Oprec (part kesekian) ODOP 2024

 

Jika di tanya soal alasan bergabung ke oprec ODOP 2024  kali ini sih ingin mengutamakan cita-cita yang sudah lama terpendam bukan karena ada unsur kesengajaan, tapi banyak sekali urusan dalam kehidupan yang harus di selesaikan terlebih dahulu, sebelum berkecimpung di dalam kebiasaan yang seharusnya di utamakan juga.

sekarang sudah tidak bisa asal-asalan untuk berkecimpung dalam hobi yang saya senangi agar tidak ada lagi waktu yang terbuang sia-sia. kali ini memutuskan untuk kembali mengikuti program baik yang sebenarnya sudah lama sekali saya mengenalnya, dan kali ini pun saya mengulang momen yang sama untuk kedua kalinya.

Setlah di telisik pun ternyata say baru ingat bahwa saya sendiri memiliki kebiasaan mengulik, menganalisa, membaca dan senang merangkum suatu hal sejak sekolah menengah pertama, namun baru banget menyadarinya jadi kali ini ingin lebih fokus saja dengan kebiasaan yang saya sangat sukai ini.

sumber: pinterest.com


harapan yang paling ingin tercapai adalah “agar lebih produktif, tertata dengan baik, di bimbing dan mudah-mudahan bisa meninggalkan jejak baik dalam kehidupan dengan kebaikan dan kebermanfaatan” semacam wasiat menjelang masa kematian jadinya. Tapi, berhubung saya tidak terlalu aktif di berbagai macam organisasi jadi hanya ingin menorehkan kenangan di platform sosmed saja.

Walau sebenarnya ingin juga memiliki pendapatan dari hobi say aini, namun, tidak bisa berharap lebih. Karena khawatir yang di tuliskan nantinya malah hanya dengan niat yang kurang tulus. Bilapun nantinya Allah menakdirkan akan menjadi jalan saya mendapatkan pendapatan dari jalur ini ya,…sangat alhamdulillah sekali.

Semoga nantinya Ketika berkecimpung dalam oprec kali ini dan semakin semangat serta bonus jadi semakin memahami alur kepenulisan  dengan cara yang baik dan cukup memahamkan diri saya akan dunia menulis dalam platform manapun tempat saya berkecimpung dan mencari tahu.

Dan 1 lagi harapannya, semoga saya semakin banyaak membaa dan peka terhadap sekitar hingga bisa menorehkan tinta pada setiap momen yang terlewat. Karena nyatanya momen dan kenangan itu memang harus selalu di tulis agar tidak terhempas waktu dan hanya bertahan dalam ingatan masing-masing saja. Karena nantinya dia akan menjadi warisan.

 

curhatku, kata hatiku

     tiba-tiba saja pingin menulis banyak hal. bukan untuk curhat semata, tapi juga menyelesaikan isi kepal yang sudah terlanjur penuh.

    berterima kasih pada Allah yang selalu memberikan apa yang selalu di pinta tapi terjawab dengan banyaknya hal terjawab. gak minta banyak tapi yang di kasi lebih dari cukup. banyak sekali pembelajaran yang kadang susah dipercaya tapi ketika Allah mengatakan TERJADI pastilah akan terjadi.
    
    seperti dalam minggu ini, banyak ekali keajaiban yang Allah beri untuk kelancaraan perjalanan kehidupan selanjutnya. sebut saja salahsatu yang sering sekali membuat isi kepala saya lebih berisik. persoal masa depan anak-anak yang secara teori saya sangat paham bahwa semuanya sudah Allah jamin. yang seharusnya tidak harus di khawatirkan namun tetap haarus di usahakan dengan kerja cerdas. 
    namun, saya harus memastikan banyak hal. terutamaa pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus yang Allah amanahkaan kepada kami. masihkah ada rasa bersalahnya saya dan lebih menyalahkan diri sendiri yang selalu merasa menjadi biang keladi keadaan anak pertam kami? ada banyak kelalaian. 

    tapi semua itu tidak akan membuat permasalahan menemukan penyelesaian, malah membuat saya semakin setres. akhirnya, semua hal yang membuat setres terselesaikan satu persatu. butuh waktu tahunan dan bilangan hari yang tak ada selesainya, habis badan dan isi pikiran juga waktu pastinya.

    akhirnya Allah menjawab segala gundah. dipertemukan dengn lingkungan dan sekeliling yang bermulaa dari banyaknya trust issues selama bercengkramma dengan banyak orang pada sebelumnya. dan orang-orang sangat memperhatikan kami. 

    sebagai anak rantau yang jauh daroi keluarga inti seperti saya ini. apasih yang di ingini? gak muluk-muluklah. hanya ingin di anggap keberadaannya. hanya itu! saya juga rindu di perhatikan secara khusus, terbiasa dengan kesendirian dan kecurigaan itu tidak ada nikmatnya. walau akhirnya saya mncoba berdamai dengan keadaaan itu.

    kembali kepada lingkungan baru yang telah membuat saya takjub. dan membuat saya tidak bisa memukul rata ketimpangan, tidak adalagi kecurigaan. kekeluargan itu nyata adanya. itulah yang saya rasakan.

    seperti ke anak pertam kami, dalam wsktu sebulan sedikit demi sedikit memiliki jalan terang, di jembatani untuk pendidikannya, di pertemukan dengan lembaga yang ahli di bidangnya. kepasrahan itu membuahkan hasil. adam akan di tangani oleh ahlinya lagi, dengan pendampingan yang ikhlas pastinya, semoga ini juga menjadi titik terang perjalann adam selanjutnya.

    untuk anak kedua juga akhirnya mengenyam pendidikan yang lebih fokus untuk perkembangannya juga ke depan, tak apa "libur" untuk 1 semester ini, tapi di beri alternatif yang lebih serius. rasanya ingin memeluk orang-orang baik ini. walu saya juga sudah kadung malu. ada janji dalam diri saya sendiri yang hany diri dan Allah yang tau.

    untuk anak ketiga kami, sudah di jamin pendidikannya, agar dia bisa mengenyam pendidikan yang sedikitnya sesuai dengan kemauan kami sebagai orngtua. 

    alhamdulillah sudah di bantu sebegitu banyak. semoga nnti Allah yang akan balas. kami juga akan membayar dengan sejuta dedikasi, dan semua ini butuh bnyak waktu saya untuk beradaptasi. semoga proses ini di ridhoi Allah

pinterest.com


    
    


Cintai Diri Sendiri

pinterest.com


Sudah hampir 11 tahun menjalani hari-hari sebagai seorang istri dan juga ibu. Nyatanya membuat saya tidak bisa memberikan banyak efek untuk kehidupan ini. Saya merasanya begitu sih ya...

Bukan tanpa alasan sih sebenarnya. Karena saya merasakan hal yang sama, kayaknya kehidupan selama itu tidak membuat saya jauh lebih baik karena keegoisan diri sendiri yang susah banget mengaturnya. Apalagi dengan karakter saya yang sangat keras kepala ini. Akhirnya membuat saya berpikir untuk melawan semua hal yang menjadi ketakutan-ketakutan saya selama ini.

Yang dirasa dalam belasan tahun ini adalah nyatanya saya banyak belajar, namun minim eksekusi. Sedangkan ilmu itu selalu berkembang selama 5 tahun terakhir, cara lama mungkin tidak akan bekerja lagi. Walau saya yakin jika cara baru selalu berganti, agaknya lambat laun cara baru pun akan mengadopsi cara lama yang terlhat sangat suram,walau dengan polesanyang berbeda.

Dan sekarang saya rasakan sendiri, setelah banyaknya ilmu yang di serap, sepertinya dan mungkin harus segera eksekusi apa yang sudah saya dapatkan selama ini. Jangan ada kata tapi, dan harus saat ini. Namun, tetep mengikuti kata hati. Mana yang cocok itu yang memakai kata kunci yang sudah tersimpan sekian lama.

pinterest.com

Kembali ke masa pernikahan selama belasan tahun ini, ternyata setelah di pikir-pikir saya banyak menghabiskan waktu untuk menyelesaikan diri sendiri saja. Pun puncaknya di beberapa bulan terakhir tahun 2023. Ya..menghabiskan waktu sekitar 6 bulan hanya untuk menyelesaikan permasalahan diri yang mengalami gerd dan enxiety disorder.

Ternyata gangguan-gangguan itu terjadi karena diri sendiri yang lebih banyak menyimpan egoisme diri. Egois atas obsesi yang tak kunjung menyesuaikan dengan semangat diri. Bertumpu pada angan namun minim eksekusi juga membuat setres diri sendiri. SIAPA SURUH?

Sering mentertawakan diri sendiri adalah passion saya. Hingga tak ada yang dapat menyembuhkan diri ini selain ya...diri sendiri. Sembuh itu hanya diri yang dapat memprossnya, walau tetap saja membutuhkan bantuan dari orang lain pastinya. Saya pribadi tidak menolak, tapi setelah disadari orang lain diluar diri sendiri tidak dapat mampu memahami keresahan yang di rasakan. Pun, ketika saya menjabarkan “rasa” itu.

Selama 6 bulan terakhir saya menjabarkan sedikit demi sedikit penyebab “sakit” yang saya rasakan. Apa resah yangpaling mendominasi hingga menggerus kesehatan saya selama ini. Nyatanya setelah di pelajari. Dropnya tubuh bukan karena 1 sebab, tapi juga banyak sekali sebab yang selalu dibiarkan menjadi tumpukan juga di sepelekan rasa yang di terima.

pinterest.com

Nyatanya tak semudah itu menumpuk masalah, kalau tidak di sentil “rasa sakit” sepertinya saya juga akan terus berkecimpung hingga lebur dengan rasa sakit itu. Membiarkan luka tanpa menyembuhkannya akan menjadi penyakit semakin akut. Begitu juga dengan permasalahan. Setidaknya ketika kita tidak bisa percaya dengan manusia, biarkan masalah itu mengendap sembari pasrah kepada Allah.

Memang tidak semua masalah dapat di selesaikan pada saat itu juga. Terkadang ada masalah yang memang harus di biarkan, dan berharap agar waktu yang dapat menyelesaikannya. Namun, nyatanya saya sendiri lupa meminta kepada sang pengatur kehidupan saya. Meminta untuk di bantu di tenangkan hati.

Banyak sekali cara menyelesaikan tanpa memikirkannya. Cuek dan menyibukkan diri dengan hal lain juga adalah cara paling manjur. Cari aktifitas yang mebuat sibuk, jangan terlalu terpaku, jangan diam dan mendiamkan keadaan. Ngapain aja asal itu positif. Lakukan dengan baik.

Yok, jadikan tahun ini menjadi tahun yang lebih produktif dan menciptakan karya.

pinterest.com


berisik kepala bikin "resik"

Berisik kepala itu kan tercipta karena kumpulan resah yang cenderung lebih sering terbiarkan dan kemampuan untuk menyelesaikan malah di perlambat yang akhirnya menimbulkan tumpukan yang tak kunjung menemukan penyelesaian.

Resah karena banyaknya isi kepala yang semakin menumpuk dan tak tentu arahnya kemana. Dari problema pribadi, lingkungan terdekat dan problema pelik lainnya. walaupun, ketika di ingat-ingat lagi, sebenarnya tidak ada tekanan sama sekali, namun cukup membuat berisik kepala, karena tidak kunjung di selesaikan 1 persatu. 

