Emosi yang harus tersalurkan

 

Emosi yang harus tersalurkan

By: Rabby Radhiya

Tanggul, 20 januari 2021

 

Kadang-kadang bahkan termasuk sangat sering melakukan.

Tanpa sadar melukai hati seseorang dan itu sangat terasa biasa, karena memang sangat berada dipuncak amarah, dan itu bukan bermaksud untuk membenci. Tidak sama sekali, karena memang selama ini tidak memiliki tempat menyalurkan amarah yang tersimpan.

Apakah tersadar bahwa itu semua telah menyakiti perasaan? Sangat menyadarinya.

Namun, tolong dimaafkan.

Seperti melakukan kebiasaan karena tersingkir, tanpa perhatian setiap harinya, sering merasa sendiri, tapi mengobati luka hati dengan cara sendiri.

Jangan tanya bagaimana rasanya, karena yang dapat merasakan hanya yang sedang merasakannya saja.

Bagaimana mengobati luka hati itu? tidak ada tips yang sempurna dan setiap orang meiliki caranya sendiri menganggap hal penting begitu menjadi hal biasa saja.

Hidup dengan pasangan itu bertahun lamanya, menghabiskan sisa usia, bahkan kehidupannya biasa lebih lama daripada ia menjalani kehidupan dengan orangtuanya. Lalu, apa yang bisa diperbuat? Gak ada yang bagaimana sebenarnya, cukup mengajaknya bersahabat.

Sahabat tak memiliki rahasia yang tersembunyi, kecuali jika itu memang harus disembunyikan.

Bagaimana kau bisa hidup dengan orang selama sisa hidupmu, namun, hanya sebagai pabrik untukmu menyalurkan gairah sex dan “mengadakan” anak saja. Lalu, semua hal penting yang harusnya kau sadari sejak kau bersumpah membersamainya dengan sumpah seluruh langit serta isinya dan kau hanya membiarkan posisi dia di kehdupanmu.

Hidup tak semudah itu, teman yang membersamaimu itu butuh diberi kamar khusus dihatimu, tak sebatas kau tak menyakiti hati dan perasaannya, namun, jadikan ia sangat penting dlam kehidupanmu, jika ia tidak ada didekatmu kau kan merasa kehilangan.

Kenapa harus menjadikannya sahabat? Karena disadari atau tidak, sahabat itu adalah yang paling paham dengan kebersamaan, dan biasanya bisa saling memahami tanpa bertanya, dan ketika membincangkannya tidak ada rasa canggung diantara keduanya.

Orang yang akan menghabiskan sisa usianya denganmu tidak akan merasa terasingkan, jika kita mampu untuk menghargainya.

Teman ataupun sahabat yang memiliki intensitas waktu pertemuan saja bisa memiliki problema yang tak terkatakan, konon lagi dalam rumah tangga. Yang 24 jam bisa selalu bertemu, jika tidak memiliki konsistensi dalam bercengkrama yang lebih bersahabat, mana mungkin bisa saling bertahan.

Jikapun bertahan bisa jadi karena sebatas mempertahankan kehidupan karena anak-anak yang harus memiliki figur orangtua.

Dan, figure semacam apa yang harus kita hadiahkn untuk mereka? Jika orangtuanya hanya memliki waktu bercengkrama kecuali ketika emosi saja.

Dan, semua hal tentang pernikahan, akan terasa hambar dan pahit. Dikarenakan tidak adanya saling pengertian didalamnya, menuntut tanpa bisa memberi yang terbaik. Dan dimohonkan untuk mengungkapkan “tuntutan”.

Tuntutan bukan dalam hal yang memberatkan sebenarnya, lebih ke keinginan memberikan hal yang terbaik untuk saling membahagiakan.

Ungkapkan yang kau sukai dan tidak disukai untuk perjalanan kebersamaan masa depan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...