Siang ini saya sudah menangis bombay karena mendengar cerita ust Luqmanul hakim pada sebuah potongan video yang di unggah oleh salahsatu akun tiktok. Beliau menceritakan kisah seorang ibu yang mengunjungi anaknya ketika masih mondok. Setiap berkunjung ke pondok untuk mengunjungi anaknya, beliau selalu membeli alat kebersihan kamar mandi, menyikatnya dengan bersih. Dan ketika sudah selesai dengan aktifitas tersebut beliau berdo’a “ya…Allah, kamar mandi ini akan di pakai oleh banyak orang, semoga yang saya lakukan ini menjadi wasilah untuk masa depan anak saya yang lebih baik” kurang lebih begitu paparan ust Luqman.
![]() |
| Ustadz Lukmanulhakim |
“dan ibu-ibu yang menyikat kamar maandi itu adalah mamak saya” sambung beliau. Air mata saya langsung meleleh tidak karuan. disini videonya
Saya menangis bukan hanya
karena cerita beliau, tapi juga karena mengingat perjuangan orangtua kami. Bukan
hanya orangtua kandung saya, tapi beberapa orang yang menjadi panutan saya
selama ini. Panutan dalam segala hal pastinya. Mereka yang tidak pernah menjabarkan
secara frontal segala perjuangan yang telah mereka torehkan, ternyata cukup
menjadi contoh saja telah menjadikan saya mendapat impact yang baik dalam kehidupan
saya.
Sebut saja ummi abi, orangtua kandung saya yang menghabiskan Sebagian besar masa mudanya untuk berkhidmat kepada masyaraakat sekitar. Membangun beberapa hal yang cukup membuat saya berdecak kagum lengkap dengan segala rintangannya. Saya sebagai anak pertama cukup memahami, bahkan tanpa mereka sadari selentingan tidak sedap lebih mendominasi ke dalam pikiran saya. sebab, yang membicarakannya lupa, bahwasannya anak-anak itu memiliki memori yang tidak bisa di anggap enteng. jeleknya, saya banyak mengingat kenangan buruk tersebut 😔
Walau saya yakin seluruh perjuangan mereka memang di niatkan untuk kebaikan di masa depan. Mungkin tidak di peruntukkan langsung ke anak cucunya. Namun, nyatanya semua itu terlalu dalam terpatri dalam hati saya. Ada berbagai macam pelajaran yang bisa saya simpulkan, dan agaknya hanya sampai dalam pikiran saya sendiri bersama pasangan. Agar nantinya menjadi penunjuk jalan kami untuk merangkai kehidupan yang lebih baik.
Semua orang memiliki jalan cerita, entah itu jalan yang baik ataupun yang buruk. Namun, nyatanya. Orang yang memiliki akal pikiran yang baik pasti akan menyibukkan dirinya untuk melakukan hal yang positif, jadikan kebaikan sebagai barometer dan yang udah terlanjur negtif buang saja sejauh mungkin.
Terima kasih kepada panutan-panutan
saya. segala kebaikannya akan menjadi cerita Panjang untuk anak cucu kalian. Agar
warisan itu menjadi kebiasaan. Perjuangannya akan kami teruskan walau dengan
cara yang mungkin terlihat kurang elegan. Tapi pasti akan memiliki nilai yang
sama.

Masyaallah Ustadz Lukmanul Hakim menyampaikan cerita yang sungguh menyentuh hati. Dari tulisan kakak, saya jadi diingatkan bahwa menjadi orang tua itu tidak cukup hanya sekadar berdoa meminta kepada Allah setiap saat, tetapi juga perlu untuk menunjukkan keseriusan atas doa-doa yang dipanjatkan dengan satu upaya yang tidak biasa.
BalasHapusMendidik anak tidak pernah mudah. Orangtua juga harus terus belajar. Karena mendidik anak perlu proses apalagi di zaman sekarang yang serba canggih. Terima kasih atas tulisannya. Ini bisa menjadi pengingat sekaligus pembelajaran baru bagi saya.
BalasHapusBegitulah orang tua ya. Kasih sayangnya tidak terbatas. Dibuktikan dengan perjuangan, melakukan apa saja (dalam konteks positif) demi putra dan putri tercinta.
BalasHapusDoa orang tua yang paling mustajab, selagi masih ada, mintalah doa kepada keduanya. Jika mereka sudah tiada tertutuplah kesempatan emas itu.
BalasHapusWow, ibu yang luar biasa mencintai anaknya
BalasHapusMasyaAllah kisahnya mengharukan banget. Memang perjuangan orang tua itu selalu besar demi anak-anak.
BalasHapusZaman sekar6 pendidikan parenting dan agama harus diberikan secara seimbang . M embaca tulisan bunda saya bersyukur artinya masih ada orang-orang yang menyadari bahwa warisan tak selalu berbentuk harta benda. Terkadang warisan ilmu bermanfaat dan akhlak yang baik menjadi warisan utama
BalasHapus