Seberapa Mahal Kenangan dalam kehidupanmu?

 Siapa disini yang memiliki orangtua ataupun kakek nenek yang sering menceritakan masa lalunya sebagai anak kecil ataupun berbagai macam pengalaman mereka? Walau kadang-kadang membosankan ya…. tpi sebenarnya bisa di ambil pelajaran tentang semua yang mereka sampaikan dan bisa jadi ternyata menjadi pengobat rindu mereka dalam menjalani kehidupan yang sudah mereka lewati

Mereka adalah orang yang sama seperti kita. Ketika muda memiliki kenangan, teman dekat ataupun hal lainnya. Terkadang mereka tidak butuh di validasi, tapi hanya ingin di dengarkan saja, bahwa mereka pna perjuangan yang ingin di jadikan nasehat untuk anak cucunya. Sebagai bukti bahwa perjuangan mereka dulu yang menghasilkan apa yang terlihat saat ini.

sumber: Pinterest

Terlihat secara kasat mata ataupun hanya di rasakan saja. Karena setiap orang memiliki perjuangan berbeda dalam hasilnya. Tapi, proses itu tidak bisa di anggap enteng. Apalagi yang memiliki cerita dengan moril terbaik untuk keluarga bahkan untuk masyarakat sekitar.

Salahsatu contoh seseorang dalam hidup saya yang dulu hobi sekali menceritakan masa mudanya. Seorang pejuang keluarga yang merelakan mimpinya demi menghadapi kehidupan dan perjuangan Bersama orang tercintanya. Beliau adalah kakek saya sendiri. Sebut saja “oyot ikok”, hampir semua cucunya memanggil dan menamakan kakeknya dengan sebutan nama “ikok” bahkan saya sendiri tak mengerti artinya, sebab orangtua membei tahu nama beliau yang sebenarnyaa adalah “Abdul Mu’iz” bagus banget kan?

Lelaki yang di cintai oleh keluarga, anak-anaknya, hingga seluuruh cucu beliau. Sudah meninggal sejak belasan tahun silam. Namun, kisah beliau akan selal hidup dalam hati saya. bagaimana binar matanya ketika menceritakan banyak hal tentang perjuangan beliau yang sempat menjadi pejuang kemerdekaan, menghadapi penjajah pada tahun berapa itu, saya juga tidak ingat (fuuuuhhh)

sumber: Pinterest

Setiap di tanya apapun pasti akan menjawab dengan semangat, tidak pernah melarang cucunya untuk bertanya. Saya selalu sumringah setiap beliau bercerita apapun tentang kehidupannya. Terutama ketika beliau sedih di tinggal itri tercintanya yang Kembali terlebih dahulu ke haribaan Allah. Kedekatan beliau ke anak cucu juga menjadikan saya pembelajar setiap mengingat semua kenangan yang telah beliau beri.

sumber: pinterest

Rasanya ingin berkata “yot, terima kasih atas contoh baik yang telah di berikan untuk Rara. Terima kasih atas kenangn yang tak pernah Rara lupakan, bahkan setiap sudut di rumah (walau sekarang sudut tersebut sudah banyak berubah) pun memiliki kenangan yang tak pernah terhapus dalam ingatan Rara. O..iya, kenangan yang paling membekas ada di pada tubuh Rara loh. Ada bekas sudutan rokok pada pergelangan tangan Kanaan Rara, yang tidak sengaja kena ketika Rara ingin salim. Oyot sudah meminta maaf beberapa kali. Tapi alhamdulillah ternyata menjadi kenangan. O…iya, mungkin Rara udah lupa suara oyot, tapi wajah oyot selalu ada dalam ingatan. Nanti Rara cari foto-foto oyot. Karena akan Rara ceritakan kepada cicit oyot, anak Rara. Selalu bangga telah menjadi cucu kesekian oyot. Terima kasih telah menjadi salahsatu contoh terbaik”

Sumber: Pinterest


Kalau kalian, adakah cerita lain?

 

Sedikit Demi Sedikit Belajar Menghadapi Diri Sendiri.

