nyinyiran guwe

Ada beberapa tipe orang yang bisa santai saja dengan kerapihan ataupun yang berantakan.

Saya dulunya termasuk yang santai walau lebih ke malas.. hahha

Namun, seiring menyadari usia sudah tua, standar saya sudah mulai berbeda, ternyata kebersihan rumah bisa mempengaruhi kewarasan mamak² rumah tangga.

Walau, bukan yang addict gitu ya..., rumah kudu bersih, gak mau tau, tau²nya anak² menjadi terkekang, apa² gak boleh. 

Hahah

Beberapa bulan lalu, sering banget ditemui "jika terlihat rumah seseorang yang sudah memiliki anak dalam keadaan rapiii terus, banyak sekali kemungkinan:
1. Gak ada orang dirumah 
2. Anak-anaknya sedang sakit
3. Orangtuanya "sangar" 

Hahahah, kalau inget itu pasti ngakak, dan itu bisa menjadi alibi mamak² pada umumnya,.

Halah, gak apa²lah berantakan, timbang dibilang "emaknya sangar" 😁✌️

Teros, sekrol² medsos seharian, lupa ini itu, anak² diurus seperlunya saja, tanpa menstimulasi, rumah super meresahkan, "halah, suamiku santai saja".

Padahal, mungkin suaminya sungkan menegur, karena bininya pernah tag artikel di medsos dari sesembak penulis yang judulnya "kebahagiaan ibu adalah sumber kebahagiaan anak dan keluarga" 😂😂😁

"Nanti dikira guwe gak paham lagi ma doi, yaodahlah, berusaha santuy saja"

Hai, akuh melambaikan tangan ma diriku sendiri ya...wey...

Dan, tibalah, akhirnya sadar, sekitaran yang berantakan, ibu ratu sekrol² melulu, anak² dibiarin saja seperti itu, akan menjadi benalu di kemudian hari.

Bukan menjadi melegakan hati, malah menjadi masalah semakin bertubi², 

Mamak² itu identik dengan multitasking ya...mak. sebenarnya dikepalanya itu banyak sekali kamar² ide yang harus direalisasikan. 

Alih-alih menyalurkannya, malah menjadi mpet sendiri dan meledak dengan jutaan emosi karena "salah sendiri".

Tau gak sih? Itu bisa meledak karena adanya sebab diluar kepala lho? Misal, anak² menjadi rewel karena kurang stimulasi dan perhatian. Mamaknya jadi senewen.

Padahal ya...karena tidak tau standar prioritas aja.

Kuylah, utamakan dulu yang berada disekeliling kita ya...mak, setelah itu semesta kan mendukung kita.

kenapa memilih berjualan buku?

Memilih berkecimpung di dunia penjualan buku.

By: Rabby Radhiya.

           

          Berkecimpung di dunia literasi, walau belumlah ahli di dalamnya, namun ternyata mendapatkan ritme tersendiri dalam kehidupan.

Lalu dipertemukanlah saya dengan salah satu tim direct selling MDS, buku yang paling di kenal adalah “halo balita”

Seneng  banget ketika berada di tim tersebut. Karena kami tak hanya belajar tentang berjualan, namun juga kekeluargaan. Jadi, yang dibahas terlalu banyak. Bahkan hingga sampai ke dunia skincare juga.

          Kenapa suka dengan buku? Karena memang sadar banget ya...masyarakat Indonesia sangat minim dengan dunia membaca, apalagi di era sekarang. Padahal sudah banyak sekali laanan “buku” yang tinggal download secara gratis. Namun tetap saja, memang pembiasaan itu sehrusnya dimulai dari rumah.

          Alasan klasik kebanyakan orang karena “anak yang belum bisa membaca”. Padahal kebiasaan membaca itubukan karena bisa membaca terlebih dahulu. Lebih ke di biasakan sejak dini.

          Ilmu itu di dapat karena membaca, dan berhubung tingkat membaca orang Indonesia itu jauh diatas rata2 dunia, bagaimana bisa maju Indonesia  ini?

          Konon, banyak yang berkreatifitas, namun banyak yang memilih jalan yang instan, dengan cara copy-paste, plagiat karya orang lain, sudah menjadi habit ya...demi mendapat “apresiasi”dari orang lain. Padahal jelas caranya salah.

          Lalu, kebanyakan malah membenarkan cara tak bai tersebut. Bagaimana cara membiasakannya?

          Saya bukan pakar ya... karena sudah banyak sekali orang-orang yang membagikan cara dan penjelasan dari para pakarnya.

Silahkan, sercing-sercing aja ya...gaes..

 

Tanggul, 02 february 2021


tentang teman

 

Tentang teman

By: Rabby Radhiya

Beberapa hari yang lalu, sempat menonton sebuah film yang berjudul “3 idiot” besutan aamiir khan.

Sebenarnya itu adalah film lama yang saya tonton lebih dari 3  kali, itupun ketika beberapa kali setelahnya baru bisa fokus menontonnya dan mampu mengambil kesimpulan setelahnya.

Dulu tidak bisa fokus karena sibuk dengan aktifitas lain plus kondisi mata juga tidak mendukung.

Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Tak hnya sebagai orangtua, tapi juga ketika memposisikan diri sebagai teman.

Ketika menjadi orangtua.

1.     Jangan memaksakan kehendak kita, cita-cita kita kepada anak.

Karena mereka memiliki cita-cita lain yang tidak bisa kita paksakan. Mereka memang anak-anak kita, namun merekabuknlah milik kita, mereka hany dititipkan. Selebihnya, kita menjalankn amanah yang Allah beri dengan cara mendidiknya.

“tapi ada koq, anak-anak yang bisa mengikuti keinginan orangtuanya”

Benar, memang ada, tapi berapa persen sih? Dan itu semua terjadi biasanya karena ada pendekatan emosional yang baik ntar anak dan orangtuanya.

Dan, biasanya pu ketika orangtua dapat melakukan bonding tsb. Mereka malh lebih memilih “kebahagiaan” si anak.

Anak dengan cita-citanya, dan kita hanya bagian mendidik dan mendukungnya.

2.     Jadilah sahabat anak kita dan menjadi sahabat teman-temannya.

Jangan tuntut anak dengan tuntutan yang macam-macam. Misal: memberi perintah pada mereka untuk memilih teman yang baik, tanpa memberikan contoh yang akurat. Betapa banyak orangtua yang melkukan hal ini? Itu dikarenakan anak tidak memenuhi “karakter yang baik” menurut orangtuanya. Padahal, anak memiliki hak untuk memilih teman yang klop sesuai dengan keinginannya. Mungkin tidak sesuai dengan keinginan orangtua, namun, ada yng lebih bijak yang mungkin bisa dilakukan orangtuanya, yaitu, mendekati mereka secara emosional.

Dan, jika ternyata di teman memiliki efek negative kepada si anak, alangkah lebih baiknya jika menanyakan secara hati dan pikiran yang dewasa “kenapa dengan dia bisa nyaman? Apa yang membuat nyaman, dan apakah ayah bunda dapat menggantikannya” pastinya harus dengan alasan yang masuk akal menurutnya.

Kenapa? Sebenarnya hanya orangtuanya yang dapat memahami mereka.

3.     Berusahalah untuk menjadi orangtua yang mampu mengikuti zaman.

Kita hidup dengan anak-anak kita sudah lengkap dengan perbedaan zaman, seharusnya, orangtua mampu menguasai itu. jangan paksakan gaya orangtua kita dulu kepada diri kita, karena, mereka tak memahami, dan merkea juga mendapatinya dr orangtuanya.

Belajarlah untuk mengolah itu semua,berempatilah, jika kita dulu tidak suka diperlakukan dengan cara negative, begitu juga anak-anak kita. Berusahalan untuk memperbaikinya.

Tanggul, 29 januari 2021

Emosi yang harus tersalurkan

 

Emosi yang harus tersalurkan

By: Rabby Radhiya

Tanggul, 20 januari 2021

 

Kadang-kadang bahkan termasuk sangat sering melakukan.

Tanpa sadar melukai hati seseorang dan itu sangat terasa biasa, karena memang sangat berada dipuncak amarah, dan itu bukan bermaksud untuk membenci. Tidak sama sekali, karena memang selama ini tidak memiliki tempat menyalurkan amarah yang tersimpan.

Apakah tersadar bahwa itu semua telah menyakiti perasaan? Sangat menyadarinya.

Namun, tolong dimaafkan.

Seperti melakukan kebiasaan karena tersingkir, tanpa perhatian setiap harinya, sering merasa sendiri, tapi mengobati luka hati dengan cara sendiri.

Jangan tanya bagaimana rasanya, karena yang dapat merasakan hanya yang sedang merasakannya saja.

Bagaimana mengobati luka hati itu? tidak ada tips yang sempurna dan setiap orang meiliki caranya sendiri menganggap hal penting begitu menjadi hal biasa saja.

