi, ketika sadar dengan hal tersebut pasti akan mengambil sedikit pesan yang tersirat dari kejadian tersebut.

Seperti halnya saya yang kemarin hampir seharian mentengin timeline X untuk melihat perkembangan dan narasi serta bukti yang di "jembrengin" oleh fans tentang proses melamar Salma salsabil.

Banyak yang menyayangkan, bahkan termasuk saya. Tapi, setelah saya pikir-pikir soal cinta memang akan di buat buta oleh semua yang di katakan oleh orang lain. Bahkan hingga di titik gak akan bisa di kasi tau secara logika karena memang se buta itu. 

Mengingatkan saya pada diri sendiri. Ketika memutuskan untuk menikah pada usia yang sangat muda. Banyak yang menyayangkan keputusan saya tersebut, tapi tidak saya gubris karena menurut saya mereka yang menyayangkan memang sedang iri dengan ritme kehidupan saya. 

Semua terasa indah. Hingga kami memutuskan untuk pindah dan dekat dengan mertua. Allahu Akbar, ternyata kehidupan pernikahan yang real memang ketika dekat dengan keluarga. Ujian mulai menghampiri, bahkan hingga ingin untuk bercerai. 

Kenapa kehidupan sangat terasa jungkir balik? Karena ketika kami merantau, semua bisa kami handle sendiri. Bahkan saya tidak akan bicara kepada siapapun tentang rumitnya masa perkenalan kami. Semua ekspektasi itu runtuh, tidak hanya saya. Tapi, juga pastinya suami merasakan hal yang sama. 

Tapi, kami sadar dan semakin belajar. Bahwa kebersamaan tak seindah kalimat awal ketika hal² indah banyak di omongin oleh orang yang lebih berpengalaman. 

Menikah itu indah. Tapi, ketika kita belum siap dengan berbagai macam Lika liku serta ilmu malah menjadi Boomerang tersendiri. 
Menikah itu rumit. Tapi, ketika kita siap dalam berbagai macam goncangan dan ritmenya pasti kita akan melewati ombaknya.

Dengan semua hal yang saya lewati. Saya menjadi orang yang sangat menentang pernikahan muda untuk semua kalangan. Karena menikah bukanlah solusi atas kehidupan kita. Ada banyak hal yang seharusnya bisa di lakukan hingga merasa puas dengan berbagai pencapaian. 

Setiap ada yang ingin menikah mau itu dalam usia yang terbilang matang pun. Saya selalu bertanya kepada mereka "sudah selesai dengan diri sendiri blm?" Atau "apa yang di pikirkan soal pernikahan, coba deh di jelaskan sesuai dengan pemahaman kamu". Dan jika jawaban mereka hanya menye² saya dengan sangat gamblang akan memarahi. Hahahhaa hmmmm sekalian saya takut²i juga sih.

Saya pukul rata, mau itu perempuan ataupun laki² pasti akan saya marahi jika alasannya tetaplah menye² saja. 

Dan 1 hal yang bisa saya simpulkan. Kenapa ada orang yang berani mengambil keputusan besar untuk hidupnya. Ada peran orangtua yang tidak cukup di berikan kepada buah hatinya. Seperti saya yang dulu tidak bisa dekat dengan ayah. Dan tidak memiliki teman cerita. Susah percaya Dnegan orang lain, dan begitu mudahnya jatuh cinta hanya karena laki² bisa memberikan kenyamanan. Walau ada beberapa ikrar yang selalu di tekankan oleh orangtua saya dan kebanyakan laki² ogah memutuskan.

Namun, ketika ada yang berani mengambil keputusan besar tersebut. 

Semuanya terbentuk sebagaimana keluarga dan orangtua membentuknya. 

Sudah gitu aja. Sumber: Pinterest.com

Membangun Habit

 

Sumber: Pinterest.com

    Membangun sebuah kebiasaan itu tidak mudah. namun, jika tidak di atur dan selalu belajar pola yang baik, pasti akan merasa kebingungan. bukan bermaksud mankut-nakuti sihh yaaaa. tapi membangun dan berproses itu butuh sedikit berjuang karena ritme tubuh dan diri yang sudah terlanjut terbiasa dengan kegiatan rutin yang begitu-begitu saja.

    Lalu, bagaimana cara membangunnya? saya termasuk orang yang berpikir cukup lama perihal ini. kadang-kadang kebingungan yang menyertai walau pusing tujuh keliling ketika berusaha untuk belajar dan mengimplikasikan dalam kehidupan. sedikit rumit dan membutuhkan dana juga. ternyata itu yang saya sadari. namun, ketika kita sudah merasa bahagia dengan hal itu malah semakin ringan ketika menjalaninya.

    Saya petakan apa yang di inginkan, sembari mencari tau dan try error terus. berbulan-bulan dalam kebingungan soal ini. tapi, ternyata ketika sudah klik malah ketagihan. mencari tau di berbagai macam platform dan mengikuti kata hati adalah hal yang paling ampuh. bukan sekadar ikut-ikutan saja ya.

Sumber: Pinterest.com

    Karena banyaknya contoh yang bertebaran malah kadang membuat bingung. tapi, tetap kembalikan kepada kondisi diri . jangan mengikuti standar orang lain, karena proses yang mereka jalankan pasti berbeda dengan kita. 

    sebenarnya terhadap ilmu apapun kita memang di tuntut untuk bijak dalam memilah-milah mana yang cocok untuk diri kita sendiri, namun, urusan hati dan kenyamanan agaknya harus di nomor satukan juga. terlebih kita sebagai muslim memiliki aturan yang tidak bisa di remehkan. 

    Belajar dari yang kredibel dalam ilmu tersebut sembari belajar dari berbagai macam sisi. insyaAllah akan menjadikan kita semakin bijak dalam menjalankan ilmu tersebut. begitu juga dalam membangun habit atau kebiasaan dalam hidup.

    Semoga bermanfaat

Semangat berproses. Sumber: Pinterest.com


Cara Allah Memang Ajaib

Picture: Pinterest.com

Akhirnya memang semuanya menyesuaikan waktu yang sudah Allah tentukan. Bukan tanpa alasan yang tak berarti namun begitulah Allah ketika menentukan waktu yang tepat. Butuh waktu lama untuk belajar yang tidak ada ujungnya. Bukan mau saya maupun orang yang berada di sekitar, tapi memang Allah maunya begitu.

Lama untuk berdamai, nyatanya Allah memberikan cara sendiri dalam hal menyayangi segala aspek yang telah dan akan terjadi. Pun, jika menginginkan yang sesuai harapan ternyata mengorbankan banyak hal yang tidak ada ujungnya. Kan terasa ada di ujungnya Ketika benar-benar nyaman dengan keadaan, walaupun kita yang harus melatih rasa nyaman itu.

Saya pribadi mengakui, “nyaman” yang saya cari selama ini ternyata tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama hingga butuh obat untuk menurunkan adrenalin yang sudah terlanjur tegang selama bertahun-tahun. Bukan tanpa alasan. Ternyata setelah di pikir-pikir karena itulah cara Allah dalam mendewasakan pikiran.

Tenang yang dicari selama ini ternyata membutuhkan obat terlebih dahulu baru merasakannya. Dan itu sangat saya syukuri, terlalu lama menyimpan kecemasan hingga menyerah dan Allah memberikan jalan keluar dengan caranya yang sangat menggugah hati. Apakah mudah bagi saya menerima hal ini? Tidak kawan.

Merasa menjadi hamba yang sangat mendewakan obat adalah hal yang membuat saya terpuruk. Merasa menjadi hamba yang menduakan Allah. Walau akhirnya saya pasrah saja. Sebab memang itu yang saya cari selama ini.

“memang sudah  waktunya” adalah kalimat mujarab yang sering saya katakan kepada diri sendiri. Segala hal yang di lewati pasti memiliki maksud tertentu dan kewajiban kita adalah bersyukur terhadap hal yang sudah di lewati. Bagaimana caranya? Dengan melakukan ibadah yang lebih intens, membahagiakan diri dengan cara ternyaman yang bisa kita lakukan, dan meminimalisir hal-hal yang membuat kita merasa terpuruk.

Banyak hal yang bisa kita lakukan, cari cara di berbagai macam media dan LAKUKAN! Bergeraklah kawan.

Kompleksnya Isi Kepala

 

pict: pinterest

Jangan lagi ada yang tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang tidak setimpal. Bukan karena apa, tapi karena tidak bisa lagi memberikan sepenuhnya. Bukan karena apapun, namun, rasanya ingin pergi menjadi hal yang bukan lagi bisa di ungkapkan oleh kata-kata.

Semua hal yang sudah di lewati tidak bisa lagi di ungkapkan dengan kata-kata. Memang sudah ada ketenangan dari dalam jiwa. Namun, entah kenapa butuh banget pengakuan atau butuh di validasi walau  tidak ada yang memberikannya.

Penyakit mental memang bukanlah aib tapi tidak semua orang paham dengan hal itu. Beberapa kali merasa “sehat” walau belum mendapatkan hasil yang signifikan. Sakit mental itu penyembuhannya ternyata lama banget. Terasa sembuh bukan karena mengkonsumsi obat saja, tapi juga bagaimana pikiran bisa saling sinkronisasi dengan tubuh.

Sebulan pertama seperti ada perubhan yang sangat signifikan. Namun, Ketika menjalani ke bulan kedua malah semakin terasa jungkir baliknya. Apalagi di tambah hormon sedang jungkir balik karena mens. Entah kenapa kemarin Ketika control malah lupa menanyakan hal penting itu.

Padahal ada pertanyaan penting yang seharusnya di ungkapkan. Walau entah kenapa Ketika berada di depan psikiater dan psikolog malah blank semuanya. Apakah mungkin karena masih masa adaptasi? Masih banyak sekali yang di sembunyikan, tidak bisa mengungkapkan karena malu. Merasa tidak terbiasa mengungkapkan apapun merasa tidak pantas jika memiliki teman cerita. Karena selama ini terbiasa untuk menahan segala gundah di hati.

Banyak hal yang ingin di tuliskan dan membingungkan sebenarnya, bingung kenapa? Karena aku pun gak tau apa yang akan di tuliskan. Terlalu terbiasa dengan kompleksnya pikiran dan merasakannya sendiri saja.

Beberapa orang mengetahui kondisiku tapi memang tidak ada yang berinisiatif menanyakan keadaanku karena memang akupun tidak ingin menceritakannya. Ingin di tanya tapi tidak ingin menjawab dengan lantang. Gengsi itu terlalu nyata? Apakah ini termasuk rasa gengsi ya? Banyak juga pertanyaan yang ada di kepalaku.

Kadang-kadang Ketika merasa biasa-biasa saja malah sempat bertanya “apakah aku pantas mendapat perhatian?” sedang aku tak memiliki karya yang bisa membanggakan. Bukankah semua orang akan memberikan apresiasi Ketika orang tersebut memiliki karya yang patut di beri perhatian lebih. Sedangkan aku terlalu nyamana jika menarik diri dan nyaman dengan kesendirian, jadi merasa tidak pantas apabila mendapat perhatian lebih dari siapapun.

Biarlah ia menjadi bagian pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban. Biarlah ia menjadi pertanyaan yang mengendap dalam kepala atau di tuliskan saja disini. Agar suatu saat aku akan mendapat jawabannya cepat ataupun lambat.

