mendeskripsikan diri sendiri

             



Kepadaku yang masih sangat serius dalam menghadapi seuah candaan, jangan pernah bersedih dengan paradigma orang lain. Terkadang mereka hanya ingin bercanda namun kau belum bisa mencernanya sebagai sebuah candaan saja. Abis baca-baca beberapa artikel di google tentang orang yang seriusan, buat saya sendiri mikir. Pantesan dulu pas masa sekolah, orang-orang banyak yang gak bisa deketin saya. Bukan karena wajah saya yang seram saja, tapi lebih ke tabiat sih ya…

            Saya yang sensitive alias baperan kalau kata anak sekarang. Tapi, semakin bertambahnya usia, saya jadi lebih lunak, walau hasilnya bisa lebih banyak kepikiran khawatir ini dan itu. Lebih ke mengkhawatirkan cara bercanda saya yang mungkin kelewatan batas. Banyak yang mengatakan saya banyak perbedaan antara di dunia nyata dan dunia maya. Di dunia maya saya banyak bercanda, cair dan mudah berinteraksi dengan banyak orng terutama yang sudah mengenal saya sejak sekolah, walau terkaadang bercanda banyak kelewatan taapi saya bisa lebih ke santaai saja dikarenakan di dunia maya.

            Lalu, ketika terjadi pertemuaan di dunia nyata barulah mereka terkejut. Saya tidak bisa secair itu dalam menanggapi cerita orang lain dan lebih banyak diam. Kecuali jika diajak berbicara oleh orang lain. Ntah kenapa hal begitu tidak bisa saya hilangkan sepenuhnya. Kadang ketika melihat orang lain yang bisa mencairkan suasana, suka takjub sendiri melihat orang yang memiliki tabiat seperti itu. Walau saya menikmatinya, tapi ada rasa iri juga ternyata. Itupun, saya sadari setelah lama memperhatikan orang lain.

Pernah beberapa kali saya berusaha “cair” dengan orang yang barusaya temui, semacam menantang diri sendiri, ternyata hanya beberapa menit diawal saja, selebihnya banyak krik krik. Jika bergabung dengan orang lain dan terpaksa menggabungkan diri atau banyak berbicara. Tiba-tiba bisa mengubah mood dan merasa jadi orang yang lebih capek. Tapi, saya senang melihat orang yang sangat mahir berbicara di depan umum ataupun mencair didepan orang lain. Senang mendengarkan cerita orang lain dan menganalisa bagaimana kepribadian orang tersebut. Ya…itu, kadang merasa iri, kadang juga senang, lebih banyak senangnya sih.

            Walau mungkin analisa saya sering sekali melesat. Hahaha. Saya tidak paham juga bagaimana sebenarnyaa kepribadian saya ini, barangkali kawan-kawan ada yang memiliki ilmu soal psikologis seseorang dan menganalisanya hanya dari cerita yang saya tulis ini?. Kalau memang bisa di analisa, mungkin sekalian bisa komen di bawah ya… (ya…Allah siapa saya, sampe minta di analisa segala) kekekke

            

ketika ditanya "kenapa menulis?"

 

picture: pinterest


Bismillahirrahmaanirrahim.

            Kali ini mau benar-benar curhat, semoga kalian yang membaca tidak merasa bosan di dalam hati ya… jujur, hari ini adalah sabtu yang cukup repot bagi saya, karena saya harus mengajar dan memastikan ini itu di rumah, suka Selalu takjub dengan ritme ibu yang juga bekerja diluar rumah, saya yang hanya menghabiskan waktu paling lama 2 jam saja, capeknya luar biasa, walau menjadi IRT yang full dirumah juga tidak ada berhentinya, namun, energy jauh berbeda ketika bekerja juga diluar rumah.

            Belum lagi dengan banyak fikiran yang harus saya olah, karena memang sedang mengikuti program One Day One Post dan dimasa karantina di dalamnya, selama 40 hari konsisten menulis, agar lulus menjadi member ODOP. Entah kenapa ketika mengikuti challenge ini, saya memang sumringah sekali, karena saya memang mendamba-damba menjadi penulis yang memiliki komunitas dan tidak main-main didalamnya.

            Jujur, sebenarnya ada seseorang berpengaruh dalam hal ini, agar saya yakin mengikuti komunitas ini, seorang member ODOP juga yang kiprahnya sudah tak main-main didalamnya. Bagaimana saya tahu? Yaa…setelah saya ikut berkecimpung ke dalam karantina ini. Seseorang itu bernama mbak Jihan Mawaddah, yang saya selalu kepo dengan semua postingannya di instagram dan juga blog beliau, yang saya tahu blognya beliau ada 2 dan banyak yang say abaca tulisan-tulisan beliau, terutama buku yang beliau ciptakan. Menceritakan profile ayah beliau yang berjudul NARASI GURUNDA.

            Belum laagi ketikaa mengikuti instastory beliau yang kebanyakan berisi tentang keberhasilan-keberhasilan beliau dalam mendapatkan berbagai macaam prestasi dan hadiah yang menggiurkan……. Saya. Hehhe ya…saya ingin juga  mendapatkan hadiah gaes.

            Tapi, ternyata taak semudah itu ferguso.. semuanya ada proses. Mana saya juga sudah terlalu insecure dengan kemampuaan saya yang hanya masih begini. Tulisan masih berantakan banget. Isi juga belum tau arah. Jadi saya tidak sempat lagi insecure malah ingin belajar untuk memperbaiki. “aku ingin mengasah bakat ini dengan lebih baik lagi”. Agar bisa mendapatkan cuan seperti Mbak Jihan   Tetep aja ujung-ujungnya cuan hahahha

            Walau berawal dari alasan yang masih sangat melenceng, tapi setelahnya ternyata saya ingin memperbaikinya.  Sekarang saya Ingin lebih bermanfaat saja hidup saya sekarang dan masa depan.  walau waktu saya lebih banyak berkutaat di rumah namun ingin menyebar manfaat untuk orang lain, walau prosesnya pasti lama mudah-muadahan saya bisa menikmati ini, semoga tulisan ini menjadi kenangan untuk anak saya kelak, mudah-mudahan juga menjadi motivasi untuk mereka, agar selalu menulis dan menyebar manfaat. Do’akan impian saya ini tidak tergolong impiaan yang terlalu muluk dan saya konsisten didalamnya 

seputar berbagi alias sedekah

                                            sumber: pinterest

             Momen jum’at itu terlalu banyak keutamaan di dalamnya ya… terutama bersedekah. Walau bersedekah itu tak hanya di hari jum’at dan dia bisa di lakukan sepanjang hari, 7 hari dalam seminggu, tapi karena jum’at adalah hari yang mulia. Maka insyaAllah pahala sedekah di hari jum’at pasti lebih baik lagi.

Sedekah itu apa sih? Sedekah adalah mengamalkan harta karena Allah tanpa berharap imbalan apapun dari manusia dan ikhlas ketika berbagi ke sesama manusia ataupun makhluk Allah yang lainnya dan hanya berharap agar Allah ridhoi sebagai perwujudan iman. Kalau bahasa mudahnya adalah berbagi kepada orang lain dengan niat membantu dan membahagiakan sesama.

Sekarang sudah banyak banget caranya sih ya..jika tidak dengan harta, bisa dengan tenaga ataupun jasa, bisa juga dengan hanya membuang hambatan dijalan seperti menyingkirkan serpihan kaca,kayu yang menghalangi ataupun yang membahayakaan bahkan tersenyum kepada teman ataupun sekitar kita juga termasuk sedekah. masyaAllah.

o…iya, bahkan baru-baru ini, sudah ada fenomena baru yang terjadi di sosmed, “fenomena ikoy-ikoy”an. Yang di pelopori oleh seorang influencer yang bernama Arief Muhammad, yang mengikuti instagram dan platform sosmednya pasti sudah gak asing dengan beliau ya,..

kenapa ikoy-ikoy-an? Ikoy itu adalah seorang asisten pribadinya Arief, panggilan akrabnya begitu, awalnya karena asik-asikan saja dengan para follower Arief Muhammad, misalnya: “sekarang enaknyanya ngapain ya?” sebuah pertanyaan di storynya beliau lalu, nanti akan banyak sekali beragam jawaban dari followersnya, seperti “panas-panas begini enak nih bang kalau minum es kelapa muda” lalu, arief akan menimpali “koy, belikan dia es kelapa 100 ribu ya….”. dan banyak lagi macam-macamnya. Saya termasuk yang sudah lama menjadi followernya dan asik sekali kalau sedang ada luang dan membaca interaksi-Interaksi Arief Muhammad dan mereka itu. FYI, kadang-kadang saya juga ikutan loh, tapi tidak pernah dapat hahaha.

                                        sumber: https://www.instagram.com/ikoy2an/

Selang beberapa bulan, semakin banyak saja yang memancing beliau dengan berbagai macam permintaan, sampe sagala jawaban “bang, aku belum pernah makan pizza hut” dan itu dikirimin juga oleh ikoy. Awalnya banyak yang tidak percaya dengan hal-hal itu maksudnya “beneran dikirm gak sih?”, dan ternyata ada juga yang memberikan laporan  kepada beliau, lalu Arief Muhammad akan posting mention yang memberikan laporan itu. Dan benar adanya, banyak yang memang dikirimin sesuai permintaan. Lagi-lagi itu semua takdir  Allah ya…. rejeki-rejikian kalau kata orang. Puncanya ketika Arief membagikan uang yang tidak sedikit jumlahnya, ya….jutaan yang dibagi ke followernya yang beruntung, hanya dengan mengatakan “apa yang kalian butuhkan”ramai banget soal itu. Saya hanya menjadi penikmat kembali heheh.

Ternyata tak berhenti sampai disitu saja, hingga suatu saat ikoy-ikoyan pun merambat menjadi ikoy-ikoyan bergabung dengan beberapa brand tertentu dengan total hadiah ratusan juta dan skema tetap sama “apa yang kalian butuhkan”. Ternyata fenomena ini viral, dan bayak netizen yang meminta yang hal-hal tersebut kepada influencer dan artis-artis yang aktif di instagram. Walau tercipta pro dan kontra, tapi, saya acungi jempol dengan cara mereka berbagi.

Alasan yang saya tau, kenapa Arief Muhammad melakukan hal tersebut murni karena ingin bersedekah. Sebenarnya sudah ada yang membahas soal ini di youtube Denny Sumargo, bisa kali ya…kalian tonton sendiri hahaha.. 


                                            sumber: pinterest

Jujur, influencer-influencer yang melakukan hal tersebut seperti berbagi untuk orang lain menjadi motivasi tersendiri untuk saya pribadi. Agar dapat menjadi orang yang mandiri secara financial dan mampu bersedekah sebanyak-banyaknya agar “harta” yang akan saya kumpulkan nantinya menjadi bermanfaat untuk khalayak sekitar. Walau tidak harus menjadi kaya baru kita bersedekah, namun, bersedekahlah dengan apapun yang kita punya.

Rabby Radhiya. Tanggul, 3 september 2021. 

sedikit cerita tentang aktifitas menulis

          

 sumber: pinterest


    Tentang motivasi menulis saya dapatkan sejak saya usia SD. Orangtua saya membiasakan aktifitas membaca di rumah, terkhusus kepada saya sebagai anak pertama dan adik saya, si anak kedua. Ummi dan abi sangat rajin menyediakan buku untuk kami, ntah itu dalam bentuk novel, majalah anaak-anak ataupun potongan dari majalah UMMI yang di selipan lembarannya ada tersedia “permata” namanya. Majalah UMMI itu adalah majalah ummi (ibu saya) dan juga ada majalah SABILI nah kalau yang ini khusus bacaan abi.

sumber: google
    

         Setiap bulan kami sangat bahagia kalau mendapati majalah baru yang dibawa ummi abi sepulang dari pengajian. Seingat saya, bukan karena topik-topik yang berada di majalahnya, tapi, karena komik yang tersedia di dalamnya ataupun hanya memperhatikan gambar-gambarnya saja, khas anak-anak sekali.

          Hal yang paling membekas dalam ingatan saya adalah tentang aktifitas tidur siang. Maklum, saya adalah anak-anak yang paling tidak mau tidur siang, namun, ummi selalu memaksa kami untuk tidur siang, bermaksud untuk menjaga kesehatan kami di kala dewasa nantinyaa, begitu alasan ummi jika menyuruh kami untuk tidur siang huhuhu.

          Karena saya sangat susah untuk memejamkan mata, akhirnya membolak balik majalah yang sudah berkali kami baca. Kalau lagi kambuh usilnyaa, tumpukan majalah itu bisa saya bongkar semua hingga berantakaan. Dan ummi selalu membiarkaan saja. Majalah yang berjatuhan di lantai dan mengelilingi anaknya yang sedang tidur, mungkin dipikiran beliau “biarlah, yang penting anak ini tidur”

          Hingga menginjak SMP-SMA saya memiliki kebiasaan yang lumayan bikin geudeug banget haha, saya suka sekali menyendiri sambil membawa buku tulis 200 lembar yang saya sampul dengan kertas kado dan selalu dibawa kemanapun untuk ditulis.

          Semasa sekolah SMP-SMA saya menghabiskan waktu memang di pondok pesantren, selama 6 tahun, dan hamper 5 tahun itu saya habiskan untuk lebih sering menyendiri (saya lupa alasannya apa). Dan sela itu juga saya menghasilkan sekitar 3 buku tulis yang kesemuanya itu adalah curahan hati saya. Yaps, buku tulis yang berisi 200 lembar itu gaes, di total sekitar 600 lembar. Dah bisa jadi novel gak tuh? Ahahha

          Sayangnya buku-buku itu sekarang ntah dimana rimbanya, mungkin sudah dibuang ma ummi aabi, karena memang sempat ada pembongkaran rumah karena renovasi, apatah lagi, saya hampir 9 tahun tak menginjakkaan kaki di tanah kelahiran dikarenakan merantau untuk kuliah dan menikah dengan laki-laki dari luar pulau saya dilahirkan, jadi tak sempat menyimpan buku kenangan itu. 


sumber: pinterest

          Ummi adalah motivator terciptanyaa buku-buku diary itu hahaha, karena ummi selalu bilang “tulis ra, tulislah apa yang mau rara tuliskan, biar ada kenangan” sesederhana itu saja pesan ummi.

          Hingga sudah berusia 31 tahun ini pun saya senang sekali menulis. bagi saya, menulis adalah menyegarkan diri saya pribadi yang lebih banyak berpikir, pun saya bertipe yang tidak gampang untuk ngobrol dengan orang lain. Kalau terlalu banyak berbicara itu bisa senewen parah jadinya. Lebih nyaman untuk menuliskan apa yang ada di kepala saya, kata orang saya ini tipe introvert.

          Sebelumnya, saya menulis semuanya tidak tentu arah, apa yang ada dipikiran langsung saya tulis, tanpaa membacanya kembali dan memastikan apakah ada pesan yang bisa saya beri. Tapi, semakin kesini jadi mikir, ini ngapa hanya nulis saja tapi seperti merasa hampa saja gitu hahaha

          Akhirnya sempat berhenti di tengah jalan aktifitas saya di dunia kepenuliasan, sambil belajar-belajar dan ngulik sana sini, sembari berpikir ”ini orang-orang ngapa tulisannya terarah banget ya? kenapa saya enggak?

Ternyata itu semua ada ilmunya, tidak asal-asalan menuliskannya, apalagi ternyata butuh komunitas juga agar kita semakin semangat dan rutin menulis juga terarah.

 sumber:pinterest


          Lama sekali do’a saya terwujud, sempat mengikuti beberapa pelatihan dan selalu merasa tidak ada kecocokan dengan alur pelatihan, yang akhirnya do’a saya terjawab di tahun ini. Alhamdulillah Allah temukan saya dengan One Day One Post, sebuah komunitas yang mengasah bakat menulis dengan lebih terarah dan istiqamah pastinya. Walau saya berada di generasi ke 5 dan angkatan ke 9. namun Hingga 39 hari kedepan saya akan mengikuti challenge ini, do’akan saya istiqamah ya…gaes.. kenapa 39 hari sih? Karena challenge ini di selenggarakan selama 40 hari kedepan, dan saya sudah melewati 1 hari.

          Semoga Allah jaga hati dan niat saya sedari awal mengikuti komunitas ini. Aaamiin.


Rabby Radhiya. 

Tanggul, 2 september 2021

mendewasa

            


Berbicara tentang dewasa dalam usia dan dewasa secara pola pikir, itu sangatlah berbeda dalam memahaaminya, jangn salah kaprah dalam mengambil pelajaran itu ya. Yang memiliki usia lebih tua bukan berarti dia bisa bersikap dewasa, dan yang usianya lebih muda, bukan berarti dia belum mampu bersikap dewasa.

            Dan soal itu tidak bisa kita salahkan. Karena setiap orang memiliki kemampuan mendewasakan dirinya juga dengan cara yang berbeda-beda, sebenarnya yang harus jadi acuan adalah bagaimana kita bisa belajar dari itu semua.

            Seperti halnya kita yang terbiasa dengan keadaan di atas  dan mungkin berjasa untuk orang lain. Lalu, kita mengutus 1 orang mata-mata di dalam 1 daerah yang mungkin anda tidak bisa kesana dalam setiap waktu. lalu kita menyimpulkan dari apa yang dilihat oleh si mata-mata tanpa pernah mengobrol dengan masyarakat sekitar, bagaimana hal yang sebenarnya terjadi selama 24 jam yang telah dilewati.

            Lalu dengan serta merta mengambil kesimpulan dan menyalahkan suatu keadaan yang kurang ideal dan menyaalahkaan berbagai pihak tanpa melakukan dialog dan memberikan perhatian lebih dalam untuk masyarakat tersebut. Hasil dari semua hal itu adalah sebuah ketakutan dalam benak masyarakat, walau maksud dari pengutus itu baik tapi ternyata yang dipikirkan oleh orang lain jelas berbeda.

            Jangan pernah salahkan penilaian orang lain. Jika sikap kita pun tidak mencerminkan kepantasan dalam bermasyarakat, bersyukurlah ketika semua orang memberikan pemakluman dengan sikap kita terhaap orang lain, jika sadar sikap kita ternyata hanya memberikan efek gertakan saja, alangkah lebih bijaknya untuk memperbaiki kurang berkenan tersebut.

            Usia memang tak menjamin kedewasaan, karena kedewasaan itu berproses dan banyak perjalanan yang harus terlewati. Salahsatu tanda bahwa kita memiliki sikap dewasa adalah: kita mampu berdialog dengan hati dan banyak orang, tidak menyalahkan orang lain atas perbuatan atau kesalahan tertentu, lalu mampu menyelesaikan masalah tanpa mencari kambing hitam.

            Apalagi jika kesalahan itu bermula dari kitanya sendiri, mengakui kesalahan  dan berusaha mencari jalan keluar dalam suatu masalah juga termasuk bersikap dewasa. Tidak berharap pujian dan pengakuan orang lain atas kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan juga termasuk sikap dewasa.

            Jadi, jangan heran jika kita sering melihat orang yang terlihat jaauh lebih muda. Namun, bisa memecahkan masalahnya dengan cara bijak. Karena bisa jadi ilmunya jauh lebih banyaak dari kita.Atau karena pengalaman hidupnya yang menuntutnya untuk bersikap dewasa.

Mari kita mendewasa bersama.

           


 

pejuang kebermanfaatan untuk ummat

 


          Bercerita seputar guru ngaji, sudah sejak lama saya ingin menuliskannya. Bukan karena bagaaimana. Tapi, lebih ke seberapa miris para pejuang literasi Quran yang seharusnya lebih dihargai dengan nilai yang baik.

          Pejuang yang lebih banyak membiayai dirinya sendiri, tanpa lebih diistimewakan. Walau pastinya mereka mengajarakan Al-Quran dengan sangat ikhlas, berbekal pemikiran dan ilmu yang dimiliki,  mereka mengetahui bahwa yang mereka lakukan akan berbuah pahala dan bekal jariyah nantinya.

          Namun, banyak banget yang tidak menghargai dengan setimpal, para guru ngaji yang berkendara dengan kendaraan pribadi yang mereka miliki dan mengisi dayanya pun sendiri.

          Selayaknya dalam sebulaan bisa mendapatkan harga yang setimpaal dari mengajarkan ilmu Quran dan nyatanya yang didapatkan hanya berapa ribu dan ratus ribu rupiah saja. bahkan biaya bensin kendaraannya pun tidak bisa tercukupi.

          Apalagi biaya kehidupannya selama sebulan, sangat miris sebenarnyaa. Belum lagi mereka para guru ngaji yang memiliki ilmu yang baik secara ukhrawi malah tidak dihargaai sama sekali.

                Padahal seharusnya kita bisa sangat menghargainya, sebab mereka telah mengorbankan waktu serta tenaga juga kebersamaannya dengan keluarga. Terlalu banyak pengorbanan yang tidak bisa tertuliskan.

          Seperti yang telah dilakukan oleh seorang ayah di 20 tahun yang lalu. Panggil saja bapak Sunarman, seorang yang berbekal ilmu dari pondok pesantren selama 6 tahun. Dengan tujuan mulia, membumikan Al-Quran di tanah kelahirannya. Mengajar di Masjid dan private dari rumah ke rumah, yang awalnya hanya berbekal kemauan anak-anak sekitar untuk mengaji dan tentunya dukungan oraang tua mereka.

          Akhirnya banyak anak-anak yang diajar oleh beliau. Tidak banyak harapan, karena memang yang diharapkan hanya anak-anak sekitar dapaat mempelajari Al-Quran dengan baik saja, yang pastinya diselingi dengan berbagai macam metode pendekatan secara emosional. Dari mendongeng hingga menyediakan buku dan komik islami untuk anak-anak sekitar agar mereka dapat mendapat ilmu seperti anak yang lainnya.

          Padahal kita harus tahu, bahwasannya di tahun itu untuk mendapatakan berbagai perangkat kebutuhan ilmu seperti buku, pastilaah dengan hargaa yang tidak muraah, untuk seukuran seseorang yang baru selesai sekolaah di pondok pesantren.

          Dengan biaya yang minim sekali, semua harus dikorbaankaan. Karena ada tujuan muliaa yang harus tercapai. Passtinya beliau bekerjasama dengan temn-teman beliau, tidak mungkin bisa menjalani itu semua sendirian kan? Karena apapun yang tujuan dakwah, pastilah lebih efisien bila dilakukan dengan jama’ah.

          Tidak mungkin dapat dilaakukaan sendiri, mungkin saja ada yang berhasil, namun pasti sangat berbeda jika dilakukan dengan bersama-sama.

          Yang dipelajari oleh anak-anak bermacam-macam, tidak hanya pelajaran membaca Al-Quran, namun juga belajar seputar akhlak, sirah dan lain sebagainya. Jika hanya belajar baca tulis Al-Quran pasti sangat membosankan.

          Semua di modifikasi dengan tujuan agar mengaji menjadi haal yang menyenangkan. Semua metode ilmu mengajarkaan baca tulis Al-Quran diajarkan. Dengan metode terbaru ataupun yang lama, karena mereka menyadari bahwa bagaimanapun perbedaan zaman tidak akan banyak perubahan dalam proses belajar mengajar Al-Quran.

          Karena sejatinya, kitaa sebagai manusia harus selalu belajar dari tahun-tahun sebelum kita dan mengambil dari hal kebaikan lalu meninggalkan yang kurang baik didalamnya.

          Itulah mengapa semuanya haarus dimodifikasi agar menjadi ilmu yang bermanfaat.

          Ada banyak hal yang sangat saya kagumi dari cara para pengajar ilmu Al-Quran di jaman dulu adalah, mereka yang selalu berpegang teguh pada sebuah hadits yang agaknya sangat masyhur di sekeliling kita semua.

          Kata mutiara dan kata bijak Islami di atas adalah sebuah kalimat yang diambil dari sebuah hadits nabi sebagai berikut:

عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس »

Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).

 

Mungkin sebagian kita lebih mengenali dengan kalimat خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baiknyaa manusia adalah yang paling bermanfaat kepada sesame manusia juga.

          Para pengajar, berpegang teguh pada hal itu, menyebarkan manfaat untuk sekelilingnya dengan mengjarkan mengaji, membaca dan menulis Al-Quran juga mengjarkan segala hal kebaikan dengan menyatukan ilmu agama pastinyaa.

          Karena apa? Hal-hal seperti itu tidak banyak dibahas dalam pelajaraan sekolah. Apalagi pada puluhan tahun yang lalu, anak-anak bisa mengaji saja itu sudah menjadi hal yang sangat membanggakan. “para orangtua menyamakan bahwa kegiataan mengaji itu menjadi sebuah pertanda bahwa keluarga tersebut memiliki kemajuan literasi yang baik diantara keluarga disekelilingnya” ungkap beliau.                                                                                        

                Walau ketika saya tanyaakan, bagaimana dengan tarifnyaa, aapakah dibayar atau tidak?. “dibayar, tapi ya….dari seluruh peserta mengaji hanya 20% saja yang bersedia” jawab beliau. Miris sekali dengan hal ini, ternyata ya…tidak sekarang saja para guru mengaji merasakan hal tersebut, guru di puluhan tahun yang lalu pun merasakan hal serupa.

          Kurang dihargai secara nominal, walau mereka tidak berharap besar, namun, alangkah lebih bijaknya, jika kita bisa menghargai jasa-jasa mereka sebaik mungkin.