 Sudah bolak balik saya selalu membicarakan tentang penyembuhan luka dan rasa trauma. Entah dalam platform manapun pasti saya akan ceritakan soal ini. Bukan untuk menggurui. Tapi lebih ke menasehati diri sendiri bahwa saya pernah menuliskan hal tersebut dan seringnya terlupa lagi dan lagi hingga lama sekali untuk mengingat hal yang sudah saya ungkapkan tersebut.

Apalagi ketika sedang futur, hormon lagi jumpalitan (biasanya PMS) hampir setiap bulan pasti akan merasakan ini, sensitive luar biasa, bahkan sampai pada keadaan menganggu selera makan. Bayangkan jika sedang tidak selera makan, perut lapar, emosi sedang memuncak pula, apa tidak menimbulkan pikiran-pikiran liar yang lebih ekstrim.

Sumber: Pinterest

Kadang-kadang malah masuk pada keadaan yang tidak masuk akal. Bisa banget keluar dari pikiran dan untungnya masih bisa di tahan dalam kepala dan hati. Karen mangkel, berujung pada keinginan berpisah dengan pasangan. Adalah hal teraneh yang sering banget terjadi pada step bulanan saya. pada 3 bulan terakhir, jika hal tersebut muncul dalam pikiran biasan saya langsung lebih menyibukkan diri. Berhubung tidak selera makan, jadi pelariannya adalah sibuk.

Biasanya saya melakukan kegiatan-kegiatan tertentu, pokoknya tubuh tidak boleh terdiam walau sejenak, kecuali karena kebutuhan istirahat saja. Memangnya apa yang saya lakukan? Biasanya, masak yang lebih “ribet”, belajar atau bersih-bersih rumah. Saya tidak paham dengan istilah dalam medisnya. Tapi yang pasti saya memaksakan diri untuk lebih banyak bergerak. Sebab, sepengalamn saya. jika tubuh semakin banyak diam ketika sedang sedih malah pikrian semakin melalang buana.

Apalagi ketika sedang sedih malah lebih banyak scroll medsos yang algoritmanya seperti sangat paham dengan keadaaan hati. Halah-halah, jadi membuat nangis Bombay. Merasa menemukan orang sefrekwensi, padahal setiap orang pasti memiliki permasalahan berbeda-beda levelnya. hahhaha

Pernah sih, ketika menemukan 1 atau 2 konten yang tanpa sengaja lewat pada timeline ataupun beranda saya. bisa di terima secara masuk akal, yang akhirnya menjadi penyemangat diri dalam merubah jalan pikiran dan biasanya jadi jauh lebih tenang.

Ada yang pernah mengalami juga?

Tentangku Alasan Nyemplung di Dunia Menulis

 Tiba-tiba sja ingin menulis alasan saya ingin menggeluti dunia kepenulisan, ternyata akhir-akhir ini sering teringat pesan umi dulu Ketika saya suka sekali ngotak ngatik computer di rumah, belum lagi sudah beberapa buku curhat saya “ciptakan” Ketika masa sekolah SMP dan SMA yang gak tau sudah ada dimana jejaknya

Ngotak ngatik computer itu karena saya suka sekali membuat slideshow tentang apapun yang saya suka. Ternyata slide yang saya buat dulu pernah dijadikan materi mengajar umi, gak tau juga apa yang umi sampaikan dulu.

Kalau tentang nulis di buku curhat itu. Memang karena bingung saja melarikan berisik kepala kepada siapa. Ternyata baru saya sadari, suka kepikiran ini itu sejak saya sekolah, mungkin juga sejak kecil. Tapi sering susah percaya dengan orang lain jadi memilih untuk menggotong buku tersebut kemanapun saya ingin mendudukkan diri.

sumber: Pinterest

Sampe saya terpikir, kenapa dulu saya pemikir banget sih? Apa yang membuat pikiran seberat itu, bahkan untuk berfantasi pun saya tidak mampu. Endingnya malah menjadikan diri menajadi super serius dalam menanggapi segala hal. Susah di ajakin guyon walau dalam hati sangat ingin sekali. Nah, mungkin itulah salahsatu hal yang membuat saya lebih senang menyendiri daripada bergabung dengan orang lain, karena banyak yang tidak paham dengan diri saya ataupun memang saya yang tidak se asyik itu sebagai seorang teman.

sumber: Pinterest

Lambat laun saya belajar terus tentang handle diri sendiri, walau butuh waktu bertahun-tahun. Sampe mentok gak mau ngapa-ngapain karena terlalu mudah terdistraksi dengan informasi-informasi terbaru yang berseliweran di media sosial.

Namun, setelah berpikir cukup lama, saya menemukan ritme yang saya sukai. Terutama setelah setahun “berjuang” dengan gangguan kecemasa yang saya alami selama ini. Jahara sekali Allah membalikkan pikiran-pikiran saya sendiri. Dan akhirnya saya sadar banget gangguan kecemasan itu karena banyak faktor yang menjadi pencetusnya. Terutama susahnya saya dalam mempercayai orang lain, bahkan suami saya sendiri. Karena takut merepotkan, belum lagi terkena imbas permasalahan di dunia kerjaan dulu ketika memutuskan menjadi guru pada salahsatu pesantren.

sumber: pinterest

Salahsatu terapi yang saya jalankan dalam menerima kondisi kecemasan berlebihan itu. Suami yang menjadi terapis utama. Hanya menyuruh merunutkan sebab kepikiran ataupun pikiran-pikiran liar yang sering “membuat kepala saya berisik”. Pelan-pelan saya coba dan itu luar biasa banyaknya. Mungkin ada seratusan lebih. Lalu, ketika saya menyelesaikan semuanya, baca ulang dan saya ringkas lagi yang paling memberatkan dari hal-hal tersebut seberapa banyaknya.

Ternyata puncaknya hanya sedikit saja. Kalau ingat ini pasti saya akan tertawa terbahak-bahak. Yaps, menertawakan diri sendiri yang segitu “aneh”nya. Mungkin bisa menertawakan karena sudah berdamai dengan semua ini ya.

sumber: Pinterest

Jadi sekarang bertekad akan menuliskan secara rinci tentang apa yang saya rasakan selama ini. Dengan harapan bisa membuat orang-orang yang mungkin merasakan hal sama seperti saya dan tidak merasa sendirian.

Apakah gangguan kecemasan itu sudah sembuh? Beluuuum hahahha, tapi sudah bisa menanganinya dengan lebih tenang, alhamdulillah.

Semoga bermanfaat ya…

jangan gegabah dalam menilai

 2 hari lalu pada blog ini saya menuliskan tentang cici, pemilik "Pororo Shop"disini. karena saya kagum dengan rasa bahagianya dalam memberikan asupan kepada anaknaya yang mungkin menurut cici sudah sesuai. Bagaimanapun seorang ibu adalah sosok yang paham dengan anaknya. Saya yang fokus dengan cara yang di gunakan oleh cici. Ternyata ada yang terlupa jika menilai dari beberapa aspek yang orang lain lakukan.

Benarlah, ketika pembicaraan tentang “cara” cici dan farel masuk ke dalam twitter dan ramai sekali respon yang di berikan masyarakat. Ada yang memberikan repon sama seperti saya, namun ternyata ada juga yang memberikan respon yang berbeda. Sebenarnya lumrah saja, karena penilaian orang pada 1 objek yang di pertontonkan pasti akan menimbulkan berbagai macam spekulasi.

Namun, nyatanya komentar yang tercipta banyak cibiran. Sebenrnya bukan nyinyiran yang dalam tahap bullying, beberapa repost ada yang membicarakan tentang tekstur dan cara yang menurut beberapa ahli seharusnya tidak perlu memakai cara seperti itu jika cici memahami. Saya langsung mengiyakan karena memang masuk akal.

Teringat kembali pada beberapa proses memberikan anak makan karena pengalaman yang saya punya selama ini. Anak-anak akan selera makan sesuai dengan usia dan kebiasaan yang di ciptakan oleh keluarga. Memang lebih baik menilai dengan penyeimbangan informasi terlebih dahulu baru mengambil kesimpulan. Sebenarnya sah-sah saja menilai dari perspektif kita sendiri walau dengan catatan harus dengan cara yang tepat. “jangan nyinyir dan mencibir” adalah kunci.

Boleh saja memberikan komentar tapi berikan batasan. Tinggalkn komentar yang baik atau tidak usah sama sekali. Karena bagaimanapun kita sebagai sesame manusia pasti memiliki hati yang harus di jaga agar tidak menimbulkan perasaan yang tersakiti.

Biasakan diri untuk tidak mudah memberikan jastifikasi jika tidak mendapat informasi yang seimbang. Karena di khawatikan akan menjadi fitnah.

Kembali ke cara cici dalam menangani tumbuh kembang anaknya, karena setiap orangtua memiliki perjuangannya masing-masing. Jika terlihat ada yang keliru cukup sebagai informasi saja dan ambil pelajaran dari hal tersebut, bilapun ternyata ada yang menyenangkan hati cukup sebagai hiburan.

sumber: pribadi

 


Mengenal Cici, pemilik akun "Pororo Shop" yang selalu unik dalam menaklukkan "anak-anak" kesayangannya

 Beberapa hari terakhir saya selalu memperhatikan beberapa postingan pada TikTok. Karena sering sekali lewat pada FYP di beranda saya. hingga menarik hati ketika akun “Pororo Shop” lewat. Biasanya, hanya saya menonton vt hanya sekelebat saja karena ownernya sedang menjelaskan beberapa produk yang di kenakan oleh kucing-kucingnya ataupun interaksi mereka saja. Hmmm, by the way, “Pororo Shop” adalah akun yang menjual beberapa kebutuhan kucing. Dan sepemahaman saya Pororo adalah nama salahsatu kucing milik Cici. Cici adalah nama pemilik toko tersebut

Sebenarnya bukanlah rahasia umum tentang Pororo, karena memang sempat viral pada 1 tahun yang lalu, tapi saya juga tidak terlalu mengikuti penyebab viral karena apa. Berhubung, saya bukanlah pemilik anabul, jadi konsen saya tentang perkucingan sangatlah minim sekali.

Lalu, kenapa sekarang saya ingin menuliskan tentang ini? Karena ada yang menarik tentang perkembangan toko tersebut selain pemiliknya yang selalu apa adanya dalam menunjukkan ekspresi gemas terhadap anabul-anabulnya, sikap anabul yang hampir semua jenis kucingnya anteng banget dan interaksi Cici dengan anaknya juga menarik perhatian. 

Terutama ketika cici berbagi pengalaman tentang cara uniknya menyuapi makan anaknya. Farel (nama anak pertama mereka) akan ogah mengunyah sebelum snack itu sampai ke mulutnya juga. Dia bertahan membuka mulutnya yang sudah penuh dengan bubur sebelum snack bayi itu masuk juga ke mulutnya. Pertama kali saya melihat hal tersebut langsung tertawa. Teringat ketiga anak-anak kami pun memiliki cara yang unik pada usia yang sama seperti farel. “waaaah, farel pinter banget nambahin kerjaan dan pikiran mamanya” kata saya dalam hati. “pertahankan nak!” sambung batin saya hahaha

Nyataanya masa unik tersebut biasanya lebih di kenal dengan GTM atau Gerakan Tutup Mulut dan hampir semua ibu merasakan fase ini. Hal ini cukup membuat “frustasi” apalagi yang konsen sekali dengan BB anak. Bukan hal mudah, tapi yang saya sadari ketika ibu bisa menenangkan hati dan pikirannya, pasti akan lebih enjoy menghadapi hal tersebut.

Menurut saya, cici sudah lebih enjoy menghadapi masa unik ini. Saya juga memaklumi denga keberaniannya menyikapi komentar-komentar sok idealis para netizen pada kolom komentar vt tersebut. Prinsipnya sih “biarlah anak makan dengan caranya, asal dia mau makan” kalau mau repot lagi, bisa banget loh cari orangtua lain yang anaknya meminta di suapin pake truk mainannya, ataupun dari boneka. tapi saya sadari pasti banyak sekali tips dan trik yang sudah cici baca dan terapkan dalam menghadapi fase tersebut. Walau berakhir dengan cara yang di ingini farel sendiri hahaha

Mengapa saya yakin? Ya…karena punya patokan pada pengalalaman yang sudah saya lewati beberapa tahun lalu.

Intinya? Ketika menghadapi fase “sulit” ini. Hanya 1 kunci yang harus di pegang oleh para ibu. Kudu “legowo”.

 “mama, tenangnya hatimu bisa membuat selera makan anakmu meningkat jadi tujuh ratus persen, ikuti saja maunya, sembari di berdoa agar fase ini segera berlalu plus jangan setres”

Semoga bermanfaat ya…

sumber: pribadi




Pentingnya menimbang sebuah informasi tentang orang lain

 

Banyak pertanyaan dalam benak kita Ketika harus berurusan dengan orang yang menurut kita tidak pantas mendapat julukan baik, apalagi jika beliau belum memberikan efek untuk diri sendiri, kebanyakan hanya menilai dari apa yang sudah di rasakan saja, tanpa mencari tahu lebih dalam tentang latar belakang orang tersebut “belum” melakukan apapun yang membuat kitab isa menilai tanpa harus merasakan efek berlebih.

sumber: pinterest

Jangan terbiasa menilai hanya dari informasi tidak seimbang

Tidak membiasakan diri untuk mudah percaya ketika mendengar selentingan penjelasan seseorang tentang orang atau kelompok tertentu tanpa adanya interaksi. agaknya sangat tidak adil jika menilainya tidak seimbang. Karena banyak sebab yang membuat ia berprilaku menyesuaikan dengan karakter orang tersebut.

Karena seharusnya kita pun bisa menempatkan diri jika mendapat penilaian yang tidak sesuai, apakah kita akan mudah menerimanya? Atau merasa di fitnah atas tuduhan yang tidak jelas. Sepertinya akan lebih bijaksana jika hal kurang mengenakkan itu di tempatkan kepada diri sendiri terlebih dahulu sebelum menyematkannya terhadap orang lain.

Instrospeksi diri adalah kunci

sumber: pinterest.com


Sebelum memudah-mudahkan diri dalam memberikan penilaian kepada orang lain sepertinya instrospeksi diri adalah kewajiban yang harus kita tuntaskan. Banyak sekali nasehat dari orang yang piawai dalam ilmunya selalu mengatakan agar jaangan mudah memberikan label kepada siapapun sebelum jelas dalam menerima informasi tersebut. Apalagi jika tidak dibarengi dengan informasi yang valid, di khawatirkan akan menimbulkan fitnah nantinya.

 

Allah dan Rasulullah sangat keras melarangnya

Bahkan banyak sekali ayat AlQuran mengisahkan seputar menilai orang lain. Salahsatunya pada surat Al-Hujurat ayat 13. Allah hanya melihat ketakwaan seseorang. Bukan karena apa yang menjadi penilaian manusia yang menajdi patokan. Takwa itu merasa bahwa Allah ada di dekatnya, jadi tidak berani macam-macam adalah kunci, menyadari bahwa semua hal memiliki balasan. Maka menilai manusia hanya dari lapisan luarnya saja sangatlah tidak di benarkan.

sumber: pinterest.com


Harus adil

Pada salahsatu video ceramah buya yahya, beliau mengatakan untuk adil dalam menilai orang lain. Harus seimbang dalam memberikan penilaian, latar belakang apapun yang kita ketahui, mau itu keluarga, sahabat ataupun orang terdekat adil. Jangan di lebih-lebihkan jangan pula menafikan. Karena setiap orang memiliki kebaikan dan keburukan, begitu juga kita sendiri. Bahkan Ali bin abi thalib yang paling populer “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang mencintaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak akan percaya itu” begitu juga dalam memberikan penilaian terhadap orang lain.

Menilai dari latar belakang keluarga

Sedang dalam masa perbincangan saat ini. Banyak sekali orang-orang yang merasa paling mengetahui orang lain apalagi menilai public figure hingga mengulitinya hanis-habisam, padahalhanyalah masyarakat biasa yang keberadaannya pun belum tentu dapat di ketahui oleh public figure tersebut, apalagi menilai dari perspektif pemuka agama dan memiliki perbedaan pandangan dalam banyak hal. Lalu, menilai dari berbagai macam pandangan yangs eringnya tidak adil.

Anak yang bermasalah, orangtuanya yang kena getahnya. Padahal bisa jdi bukan hanya orangtua yang menajdi sumber masalah, tapi karena pergaulan si anak yang mungkin terlewat dari pengawasan orangtuanya. Banyak sebab yang tidak bisa menjadi patokan semua kesalahan, tapi semuanya bisa di ambil pelajarannya.

sumber: pinterest.com


Kesimpulan

Jangan mudah menilai apapun yang terjadi pada diri orang lain. Di pikir-pikir lagi ke diri sendiri terlebih dahulu, dan fokus pada diri sendiri saja.

Eleanor Roosevelt mengatakan

“Great minds talking about Ideas, average minds talking about events, small minds talking about people”

Semua pilihan ada di kamu sendiri.

 

 

Oprec (part kesekian) ODOP 2024

 

Jika di tanya soal alasan bergabung ke oprec ODOP 2024  kali ini sih ingin mengutamakan cita-cita yang sudah lama terpendam bukan karena ada unsur kesengajaan, tapi banyak sekali urusan dalam kehidupan yang harus di selesaikan terlebih dahulu, sebelum berkecimpung di dalam kebiasaan yang seharusnya di utamakan juga.

sekarang sudah tidak bisa asal-asalan untuk berkecimpung dalam hobi yang saya senangi agar tidak ada lagi waktu yang terbuang sia-sia. kali ini memutuskan untuk kembali mengikuti program baik yang sebenarnya sudah lama sekali saya mengenalnya, dan kali ini pun saya mengulang momen yang sama untuk kedua kalinya.

Setlah di telisik pun ternyata say baru ingat bahwa saya sendiri memiliki kebiasaan mengulik, menganalisa, membaca dan senang merangkum suatu hal sejak sekolah menengah pertama, namun baru banget menyadarinya jadi kali ini ingin lebih fokus saja dengan kebiasaan yang saya sangat sukai ini.

sumber: pinterest.com


harapan yang paling ingin tercapai adalah “agar lebih produktif, tertata dengan baik, di bimbing dan mudah-mudahan bisa meninggalkan jejak baik dalam kehidupan dengan kebaikan dan kebermanfaatan” semacam wasiat menjelang masa kematian jadinya. Tapi, berhubung saya tidak terlalu aktif di berbagai macam organisasi jadi hanya ingin menorehkan kenangan di platform sosmed saja.

Walau sebenarnya ingin juga memiliki pendapatan dari hobi say aini, namun, tidak bisa berharap lebih. Karena khawatir yang di tuliskan nantinya malah hanya dengan niat yang kurang tulus. Bilapun nantinya Allah menakdirkan akan menjadi jalan saya mendapatkan pendapatan dari jalur ini ya,…sangat alhamdulillah sekali.

Semoga nantinya Ketika berkecimpung dalam oprec kali ini dan semakin semangat serta bonus jadi semakin memahami alur kepenulisan  dengan cara yang baik dan cukup memahamkan diri saya akan dunia menulis dalam platform manapun tempat saya berkecimpung dan mencari tahu.

Dan 1 lagi harapannya, semoga saya semakin banyaak membaa dan peka terhadap sekitar hingga bisa menorehkan tinta pada setiap momen yang terlewat. Karena nyatanya momen dan kenangan itu memang harus selalu di tulis agar tidak terhempas waktu dan hanya bertahan dalam ingatan masing-masing saja. Karena nantinya dia akan menjadi warisan.

 

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...