Beberapa hari terakhir beritanya membuat sedih.
dari kejadian erupsi semeru dan bunuh dirinya seorang mahasiswi Universitas Brawijaya Malang.
jika erupsi tidak dapat terprediksi dan sangat tiba-tiba. lain hal dengan mahasiswi tersebut.
sakit banget pas tau ternyata dia sudah menahan segala gundahnya sampai melakukan tindakan bunuh diri di dekat makam ayahnya.
terlihat sekali dia merasa sendiri dan tidak mendapat dukungan dari keluarga, walau ada dukungan dari ibunya tapi dia tidak ingin memberikan beban berlebih untuk sang ibu. Lalu meminta dukungan dari paman-pamannya, mereka malah menyalahkan karena telah "mempermalukan nama baik keluarga".
padahal jika ingin memberikan pelukan dan menyediakan telinga saja sudah lebih dari cukup memberikan makna bahwa dia tidak sendirian.
saya yakin sekali yang lebih tau keadaannya bisa jadi hanya ibu dan sahabatnya saja.
ketika saya bertanya "jika ini terjadi pada keponakanmu, apa yang kau lakukan ra?" pada diri sendiri
saya menjawab “kukejar laki-laki itu dan keluarganya. Kusuruh orang itu tanggung jawab, kalau enggak juga begerak bahkan mengelak kulaporkan pada pihak berwenang!”
Lalu tadi pagi ketika tanpa sengaja nonton berita di TV, ada 1 segmen membahas soal kasus Novia Widiasari (mahasiswi yang bunuh diri) ternyata pihak universitas sudah mengeluarkan statement bahwa membenarkan mahasiswi yang bunuh diri itu sedang berkuliah di UB, dan mereka beralasan "akan menyelediki tapi mahasiswi sudah terlanjur bunuh diri lebih dulu"
mamak ini auto "maki-maki" alasan mereka, kejadian yang menimpanya sudah kali ke 2 yang pertama di perkosa oleh kakak kelasnya hingga cuti sampai 3 semester dan sudah melaporkan ke pihak kampus dan tidak di gubris.
Yang kedua kali diperkosa oleh pacarnya yang seorang polisi itu. dia tetap mencari perlindungaan tapi tidak di hiraukan.
dan berita tadi pagi juga menampilkan bapak si pelaku perkosaan yang meminta
maaf kepada seluruh warga Indonesia atas perlakuan anaknya. dan “ saya turut
berduka cita pada keluarga "calon menantu saya ini".
beleketek!! (kata saya) sekarang kau bilang calon mantu pak?
kemana pas kalian meberikan teror pada mahasiswi itu dan ibunya? kalian terror
dengan melemparkan bom yang mematikan listrik di rumah mereka hingga 2 hari
hanya karena wanita itu menolak untuk aborsi?
walau akhirnya ia lakukan aborsi itu, tapi tetap saja dia
menerima stigma tidak baik dari keluarga besarnya juga masyarakat sekitar,
hingga dia mengambil tindakan bunuh diri ini.
miris sekali ketika membaca kenyataan yang di ungkap oleh sahabat Novia soal sakit ati yang di deritanya. Pelajaran apa yang dapat di ambil dari kejadian ini? Didik anak laki-laki dan perempuan dengan pendidikan agama yang baik. Dan tegaslah terhadap anak laki-laki, jelaskan padanya laki-laki itu yang dinilai tanggung jawabnya, jika iya sudah melakukaan kesalahan dan tidak mengakui pun dengan lempar batu sembunyi tangan, jangan pernah membela kesalahannya, berikan dukungan jika ia melakukan kesalahan bukan berarti akan dijauhi justru akan di apresiasi akan kejujurannya.
Begitu juga dengan anak perempuan, tameng mereka adalah kita, keluarganya. Jangan cuek dengan apapun yang menimpa keluarga besar kita, tidak bermaksud untuk “kepo” dengan urusan orang lain karena bagaimanapun keluarga adalah keluarga, terlepas bagaimanapun kita diperlakukan olehnya. Ambil peran lebih dalam melindunginya. Jika bukan keluarga, mau pada siapa lagi ia akan merasa di lindungi?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar