Tentang motivasi menulis saya dapatkan sejak saya usia SD. Orangtua saya membiasakan aktifitas membaca di rumah, terkhusus kepada saya sebagai anak pertama dan adik saya, si anak kedua. Ummi dan abi sangat rajin menyediakan buku untuk kami, ntah itu dalam bentuk novel, majalah anaak-anak ataupun potongan dari majalah UMMI yang di selipan lembarannya ada tersedia “permata” namanya. Majalah UMMI itu adalah majalah ummi (ibu saya) dan juga ada majalah SABILI nah kalau yang ini khusus bacaan abi.
Setiap bulan kami sangat bahagia kalau mendapati majalah baru yang dibawa ummi abi sepulang dari pengajian. Seingat saya, bukan karena topik-topik yang berada di majalahnya, tapi, karena komik yang tersedia di dalamnya ataupun hanya memperhatikan gambar-gambarnya saja, khas anak-anak sekali.
Hal yang paling membekas dalam ingatan
saya adalah tentang aktifitas tidur siang. Maklum, saya adalah anak-anak yang
paling tidak mau tidur siang, namun, ummi selalu memaksa kami untuk tidur
siang, bermaksud untuk menjaga kesehatan kami di kala dewasa nantinyaa, begitu
alasan ummi jika menyuruh kami untuk tidur siang huhuhu.
Karena saya sangat susah untuk
memejamkan mata, akhirnya membolak balik majalah yang sudah berkali kami baca. Kalau
lagi kambuh usilnyaa, tumpukan majalah itu bisa saya bongkar semua hingga
berantakaan. Dan ummi selalu membiarkaan saja. Majalah yang berjatuhan di
lantai dan mengelilingi anaknya yang sedang tidur, mungkin dipikiran beliau “biarlah,
yang penting anak ini tidur”
Hingga menginjak SMP-SMA saya memiliki
kebiasaan yang lumayan bikin geudeug banget haha, saya suka sekali
menyendiri sambil membawa buku tulis 200 lembar yang saya sampul dengan kertas
kado dan selalu dibawa kemanapun untuk ditulis.
Semasa sekolah SMP-SMA saya
menghabiskan waktu memang di pondok pesantren, selama 6 tahun, dan hamper 5
tahun itu saya habiskan untuk lebih sering menyendiri (saya lupa alasannya
apa). Dan sela itu juga saya menghasilkan sekitar 3 buku tulis yang kesemuanya
itu adalah curahan hati saya. Yaps, buku tulis yang berisi 200 lembar itu gaes,
di total sekitar 600 lembar. Dah bisa jadi novel gak tuh? Ahahha
Sayangnya buku-buku itu sekarang ntah dimana rimbanya, mungkin sudah dibuang ma ummi aabi, karena memang sempat ada pembongkaran rumah karena renovasi, apatah lagi, saya hampir 9 tahun tak menginjakkaan kaki di tanah kelahiran dikarenakan merantau untuk kuliah dan menikah dengan laki-laki dari luar pulau saya dilahirkan, jadi tak sempat menyimpan buku kenangan itu.
Ummi adalah motivator terciptanyaa
buku-buku diary itu hahaha, karena ummi selalu bilang “tulis ra, tulislah apa yang
mau rara tuliskan, biar ada kenangan” sesederhana itu saja pesan ummi.
Hingga sudah berusia 31 tahun ini pun
saya senang sekali menulis. bagi saya, menulis adalah menyegarkan diri saya
pribadi yang lebih banyak berpikir, pun saya bertipe yang tidak gampang untuk
ngobrol dengan orang lain. Kalau terlalu banyak berbicara itu bisa senewen
parah jadinya. Lebih nyaman untuk menuliskan apa yang ada di kepala saya, kata
orang saya ini tipe introvert.
Sebelumnya, saya menulis semuanya
tidak tentu arah, apa yang ada dipikiran langsung saya tulis, tanpaa membacanya
kembali dan memastikan apakah ada pesan yang bisa saya beri. Tapi, semakin
kesini jadi mikir, ini ngapa hanya nulis saja tapi seperti merasa hampa saja
gitu hahaha
Akhirnya sempat berhenti di tengah
jalan aktifitas saya di dunia kepenuliasan, sambil belajar-belajar dan ngulik
sana sini, sembari berpikir ”ini orang-orang ngapa tulisannya terarah banget
ya? kenapa saya enggak? “
Ternyata itu
semua ada ilmunya, tidak asal-asalan menuliskannya, apalagi ternyata butuh
komunitas juga agar kita semakin semangat dan rutin menulis juga terarah.
Lama sekali do’a saya terwujud, sempat
mengikuti beberapa pelatihan dan selalu merasa tidak ada kecocokan dengan alur
pelatihan, yang akhirnya do’a saya terjawab di tahun ini. Alhamdulillah Allah
temukan saya dengan One Day One Post, sebuah komunitas yang mengasah bakat
menulis dengan lebih terarah dan istiqamah pastinya. Walau saya berada di
generasi ke 5 dan angkatan ke 9. namun Hingga 39 hari kedepan saya akan mengikuti
challenge ini, do’akan saya istiqamah ya…gaes.. kenapa 39 hari sih? Karena
challenge ini di selenggarakan selama 40 hari kedepan, dan saya sudah melewati
1 hari.
Semoga Allah jaga hati dan niat saya
sedari awal mengikuti komunitas ini. Aaamiin.
Rabby Radhiya.
Tanggul, 2 september 2021





kenangan yang manis. alhamdulillah ya punya orang tua hebat seperti itu
BalasHapusMasyaAllah 😍 semangat, Kak
BalasHapus