          Guru apapun itu, ya…kita wajib untuk memberikan mereka apresiasi tinggi, agar ilmu yang diberikan dapat menjadi berkah untuk kehidupan kita. \

          Pak Sunarman adalah ayah saya. Beliau berjuang sekuat tenaga waktu itu, untuk menghidupi kami keluarga kecilnya. Sembari mengajar, beliau pun sempat menjadi buruh pabrik di pabrik plastic, berjualan roti pun pernah. Jika mengingat mas kecil itu sangat membuat saya terenyuh, terlebih abi (panggilan saying kami kepada beliau) adalah sosok yang pendiam, jadi tidak banyak bicara pastinya hehe, tapi beliau adalah sosok yang hangat, dengan humor-humor ala abi dan selalu berusaha membuat kami tetap bicara.

          Walau perjalanan hidup bagaikan roda, berputar, kadang dibawah dank dang di atas, tapi abi selalu low profile. Gak macem-macemlah, biasa-biasa aja, “jalani dan dinikmati saja kehidupan ini” selalu begitu pesan abi ketika menasehati kami.

          APAPUN PERAN ABI DI MASYARAKAT. BAIK ITU DULU ATAUPUN SEKARANG, KAMI SELALU BANGGA TELAH MENJADI ANAK ABI.

Merdeka di tengah Pandemi

 

Walau sekarang sudah tidak lagi terjajah oleh Negara lain, meraka yang hanya ingin mengambil kekayaan Indonesia dan membuat negaranya sendiri sejahtera. Mempekerjakan rakyat lokal untuk menjadi babunya. Lalu, para pejuang berjuang ingin memperjuangkan kemerdekaan dengan berbagai macam cemooh dari masyarakat sekitar yang telah di cuci otaknya oleh penjajah dan pengkhianat. Mengatakan bahwa pejuang-pejuang yang memperjuangkan kemerdekaaan Indonesia adalah seorang teroris, pemberontak dan apalah itu istilahnyaa.

          Banyak sebab yang membuat masyaraakat harus melabeli itu untuk para pejuang, karena Indonesia sudah di jajah selama ratusan tahun dan pastinya masyarakat sudah terlalu nyaman dengan ritme kehidupan yang telah terbangun selama itu, juga karena kurangnya ilmu.

          Lalu setelah berbagai macam celaan dan perjuangan melawan penjajah, akhirnya seluruh kemerdekaanpun dapat diraih oleh rakyat Indonesia.

          Setelah 76 tahun masa kemerdekaan yang sudah kita rasakan, terjadilah masa sedih sekarang ini, sudah 2 tahun kita menghadapi pandemi.

          Sudah banyak orang yang gugur dikarenakan wabah ini. Padahal kita sudah berada di era canggih, yang edukasi seputar wabah sangat mudah kita dapatkan.

          Seperti bagaimana menjaga diri serta keluarga dari efek wabah yang sangat luar biasa ini. Dan bagaimana menjaga sekitar dan berempati kepada orang-orang yang telah terjangkit virus tsb ntah itu dengan gejala ataupun tidak yang pastinya ketika mereka sudah dinyataakan positif terjangkit berarti dituntut untuk isolasi mandiri.

          Karena berjuang melewati semua itu cukuplah membuat seburat ketakutan yang tidak terkatakan, belum lagi menghadapi stigma masyarakat. Perjuangannya sangatlah memakan waktu, belum lagi yang harus terkena efek yang lain.

          Terutama efek ekonomi dalam keluarga yang sebagian besar merasakan kemerosotan, belum lagi sekolah yang ditutup dan diberlakukannya sekolah secara online, cukup menjadi sebuah perjuangan untuk sebagian orangtua mendampingi anak-anaknya belajar. Anak-anak jga banyak yang terkekang hanya dirumah.

          Dimasa ini kita semua adalah pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan. Merdeka dari pandemic. Merdeka dari wabah. Tetap ikuti prokes yang sudah di tentukan oleh pemerintah dan ahli medis. Jangan biarkan kita lengah dalam menjaga diri juga dekatkan diri kepada Ilahi agar selalu terjaga, dengan banyaknyaa berdo’a dan ikhlas dengan keadaan berat seperti ini.


#oprecODOP9 #KomunitasODOP #OnedayOnePost #MerdekadiTengahPandemi



Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...