korelasi antara korupsi dan pola asuh

Indonesia sedang marak-maraknya kasus korupsi yang baru saja terbongkar, sebenarnya kasus korupsi bukan suatu hal yang baru ya....


sudah menjadi hal lumrah didengar, padahal cukup membuat kita semua marah akan hal ini, seperti terkhianati, karena orang-orang yang hanya memedulikan kepentingan pribadinya. tanpa melihat ke sekitarnya.


setelah ditelisik agaknya ada yang salah dengan hal ini, karena perilaku tak terpuji ini pasti ada sebab musabbabnya, mungkin dari pola asuh juga

akhirnya saya berinisiatif untuk mencari tau (karena saya sadar, ilmu saya tak mumpuni)

yaps, kembli ke pola asuh.

saya baca di website IDN TIMES

ada banyak sebab orang lain sampai tega melkukan hal tak terpuji dikarenakan mindset sejak dini.

ada beberapa kesalahan dalam mendidik anak yang memicu tindakan tak terpuji untuk masa depannya.


1. selalu membenarkan kesalahan anak.

walau terlihat sepele, misal ketika anak diganggu oleh orang dewasa yang membuat dia kesal, namun biasanya anak kecil tidak bisa mngelak layaknya orang dewasa, 

nah, dsini peran orangtua sangatlah penting, terkadang yang lebih besar juga melakukan hal yang tidak disukai anak dipicu oleh anak yang usil terlebih dahulu ataupundia belajar dari perlakuan org dewasa, sehingga dijiplak sempurna.

namun, kita tidak bisa membenarkan juga sikap anak. walau itu juga kesalahan yang lebih besar usianya.

karena anak juga melakukan kesalahan, jadi bersikaplah fair dalam menyikapi.

agar anak belajar untuk menydari bahwa dia juga salah.


2. membiarkan anak bersikap egois

bermain dengan anak seusianya ataupun saudaranya adalah hal yang lumrah jika anak-anak berebut mainan. sebagai orang dewasa, sudah jadi kewajiban ya..untuk melerai mereka dan memberikan pengertian bahwasannya harus berbagi mainan dengan kawnnya. sayangnya, karena sudah setiap hari melihat kelakukan mereka seperti itu kita pun mulai kelelahan dan membiarkannya saja sampai teman atau saudaranya menangis.

hal tersebut membuat dirinya menjadi egois. kenapa? krena ia belajar bahwasannya hal terpenting adalah yang sesua dengan keinginannya saja tanpa ingin berbagi dengan orang lain dan dia tidak akan peduli jika tindakannya itu telah membuat orang lain sedih.

dengan kata lain, anak tidak akan belajar untuk berbagi. ia tidak belajar bahwa yang terpenting bukan mainannya, namun, kebersamaannya jadi semuanya dapat bahagia bermain bersama.


3. terlalu berorientasi pada hasil tanpa memperhatikan proses.

tindakan ini dapat memicu anak untuk melakukan segala cara, termasuk mencontek. agar dia mendapatkan hasil yang terbaik versi nilai.

4. menanmkan bahwa uang adalah segalanya.

uang memang diperlukan untuk menyambung kehidupan, karena bagaimanapun untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri saja membutuhkan uang.

bahkan untuk sedekah saja kita membutuhkan uang. ya, materi memang penting dalam kehidupan, 

meski demikian, kita perlu hati-hati dalam menanamkan konsep uang pada anak. jangan sampai anak menganggap uang adalah segalanya dan menjadikan uang adalah sumber kebahagiaan, karena, hal ini mengakibatkan anak akan menangkap uang adalah syarat mutlak pemberi kebahagiaan, padahal, uang adalah media dalam mewujudkan kebahagiaan baik untuk diri sendiri ataupun sesama.

5. tidak dapat menjadi teladan INTEGRITAS

kita semua sih sudah paham ya.. anak adalah perekam ulung, semua hal bisadi kopi-paste oleh mereka, makanya kita dituntut untuk membiasakan contoh yang baik dalam mendidik mereka.

agaknya hal-hal integritas sudah dikupas tuntas oleh sali dan saliha nih...

dimana lagi? HALO BALITA dong heuheuheuehueh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...