Bercerita
seputar guru ngaji, sudah sejak lama saya ingin menuliskannya. Bukan karena
bagaaimana. Tapi, lebih ke seberapa miris para pejuang literasi Quran yang
seharusnya lebih dihargai dengan nilai yang baik.
Pejuang
yang lebih banyak membiayai dirinya sendiri, tanpa lebih diistimewakan. Walau
pastinya mereka mengajarakan Al-Quran dengan sangat ikhlas, berbekal pemikiran
dan ilmu yang dimiliki, mereka
mengetahui bahwa yang mereka lakukan akan berbuah pahala dan bekal jariyah nantinya.
Namun,
banyak banget yang tidak menghargai dengan setimpal, para guru ngaji yang berkendara
dengan kendaraan pribadi yang mereka miliki dan mengisi dayanya pun sendiri.
Selayaknya
dalam sebulaan bisa mendapatkan harga yang setimpaal dari mengajarkan ilmu
Quran dan nyatanya yang didapatkan hanya berapa ribu dan ratus ribu rupiah
saja. bahkan biaya bensin kendaraannya pun tidak bisa tercukupi.
Apalagi
biaya kehidupannya selama sebulan, sangat miris sebenarnyaa. Belum lagi mereka
para guru ngaji yang memiliki ilmu yang baik secara ukhrawi malah tidak
dihargaai sama sekali.
Padahal seharusnya kita bisa sangat menghargainya, sebab mereka
telah mengorbankan waktu serta tenaga juga kebersamaannya dengan keluarga.
Terlalu banyak pengorbanan yang tidak bisa tertuliskan.
Seperti
yang telah dilakukan oleh seorang ayah di 20 tahun yang lalu. Panggil saja
bapak Sunarman, seorang yang berbekal ilmu dari pondok pesantren selama 6
tahun. Dengan tujuan mulia, membumikan Al-Quran di tanah kelahirannya. Mengajar
di Masjid dan private dari rumah ke rumah, yang awalnya hanya berbekal kemauan
anak-anak sekitar untuk mengaji dan tentunya dukungan oraang tua mereka.
Akhirnya
banyak anak-anak yang diajar oleh beliau. Tidak banyak harapan, karena memang
yang diharapkan hanya anak-anak sekitar dapaat mempelajari Al-Quran dengan baik
saja, yang pastinya diselingi dengan berbagai macam metode pendekatan secara
emosional. Dari mendongeng hingga menyediakan buku dan komik islami untuk
anak-anak sekitar agar mereka dapat mendapat ilmu seperti anak yang lainnya.
Padahal
kita harus tahu, bahwasannya di tahun itu untuk mendapatakan berbagai perangkat
kebutuhan ilmu seperti buku, pastilaah dengan hargaa yang tidak muraah, untuk
seukuran seseorang yang baru selesai sekolaah di pondok pesantren.
Dengan
biaya yang minim sekali, semua harus dikorbaankaan. Karena ada tujuan muliaa
yang harus tercapai. Passtinya beliau bekerjasama dengan temn-teman beliau,
tidak mungkin bisa menjalani itu semua sendirian kan? Karena apapun yang tujuan
dakwah, pastilah lebih efisien bila dilakukan dengan jama’ah.
Tidak
mungkin dapat dilaakukaan sendiri, mungkin saja ada yang berhasil, namun pasti
sangat berbeda jika dilakukan dengan bersama-sama.
Yang
dipelajari oleh anak-anak bermacam-macam, tidak hanya pelajaran membaca
Al-Quran, namun juga belajar seputar akhlak, sirah dan lain sebagainya. Jika
hanya belajar baca tulis Al-Quran pasti sangat membosankan.
Semua
di modifikasi dengan tujuan agar mengaji menjadi haal yang menyenangkan. Semua
metode ilmu mengajarkaan baca tulis Al-Quran diajarkan. Dengan metode terbaru
ataupun yang lama, karena mereka menyadari bahwa bagaimanapun perbedaan zaman
tidak akan banyak perubahan dalam proses belajar mengajar Al-Quran.
Karena
sejatinya, kitaa sebagai manusia harus selalu belajar dari tahun-tahun sebelum
kita dan mengambil dari hal kebaikan lalu meninggalkan yang kurang baik
didalamnya.
Itulah
mengapa semuanya haarus dimodifikasi agar menjadi ilmu yang bermanfaat.
Ada
banyak hal yang sangat saya kagumi dari cara para pengajar ilmu Al-Quran di
jaman dulu adalah, mereka yang selalu berpegang teguh pada sebuah hadits yang
agaknya sangat masyhur di sekeliling kita semua.
Kata mutiara dan kata bijak
Islami di atas adalah sebuah kalimat yang diambil dari sebuah hadits nabi
sebagai berikut:
عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف
ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس
»
Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Orang beriman itu bersikap
ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan
sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Thabrani dan Daruquthni).
Mungkin sebagian kita
lebih mengenali dengan kalimat خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ
لِلنَّاسِ
Sebaik-baiknyaa manusia adalah yang
paling bermanfaat kepada sesame manusia juga.
Para
pengajar, berpegang teguh pada hal itu, menyebarkan manfaat untuk sekelilingnya
dengan mengjarkan mengaji, membaca dan menulis Al-Quran juga mengjarkan segala
hal kebaikan dengan menyatukan ilmu agama pastinyaa.
Karena
apa? Hal-hal seperti itu tidak banyak dibahas dalam pelajaraan sekolah. Apalagi
pada puluhan tahun yang lalu, anak-anak bisa mengaji saja itu sudah menjadi hal
yang sangat membanggakan. “para orangtua menyamakan bahwa kegiataan mengaji itu
menjadi sebuah pertanda bahwa keluarga tersebut memiliki kemajuan literasi yang
baik diantara keluarga disekelilingnya” ungkap beliau.
Walau
ketika saya tanyaakan, bagaimana dengan tarifnyaa, aapakah dibayar atau tidak?.
“dibayar, tapi ya….dari seluruh peserta mengaji hanya 20% saja yang bersedia” jawab
beliau. Miris sekali dengan hal ini, ternyata ya…tidak sekarang saja para guru
mengaji merasakan hal tersebut, guru di puluhan tahun yang lalu pun merasakan
hal serupa.
Kurang
dihargai secara nominal, walau mereka tidak berharap besar, namun, alangkah
lebih bijaknya, jika kita bisa menghargai jasa-jasa mereka sebaik mungkin.
Guru
apapun itu, ya…kita wajib untuk memberikan mereka apresiasi tinggi, agar ilmu
yang diberikan dapat menjadi berkah untuk kehidupan kita. \
Pak
Sunarman adalah ayah saya. Beliau berjuang sekuat tenaga waktu itu, untuk
menghidupi kami keluarga kecilnya. Sembari mengajar, beliau pun sempat menjadi
buruh pabrik di pabrik plastic, berjualan roti pun pernah. Jika mengingat mas
kecil itu sangat membuat saya terenyuh, terlebih abi (panggilan saying kami
kepada beliau) adalah sosok yang pendiam, jadi tidak banyak bicara pastinya hehe,
tapi beliau adalah sosok yang hangat, dengan humor-humor ala abi dan selalu
berusaha membuat kami tetap bicara.
Walau
perjalanan hidup bagaikan roda, berputar, kadang dibawah dank dang di atas,
tapi abi selalu low profile. Gak macem-macemlah, biasa-biasa aja, “jalani dan
dinikmati saja kehidupan ini” selalu begitu pesan abi ketika menasehati kami.
APAPUN
PERAN ABI DI MASYARAKAT. BAIK ITU DULU ATAUPUN SEKARANG, KAMI SELALU BANGGA
TELAH MENJADI ANAK ABI.



