Ketika rasa kecewa ini sedang berada di puncaknya, hati serta pikiran tidak mampu sinkron dalam menyikapi yang telah terjadi, semuanya berakhir dengan mati rasa yang tidak bisa di ungkap dengan kata-kata.
Aku sadar rasa ini tidak akan ada yang memahami,
karena yang bisa merasakannya hanya diri sendiri. Namun, yang saya sadari,
semua rasa kecewa tidak akan dapat terobati jika hanya bekutat paa diri sendiri.
Banyak faktor yang ingin disalahkan, tapi bibir ini
kelu dalam mencari kambing hitam, karena hati dan pikiran tidak terbiasa hanya
menyalahkan pihak tertentu tanpa melihat pada beberapa sebab yang biasa
terjadi.
Tidak semua orang memahami apa yang terjadi pada
orang lain, selain ia sendiri pernah melewati hal yang sama. Kali ini ingin
menulis tentang keberadaan diri yang sering tidak dianggap, agaknya sudah
mendarah daging dalam kehidupaan saya. Tidak hanya saat ini, bahkan itu semua
terjadi sedari saya kecil hingga menginjak usia dewasa.
Jika idealnya seorang anak banyak yang di tanya
tentag pendapat dan di dengarkan, namun, hal itu tidak terjadi pada saya.
Ingin gak sih di ikut sertakan dalam menentukan
cita-cita pribadi dan di dukung sepenuhnya? Ya…ingin bangetlah. Tapi, ternyata
orang-orang yang saya harapkan tidak melakukan hal tersebut. Entah karena di anggap
tiak memiliki kemampuan itu atau karena
terlalu naif. Entahlah.
Ketika mindset sudah tercipta begitu, siapa yang
harus di salahkan? Tidak ada. Tugas saya saat ini hanyalah berusaha untuk
kedepannya menjadi orang yang tidak menciptakan kesedihan untuk orang lain.
Walau sadar sedari dini juga, tidak semua orang harus saya beri kebahagiaan.
Tapi, hanya mengusahakan untuk merasakan rasa sakit ini hanya saya yang
memahami dan mengusahakan tidak terjadi kepada orang lain. Terutama anak dan
keluarga.
Di hargai keberadaannya adalah hal yang paling saya
sukai. saya memang tidak memahami bagian-bagian besar yang di jalani orang
lain, tapi setidaknya saya paham bagaimana memperjuangkan diri agar tetap
bertahan dalam gejolak hati dan pikiran.
Sejauh ini saya telah banyak menyalahkan oran lain.
Namun, saya juga ingin meminta maaf, sebab rasa ini telah sangat menyakiti.
Entah tersebab apa, keluarga sendiri tidak bisa bercengkrama puas terhadap saya.
sebeenarnya ingin bertanya, salah saya dimana? Walau sebenarnya menyadari bahwa
pola pikir saya juga harus di benahi, hehe
Menuangkan pikiran dalam tulisan adalah salahsatu
cara sya mengobti diri sendiri agar segala hal yang biasa terpendam ini tidak
hanya brkutat dalam pikrian saja, mungkin lambaat laun, saya tidak hanya
menuliskan tentang diri sendiri. Tapi juga menuliskan banyak hal yang lebih
banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Karena saya sadar, semua ini pasti
menimbulkan negative thinking yang mungkin bisa berlebihan dalam menanggapinya.
Tapi saya izin untuk menyembuhkan rasa ini sampai waktu yang tidak bisa di tentukan.
Sepertinya saya akan lega jika dilupakan, biarlah
hanya orang-orang yang terdekat saja yang berada dalam memori. (apalah saya ini?)
begitulah pertanyaan dalam diri. Walau sebagian diri selalu saja mengatakan, “buktikan
kalau kau bisa bangkit dan menjalankan kehidupan dengan cara yang lebih baik
lagi”
Tapi yang harus diingat adalah jangan kecewa jika
mereka tetap saja tidak menganggap keberadaanmu. Bahkan mugkin hanya segelintir cerita yang kau
dapatkan, sepertinya sudah lebih dari cukup. Biarkan saja mereka hingga mereka
datang dan meminta bantuanmu. Dan ketika itu terjadi kau sudah tidak berkutat
lagi dengan rasa sakit yang pernah ada.

semangat kak, memang tidak mungkin semua orang bisa mencintai kita tetapi ingatlah, masih ada orang yang menyayangi kamu apa adanya
BalasHapusMenjadi anak yang tidak didengarkan pendapatnya memang sakit ya. Tapi tidak apa-apa, semoga jaadi pembelajaran ke depannya. Kalau sudah punya anak sendiri akan lebih demokratis dan tidak otoriter seperti kakek-neneknya.
BalasHapusI feel you, Kak. Merasa diabaikan atau tidak dianggap memang menyakitkan. Saya pun pernah merasakan itu. Namun saat ini saya memilih berdamai dengan diri sendiri. Barangkali orang abai pada kita, karena memang sudah tidak satu frekuensi.
BalasHapusIya kak, memaafkan lebih mudah dan melapangkan dada. Melupakan itu sulit seperti luka yang berbekas.
BalasHapusSemanangat yaa ka, walaupun berat dan sulit melewatinya. Semoga melatih kesabaran dan kelapangan kaka
BalasHapusdiabaikan itu memang tidak enak ya, tapi jika kita fokus terhadap diri sendiri maka ketika orang tak peduli itu tidak menjadi masalah
BalasHapus