Menemukan Humor di Tengah Hidup yang Terasa Berat

Saya sedang berusaha konsisten menulis dan menemukan kembali semangat melalui berbagai referensi, salah satunya dari Pinterest. Menariknya, ide justru sering muncul ketika hidup terasa paling melelahkan. Di titik itu, menulis menjadi cara untuk menata ulang pikiran sekaligus melatih diri agar tetap produktif.

Saat diminta menuliskan memori lucu, saya sempat kebingungan. Namun perlahan, saya teringat banyak momen sederhana bersama anak-anak. Salah satunya ketika anak pertama bertanya, “Bunda, segitiga sama kaki itu gimana?” dan saya menjawab dengan refleks, “Segitiga yang kakinya sama.” Jawaban polos itu justru membuat saya tertawa sendiri, meski anaknya tidak terlalu terhibur.

Anak kedua sering menghadirkan kejutan dengan pertanyaan acak dan logika yang di luar dugaan. Banyak hal yang belum mampu saya jawab, sehingga saya memilih belajar kembali dan menyampaikan penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana.

Dengan anak ketiga, kami justru menemukan kesamaan minat, terutama soal persneling dan pernak-pernik menulis. Aktivitas ini semakin bermakna sejak saya menjalani terapi dengan psikiater dan psikolog. Menulis bersama menjadi ruang aman yang mempererat hubungan kami.

Sementara itu, memori bersama suami yang paling membekas adalah ketika beliau menghadiahi saya sebuah tablet—alat yang selama setahun hanya saya sebutkan tanpa pernah menuntut. Hadiah itu terasa sangat mahal, bukan karena harganya, tetapi karena perjuangan di baliknya.

Momen terlucu versi saya justru datang dari diri sendiri: saat pikiran terlalu sibuk membuat skenario tentang takdir. Psikiater menyebut otak saya over active. Setelah menjalani pengobatan, saya belajar untuk lebih tenang, tidak memaksakan jawaban atas semua hal, dan lebih mudah berdamai.

Di titik itu saya sadar, hidup memang sering kali terasa absurd. Namun ketika kita berhenti menuntut segalanya dan mulai berserah, justru di situlah humor dan kelegaan muncul. Dan saya hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Ah, hidup memang selucu ini.”

Pinterest


Drama Otot Di bulan Desember

Sejak hari Senin saya sudah rungsing karena nyeri otot yang sangat mengganggu aktivitas saya, sampai-sampai tangis pun tidak bisa terelakkan. Yang bikin saya bingung adalah: minggu lalu saya juga bermasalah dengan otot, sudah fisioterapi ke rumah sakit, dan hasilnya sehari setelah itu badan saya enteng banget. Jadinya saya banyak beraktivitas, walaupun akhirnya ujung-ujungnya tingkat kesakitan minggu ini jadi berbeda.

Kalau ditelaah lagi, kayaknya karena saya belum pulih secara paripurna tapi tetap memaksakan diri dengan aktivitas full seharian pada hari Sabtu (6 Desember) untuk mempersiapkan keberangkatan ke Probolinggo untuk acara syukuran. Ditambah lagi kondisi di dalam mobil yang kecil membuat tubuh saya terlipat-lipat. Jadilah nyeri otot saya semakin menjadi-jadi.

Tepat hari Senin, akhirnya suami saya membawa saya fisioterapi lagi, kali ini dengan dokter yang berbeda (karena menurut saya dokter minggu lalu memang kurang). Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan dokter yang sangat informatif. Namanya dr. Rahmad. Beliau menjelaskan bahwa saya kelelahan dan dibiarkan terlalu lama, sehingga semuanya jadi kaku dan membuat otot saya kurang perform begitulah istilahnya.

Untungnya suami saya ikut masuk, jadi beliau menjelaskan semuanya dengan gamblang. O iya, ada hal yang membuat saya sangat terharu melihat gelagat suami saya kali ini. Beliau terlihat antusias ketika menjelaskan kondisi saya yang kalau sedang beraktivitas, susah sekali berhenti. “Dia ini strong mom, dok,” katanya.

Saat itu saya hanya tersenyum sambil bersyukur melihat sikap suami yang mulai menunjukkan perubahan seperti yang saya inginkan selama ini. Ya, selama ini saya ingin beliau ikut serta berkembang ke arah yang lebih baik dan tidak terlalu diam serta pasif.

Walaupun begitu, tetap saja ada rasa aneh. Ada kekhawatiran “ditinggal” dan saya "sendirian" lagi. Tapi saya sadar, kalau hal seperti ini terulang terus, overthinking saya tidak akan pernah menemukan ujungnya. Huft. ps, karena semua ini bermula dari overthinking.

Bukannya bersyukur dan mengapresiasi, malah mencurigainya. Padahal seharusnya saya menikmati saja rezeki yang Allah karuniakan ini. Ya Allah, maafkan hamba. Tapi terima kasih sudah mengabulkan apa yang saya inginkan selama ini.

O iya, apa pesan yang saya dapatkan?
Hmmm… saya harus lebih sering menghargai tubuh ketika sudah memberi sinyal “lelah”. Harus lebih rajin relaksasi, memanjakan otot dengan kompres, olahraga pelan-pelan, dan kembali menikmati proses.

Curhat Asam Lambungku

 

Sumber: Pinterest

          Beberapa  hari ini asam lambung kambuh entah karena mikirin apa. Kadang tuh ngerasa heran sendiri terhadap pikiran sendiri yang seharusnya bisa sangat memahami apa isinya. Tapi Ketika menuliskannya malah menjadi buntu banget. Padahal seharusnya bisa dengan gamblang menjabarkannya, walaupun dengan Bahasa sendiri karena yang paling mengerti pikiran kita ya..diri sendiri kan? Walau tetep aja  buntu banget kalua tentang menjabarkan apa yang di rasakan.

          Agaknya harus memiliki kemampuan mendeskripsikan satu per satu apa yang sedang di pikirkan, tidak hanya seputar “buang sampah” saja. Tapi juga da makna yang tersirat setiap menjabarkan apa yang telah di rasakan selama itu. Satu persatu di jadikan poin-poin yang dapat di jabarkan dengan gamblang juga akan menjadi banyak hal yang seharusnya tidak menjadi beban pikiran kan?

          Tau gak sih? Perubahan itu butuh banyak sekali proses yang harus di pelajari setiap waktu. Bukan hanya memikirkan saja ya…tapi juga mempelajari apa yang harus di pelajari selama beberapa waktu. Kalua bisa tidak menghabiskan waktu hanya untuk “belajar”. Butuh sekali seorang mentor atau memberikan batas dan patokan yang harus di buat. Agar waktu tidak habis begitu saja.

Sumber: Pinterest

          Hal tersebut bisa di pelajari pada beberapa platform, tapi pembimbing juga sangat di butuhkan. Jangan serta merta menelan info yang beredar dan mematokkan pada diri sendiri tanpa bimbingan orang yang kompeten di bidangnya. Jadi teringat pengalaman saya pribadi pada minggu lalu.

          Seorang ahli memberikan saya pemahaman tentang informasi yang saya dapatkan dari platform media social. Saya mencoba untuk mempraktekkan, malah membuat saya setres aan beberapa kegiatan yang saya canangkan tersebut. Kata beliau “dengan profesi anda sekarang saja (sebagai ibu rumah tangga), sebenarnya anda sudah banyak sekali kegiatannya loh. Ya…kan? Kalua tambahan itu malah membuat anda setres, coba di pikirkan dan di liat Kembali, tujuan anda mengumpulkan kegiatan itu untuk apa? Jika malah membebani, maka lebih baik di introspeksi lagi soal kegiatan-kegiatan tersebut”.

          Hmmm, benar juga. Setelah saya ingat-ingat lagi. Saya terlalu bersemangat, sampai lupa mengingat tujuan melakukan hal tersebut karena apa.

Ayo gengs, di urutkan lagi kegiatan-kegiatannya. Jangan sampai kita mengenyampingkan kewajiban yang harus di tunaikan. Dan malah focus kepada hal yang tidak harus di selesaikan saat itu juga.

Sumber: Pinterest


Tentang Yang Sudah-Sudah

Ada kalanya semua hal yang terjadi di dunia ini memang ada sangkut paut yang mendekatkan kita kepada hal tersebut. Entah sebelum hal itu belum, sudah dan akan terjadi nantinya. 
Tapi, ketika sadar dengan hal tersebut pasti akan mengambil sedikit pesan yang tersirat dari kejadian tersebut.

Seperti halnya saya yang kemarin hampir seharian mentengin timeline X untuk melihat perkembangan dan narasi serta bukti yang di "jembrengin" oleh fans tentang proses melamar Salma salsabil.

Banyak yang menyayangkan, bahkan termasuk saya. Tapi, setelah saya pikir-pikir soal cinta memang akan di buat buta oleh semua yang di katakan oleh orang lain. Bahkan hingga di titik gak akan bisa di kasi tau secara logika karena memang se buta itu. 

Mengingatkan saya pada diri sendiri. Ketika memutuskan untuk menikah pada usia yang sangat muda. Banyak yang menyayangkan keputusan saya tersebut, tapi tidak saya gubris karena menurut saya mereka yang menyayangkan memang sedang iri dengan ritme kehidupan saya. 

Semua terasa indah. Hingga kami memutuskan untuk pindah dan dekat dengan mertua. Allahu Akbar, ternyata kehidupan pernikahan yang real memang ketika dekat dengan keluarga. Ujian mulai menghampiri, bahkan hingga ingin untuk bercerai. 

Kenapa kehidupan sangat terasa jungkir balik? Karena ketika kami merantau, semua bisa kami handle sendiri. Bahkan saya tidak akan bicara kepada siapapun tentang rumitnya masa perkenalan kami. Semua ekspektasi itu runtuh, tidak hanya saya. Tapi, juga pastinya suami merasakan hal yang sama. 

Tapi, kami sadar dan semakin belajar. Bahwa kebersamaan tak seindah kalimat awal ketika hal² indah banyak di omongin oleh orang yang lebih berpengalaman. 

Menikah itu indah. Tapi, ketika kita belum siap dengan berbagai macam Lika liku serta ilmu malah menjadi Boomerang tersendiri. 
Menikah itu rumit. Tapi, ketika kita siap dalam berbagai macam goncangan dan ritmenya pasti kita akan melewati ombaknya.

Dengan semua hal yang saya lewati. Saya menjadi orang yang sangat menentang pernikahan muda untuk semua kalangan. Karena menikah bukanlah solusi atas kehidupan kita. Ada banyak hal yang seharusnya bisa di lakukan hingga merasa puas dengan berbagai pencapaian. 

Setiap ada yang ingin menikah mau itu dalam usia yang terbilang matang pun. Saya selalu bertanya kepada mereka "sudah selesai dengan diri sendiri blm?" Atau "apa yang di pikirkan soal pernikahan, coba deh di jelaskan sesuai dengan pemahaman kamu". Dan jika jawaban mereka hanya menye² saya dengan sangat gamblang akan memarahi. Hahahhaa hmmmm sekalian saya takut²i juga sih.

Saya pukul rata, mau itu perempuan ataupun laki² pasti akan saya marahi jika alasannya tetaplah menye² saja. 

Dan 1 hal yang bisa saya simpulkan. Kenapa ada orang yang berani mengambil keputusan besar untuk hidupnya. Ada peran orangtua yang tidak cukup di berikan kepada buah hatinya. Seperti saya yang dulu tidak bisa dekat dengan ayah. Dan tidak memiliki teman cerita. Susah percaya Dnegan orang lain, dan begitu mudahnya jatuh cinta hanya karena laki² bisa memberikan kenyamanan. Walau ada beberapa ikrar yang selalu di tekankan oleh orangtua saya dan kebanyakan laki² ogah memutuskan.

Namun, ketika ada yang berani mengambil keputusan besar tersebut. 

Semuanya terbentuk sebagaimana keluarga dan orangtua membentuknya. 

Sudah gitu aja. Sumber: Pinterest.com

Membangun Habit

 

Sumber: Pinterest.com

    Membangun sebuah kebiasaan itu tidak mudah. namun, jika tidak di atur dan selalu belajar pola yang baik, pasti akan merasa kebingungan. bukan bermaksud mankut-nakuti sihh yaaaa. tapi membangun dan berproses itu butuh sedikit berjuang karena ritme tubuh dan diri yang sudah terlanjut terbiasa dengan kegiatan rutin yang begitu-begitu saja.

    Lalu, bagaimana cara membangunnya? saya termasuk orang yang berpikir cukup lama perihal ini. kadang-kadang kebingungan yang menyertai walau pusing tujuh keliling ketika berusaha untuk belajar dan mengimplikasikan dalam kehidupan. sedikit rumit dan membutuhkan dana juga. ternyata itu yang saya sadari. namun, ketika kita sudah merasa bahagia dengan hal itu malah semakin ringan ketika menjalaninya.

    Saya petakan apa yang di inginkan, sembari mencari tau dan try error terus. berbulan-bulan dalam kebingungan soal ini. tapi, ternyata ketika sudah klik malah ketagihan. mencari tau di berbagai macam platform dan mengikuti kata hati adalah hal yang paling ampuh. bukan sekadar ikut-ikutan saja ya.

Sumber: Pinterest.com

    Karena banyaknya contoh yang bertebaran malah kadang membuat bingung. tapi, tetap kembalikan kepada kondisi diri . jangan mengikuti standar orang lain, karena proses yang mereka jalankan pasti berbeda dengan kita. 

    sebenarnya terhadap ilmu apapun kita memang di tuntut untuk bijak dalam memilah-milah mana yang cocok untuk diri kita sendiri, namun, urusan hati dan kenyamanan agaknya harus di nomor satukan juga. terlebih kita sebagai muslim memiliki aturan yang tidak bisa di remehkan. 

    Belajar dari yang kredibel dalam ilmu tersebut sembari belajar dari berbagai macam sisi. insyaAllah akan menjadikan kita semakin bijak dalam menjalankan ilmu tersebut. begitu juga dalam membangun habit atau kebiasaan dalam hidup.

    Semoga bermanfaat

Semangat berproses. Sumber: Pinterest.com


Cara Allah Memang Ajaib

Picture: Pinterest.com

Akhirnya memang semuanya menyesuaikan waktu yang sudah Allah tentukan. Bukan tanpa alasan yang tak berarti namun begitulah Allah ketika menentukan waktu yang tepat. Butuh waktu lama untuk belajar yang tidak ada ujungnya. Bukan mau saya maupun orang yang berada di sekitar, tapi memang Allah maunya begitu.

Lama untuk berdamai, nyatanya Allah memberikan cara sendiri dalam hal menyayangi segala aspek yang telah dan akan terjadi. Pun, jika menginginkan yang sesuai harapan ternyata mengorbankan banyak hal yang tidak ada ujungnya. Kan terasa ada di ujungnya Ketika benar-benar nyaman dengan keadaan, walaupun kita yang harus melatih rasa nyaman itu.

Saya pribadi mengakui, “nyaman” yang saya cari selama ini ternyata tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama hingga butuh obat untuk menurunkan adrenalin yang sudah terlanjur tegang selama bertahun-tahun. Bukan tanpa alasan. Ternyata setelah di pikir-pikir karena itulah cara Allah dalam mendewasakan pikiran.

Tenang yang dicari selama ini ternyata membutuhkan obat terlebih dahulu baru merasakannya. Dan itu sangat saya syukuri, terlalu lama menyimpan kecemasan hingga menyerah dan Allah memberikan jalan keluar dengan caranya yang sangat menggugah hati. Apakah mudah bagi saya menerima hal ini? Tidak kawan.

Merasa menjadi hamba yang sangat mendewakan obat adalah hal yang membuat saya terpuruk. Merasa menjadi hamba yang menduakan Allah. Walau akhirnya saya pasrah saja. Sebab memang itu yang saya cari selama ini.

“memang sudah  waktunya” adalah kalimat mujarab yang sering saya katakan kepada diri sendiri. Segala hal yang di lewati pasti memiliki maksud tertentu dan kewajiban kita adalah bersyukur terhadap hal yang sudah di lewati. Bagaimana caranya? Dengan melakukan ibadah yang lebih intens, membahagiakan diri dengan cara ternyaman yang bisa kita lakukan, dan meminimalisir hal-hal yang membuat kita merasa terpuruk.

Banyak hal yang bisa kita lakukan, cari cara di berbagai macam media dan LAKUKAN! Bergeraklah kawan.

Kompleksnya Isi Kepala

 

pict: pinterest

Jangan lagi ada yang tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang tidak setimpal. Bukan karena apa, tapi karena tidak bisa lagi memberikan sepenuhnya. Bukan karena apapun, namun, rasanya ingin pergi menjadi hal yang bukan lagi bisa di ungkapkan oleh kata-kata.

Semua hal yang sudah di lewati tidak bisa lagi di ungkapkan dengan kata-kata. Memang sudah ada ketenangan dari dalam jiwa. Namun, entah kenapa butuh banget pengakuan atau butuh di validasi walau  tidak ada yang memberikannya.

Penyakit mental memang bukanlah aib tapi tidak semua orang paham dengan hal itu. Beberapa kali merasa “sehat” walau belum mendapatkan hasil yang signifikan. Sakit mental itu penyembuhannya ternyata lama banget. Terasa sembuh bukan karena mengkonsumsi obat saja, tapi juga bagaimana pikiran bisa saling sinkronisasi dengan tubuh.

Sebulan pertama seperti ada perubhan yang sangat signifikan. Namun, Ketika menjalani ke bulan kedua malah semakin terasa jungkir baliknya. Apalagi di tambah hormon sedang jungkir balik karena mens. Entah kenapa kemarin Ketika control malah lupa menanyakan hal penting itu.

Padahal ada pertanyaan penting yang seharusnya di ungkapkan. Walau entah kenapa Ketika berada di depan psikiater dan psikolog malah blank semuanya. Apakah mungkin karena masih masa adaptasi? Masih banyak sekali yang di sembunyikan, tidak bisa mengungkapkan karena malu. Merasa tidak terbiasa mengungkapkan apapun merasa tidak pantas jika memiliki teman cerita. Karena selama ini terbiasa untuk menahan segala gundah di hati.

Banyak hal yang ingin di tuliskan dan membingungkan sebenarnya, bingung kenapa? Karena aku pun gak tau apa yang akan di tuliskan. Terlalu terbiasa dengan kompleksnya pikiran dan merasakannya sendiri saja.

Beberapa orang mengetahui kondisiku tapi memang tidak ada yang berinisiatif menanyakan keadaanku karena memang akupun tidak ingin menceritakannya. Ingin di tanya tapi tidak ingin menjawab dengan lantang. Gengsi itu terlalu nyata? Apakah ini termasuk rasa gengsi ya? Banyak juga pertanyaan yang ada di kepalaku.

Kadang-kadang Ketika merasa biasa-biasa saja malah sempat bertanya “apakah aku pantas mendapat perhatian?” sedang aku tak memiliki karya yang bisa membanggakan. Bukankah semua orang akan memberikan apresiasi Ketika orang tersebut memiliki karya yang patut di beri perhatian lebih. Sedangkan aku terlalu nyamana jika menarik diri dan nyaman dengan kesendirian, jadi merasa tidak pantas apabila mendapat perhatian lebih dari siapapun.

Biarlah ia menjadi bagian pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban. Biarlah ia menjadi pertanyaan yang mengendap dalam kepala atau di tuliskan saja disini. Agar suatu saat aku akan mendapat jawabannya cepat ataupun lambat.

Hanya 1 hal yang aku inginkan sekarang. Memiliki karya yang pantas di apresiasi oleh anak-anakku dan mereka merasa bangga memiliki ibu seperti aku yang memiliki penyakit mental. Harus sehat untuk mereka.

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...