Cerita
tentang drama “Hospital Playlist”
Sejak Hospital Playlist (HP) season ke 1, saya selalu selesai
menontonnya, walau kudu ngulang 1 hingga 2 kali lagi, baru benar-benar paham
dengan jalan cerita. Padahal ceritnya sangat ringan, tapi berhubung saya memang
sudah kepalang kena spoiler di medsos jadilah lebih banyak mencari-cari adegan
tertentu daripada menikmati alur cerita.
Kenapa saya sangat suka dengan
cerita di HP? Karena memang saya lebih suka genre tentang persahabatan,
keluarga ataupun yang diadaptasi dari cerita orang yang berpengaruh di luaran
sana.
Drama yang di tulis oleh Lee
Woo Jung yang sukses membesut seri populer "Reply 1997",
"Reply 1994" dan "Reply 1988" yang bekerja
sama dengan PD Shin Won Ho. Sang PD sebelumnya menggarap drama "Prison
Playbook" drama dan filmnya yang sudah tidak diragukan lagi alur
disetiap episode dianggap seperti cerita real.
Apa tidak suka dengan genre cinta?
Suka juga sih, tapi logika saya lebih sering gak sinkron dengan jalan
ceritanya, makanya jadinya tidak menikmati.
Kembali ke HP ya... didalam cerita
ini tidak ada yang mendominasi. Lee ik jun, ahn jung wan, chae song hwa, kim
jung wan dan yang seok hyeong. Semuanya
memiliki peran yang sangat penting,
belum lagi pemeran yang lainnya.
Kisah 5 orang sahabat yang
berprofesi sebagai dokter spesialis di RS Uljee. Mereka bersahabat sejak kuliah
ya... hitungan belasan hingga puluhan tahun bersama-sama.
Banyak sekali pesan moral yang terdapat dalam drama ini, jika
yang menonton di season 1 saja, jujur, itu semua tidak selesai, ada kelanjutan
cerita di season 2 dan ending cerita di season 1 ternyata gantung banget. Walau
ya...namanya penonton pasti sangat menginginkan happy ending untuk keseluruhan
pemeran ya...gaes haha
O...iya, ada yang lebih membuat saya harus standing aplause
untuk jalan cerita HP adalah ketika mereka harus menjadi teman yang betul
menemani kala salahsatu dari mereka mendapatkan masalah dalam hidup. Bahkan salahsatu
itu tidak menceritakan masalah tersebut namun, mereka paham hanya dengan
melihat raut wajah. Tidak harus mengatakan masalahnya apa, cukup temani saja
hingga mungkin dia akan merasa lega. Sangat dewasa sekali.
Mereka sampai dititik tidak ingin memiliki siapapun selain
keluarga dan sahabat-sahabat mereka saja. Bahkan hingga salah satu dari mereka
harus “memanas-manasi” yang lainnya, agar menguatkan hati untuk memiliki
tambatan hati, agar nantinya ada yang menemani tidak hanya keluarga dan
sahabat-sahabatnya saja.
Sebuah kedewasaan dalam berpikir, begitu dalam benak saya. Cara
menimpali setiap orang lain menghadapi maslaah juga patut diacungi jempol,
karena tidak semua orang memiliki kemampuan itu.
Apalagi tingkat keingin tahuan seseorang teradap hidup orang
lain itu sering membuat orang lain tidak nyaman. Kepo banget.
Padahal ada sebgian orang yang tak
ingin sellau ditanya, atau memang hanya ingin bercerita pada orang-orang
tertentu saja. Sebenarnya tidak ada yang
salah jika kita peduli dengan orang lain, tapi ya...kita sesuikan saja. Kita bisa
melihat mana orang yang memng ingin bercerita mana yang tidak.
Mengapa saya mengatakan itu?karena
pelajaran dari banyaknya episode drama ini. Walau plot twist adalah ketika di
season 1 tidak terlalu diceritakan secara detail permasalahan-permaslahan di
dalamnya. Ketika di season 2 baru sedikit demi sedikit tabir itu terkuak,
membuat saya berdecak kagum dan berbisik DAEBAK!! Hahaha
Kuyla, kita habiskan nontonnya,
walau season 2 masih on going ya...gaes.

Wah, suka drakor juga ya? Sama nih 😁. Tapi aku malah belum nonton yang ini. Lagi suka drakor/dracin yg ringan bgt dan so sweet, hehe. Tp emang udh ada di playlist sih. Kuakui drakor ini emang jempolan bgt ngangkat persahabatannya 🤩
BalasHapusSalam,
Putri #odop9 😁
Aigoo...
BalasHapuseoseo osibsio eonni ....