Agaknya untuk orang yang mudah tertekan dan terdistraksi pikirannya, emang lebih bijak untuk menyelesaikan satu persatu semua hal yang sudah ada dalam pikiran. Planning yang sering tercipta sekelebat waktu sesegera mungkin untuk di tulis dan di muntahkan perlahan agar tidak mudah menumpuk.

Jangan di tunda lagi, jika sudah menyadari kelemahan diri.

Ah, agaknya semakin paham kenapa Allah memberikan saya "gangguan mental". Butuh waktu hampir 5 bulan untuk berjuang menghadapi semua ini. Ini tidak seberapa daripada yang dihadapi oleh orang lain. Sebab sudah ada yang bisa berdamai dan terbiasa dengan suasana mentalnya hingga bilangan tahun dan mereka bisa keluar dari kondisi itu. Hmmm mungkin lebih tepatnya bukan keluar secara drastis ya.. dan berdamai dengan semua ini tidaklah mudah. Kudu optimis banget dengan diri sendiri jangan terpedaya sekali dengan rasa "tenang" yang sekelebat lalu bisa menghampiri dan dalam hitungan detik bisa buyar dalam sekejap. 

Jangan lagi menyalahkan keadaan yang ada. Sayangi diri!! Karena jika tidak kita mau siapa lagi?

satu lagi pesannya, jika memang membutuhkan ahli lebih baik menghubungi ahli tersebut. nyatanya pemasalahan ini tidak bisa di anggap enteng jika tidak di dampingi dan mendapat support system yang baik dari orang terdekat. pun,jika memiliki support system alangkah lebih bijaknya kita jika menjaga orang-orang yang dengan sukarela menemani tesebut. 


sekali lagim sayangi diri!

btw, "resik" yang di maksud adalah bersih. maknanya bersih-bersih isi kepala yang berisik (hahhaha)

pinterest.com

relaksasi diri

Healing mendadak itu emang lebih mendebarkan gengs. 

Karena selama kebersamaan di Tanggul, saya Sangat jarang Quality time, akhirnya yang kali ini terasa jauuuuuuuuuuh lebih berkesan.

MasyaAllah, Alhamdulillah. 

Jika ditanya apa yang di dapat selama di Tanggul? Saya akan menjawab dengan lantang "memiliki saudara sefrekwensi seperti mereka dan beberapa orang lainnya adalah 1 dari banyaknya anugerah. 

Persoal cerita tak sedap cukuplah sebagai pelajaran, adakah marah? PASTI! Adakah dendam? Hmmmm, untuk apa juga. 

Toh obatnya sudah di lengkapi oleh Allah. Biar waktu yang akan menjawab semua. toh, Allah tak akan pernah dzalim terhadap hamba²nya"

belajar untuk menghargai

Entah bagaimana lagi menghadapi kekuatan diri. Yang sudah terlalu sensitif terhadap berbagai macam hal tak dapat di katakan.
Bukan karena tidak bisa membicarakan. Namun, terlalu banyak yang bergejolak di dada. Hingga tak sanggup lagi untuk mengatakannya.
Terkadang, air mata malah tak bisa menjadi obat. Mati rasa menjadi salahsatu cara saja.
Kesal, marah dan kecewa.
Sebenarnya kami di anggap apa? Yaps, pertanyaan yang tak ada jawabannya. Capek pasrah! Tapi, seperti tidak pilihan lagi selain melakukan kepasrahan
Yang penting berusaha untuk menjadi diri yang lebih baik, sembari melakukan hal yang sangat disukai.
Mungkin inilah yang di namakan keegoisan semata. Namun, terlalu banyak orang yang juga egois terhadap orang lain.
Tak di nyana. Semua orang berhak belajar. Entah untuk menjadi baik ataupun menjadi jahat. 
Semuanya kembali kepada dirinya sendiri.
Jika mau marah ya...marah aja. Jangan di tahan kalau tidak ingin menjadi penyakit nanti.

catatan kata Rara

Catatan pemerhati Santri

 

doc: pribadi. santri MBS Tanggul

Sebuah cerita yang sudah sangat lama di tahan untuk di ungkapkan. Walau masih dalam ingtn dan tak juga terhempaskan, dan kali ini ingin sekali bercerita tentang dunia kepesantrenan yang mungkin tidak semua orang memahaminya.

Dunia pesantren tidak hanya berbicara tentang kitab, bahasa arab, sarung dan kopiah. Namun, ada yang lebih pentng dalam pendidikan seorang santri. Seperti halnya sekolah di luaran, biasanya yang paling di elu-elukan namanya adalah anak-anak berprestasi pada bidang tertentu.

Namun, pesantren tak melulu fokus tentang itu. Ada yang lebih penting. ADAB. Adalah hal yang penting seharusnya menjadi fokus dalam bimbingan karakter remaja, berhubung lembaga pendidikan biasanya sangat tidak fokus atas pendidikan adab ini.

Benarlah adanya ketika para alim ulama mengedepankan adab daripada ilmu. Sebab, keberkahannya ilmu berada pada poros adab terhadap guru, sesama murid atau santri pun dengan dunia sosial. Karena ilmu tak hanya di dapatkan dari tempat belajar.

Walau poros paling utama adalah pendidikan dari dalam rumah. tapi, nnyatanya sekolah memiliki peran banyak dalam pendidikan ini.

Adalah pesantren tempat kami berkecimpung, walau masih sangat banyak kekurangan dalam hal mendampingi para remaja. Tapi ternyata kami sangat menyayangi santri-santri yang ada di  sekitar kami ini.

Ada yang bermasalah, namun itu semua tidak menjadi hambatan, sebab terobati dengan sikap, tingkah polah yang lain. Walau tidak seluruhnya yang menampakkan proses adabkebaikan, namun, yang hanya beberap itulah menjadi obat dalam mendidik dan mengambil pelajaran.

Darimana kami bisa mendapatkan pelajaran?. Pola pendidikan orangtuanya membekas di sikap dan karakter anak-anak yang sudah terbiasa di gembleng agar menjadi anak yang “menyenangkan”. Perlukah menyebutkan namanya?saya rasa tidak usah. Hehehe

Karena mungkin mereka juga tidak mengerti atas perlakuan mereka ternyata ada kebaikan yang ternilai di dalamnya. Dan sesekali bertanya kepada orangtua mereka. Didikan sepertiapa yang di biasakan selagi berada di rumah? selalu berbuah takjub setiap mendengar jawaban orangtua mereka. Karena “gak ada yang spesial, biasa-biasa saja” semakin takjub hati di buatnya. Karena begitu rendah diri orangtua mereka.

Memangnya adab seperti apa yang telah di torehkan? Sekecil perhatian dengan sekitar ataupun mencoba menyelesaikan apapun yang telah di bongkar lalu di kembalikan ke bentuk semula. Atau sensitive terhadap kejanggalan sekitarnya menjadi tolok ukur dalam menilai.

Dan lagi-lagi karena di anugerahi menjadi seorang “guru” jadi tak henti-hentinya doa terucap dari dalam hati. “semoga kalian selalu menjadi anak yang baik hingga kapanpun, bila sesekali kalian kecewa dengan kehidupan. Semoga kalian kembali pada kebaikan tersebut dan menyebar luaskan kebaikan yang sudah tertoreh”

Pesan kepada kalian: kami sebagai orang yang lebih dahulu terlahir ke dunia ini, hanyalah pembelajar. Bahkan ilmu itupun datang dari kalian yang usianya jauh lebih muda dari kami. Dan kami tidak apa menyerap ilmu dari kalian bahkan dari siapapun. Jangan lelah menjadi baik.

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...