Semua Berawal Disini (part 1)

 

sumber gambar: Pinterest


Dina mencoba pudding yang telah di buatnya selama lebih dari 15 jam, dengan niat membuat untuk cemilan buah hatinya yang sudah terlalu lama tidak dibuatkan cemilan.

 Selama ini mereka hanya makan cemilan dari pasar yang dibelinya selama ini.

“sekali-kali, harus menyediakan yang terbuat dari tangan ibunya dong, biar anak-anak merasakan cinta dari masakan ibu” kata Dina dalam hati.

Ketika ia lihat Aina dan Akash yang sedang bermain dengan mainan di kamar yang telah di sulap oleh Bang Dimas sebagai tempat mainan mereka.

Setelah mengintip anak-anak, Dina langsung meneruskan aktivitas di dapur. Sembari membersihkan segala peralatan memasak yang  telah di pakai, Dina pun buru-buru menyimpan pudding ke dalam kulkas, agar segera mengeras, jadi bisa di makan oleh Aina dan Akash. Dan sebagian yang lain, bisa disisihkan untuk Bang Dimas, cemilan beliau sepulang dari bekerja nanti.

Beberapa menit kemudian.

“pudding pelanginya sudah jadi, siapa yang mau?” teriak Dina

“aku” jawab Aina dan Akasy serentak

“pelan-pelan ya…makannya, biar gak tersedak” timpal Dina

“oke bu” jawab mereka dengan suara lucunya

Tidak membutuhkan waktu yang lama, pudding pun sudah habis dimakan.

Setelah itu, peralatan makan pun di bersihkan kembali oleh Dina.

Beberapa menit kemudian, wastafel pun mengilap.

Dina mengambil handphonenya, dan berselancar di medsos.

Tiba-tiba saja dina membaca sebuah postingan di salahsatu akun di Instagram.

Pesan dari flyer yang di posting itu berbicara tentang “ketahanan Rumah Tangga di mulai dari komunikasi yang baik antar suami istri”. Lalu Dina teringat tentang pola komunikasinya dengan Bang Deni, suaminya.

Bang deni adalah type suami yang pendiam, tidak banyak bicara selama ini, bahkan ketika anak mereka sudah berjumlah 2 orang pun Bang Deni tetaplah sosok laki-laki yang tidak banyak bicara.

“bagaimana aku membangun komunikasi jika Bang Deni kebanyakan diam? kan Bang Deni adalah suami, sedang aku adalah istri yang seharusnya lebih banyak manut dengan perkataan suami” kata Dina dalam hati

“ah, andai Bang Deni adalah sosok yang tidak sulit bicara, pasti aku tak perlu banyak-banyak ngomong” sambung Dina dalam hati

Tapi, Dina buru-buru beristighfar.

“kenapa aku jadi banyak menuntut dan tidak bersyukur begini?”

Karena Dina merasa perasaannya jadi tidak menentu, percakapan dalam hatinyaa pun cepat-cepat dia hentikan dan buru-buru mendatangi anak-anaknya yang sedang bermain.

 

 

Kring kring kring

Handphone Dina berdering dengan nyaring, Dina tergupuh mencarinya asal bunyi, karena handphonennya sudah bercampur dengan mainan Aina dan Akash.

“assalamualaaikum bang”

“waalaikumsalam dek, hari ini abang terlambat pulang ya…dek, ada kerjaan yang gak bisa ditinggal karena Pak Aryo mendadak beri tugas yang harus segera abang selesaikan, biasa untuk pengurusan Proyek pening besok” kata Bang Dimas di ujung sana

“iya bang, abang sudah makan?” Tanya Dina

“udah dek, tadi di belikan Pak Aryo” jawabnya singkat

“yasudah bang, dilanjutkan lagi aja, nanti kalau abang sudah selesai dan di jalan pulang kasi kabar Dina ya”

“insyaAllah dek, yaudah ya…Assalamualaikum”

“waalaikumsalam” jawab Dina.

Setelah meletakkan handphonenya Dina menatap nanar masakan yang dia siapkan sedari sore tadi, soto Lamongan kesukaan Bang Dimas. Yang sengaja Dina panaskan begitu handphonenya berdering tadi. Karena biasanya Bang Dimas memang selalu menghubungi jika beliau sudah di jalan menuju rumah. Ternyata menelpon bukan untuk memberitahukan kalau sudah pulang.

“yaaaa, gak jadi deh di panasinnya” kata Dina sembari menutup panci kuah soto.

Setelah menidurkan Aina dan Akash, Dina bersiap untuk tidur di kamarnya dengan Dimas.

Seperti biasa, ketika sebelum tidur, dina akan membaca buku dan memasang alarm di handphonennya.

Sembari membuka what’sapp. Dengan niatan mau memberi tahu Dimas, bahwa dia akan tidur duluan.

Ternyata ada What’sapp dari salahsatu sahabatnya. Sheila

“Din, aku mau curhat” begitu pesannya, singkat sekali.

Dina merasa ada yang aneh, sebab, tidak biasanya sheila menghubunginya dengan kalimat yang sangat singkat begitu.

“ada apa cuy?” ketik Dina

Sambil menunggu sheila menjawab pertanyaan, Dina pun mengingat-ingat tentang perjalanannya bersama Sheila ketika mereka masih gadis. Pada 15 tahun yang lalu.

 

bersambung

 

1 komentar:

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...