From Zero to Hero, Menikmati Proses Menjadi Penulis Blogger


Menulis adalah aktivitas yang saya senangi sejak duduk di bangku sekolah, dikarenakan saya tipe orang yang sulit sekali mempercayai orang lain, menulis menjadi pilihan paling mutakhir kala itu. Bermula dari menulis diary bahkan sudah terkumpul menjadi beberapa buku dalam waktu 3 tahun dan jika di kalkulasi mungkin bisa menghasilkan Novel hahaha.

Tapi setelahnya, menulis di salahsatu platform sosial media malah menjadi pilihan selanjutnya. Karena kemudahan yang di janjikan. Dan ternyata ketika ditelisik kembali, saya lebih merasa nyaman ketika menuliskannya di buku. Yaps, ditulis secara manual adalah pilihan terbaik. Apakah ini pengaruh usia?

Seiring bertambahnya usia ternyata ada keinginan bakat saya ini harus tersalurkan dengan baik dan siapa tahu hal ini bisa menjadi pekerjaan, bukankah ketika kita mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan hobi, pekerjaan itu akan terasa lebih membahagiakan? Walau semua tulisan saya belum dikatakan sebagai tulisan yang mumpuni dan patut mendapatkan nilai lebih, namun saya percaya nantinya akan menjadi tulisan yang layak untuk dibaca. 



Semua bermula dari cita-cita.

Landasan utama saya ingin selalu menulis adalah ingin meninggalkan warisan yang dapat membanggakan keturunan saya kelak, agar nantinya mereka tidak melupakan saya sebagai ibunya, juga ingin menebarkan manfaat untuk khalayak ramai, semoga dengan tulisan yang saya torehkan bisa menjadi jalan penghubung orang lain dalam melakukan hal kebaikan dan semoga nantinya bisa menjadi amal jariyah di kemudian hari.

bermula dari kecil dan tidak terarah

Belajar agar lebih baik dan terarah.

Karena saya pemula dalam dunia Blogger, membuat saya belajar untuk memahami seluk beluk Per-Blog-an. Mungkin agi kalian sejak poin pertama sudah terlihat saya bukanlah seorang professional, mungkin juga kalian para pembaca tidak menemukan titik menyenangkan dalam tulisan ini.

Tapi, percayalah saya sedang mencoba untuk menikmati proses yang sedang dilewati, baru 2 bulan terakhir saya belajar mendalami dunia Blogger, belum ada hasil dalam bentuk materi. Tapi hasil yang lebih signifikan adalah mental saya yang terasa lebih baik.

Mengapa bisa dikatakan seperti itu? Karena saya termasuk orang yang memiliki “sakit mental” yang akut pada beberapa tahun lalu. Saya menderita overthinking. Semua hal saya pikirkan, walau hal yang dipikirkan tidak terbukti sama sekali, namun, hasil dari overthinking itu sangat tidak baik dalam dunia sosial saya.

40 hari lebih saya mengikuti tantangan untuk menulis apapun yang bisa saya tulis, pokoknya harus menghidupkan kembali Blog yang sudah bertahun-tahun saya buat. Ala bisa karena dipaksa begitu pepatah yang cocok buat saya.

Alhamdulillah mendapatkan efek luar biasa, yang akhirnya saya putuskan untuk focus belajar agar nantinya mudah-mudahan menjadi Blogger Profesional, walau sekarang masihlah tertatih-tatih dalam menajalaninya. 

Menikmati Proses

Sekarang, saya sedang berusaha untuk menikmati proses yang ada. Sangat berjuang, karena banyak yang harus saya tangani. Sebagai seorang Ibu Rumah Tangga yang harus handle sendiri kebutuhan 3 orang anak dan suami dan memastikan tempat tinggal nyaaman. Memperbaiki waktu yang belum teratur. Tapi saya percaya bisa melewati semua ini . Harus lebih berjuang agar bisa menggapai cita-cita. 


seperti halnya Aplikasi Super yang telah memudahkan saya berkiprah dalam membantu perekonomian keluarga. yang memudahkan semua kalangan untuk lebih mandiri walau hanya dari rumah saja. segalanya dibantu oleh aplikasi ini dengan sistem yang baik tanpa harus berkeliling menghabiskan waktu untuk menemukan agen yang lebih baik dalam menawarkan harga, juga dengan harga yang murah bisa di tunggu sampai di rumah, pun dengan harga yang lebih murah daripada di pasaran pada umumnya.