Hanya 1 hal yang aku inginkan sekarang. Memiliki karya yang pantas di apresiasi oleh anak-anakku dan mereka merasa bangga memiliki ibu seperti aku yang memiliki penyakit mental. Harus sehat untuk mereka.

Kalia-Kenzi

 Kamar itu meremang, memang empunya sengaja menyalaakn lampu tidur saja dengan makud agar matanya tidak silau. Dia termenung pada ujung ranjang kamarnya. Ia sedang tidak memiliki tenaga untuk menggerakkan tubuh setelah ngobrol cukup lama dengan laki-laki yang sudah membersamainya selama 3 tahun teakhir.

Kalia Diandra Alaina, gadis yang berusia 27 tahun dan bekerja sebagai seorang psikolog pada salahsatu klinik di bilangan Kota Malang. Dengan  segala riuh yang sering menghampirinya. 3 tahun lalu ketika dia sedang menghabiskan waktu pada salahsatu komunitas pembaca buku dan di kenalkan oleh seorang teman sesame komunitasnya kepada salahsatu pengisi acara komunitas tersebut. Sebut saja Namanya kenzi.

Perkenalan hanya memakan waktu selama 2 bulan dengan intensitas komunikasi yang cukup sering. Akhirnya mereka menjalin hubungan tersebut hingga hari ini. Tentunya dengan kesibukan masing-masing. Walau tetap menjaga komunikasi dan memberikan waktu khusus untuk menjaga hubungan mereka. Cukup kooperatif dan dewasa.

Kenzi Ardana Abiputra. Ken panggilan akrabnya pemuda berusia 30 tahun yang bekerja sebagai manajer pada salahsatu perusahanan logistic ternama di Malang. Karena membaca adalah hobinya, ken bekenalan di ajak oleh Rafa, sahabatnya sejak kuliah ntuk bergabung dengan salahsatu komunitas membaca dan bertemu dengan Kalia.

Hari ini pun terjadi, ken tak lagi menghubungi kalia selama setengah hari sejak kesepakatan mereka. Biasanya setiap 30 menit pasti mennyakan keadaannya. Namun, entah kenapa setiap pembicaraan membelok ke pernikahan Kalia pasti males-malesan.

Pukul 19.15 itu handphone kalia berdering beberapa kali. Tanpa ada jawaban. Selang 15 menit kemudian Barulah kalia menghubugi si penelepon.

“sayang, lagi ngapain?” sudah jelas itu adalah ken.

“aku tadi di kamar mandi ken, maaf ya..” jawab kalia.

“gak apa-apa dong, gimana? Sudah lebih tenang sekarang?” ken dengan caa dewasanya

“hmmmm, Tentang nikah?” timpal kalia

“tentang apapun yang mengganjal hati kamu sayang” ken menjawab dengan santai

“ken, aku tau kamu mendapat tekanan dari keluargamu. Tapi, tolong beri aku waktu ya… plis, beberapa hari atau minggu deh” ucap kalia

“oke, sambil jalan ya…aku ngikut kamu”

“aku belum siap untuk mengungkapkan semua. Tapi sebenarnya ada rasa khawatir pada diri aku, tolong jangan paksa aku ya…aku butuh waktu” jawab kalia

“iya, tapi kamu harus ingat ya… kita udah menjalin hubungan ini selama 3 tahun. Aku kaget Ternyata masih ada rahasia yang aku belum tau tentang kamu loh” suara lembut ken membuat kalia terdiam

“aku pengen tanya deh ken, masa kamu tidak ada rahasia yang masih kamu jaga hingga hari ini?” tanya kalia.

“sejauh ini gak ada sayang. Semua sudah aku sampaikan. Kan kamu tau aku ngapain aja selama kuliah, kerja sampe umur segini”

Kalia menunduk dan menghela nafas.

“apa yang membuat kamu bisa mengatakan semuanya ke aku ken? Kamu kok bisa se percaya itu. Padahal kita belum tentu akan Bersama?” timpal kalia.

“sayang, sejak aku mengenal kamu dan memperhatikan semua tentang kamu. Hingga aku mengajak kamu menjalin hubungan. Aku sudah bertekad untuk tidak main-main dengan hubungan ini kal. Aku serius dengan kamu. Dan aku udah bicarakan tentang keseriusan ke keluargaku lho”

“kamu kan tau sayang, aku gak pernah main-main dengan tekadku selama ini” sambung ken.

Kalia hanya terdiam. Mematung, karena tidak tau harus menimpali ken dengan Bahasa yang bagaimana.

Tapi

“ken, kamu yakin dengan aku? Sepemahamanku, pernikahan tidak semudah itu.” tanya kalia

“sayang, aku udah bilang loh daritadi kalau aku tuh yakin dengan kamu. Apa yang buat kamu ragu jika menikah dengan aku kal?” jawab ken yang nytanya malah menanyakannya lagi kepada kalia

“ken, aku tau kamu sebahagia itu dengan keluargamu. Sedangkan aku tidak. Bahkan kamu sudah tau kalau papa dan mamaku tidak akur sejak mereka bercerai, ken, aku takut mengecewakan semua orang. Apalagi di tambah era sekarang. Aku takut nantinya tidak bisa mendidik anak-anakmu dengan baik”

“aku masih trauma sayang” sambung kalia

“hmmmm, ada yang mengganjal perasaann kamu ya? Tentang apa? Ayo kita diskusikan. Aku gak nyangka kalau kamu nyimpan rasa itu sendirian. Kenapa di sembunyikan dari aku kal, biasanya kamu cerita apapun ke aku. Ternyata masih belum semuanya ya..”pertanyan Panjang ken

“gak tau kenapa, aku agak males jika ngomongin pernikahan sayang, bukan aku gak mau nikah sama kamu, tapi seperti ada yang mengganjal. Apalagi dengan profesiku saat ini. Malah membuatku semakin trust issue dengan pernikahan, padahal seharusnya aku tidak melakukan itu. Ah, boleh gak aku minta waktu lagi ken? Aku butuh lebih tenang lagi, biar bisa ambil keputusan. Nanti aku kabarin ke kamu ya…” pinta ken

“aku selalu nunggu sampaikan apa kekhawatiran kamu itu ya…sayang”

“insyaAllah sayangkuuuuu, terima kasih ya…untuk tidak memaksaku”

“aku gak suka di paksa, ngapain aku maksa-maksa kamu?”

Kalia terdiam sejenak.

“sayang” panggil ken di seberang

“ha? Iyaa.. iya ya. Kamu gak suka di paksa,”

“apa siiiihhh. Udah ah, istirahat sana. Besok kita mau keluar kan?”

“iyaa.. udah shalat isya ken?”

“udah sayang, kamu?”

“beluuuum hahahahaha”

“yaudah, shalat dlu setelah itu istirahat. Besok aku jemput”

“okey sayang, assalamualaikum”

“waalaikumsalam”

Kalia meletakkan handphone itu di atas meja belajarnya. Sebelumnya dia mmberi pean singkat ke ken

 “ken, hpnya aku silent ya..sepertinya sampe besok pagi”

Dan kalia langsng menuju kamar mandi untuk berwudhu. Menurtnya shalat adalah waktu yang paling tepat untuk menenagkan pikirannya. Hingga 1 jam kemudia dia menyelesaikaan semuanya dan bersiap untuk tidur. Dengan hrpan besok sudah lebih tenang.

Mata kalia terbuka dengan segar dan langsung memeriksa jam di atas nakasnya. Jam menunjukkan pukul 03.30 pagi. Sudah menjelang shubuh pastinya. Dia langung bangun menuju kamar mandi. Berwudhu untuk shalat shubuh. Semua kebiasaan pagi yang sudah di ajarkan oleh ayah ibunya selalu di lakukan. Tak lupa membaca buku selama 30 menit.

Setelah itu dia check handphonenya. “biasanya ken sudah menghubunginya, atau minimal membalas WA tadi malam” kata kalia dalam hati.

Benar saja, notifikasi dari ken adalah yang paling pertama di buka

“iya kal, nanti kabarin aku kalau udah tenang ya…, selamat istirahat sayang, aku kangen banget dengan ceriamu. Jangan merasa terbebani ya..” pesan singkat ken tadi malam

“terima kasih sayang” jawab kalia barusan

“aku telpon sebentar ya..?”

“iyah”

“asalamualaikum kal”

“waalaikumsalam ken”

(diam beberapa detik)

“kok jadi begini sih?” taanya ken

“lah? Terus gimana?”

“gak suka aku kalau begini sayaang”

“kan biasanya juga begini”

“gak dong”

“gimanaaa? Aku harus gimana ken?” tanya kalia lembut

“apa kek sayang”

“deuh, umur udah segini masih aja clingy”

“aku begini Cuma sama kamu loh kal”

“iya sih. Terus gimana? Kamu gak kemana-mna hari ini?”

“gak kal, aku males kemana-mana. Tapi pingin jalan sama kamu sayang. Mau enggak?”

“hmmmm, aku pingin ngobrol sama vania deh sayang. Kita gak usah jalan hari ini ya… gimana?”

“hmmmmm, ngobrol sama aku aja napa sik”

(manja klilah si laki-laki sebiji ini, hadeeeeeh)

“ngobrol sama kamu tuh udah tiap hari ya,,,btw. Masa iya aku ngobrol ke vania aja gak bisa. Lagian aku gak hanya mau curhat kali, ada obrolan tentang kerjaan jua yang harus di diskusikan bareng dia. Ada beberapa masalah beberapa pasienku yang seinget aku vania udah pernah nangani pasien dengan kasus yang sama kek pasienku sayang” kata kalia Panjang lebar

“nanti malem deh kita ketemu ya. Dari rumah vania aku jemput kamu” sambungnya.

“masa kamu yang jemput aku?”

“terus?, kan sekalian jalan sayang. Ngapain kamu bolak balik?”

“iya ya…. Kalau gitu aku nongkrong bareng bagas dan danar ya…”

“nah, begitu aja kali sayang. Eh, emang mereka luang?”

“luang, cewek mereka lagi ke luar kota semua, ada urusan keluarga”

“oke”

“sayang, kamu aku anter aja ya….nanti biar aku jemput”

“ken, plis. Aku pingin nyetir sendiri”

“nanti kalau ada apa-apa gimana?”

“ya…kamu jangan do’ain yang jelek gitu dong”

“aku kan khawatir”

“kek ABG deh”

“gak gitu sayang. Aku tuh mau kamu aman terus”

“iya aku tau. Kamu tuh se sayang itu ke aku. Tapi plis deh ah. Aku mau nyetir sendiri. Nanti aku kabrin terus ke kamu sampe aku duduk di sofa vania”

“beneran nih?”

“Kenzi Ardana Abiputra”

“iya..iya.. kabarin aku terus ya…”

“iyaaaa.”

Sebelum berangkat menuju rumah vania. Kalia menghubungi sahabtanya terlebih dahulu. Khawatir vania tidak ada di umahnya ataupun sedang ada kegiatan yang tidak bisa di ganggu gugat.

“van, di rumah gak?”

“ada nih. Kenapa? Mau kesini? Ayooooo, mama lagi bikin bakso. Kebetulan banget”

“belum juga aku jawab keuleus”

“kan biasanya kamu tuh begitu, nanya “dimana”. Pasti karena mau ketemu aku kan?”

“PD banget. Hahahha”

“terus”

“yaudah, aku ke rumah ya…ini udah OTW”

“dasar kakaaaaaaal”

Kaliaa hanya tertawa sambal masuk ke dalam mobilnya.

15 menit kemudian. Mazda 2 skyactiv hitam milik kalia terparkir di halaman rumah vania di perumahan permata jingga.

“Assalamualaikum mamaaaaa” sapa kalia ketika bertemu dengan Yanti. Mama vania.

“waalaikumsalam, kaliaaaaa, kok gak ngabarin mama kalau mau dating?”

“iya, aku gak ngabarin. Tapi aku ngabarin vania kok mam”

“vania ini kebiasaan”

“haaha, slow dong mah. Kata vania mama bikin bakso kesukaan aku ya?”

“naaah iyaaa.. nanti mama siapin ya..”

“iya mah. Aku langsung ke vania dulu ya…mah”

“iya dah”

Pintu kamar terbuka. Dan kalia mendapati vania yang sedang sibuk dengan buku novelnya sambal tengkurap pada ranjangnya. Tidak ada pergerakan sama sekali. Karena pasti dia sdang memkai TWSnya dengan volume music yang cukup keras.  (seperti biasaaaa)

“heh!!”

“loh, koku dah nyampe? Aku kkira masih beberapa jam lagi kal”

“enggak ya…aku kan selalu tepat waktu kaleeee”

“haalah, sok tepat waktu. Kalau janjian sama aku pasti molor kok”

Kalia hanya nyengi kuda sambil menjulurkan lidahnya.

“tadi di anter ken?” tanya vania

“enggak, aku nyetir sendiri”

“teumben di bolehin. Biasanya kemana-mana kudu di anter dia?”

“dia lagi ngumpul bareng teman-temannya. Jadi aku berangkat sendiri aja van. Biarinlah dia quality time dengan teman-temannya”

Wajah vania hanya menatap dengan keanehan yang nyata (tumben) kali ini tidak ada sumringah yang berlebihan dari kalia. Biasanya kalau di pncing buat ngomongin kenzi pasti ada binar mata yang tidak bisa di tuliskan (halah)

“kalian berantem?”

“enggak van. Baik-baik aja”

“boong ah, pasti lagi gak enakan. Klian tuh sama-sama udah 3 tahun kal. Kalau karena permaslahan kecil pasti gak sampe segininya”

“hmmmm, huft!! Bingung aku van”

“kaaaaan. Ada apa? Emang se rumit itu? Cerita dong”

“kenzi ngajakin aku nikah van”

“waaaaaaahh, sumpah!! Bagus dong kal. Terus kenapa gak sumringah? Kan cita-cita semua orang loh di ajakin nikah sama pasangan sendiri” timpal vania

“tapi aku selalu nolak kalau ken membahsa soal itu van”

“kenapa?”

“aku takut van, cerita keluargaku se buruk itu”

“sudah aku sangka pasti karena itu”

“kamu paham kan?”

“paham kal, tapi ken udah tu belum khawatirmu seperti apa?”

“belum aku kasi tau secara gambling sih. Cuma dia tau trauma dan sebabnya apa”

“van, aku tau. Kenzi pasti mengjakmu membicarakan tentag pernikahn bukan pertama kali ini aja kan?

Kalia mengangguk.

“dan sebenarnya bukan karena kenzi dan keluarganya yang buat kamu males ngomongin tentang pernikahan” sambung vania

“aku tuh tau kenzi sgitu cinta dan sayang . apalagi dia cukup dekat dengan orangtua dan saudara-saudaranya. Tapi, aku tkut aja ke depannya malah tidak sesuai dengan ekpektasi kenzi. Makanya banyak hl yang masih aku sembunyikan dari kenzi van”

“kenzi akhirnya tau kalau kamu banyak menyembunyikan cerita hidupmu kal? Hebat banget, padahal hubungan kalian udah 3 tahun lamanya. Dia gak pernah nanya se dalam itu? Kalau tentang keluaganya kamu tau semua?”

“kenzi selalu menceritakan apapun, bahkan yang menurutku tidak terlalu penting untuk ketahui pasti dia akan ceritakaan van. Kadang-kadang aku merasa aneh ke knzi kok bisa dia menceritakan banyak hal. Padhal aku tidak pernah bertany sampai terlalu dalam”

“kal kal, kamu nih beneran goblok ya… cowok kek kenzi itu juwarang banget loh. Tapi iya juga sih ya…selama ini juga kalau ada apa-apa pasti kenzi yang paling banyak mengalah”

“bacot kau!!”

“hahahahaha. Tapi bener kan?”

“iya. Aku pantes gak sih dapetin kenzi yang begitu van? Dia itu terlalu baik untuk aku yang begini” wnita berkerudung pashmina berwarna biru itu pun menunduk.

“kal, ungkapkan semua hal yang kamu khawatirkan itu. Yang menjalani itu kalian berdua. Kamu kan menyadai soal itu kan?”

“iya, aku obrolin dari A ke Z ya… ke kenzi”

“obrolin lah. Kenzi kan bukan anak kecil. Dia sudah cukup dewasa. Pun kamu udahh harus tau alasan ap yang selama ini bemain ke kepala kamu yang pinter itu. Kamu mempertanykn itu kan kal? Tanya langsunglah ke kenzi. Kan dia yang punya jawabn pastnya”

“hmmm oke deh”

Akhirnya pembicaraan tentang kenzi dans egala gundahnya sudah usai. Akhirnya pembicraan lain pun berlanjut. Mereka berdua sudah saling tukar cerita. Hingga waktu mencapai sore.

Handphone kalia berdering.

(Kenzi (love) begitu nama panggilan yang tertera.

“halo ken” vania yang menjawab.

“loh, kalia mana van?”

“ketiduran dia ken. Abis nonton film hahaha”

“owalah. Yaudah biarin aja kaalau gitu. Nanti kalau dia udah bangun suruh hubungi aku ya…van. Karena aku udah mau berangkat. Aku tunggu-tnggu malah belum ada kabar dari kalia”

“tau tuh, padahal tdi dia juga bilang kalau mau ketemuan lagi dengan kamu. Tapi malah ketiduran”

“gak apa-apa deh. aku jemput langsung ke rumah kamu aja van. Kebetulan Bagas mau ke arah rumh kamu juga”

“dasar!, yaudah kesini aja”

“okey. Kalia gak usah di bangunin van”

“iyaaa bro!!”

1 jam kemudia kalia pun terbngun dari tidurnya. Dia sendirian di kamar vania. Sedang di luar jendela sudah menandakan malam hari. Kalia langsung terduduk dan memeriksa handphonenya. Menelpon Ken.

“sayang. Aku ketiduran”

“gak apa-apa kal. Jadi jemput aku gak? Atau aku yang ke rumah vania?”

“ngaain kesini. Kan aku yang janji mau jemput kamu”

“oke aku tunggu sayang. Jangan ngebut ya…”

“oke. Bye”

Handphone langsung di msukkan ke dalam tas kalia. Dia mencari vania. Tapi pasti sedang Bersama mma. Akhirnya dia ke kamar mandi untuk sekeddar mencuci muka setelah itu langsung memakai pshminanya. Begitu keluar kamar dia terkejut karena melihat kenzi sedang duduk di sofa keluarga vania sedng ngobrol dengan mama, papa, dan mas kaisar.

“loh?”

“waaaaahhh, udah selesai ternyata. Udah sampe mau tumbuh ubannya kenzi nungguin kamu kal” kata kaisar. Semuanya pun tertawa.

Kalia hanya senyum-senyum simpul

“kenapa gak bangunin aku sih?” tanya kalia sambil duduk di samping vania.

“lakikmu yang ngelarang”

“adooooohhh, so swit bangeeeeeeedddd” kata papa, mama, vania dan mas kaisar serentak.

Kalia langsung tertawa terbahak-bahak. “apaan sih kalian”

Memang sudah begitu dekatnya persahabatan kalia dan vania selama 10tahun terakhir. Aplagi di tmbah keadaan keluarga klia yang sudah menyedihkan. Membuat keluarga vania menyambut kalia dengan sangat terbuka hingga menganggap kalia sebagai anggota keluarga mereka juga.

“ken, kapan lu nikahin kalia? Keknya udah lama loh hubungan kalian ini?” tanya mas kaisar

“tanya aja sendiri ke kalia bang. Gue udah bolak ngajakin dia nikah” jawab kenzi sekenany aja

Akhhirnya semua mat tertuju kepada kalia.

“kaaaaaannn, pasti pada  kepo. Nanti-nanti jika waktunya tiba pah, mah, mas” kalia menjawab dengan malas.

“YAELAH!!” kata mereka serentak

Sudah tidak mengejutkan dengan respin mereka.

“ayo ken, berangkat. Kalau gak nanti semakin di introgasi mas kaisar wleeeee” kalia dengan mimic menjulurkan lidahnya

“kalau kail masih banyak alasan, Tarik paksa aja ke KUA ken” kata kaisar

“siap mas!!” jawab kenzi dengan semangat

“gila” kata kali sambil menyalami papah Faisal, mamah yanti dan memeluk vania

“jangan lupa sampein yang kita bicarakan tadi kal”bisik vania

Kalia hanya mengangguk sambil mengacungkan jempol

“gue gak lu salamin kal?” tanya kaisar

“ogah!! Mas kaisar bau belum mandi” acuh kalia. Semuanya tertawa.

“pamit dulu ya…semuanya. Assalamulaikum” ucap kenzi. Sambil berlalu keluar rumah

“sayang, kunci mobil” pinta kenzi

“o..iya, sebentar” kat kalia sambil merogoh tasnya. “nih”

Tak lam pintu mobil depan sebelah kiri di bukakan oleh kenzi sambil mempersilakan kalia untuk naik ke dalam mobil.

Kenzi selalu melakukan itu, walaupun kalia selalu menolak dengan kalimat”aku bisa sendiri”. Nyatanya. Kenzi tidak selalu merespon dan tetap melakukan hal yang sama selama 3 tahun kebersamaan mereka.

“kita kemana jadinya?” tanya kenzi

“gak tau, aku juga bingung” jawab kalia

“kebiasaan kamu ah”

“hahahaha. Yaudah, jalan aja dulu sayang. Nanti juga nemu tempat yang menginspirasi”

“ah, kamu selalu bilang begitu. Nanti ujung-ujungnya malah pulang ke rumah kamu”

“hahaha, iya ya..?”

“aku tuh udah hafal dengan kamu sayang”

“terus kemana dong? Masa kamu gk ada ide” tanya kalia

“hmmmm, yaudah aku bawa aja ya…tapi gak boleh protes”

“iyaaa sayang”

Tangan kanan kalia langsung di genggam oleh ken. “kangen” katanya.

Kalia hanya tersenyum mengiyakan sambil mempehatikan laki-laki di sampingnya itu.

“kenapa sayang? Kamu jtuh cinta ke aku udah berapa kali?” tanya kenzi

“ya..Allah Kenziiiiii. PD banget” teriak kalia

“lah kamu. Diam-diam ngeliatin aku”

“kamu kenapa gak kasi tau kalau udah di rumah vania tadi?” kalia mengalihkan pembicaraan

“sejam aku nunggu kamu kal?”

“hah?!? Kenapa gak nyruh vania bangunin aku ken?”

“kalau aku nyuruh vania, ya..aku gk bisa ngbrol ke keluarga vania dong, keburu berangkat dengan kamu jadinya. Biasanya kan aku kalau jemput Cuma di depan rumah vania aja kal”

“iya sih. Seru tadi ngobrolnya?”

“seru sayang. Apalagi pas mas kaisar datang. Makin nglor ngidul. Ah, sayang banget kamu keburu keluar kamar. Jadi obrolan kami terputus”

“yeeeeee” sahutan kalia sambil di warnai tawa oleh kenzi

“tadi kamu kumpul sama siapa aja ken? Bagas dan Danar kan? Cuma bertiga aja?” tanya kalia

‘huum, kayk yang tadi aku sampein ke kamu sayang” jawanb kenzi

“iya deng, kamu kan tadi udah nyampein ke aku ya? Terus, ngobrolin apa?”

“hmmm, gak ada yang jelas, ngalo ngidul aja. Kalau enggak akrena Danar di telpon sabrina, keknya gak akaan selesai cepat kami. Kebetulan bagas juga pas akua jak cabut juga mau, kebetulan dia ada janjian dengan teman SMA-nya, dan rumahnya dekat vania. Jadi aku sekalian minta anter”

“ooo gitu, pantesan kok tumben cepet banget. Bias any kan kalian kalau ngobrol bisa lam banget. Makanya aku nawarin buat jemput kamu aj gitu, eh, Taunya kamu duluan yang jemput aku”

Ken hanya tersenyum dan mengusap kepala kalia.

“kamu gimana sayang? Ada dapet inside baru dari vania. Pasti kamu sudah nyeritain tentang kita kan? Tanya kenzi balik

“hmmm, huum” jawab kalia sambil mengangguk dan tetap melihat ke depan.

“terus?”

“gak da terusannya. Gitu-gitu aja sih. Abis itu kami ngobrolin tentang pasien ken”

“ah, kamu selalu begitu” sambil melepas pegangan tangannya.

Fyi, kenzi memang lebih ekspresif daripada kalia yang cenderung lebih dingin dalam bersikap.

“ngarep apa kamu hey” kata kalia sambil mengambil tangan kenzi lagi.

“tau ah, terserah kamu”

“hahahhaa, kamu tuh ya..kalau ngambek begini. Lucu loooh” goda kalia

“tau, gak denger”

“iya iya, di god begitu aja loh” kalia sambil menowel dagu kenzi

“aku tuh ngobrolin tentang ajakan kamu itu loh sayang. Dan aku meragukan banyak hal tentang perikahan kan sebenarnya sudah lama banget. Kamu tau itu lah, kan ajakan kamu ini bukn sekali 2 kali.”

Kenzi mengangguk sambil mengusap tangan kalia

“sayang, ternyata vania membuka mata dan pikiranku ketika dia tanya apa yang membuatku taky akin dengan ajakan itu. Hubungan kita juga kan sudah tergolong lama. Dan tidak ada alasan untuk menunda terus. Kamu juga kan bukan untuk bermain-main dengan aku. Ya…kan?”

“iya. Itu kamu tau” kata kenzi

“sebenarnya da trust issue yang aku rasakan sayang. Dan vania suruh aku untuk membicarakan hal it uke kamu. Harus terbuka katanya”

“iya. sebentar. Kal, kayaknya kita bisa sambil duduk du café aja ya… biar lebih terasa intimate gitu. Aku mau liat kamu lebih dekat jadi gak usah sambil nyetir gini loh. Tuh ada café” putus kenzi

“iya deh. Aku juga mau sambil ngemil n minum apa gitu sayang”

Mobil mereka berhenti di parkiran Café bukit delight. Mereka langsung memesan makanan ringan dan minuman saja.

“kita lanjtin yg tadi sayang” pinta kenzi

“smpe mana tadi?” tany kalia

“baru juga 5menit lalu, langsung lupa hahahha”

Kalia cemberut

“jangan cemberut gitu, nanti aku unyel-unyel nih pipi kamu. Sampe harus tebuka tntang trust issue tentang pernikahan yang kamu pikirn selama ini”

Kalia hanya tersenyum sambil memainkan jari jemari kenzi.

“iya sayang, jadi ak tuh memang sudah selalu curiga dengan dunia pernikahan karena melihat problema ibu dan ayah yang berpisah kan. Aku tuh merasa penkahan hanya omong kosong saja”

“hmmmm”

“kamu marah sama aku? Karena aku nyembunyikan hal itu ken?”

“kecewa dikit sih hehehe. Kenapa hal penting begitu gak kamu sampein ke aku sih kal?”

“aku takut ngecewain kamu. Tapi malah karena aku pendam buat kamu kecewa ya?”

“sayang aku merasa tidak di percaya sama kamu loh. Padahaal sejak pertma jalin hubungan ini juga kan kita sudah komitmen untuk saling ngungkapin apa yang sedang mengganjal di hati” singkat kenzi

“keen, sori sayang”

“hmmm,gak apa-apa. Yang penting sekarng aku udah tau. Jadi gimana? Apa yang harus kita selesaikn terleebih dulu sayang? Nanti selesaikan Bersama”

“aku sebenarnya takut kamu dan keluarga malu dengan silsilah keluargaku yang hancur lebur itu ken. Karena aku liat pada beberapa pasienku yang depresi sebab permaslaahan rumah tangga dan komunikasi dengan pasangannya. Ternyata pada beberapa kasus malah bermuara karena hasutan dari keluarga lain dan menganggap bahwa pasangan yang hadir dari keluarga broken home itu akan menciptakan rumah tangga yang brokenhome juga” jelas kalia dengan Panjang lebar

Kenzi hanya diam dan menghembuskan nafasnya. Tapi dia juga sambil menarik tangan kalia yang sedang menunduk.

“kal, liat aku”

Kalia pun mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca. Sedih luar biasa walaupun ada lega.

“kal, kita sudah Bersama selama 3 tahun. Kamu udah kenal hampir semua anggota keluargaku sayang. Mereka senang bukan main ketika aku menyampaikaan ingin menikahimu. Bahkan kata Tante Laila, Tante keisya, dan Om Bram akan memberikn hadiah khusus untuk kamu. Oma Rahma dan Oma Zainab yang paling gak sabar. Kamu sudah sangat di terima dengan baik dalam keluargaku kal. Mereka udah tau latar belakang keluarga kamu. Mama yang menyampaikan”

Kalia terkejut.

“iya mama yang menyampaikan plus sebabnya karena apa. Hanya bagian yang lumrah aja kok sayang. Mama juga tau kalau hal seperti itu memiliki Batasan untuk menyampaikan ke orang lain. Kal, kamu harus tau apa respon mereka kala itu “oooo, ya,,..wajar kak mereka berpisah. Tapi kayaknya bukan masalah penting sih. Kalia sudah sangat bagus karakternya. Menyenangkan kami. Soal urusan keluarganya itu juga bukan kemauan kalia. Yang penting kenzi, kakak, dan abang dapat menyayangi dan jangan sampe macem-macem ke dial ah, pasti yang dia rasakan dulu jauh lebih menyiksanya, masa iya mau dapet keluarga baru malah membuat luka lagi?”

kenzi menceritkan itu dengan tetap mengusap tangan kalia dengan lembut.

Air mata kalia menderas. Ada rasa sesal karena sudah berpikiran buruk tentang keluarga kenzi.

“maaf” hanya sepatah kata itu

Kenzi memberikan tisu kepada Wanita kesayangannya, kalia menerimanya.

“gak ada maaf-maafaan sayangkuuu. Lagi gak lebaran ini” goda kenzi

Kalia hanya tersenyum.

“kita makan aja yuk, keburu dingin ini pesanan kita” ajak kenzi

“nanti kita sambung lagi ya.. kamu kan laper” sambung kenzi lagi

“iya” jawab kalia singkat

30 menit kemudian mereka sudah berada di mobil

“mau langsung pulang atau masih mau jalan-jalan lagi sayang? Tanya kenzi

“hmmmm, aku pingin jalan ke Batu ken. Muter-muter aja deh”

“kebiasaan kamu, muter-muter mulu kesenengannya” kenzi smabil menowel hidung mungil kalia. Kalia hanya tersenyum.

“aku pengen jalan-jalan lagi kenziiii”

“iya iya, jangan lupa seatbelt kamu pasang”

“okey!!!”

Mereka mengitari perjalanan menuju Batu sambil ngobrol banyak hal. Hingga mendekati alun-alun Batu lalu berhenti sebentar.

“sudah di Batu nih. Mau ngapain kita kal?” tanya kenzi

“gak tau, akum au liat orang yang lagi lalu Lalang aja sih” jawan kalia

“kal…kal” tangan kenzi mengusap kepala Wanita berkerudung pashmina berwarna cream itu.

“ken” panggil kalia

“iya sayang”

(tatapan mereka hanya ke depan mobil saja)

“beneran keluarga kamu kasi tanggapan itu untuk aku?”

“iya, masa aku bohong?”

“aku gak akan maksa kamu sayang. Bilang aja kamu siapnya kapan. Atau sambil jalan nanti. Mana tau kamu butuh menguatkan hati lagi”

“aku maunya sekrang kamu ajak aku nikah” ucap kalia tanpa basa basi.

“loh?!?” kaget kenzi

“iya kenzi. Ayo kamu lamar aku”

“hhahahaha”

“beneran udah siap ya?”

“iyaa”

“cepet banget berubahnya?”

“padahal baru tadi pagi kamu nolaknya kaal”

“yaudah, gak usah deh”

“haahahahaha” tawa kenzi renyah

“pulang aja yuk, udah malem sayang” ajak kenzi dengan wajah tidak merasa bersalahnya

Kalia hanya mengangguk saja. Sambil mengatakan 1 patah kata “yok”

Setelah itu mereka diam seribu Bahasa hingga kalia sampai di rumahnya.

“bawa aja mobil aku ken” suruh kalia sambil membuka mobilnya

“hati-hati ya..” sambungnya

“iya. Yaudah, kamu istrahat ya.. bye kal”

“iya, kamu juga ken.bye”

Ketika di rumah, kalia langsung membersihkan bersih-bersih dan mengganti pakaian serta skincare yang rutin dia gunakan.

Tiba-tiba notifikasi handphonenya berbunyi.

 


 Kalia hanya menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Dia masih heran dengan pernyataannya sendiri kepada kenzi. Bahkan kal sendiri kaget, dia yakin kenzi juga tidak kalah terkejutnya. Namun, yang semakin mengherankan, kenapa kenzi menunjukkan gesture tubuh yang terlihat tidak menyambut terhadap usulannya tadi.

Sekarang? Dia menuliskan “love u” pada pesan terakhirnya di malam ini? Apa dia tidak apa-apa? Atau hanya rutinitas saja. Ah, kalia hanya menatap layer handphone dan menatap nanar kepada chat kenzi itu. Smua pertanyaan seakan-akan menari di dalam benak dan pikirannya.

Tadinya kalia ingin tidak telalu memikirkannya tapi lama kelamaan malah semakin berisik dalam pikirannya. Sebenarnya kalia tidak ingin membuat isi kepalanya semakin tak tentu arahnya dengan cara mencari kesibukan dan memeriksa laporan-laporan yang biasanya di berikan admin klinik untuk janji-janj dengan pasiennya esok hari.

Namun, kekuatan kalia pecah. Dia nekat menghubungi vania via WA yanga walnya hanya memastikan sahabatnya itu masih terjaga atau sudah tidur.

 


 


 

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...