![]() |
| gambar: Google |
Imam muslim
menegaskan: “ sungguh semua urursan bernilai kebaikan, tidak terkecuali bagi
mukmin. Jika mendapatkan kebaikaan ia bersyukur, dan ketika mendapatkan
kesusahan ia sabar” (HR.Muslim)
Berhubungan
dengan hadits yang berada di atas, saya jadi ingin menuliskan tentang
perjalanan hidup yang saya lewati di 3 minggu terakhir ini. Sejak tanggal 19 September
harus mengalami “kecelakaan kecil” di sore hari, ketika ingin menjemput sepupu
agar bisa bertemu lebih lama dengan orangtuanya, entah karena saya yang terlalu
bersemangat jadi tidak bisa mengontrol kecepatan sepeda motor yang saya
kendarai, hingga saya harus terperosok di pinggir jalan. Alhamdulillah,
kecelakaan tunggal dan menyisakan luka yang tidak terlalu serius. Walau lecet
di beberapa titik badan saja ditambah sedikit keseleo di pergelangan kiri.
Ya….agak pegel parah sih badan. Karena shock lebih tepatnya.
Menunggu
hingga benar-benarsembuh selama 2 minggu dengan segala paksa bergerak, karena
saya memang tidak betah dengan sakit, ya…lebih tepatnya toleransi terhadap
sakit memang sangat rendah dalam diri saya. walau masih ada rasa sakit
dipergelangan tangan sebelah kiri, namun saya masih paksakan untuk mencuci
piring.
Rasanya
senang sekali, bisa melakukan kegiatan yang cukup rutin saya kerjakan, berhubung
saya sendiri adalah seorang Ibu Rumah Tangga tanpa ART, jadi wajar kan jika
saya melakukan segala hal sendirian? Paling beberapa haal saja saya meminta
uluran tangan suami. Kali itu ketika saya harus mengalami kecelakaan, semua hal
tentang “pekerjaan” rumah saya delegasikan kepada suami.
O iya,
tentang mencuci piring sendiri, sebenarnya tetap saya lakukan jika suami tidak
ada waktu unutk mencuci piring secara tuntas. Namun, yang bisa saya lakukan
pastinya hanya sedikit saja, dan yang akan dipakai saat itu. Walau akhirnya
saya dapat melakukan nyuci piring dengan paripurna, ditambah dengan
menyempatkan diri untuk membersihkan bagian wastafel. Bagaimanapun kan, saya
tidak bisa menuntut banyak sekali kepada suami saya, untuk melakukan kegiatan
domestic sesuai dengan yang saya inginkan.
Dengan rasa
bahagia, saya ungkapkan kepada beliau “alhamdulillah ya…yah, akhirnya Nda bisa
melakukan kegiatan nyuci piring seperti biasanya”.
Baru saja
merasakan kebahagiaan, eh, keesokan harinya saya harus merasakan meriang diseluruh
tubuh, walau sebenarnya, ketika mencuci piring itupun saya sudah merasakan
badan yang sudah terasa tidak fit seperti biasa, tapi tidak terlalu
merasakannya. Lebih tepatnya menepis rasa tidak enak di tubuh saya.
Meriang
tubuh saya itu terasa begitu cepat bereaksi hingga ke seluruh tubuh, dan
sedikit linu di bagian rahang, saya sudah curiga rasa itu sebuah sinyal, bahwa
sinusitis saya sedang kambuh. Berhubung saya adalah penderita sinusitis yang
sangat alergi dengan debu ataupun udara dingin, walau sudah lama sekali tidak
mengalami kambuh karena sejak terakhir di obati semasa masih menginjak bangku SMA pada 14 tahun yang
lalu. Saya memang mengira sinusitis ini tidak kambuh lagi, sebab waktu itu
sudah di obati dengan tuntas.
Namun, rasa
curiga saya terbantahkan, karena sehari setelah itu saya tidak merasakan sakit
lagi di bagian rahang. malah rasa sakit itu lari ke dada. Nah, ini yang semakin
membuat saya bingung, seingat saya, saya baru menyelesaikan pengobatan untuk
meminimalisir ASMA yang sudah saya derita sejak kecil ini. Karena terakhir kambuh
ketika 3 tahun lalu, pada masa hamil anak ketiga dari usia 5 bulan kehamilan
hingga melahirkan. Dan pengobatan dengan obat kimia memang sengaja saya hentikan
karena saya khwatir akan “kecanduan”.
Perasaan
yang saya rasakan kemarin. “paling bisa hilang kalau dibawa tidur dengan
meninggikan bantal” tenyata ASMA yang kambuh kali ini cukup mereesahkan, karena
tidak mempan di tanggulangi hanya dibawa istirahaat saja. Hingga saya sampai
dititik tidak bisa tidur karena nafas saya tiba-tiba bisa sesak sekali dan saya
harus bangun berkali-kali. Bayangin, badan lagi drop parah, sudah diberi obat
untuk meringankan sakit di beberapa titik, tapi, malah titik yang sangat vital
(pernafasan) saya terganggu.
Saat itu
saya sudah di puncak cemas luar biasa dengan apa yang saya rasakan, banyak
sekali yang kekhawatiran. Lebih-lebih ke khawatir, bagaimana jika saya harus di
rawat di RS. Bagaimana dengan anak-anak? Karena kami adalah anak rantau yang
sekarang tidak dekat dengan keluarga, otomatis susah sekali untuk meminta
bantuan kepada orang lain.
Karena di
awali dengan rasa cemas itu, membuat saya menolak untuk memeriksakan diri ke
Dokter, khawatirnya buanyaak sekali gengs, tidak hanya keluarga pastinya.
Karena tidak bisa mennagani sendiri dengan eberapa obat yang biasa saya
konsumsi. Akhirnya, saya dan suami mengambil keputusan untuk ke dokter karena
saya yang sudah “tidak tahan” dengan rasa sesak.
Setelah
mendatangi dokter dan meminum obat yang dianjurkaan oleh Dokter,alhamdulillah
langung merasakan efek dari obat tersebut yang mana saya merasakan lebih ringan
ketika menghirup nafas. Setelah itu, saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa saya
harus merasakan ini, mungkin Allah bermaksud agar saya lebih bisa memperhatikan
kesehatan, dan tidak perlu setres dengan urusan-urusan yang tidak terlalu
penting, berhubung saya adalah orang yang sangat overthinking, jadi sering
memikirkan hal-hal yang kurang penting. Pikirkan saja beberapa hal yang membuat
saya lebih “berjuang” untuk mendapatkannya.
Intinya,
dari ini semua, kita semua harus menjaga kesehatan. Sabar dan ikhlas dalam
menghadapi kurang baiknya episode kehidupan yang telah kita jalani, sebuah
nikmat di syukuri dan sebuah kesusahan kita harus sabar menjalaninya.

Sama mbak, aku pun kalau lagi sakit serasa lalai banget sebelumnya. Baru kerasa nikmatnya sehat setelah Allah kasih ujian
BalasHapus