Sedikit Demi Sedikit Belajar Menghadapi Diri Sendiri.

 Sudah bolak balik saya selalu membicarakan tentang penyembuhan luka dan rasa trauma. Entah dalam platform manapun pasti saya akan ceritakan soal ini. Bukan untuk menggurui. Tapi lebih ke menasehati diri sendiri bahwa saya pernah menuliskan hal tersebut dan seringnya terlupa lagi dan lagi hingga lama sekali untuk mengingat hal yang sudah saya ungkapkan tersebut.

Apalagi ketika sedang futur, hormon lagi jumpalitan (biasanya PMS) hampir setiap bulan pasti akan merasakan ini, sensitive luar biasa, bahkan sampai pada keadaan menganggu selera makan. Bayangkan jika sedang tidak selera makan, perut lapar, emosi sedang memuncak pula, apa tidak menimbulkan pikiran-pikiran liar yang lebih ekstrim.

Sumber: Pinterest

Kadang-kadang malah masuk pada keadaan yang tidak masuk akal. Bisa banget keluar dari pikiran dan untungnya masih bisa di tahan dalam kepala dan hati. Karen mangkel, berujung pada keinginan berpisah dengan pasangan. Adalah hal teraneh yang sering banget terjadi pada step bulanan saya. pada 3 bulan terakhir, jika hal tersebut muncul dalam pikiran biasan saya langsung lebih menyibukkan diri. Berhubung tidak selera makan, jadi pelariannya adalah sibuk.

Biasanya saya melakukan kegiatan-kegiatan tertentu, pokoknya tubuh tidak boleh terdiam walau sejenak, kecuali karena kebutuhan istirahat saja. Memangnya apa yang saya lakukan? Biasanya, masak yang lebih “ribet”, belajar atau bersih-bersih rumah. Saya tidak paham dengan istilah dalam medisnya. Tapi yang pasti saya memaksakan diri untuk lebih banyak bergerak. Sebab, sepengalamn saya. jika tubuh semakin banyak diam ketika sedang sedih malah pikrian semakin melalang buana.

Apalagi ketika sedang sedih malah lebih banyak scroll medsos yang algoritmanya seperti sangat paham dengan keadaaan hati. Halah-halah, jadi membuat nangis Bombay. Merasa menemukan orang sefrekwensi, padahal setiap orang pasti memiliki permasalahan berbeda-beda levelnya. hahhaha

Pernah sih, ketika menemukan 1 atau 2 konten yang tanpa sengaja lewat pada timeline ataupun beranda saya. bisa di terima secara masuk akal, yang akhirnya menjadi penyemangat diri dalam merubah jalan pikiran dan biasanya jadi jauh lebih tenang.

Ada yang pernah mengalami juga?

2 komentar:

  1. Benar banget kak, semakin kita menuruti kondisi hati yang tidak karuan kita menjadi semakin malas mau ngapa ngapain.

    Kalau mau mengubah kondisi hati bergerak aja, ada penjelasan medisnya kalau kita lagi sedih maka berolahraga lah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul cak, semakin diam semakin buntu hihihi

      terima kasih sudah mampir

      Hapus

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...