Kukira
pernikahan dapat membuat hati tenang seratus persen, tapi nyatanya tidak sama
sekali. Semakin mengenal pasangan ternyata semakin malas berbagi cerita. Belum lagi
ia bukanlah orang yang sangat mudah memahami tanpa harus di bisiki terlebih
dahulu. Tanpa di nyana rasa hati pun ikut tenggelam dalam kekecewaan.
Belum lagi permasalahan buah hati yang ternyata memutuhkan peekerjaan extra yang tidak akan bisa di gantikan oleh orang lain. Walau sadar diri buah hati, tumbuh kembang serta kebutuhan jasmani dan rohaninya adalah tanggung jawab kita sebagai orangtua. Namun, agaknya hati harus meminta pertolongan pada yang lebih mahir dalam dunia pendidikan. Egoisnya banyak pikiran yang menganggap bahwa diri sendiri mampu.
Dan seiring bertambahnya waktu. Allah meembuka tabir ketidak mampuan diri. Dikarenakan memang tidak ada totalitas dalam menjalanan amanah yang telah Allah beri langsung. Disini pentingnya perndidikan untuk seorang ibu yang tidak akan bisa di dapat jika di dunia sekolah. Semua sudah Allah beri jalan kemampuan sesuai dengan bagiannya masing-masing.
Mendengar “sesuai dengan bagiannya masing-masing” saja itu sudah membuat naik darah. Karena seperti sedang meminum jamu yang super pahit rasanya hingga menggelegar ubun-ubun. Diri ini ingen sekali mengungkapkan pada manusia yang mungkin paham dengan apa yang sedang rasakan. Namun, agaknya orang lain pun akan enggan untuk mendengarkan.
Hai diriku. Terima kasih sudah sekuat ini menasehati diri agar berusaha tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Terima kasih telah menjadi bagian paling waras dalam bersikap, jika tidak di tahan sepertinya raga ini udah hancur lebur karena ingin di hancurkan. Terima kasih juga sudah saar dan selalu berani dalam mngungkapkan perasaan, walau tau banget pasti itu menyakitkan semua orang yang berada sekelilingmu.
Semoga kau tetap kuat ya….
Belum lagi permasalahan buah hati yang ternyata memutuhkan peekerjaan extra yang tidak akan bisa di gantikan oleh orang lain. Walau sadar diri buah hati, tumbuh kembang serta kebutuhan jasmani dan rohaninya adalah tanggung jawab kita sebagai orangtua. Namun, agaknya hati harus meminta pertolongan pada yang lebih mahir dalam dunia pendidikan. Egoisnya banyak pikiran yang menganggap bahwa diri sendiri mampu.
Dan seiring bertambahnya waktu. Allah meembuka tabir ketidak mampuan diri. Dikarenakan memang tidak ada totalitas dalam menjalanan amanah yang telah Allah beri langsung. Disini pentingnya perndidikan untuk seorang ibu yang tidak akan bisa di dapat jika di dunia sekolah. Semua sudah Allah beri jalan kemampuan sesuai dengan bagiannya masing-masing.
Mendengar “sesuai dengan bagiannya masing-masing” saja itu sudah membuat naik darah. Karena seperti sedang meminum jamu yang super pahit rasanya hingga menggelegar ubun-ubun. Diri ini ingen sekali mengungkapkan pada manusia yang mungkin paham dengan apa yang sedang rasakan. Namun, agaknya orang lain pun akan enggan untuk mendengarkan.
Hai diriku. Terima kasih sudah sekuat ini menasehati diri agar berusaha tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Terima kasih telah menjadi bagian paling waras dalam bersikap, jika tidak di tahan sepertinya raga ini udah hancur lebur karena ingin di hancurkan. Terima kasih juga sudah saar dan selalu berani dalam mngungkapkan perasaan, walau tau banget pasti itu menyakitkan semua orang yang berada sekelilingmu.
Semoga kau tetap kuat ya….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar