Komunikasi Bukan Telepati: Tentang Perasaan, Pasangan, dan Kejujuran."
Hari berganti hari, setiap kita memang selalu dianugerahi berbagai macam pola kehidupan. Ada sedih yang dilengkapi dengan kebahagiaan. Begitu juga sebaliknya. Namun, ketika sadar bahwa semua hal yang akan kita lewati pasti membuahkan banyak pelajaran bermakna dan berdampak dalam kehidupan, kita akan lebih mampu menerimanya. Yakini saja bahwa hidup kita sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Bahkan, daun yang jatuh pun atas izin-Nya. Jadi, apa sebenarnya yang perlu ditakutkan?
Seperti halnya saya yang hampir seperti orang gila dalam menghadapi permasalahan. Bahkan permasalahan yang mungkin menurut sebagian orang sangat receh pun bisa membuat saya uring-uringan. Jiwa ini seolah tidak terima mengapa harus diberi permasalahan yang menurut hati terasa tidak memiliki penyelesaian.
Permasalahan rumah tangga yang semakin kompleks. Padahal bisa diselesaikan hanya dengan lebih banyak berbicara dari hati ke hati dengan pasangan, justru sering menimbulkan sensitivitas tinggi dalam menjalani hari. Hal-hal yang berkaitan dengan perasaan memang terasa seperti tidak ada ujungnya, karena membuat gairah beraktivitas harian menjadi carut-marut. Semangat pun kalah oleh pikiran dan hati yang sedang tidak stabil.
Bu, tidak ada yang namanya “pria bisa memahami dengan sendirinya” seperti halnya kita sebagai perempuan. Ya, laki-laki memang memiliki sensivitas yang lebih rendah. Bukan karena tidak mau, namun, memang fitrah mereka seperti itu. Kitalah sebagai perempuan yang seharusnya memberi pengertian sekaligus pemahaman. Apalagi kebanyakan perempuan pasti lebih banyak “kepo”, yang sebenarnya bisa dimaknai sebagai bentuk kepedulian, bahkan terhadap hal-hal kecil.
Laki-laki tidak memiliki fitrah sensitifitas yang& sama. Maka, lebih baik kita menyampaikan secara langsung, agar mereka bisa memahami. Tidak perlu lah pakai cara sindiran dengan harapan “dia akan paham ini”. Jika waktunya tepat sampaikan saja dengan jujur, siapa tahu, dari situ justru lahir solusi dan terbangun komunikasi serta kedekatan yang lebih sehat.
Toh, kita semua mengetahui bahwa berdiskusi biasanya akan menghasilkan solusi-solusi yang tidak bisa dianggap remeh, apalagi jika sama-sama tenang ketika membicarakan banyak hal. Solusi kan segera datang. Dan bisa juga menjadi pelajaran untuk membudayakan diskusi dalam keluarga dengan harapan kebiasaan itu akan mengakar hingga ke anak cucu. Supaya kelekatan dalam keluarga semakin terjalin dengan bahagia.
Apalagi pada era sekarang, informasi tentang cara bijaksana dalam berkomunikasi dengan keluarga sangat mudah ditemukan. Belum lagi penjelasan tentang dampak buruk jika komunikasi itu tidak terjalin dengan baik. Agaknya, semua informasi itu bisa menjadi cermin agar kita terus belajar, berbenah, dan bertumbuh.
![]() |
| Pinterest.com |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar