Seminggu
sudah kepergian bapak. Mendahului kami yang telah mengantri untuk dipanggil
Allah pada urutan kesekian
Jangan
ditanya rasanya seperti apa, walau bapak bukanlah bapak kandung saya, tapi, 4
tahun kebersamaan kami dengan bapak dan ibu cukuplah membuat saya sangat merasa
disayangi sebagai seorang menantu.
Bapak
tidak membedakan kasih sayang dan cinta antara anak kandung ataupun menantunya,
semuanya sama.
Saya
merasa sangat dicintai, walau, jelas berbeda sikap kalau dengan saya, tidak bisa
frontal dibanding dengan anak-anak bapak ibu.
Bapak
adalah contoh terbaik untuk anaknya bagaimana bersikap dan memperlakukan
istrinya.
Bapak
memberi contoh bagaimana menjadi laki-laki sejati dan suami penyayang.
Bapak
mengajari anaknya bagaimana cara mencintai keluarga dan bermuamalah dengan sesama
manusia dan keluarga besar.
Dan bapak
mengajarakan anak-anaknya bagaimana menjadi muslim yang baik walaupun itu hanya
di balik layar. Namun, namanya tetap harum untuk khalayak masyarakat sekitar.
Jika
dirunut kata demi kata seperti tidak pernah habis untuk menuliskan semua hal
tentang bapak.
Dan
benarlah, ketika bapak mendahului kami untuk bertemu Rabb-nya, kamipun
kewalahan menata hati dan pikiran.
Hanya
2 kalimat saja yang ada dibenak dan terucap.
“Bagaimana
Ibu?”
Ibu yang kemana-mana selalu
dibersamai bapak, tidak pernah lewat barang 1 menitpun bapak akan selalu
menemani. Ke masjid selalu bersama, pengajian (apalagi), silaturrahim pasti
berdua. Bahkan banyak teman-teman ibu yang sangat iri, karena ibu memiliki
suami yang sangat “mauan”. Berbeda jauh dengan suami ibu-ibu yang lain.
Wajar
kan kami memiliki pemikiran “bagaimana ibu?”
Dan,
semua rencana sudah kami susun dengan dalih ingin menguatkaan ibu karena telah
ditinggalkan teman, partner dan sahabatnya selama puluhan tahun bersama, yaps,
bapak.
Berbagai
perdebatan cukup alot kami lakukan dengan ibu, dengan berbagai macaam alasan
hanya untuk keinginan pulaang menemani ibu.
Namun,
semua diluar rencana dan bayangan kami, ibu belum berkenan kami temani. Terkhusus
kami si anak pertama. Ntah apa alasan ibu yang sebenarnya, walau yang terucap
dari mulut ibu adalah “kasian kalian, kalian itu jauh masa Cuma sebentar saja
di Malang, capek banget loh nanti” begitulah kurang lebih yang ibu katakana pada
kami.
Walau
pasti ada alasan lain yang pasti tidak akan ibu katakan, tapi saya pribadi
hanya meyakini.
Ternyata “ibu tidak butuh
dikuatkan. Namun, kami yang butuh dikuatkan oleh ibu”.
Ibu
tak mungkin tanpa gerimis hatinya mengucapkan itu, hati ibu mana yang tidak
ingin bertemu anak dan cucunya. Apalagi di suasana penuh duka seperti ini.
Pasti
banyak alasan ibu.
Hanya
belasan menit saya berbicara dengan ibu, dari semua kalimat dan cerita-cerita
ibu, hanya 1 intinya “kalian tidak usah mikirin ibu, ibu banyak yang jaga”
Saya
pribadi sangat paham maksud itu, karena ibu adalah anak pertama. Kami, anak dan
menantunya juga anak pertama, sedikit banyak ibu sangat paham bagaimana
perasaan kami.
Ibu,
apapun alasannya, kami akan ikuti mau ibu. Semoga dengan cara begini, ibu
semakin kuat, dan kami pun semakin ikhlas.
Ada 1
pesan ummi saya (ummi adalah panggilaan ibu kandung saya) “kalian turuti apapun
omongan ibu, jangan dilawan, khawatir melukai perasaannya” pesan ummi pasti
tidak yang menuju kebatilan pastinya, karena ibu tidak mungkin menjerumuskan
anak-anaknya ke jalan yang buruk.
Semua
kejadian dan kedukaan memiliki hikmah. Pahit
manis kehidupan kita pasti merasakannya. Karena jelas, Allah tidak akan menguji
hambanya diluar bats kemampuannya.
Kita
orang beriman, percaya Qadha dan Qadar. Semua sudah di atur oleh Allah. Bagaimanapun
bentuknya, harus diterima naanti ketika kita telah dinilai sabar, ikhlas dan
tawakkal pasti akan diberikan ganjaran terbaik versi Allah. Sekarang, yaudah. Jalani
dan nikmati saja prosesnya.
Allah
menakdirkan sesuatu juga karena mungkin menurutNya kita mampu menjalani ini,
kalau kata orang-orang yang pinter sih “ujian naik tingkat” namanya, jadi
berpikir baik yang baik-baik saja sudah.
Kita
semua juga punya maksud yang baik, dan menggunakan hati nuraani yang cukup
baik, semuanya juga dipikirkan secara matang-matang, jadi kalau menurut Allah
mungkin belum tepat waktunya, yasudah, tidak perlu ngotot.
Biarkan
waktu yang berbicara.
Patemon,
6 Agustus 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar