Catatan pemerhati Santri

 

doc: pribadi. santri MBS Tanggul

Sebuah cerita yang sudah sangat lama di tahan untuk di ungkapkan. Walau masih dalam ingtn dan tak juga terhempaskan, dan kali ini ingin sekali bercerita tentang dunia kepesantrenan yang mungkin tidak semua orang memahaminya.

Dunia pesantren tidak hanya berbicara tentang kitab, bahasa arab, sarung dan kopiah. Namun, ada yang lebih pentng dalam pendidikan seorang santri. Seperti halnya sekolah di luaran, biasanya yang paling di elu-elukan namanya adalah anak-anak berprestasi pada bidang tertentu.

Namun, pesantren tak melulu fokus tentang itu. Ada yang lebih penting. ADAB. Adalah hal yang penting seharusnya menjadi fokus dalam bimbingan karakter remaja, berhubung lembaga pendidikan biasanya sangat tidak fokus atas pendidikan adab ini.

Benarlah adanya ketika para alim ulama mengedepankan adab daripada ilmu. Sebab, keberkahannya ilmu berada pada poros adab terhadap guru, sesama murid atau santri pun dengan dunia sosial. Karena ilmu tak hanya di dapatkan dari tempat belajar.

Walau poros paling utama adalah pendidikan dari dalam rumah. tapi, nnyatanya sekolah memiliki peran banyak dalam pendidikan ini.

Adalah pesantren tempat kami berkecimpung, walau masih sangat banyak kekurangan dalam hal mendampingi para remaja. Tapi ternyata kami sangat menyayangi santri-santri yang ada di  sekitar kami ini.

Ada yang bermasalah, namun itu semua tidak menjadi hambatan, sebab terobati dengan sikap, tingkah polah yang lain. Walau tidak seluruhnya yang menampakkan proses adabkebaikan, namun, yang hanya beberap itulah menjadi obat dalam mendidik dan mengambil pelajaran.

Darimana kami bisa mendapatkan pelajaran?. Pola pendidikan orangtuanya membekas di sikap dan karakter anak-anak yang sudah terbiasa di gembleng agar menjadi anak yang “menyenangkan”. Perlukah menyebutkan namanya?saya rasa tidak usah. Hehehe

Karena mungkin mereka juga tidak mengerti atas perlakuan mereka ternyata ada kebaikan yang ternilai di dalamnya. Dan sesekali bertanya kepada orangtua mereka. Didikan sepertiapa yang di biasakan selagi berada di rumah? selalu berbuah takjub setiap mendengar jawaban orangtua mereka. Karena “gak ada yang spesial, biasa-biasa saja” semakin takjub hati di buatnya. Karena begitu rendah diri orangtua mereka.

Memangnya adab seperti apa yang telah di torehkan? Sekecil perhatian dengan sekitar ataupun mencoba menyelesaikan apapun yang telah di bongkar lalu di kembalikan ke bentuk semula. Atau sensitive terhadap kejanggalan sekitarnya menjadi tolok ukur dalam menilai.

Dan lagi-lagi karena di anugerahi menjadi seorang “guru” jadi tak henti-hentinya doa terucap dari dalam hati. “semoga kalian selalu menjadi anak yang baik hingga kapanpun, bila sesekali kalian kecewa dengan kehidupan. Semoga kalian kembali pada kebaikan tersebut dan menyebar luaskan kebaikan yang sudah tertoreh”

Pesan kepada kalian: kami sebagai orang yang lebih dahulu terlahir ke dunia ini, hanyalah pembelajar. Bahkan ilmu itupun datang dari kalian yang usianya jauh lebih muda dari kami. Dan kami tidak apa menyerap ilmu dari kalian bahkan dari siapapun. Jangan lelah menjadi baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...