Berita Sedih Beruntun

Beberapa hari terakhir beritanya membuat sedih.

dari kejadian erupsi semeru dan bunuh dirinya seorang mahasiswi Universitas Brawijaya Malang.

jika erupsi tidak dapat terprediksi dan sangat tiba-tiba. lain hal dengan mahasiswi tersebut.

sakit banget pas tau ternyata dia sudah menahan segala gundahnya sampai melakukan tindakan bunuh diri di dekat makam ayahnya.

terlihat sekali dia merasa sendiri dan tidak mendapat dukungan dari keluarga, walau ada dukungan dari ibunya tapi dia tidak ingin memberikan beban berlebih untuk sang ibu. Lalu meminta dukungan dari paman-pamannya, mereka malah menyalahkan karena telah "mempermalukan nama baik keluarga".

padahal jika ingin memberikan pelukan dan menyediakan telinga saja sudah lebih dari cukup memberikan makna bahwa dia tidak sendirian.

saya yakin sekali yang lebih tau keadaannya bisa jadi hanya ibu dan sahabatnya saja.

ketika saya bertanya "jika ini terjadi pada keponakanmu, apa yang kau lakukan ra?" pada diri sendiri

saya menjawab “kukejar laki-laki itu dan keluarganya. Kusuruh orang itu tanggung jawab, kalau enggak juga begerak bahkan mengelak kulaporkan pada pihak berwenang!”

Lalu tadi pagi ketika tanpa sengaja nonton berita di TV, ada 1 segmen membahas soal kasus Novia Widiasari (mahasiswi yang bunuh diri) ternyata pihak universitas sudah mengeluarkan statement bahwa membenarkan mahasiswi yang bunuh diri itu sedang berkuliah di UB, dan mereka beralasan "akan menyelediki tapi mahasiswi sudah terlanjur bunuh diri lebih dulu"

mamak ini auto "maki-maki" alasan mereka, kejadian yang menimpanya sudah kali ke 2 yang pertama di perkosa oleh kakak kelasnya hingga cuti sampai 3 semester dan sudah melaporkan ke pihak kampus dan tidak di gubris.

Yang kedua kali diperkosa oleh pacarnya yang seorang polisi itu. dia tetap mencari perlindungaan tapi tidak di hiraukan.

dan berita tadi pagi juga menampilkan bapak si pelaku perkosaan yang meminta maaf kepada seluruh warga Indonesia atas perlakuan anaknya. dan “ saya turut berduka cita pada keluarga "calon menantu saya ini".

beleketek!! (kata saya) sekarang kau bilang calon mantu pak? kemana pas kalian meberikan teror pada mahasiswi itu dan ibunya? kalian terror dengan melemparkan bom yang mematikan listrik di rumah mereka hingga 2 hari hanya karena wanita itu menolak untuk aborsi?

walau akhirnya ia lakukan aborsi itu, tapi tetap saja dia menerima stigma tidak baik dari keluarga besarnya juga masyarakat sekitar, hingga dia mengambil tindakan bunuh diri ini.

miris sekali ketika membaca kenyataan yang di ungkap oleh sahabat Novia soal sakit ati yang di deritanya. Pelajaran apa yang dapat di ambil dari kejadian ini? Didik anak laki-laki dan perempuan dengan pendidikan agama yang baik. Dan tegaslah terhadap anak laki-laki, jelaskan padanya laki-laki itu yang dinilai tanggung jawabnya, jika iya sudah melakukaan kesalahan dan tidak mengakui pun dengan lempar batu sembunyi tangan, jangan pernah membela kesalahannya, berikan dukungan jika ia melakukan kesalahan bukan berarti akan dijauhi justru akan di apresiasi akan kejujurannya.

 Begitu juga dengan anak perempuan, tameng mereka adalah kita, keluarganya. Jangan cuek dengan apapun yang menimpa keluarga besar kita, tidak bermaksud untuk “kepo” dengan urusan orang lain karena bagaimanapun keluarga adalah keluarga, terlepas bagaimanapun kita diperlakukan olehnya. Ambil peran lebih dalam melindunginya. Jika bukan keluarga, mau pada siapa lagi ia akan merasa di lindungi?.

radhiya





 

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...