Hidup dengan pasangan itu bertahun lamanya, menghabiskan sisa usia, bahkan kehidupannya biasa lebih lama daripada ia menjalani kehidupan dengan orangtuanya. Lalu, apa yang bisa diperbuat? Gak ada yang bagaimana sebenarnya, cukup mengajaknya bersahabat.

Sahabat tak memiliki rahasia yang tersembunyi, kecuali jika itu memang harus disembunyikan.

Bagaimana kau bisa hidup dengan orang selama sisa hidupmu, namun, hanya sebagai pabrik untukmu menyalurkan gairah sex dan “mengadakan” anak saja. Lalu, semua hal penting yang harusnya kau sadari sejak kau bersumpah membersamainya dengan sumpah seluruh langit serta isinya dan kau hanya membiarkan posisi dia di kehdupanmu.

Hidup tak semudah itu, teman yang membersamaimu itu butuh diberi kamar khusus dihatimu, tak sebatas kau tak menyakiti hati dan perasaannya, namun, jadikan ia sangat penting dlam kehidupanmu, jika ia tidak ada didekatmu kau kan merasa kehilangan.

Kenapa harus menjadikannya sahabat? Karena disadari atau tidak, sahabat itu adalah yang paling paham dengan kebersamaan, dan biasanya bisa saling memahami tanpa bertanya, dan ketika membincangkannya tidak ada rasa canggung diantara keduanya.

Orang yang akan menghabiskan sisa usianya denganmu tidak akan merasa terasingkan, jika kita mampu untuk menghargainya.

Teman ataupun sahabat yang memiliki intensitas waktu pertemuan saja bisa memiliki problema yang tak terkatakan, konon lagi dalam rumah tangga. Yang 24 jam bisa selalu bertemu, jika tidak memiliki konsistensi dalam bercengkrama yang lebih bersahabat, mana mungkin bisa saling bertahan.

Jikapun bertahan bisa jadi karena sebatas mempertahankan kehidupan karena anak-anak yang harus memiliki figur orangtua.

Dan, figure semacam apa yang harus kita hadiahkn untuk mereka? Jika orangtuanya hanya memliki waktu bercengkrama kecuali ketika emosi saja.

Dan, semua hal tentang pernikahan, akan terasa hambar dan pahit. Dikarenakan tidak adanya saling pengertian didalamnya, menuntut tanpa bisa memberi yang terbaik. Dan dimohonkan untuk mengungkapkan “tuntutan”.

Tuntutan bukan dalam hal yang memberatkan sebenarnya, lebih ke keinginan memberikan hal yang terbaik untuk saling membahagiakan.

Ungkapkan yang kau sukai dan tidak disukai untuk perjalanan kebersamaan masa depan kita.

mom, kau istimewa

 mom, kau selalu istimewa tak perlu kau insecure dengan kegiatanmu sekarang, 
jika kau hanya dirumah karena memang ridho yang sedang kau kantongi adalah itu, maka nikmatilah. mungkin, diluar sana banyak ibu-ibu yang ingin sepertimu, namun terdapat banyak alasan yang harus dilewatinya.

jika ternyata sekarang kau sibuk diluar rumah, namun, yang kau inginkan adalah membersamai buah hati serta tengek bengeknya. dan, ternyata keinginanmu tak bisa tercapai dkaenakan berbagai macam alasan, 
maka, syukurilah, itulah waktumu yang mungkin dengan cara seperti itu lebih membuatmu fokus mendampingi diantara wakt yang cukup terbatas.

kau tetap
istimewa dimata buah hatimu, 
kau tetap istimewa di singgasanamu.
kau tetap istimewa di tempatmu.

jangan samakan kemampuan dan waktumu dengan milik oranglain, bagaimanapun, kita memiliki daya masing-masing yang Allah siapkan memang utk kita nikmati dan syukuri saat ini.

Tanggul, 15 desember 2020




korelasi antara korupsi dan pola asuh

Indonesia sedang marak-maraknya kasus korupsi yang baru saja terbongkar, sebenarnya kasus korupsi bukan suatu hal yang baru ya....


sudah menjadi hal lumrah didengar, padahal cukup membuat kita semua marah akan hal ini, seperti terkhianati, karena orang-orang yang hanya memedulikan kepentingan pribadinya. tanpa melihat ke sekitarnya.


setelah ditelisik agaknya ada yang salah dengan hal ini, karena perilaku tak terpuji ini pasti ada sebab musabbabnya, mungkin dari pola asuh juga

akhirnya saya berinisiatif untuk mencari tau (karena saya sadar, ilmu saya tak mumpuni)

yaps, kembli ke pola asuh.

saya baca di website IDN TIMES

ada banyak sebab orang lain sampai tega melkukan hal tak terpuji dikarenakan mindset sejak dini.

ada beberapa kesalahan dalam mendidik anak yang memicu tindakan tak terpuji untuk masa depannya.


1. selalu membenarkan kesalahan anak.

walau terlihat sepele, misal ketika anak diganggu oleh orang dewasa yang membuat dia kesal, namun biasanya anak kecil tidak bisa mngelak layaknya orang dewasa, 

nah, dsini peran orangtua sangatlah penting, terkadang yang lebih besar juga melakukan hal yang tidak disukai anak dipicu oleh anak yang usil terlebih dahulu ataupundia belajar dari perlakuan org dewasa, sehingga dijiplak sempurna.

namun, kita tidak bisa membenarkan juga sikap anak. walau itu juga kesalahan yang lebih besar usianya.

karena anak juga melakukan kesalahan, jadi bersikaplah fair dalam menyikapi.

agar anak belajar untuk menydari bahwa dia juga salah.


2. membiarkan anak bersikap egois

bermain dengan anak seusianya ataupun saudaranya adalah hal yang lumrah jika anak-anak berebut mainan. sebagai orang dewasa, sudah jadi kewajiban ya..untuk melerai mereka dan memberikan pengertian bahwasannya harus berbagi mainan dengan kawnnya. sayangnya, karena sudah setiap hari melihat kelakukan mereka seperti itu kita pun mulai kelelahan dan membiarkannya saja sampai teman atau saudaranya menangis.

hal tersebut membuat dirinya menjadi egois. kenapa? krena ia belajar bahwasannya hal terpenting adalah yang sesua dengan keinginannya saja tanpa ingin berbagi dengan orang lain dan dia tidak akan peduli jika tindakannya itu telah membuat orang lain sedih.

dengan kata lain, anak tidak akan belajar untuk berbagi. ia tidak belajar bahwa yang terpenting bukan mainannya, namun, kebersamaannya jadi semuanya dapat bahagia bermain bersama.


3. terlalu berorientasi pada hasil tanpa memperhatikan proses.

tindakan ini dapat memicu anak untuk melakukan segala cara, termasuk mencontek. agar dia mendapatkan hasil yang terbaik versi nilai.

4. menanmkan bahwa uang adalah segalanya.

uang memang diperlukan untuk menyambung kehidupan, karena bagaimanapun untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri saja membutuhkan uang.

bahkan untuk sedekah saja kita membutuhkan uang. ya, materi memang penting dalam kehidupan, 

meski demikian, kita perlu hati-hati dalam menanamkan konsep uang pada anak. jangan sampai anak menganggap uang adalah segalanya dan menjadikan uang adalah sumber kebahagiaan, karena, hal ini mengakibatkan anak akan menangkap uang adalah syarat mutlak pemberi kebahagiaan, padahal, uang adalah media dalam mewujudkan kebahagiaan baik untuk diri sendiri ataupun sesama.

5. tidak dapat menjadi teladan INTEGRITAS

kita semua sih sudah paham ya.. anak adalah perekam ulung, semua hal bisadi kopi-paste oleh mereka, makanya kita dituntut untuk membiasakan contoh yang baik dalam mendidik mereka.

agaknya hal-hal integritas sudah dikupas tuntas oleh sali dan saliha nih...

dimana lagi? HALO BALITA dong heuheuheuehueh

maslahat sesama

 "saya senang pada bambu itu, namun, jika ia telah mengganggu kemaslahatan bersama saya akan membongkarnya"


begitulah kalimat yang saya dengar ketika duduk bersama di sore hari sekitar setahun yang lalu. jangan ditanya, saya takjub dengan kalimat itu.


tidak banyak orang dapat melakukan itu. ketika dia mencintai dan da juga mampu berkorban mengenyampingkan yang dia cintai itu, demi kemaslahatan bersama.


ya..mungkin juga saya termasuk didalamnya.


-jika itu menggaggu kenyamananku sebagai orang yang hidup, dan orang tak memahami kebutuhanku, buat apa aku capek2 untuk berkorban, toh org lain tak memahamiku sepenuhnya-


tau banget kan, jika ada orang yang bisa mengungkapkan begitu, berarti dia bener2egois terhadap sekitarnya. maunya hanya senyamannya dia, tanpa mikir bagaimana orang lain menghadapinya.


belajarlah agar tak egois 


wallahu a'lam.



Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...