![]() |
| sumber: Google |
Walau di minggu
ini termasuk minggu yang paling membuat saya tepuk dada dan pusing 7 keliling,
namun saya sangat mengapresiasi diri sendiri yang sudah mau berusaha
menuntaskan segala hambatan yang telah ada.
Yang selalu
nempel di memori saya selama ini adalah, tugas pekanan di ODOP. Cukup membuat overthinking
tapi ternyata membuat saya semakin semangat menjalani dan menyesuaikan diri,
jangan ditanya, ternyata menulis dengan tuntutan setiap hari akan menjadi kebiasaan
yang lambat laun membuat kita menjadi orang yang ingin lebih bertanggung jawab
dengan jalan yang telah ditentukan jauh-jauh hari itu.
Apa sih
tugas pekanan di pekan ke 5 ini? Kami disuruh membuat tulisan hubungan personal
branding, writerpreuneur dan optimasi media social. Berhubung kami semua sedang
di gembleng untuk rajin menulis setiap hari, jadilah sebenarnya semuanya
berhubungan ya. terutama bagi yang berkeinginan, menulis sembari mencari cuan. Walau
semua hal tak melulu soal uang. Tapi, setidaknya disini ada kecocokan kenapa ke
3 hal itu sangatlah berhubungan.
Personal branding
sendiri kurang lebih menjadi sebuah konteks bagaimana kita ingin dikenal oleh
orang lain. Sebuah spesialisasi ddikenal dan mengenalkan diri. Jika orang
mengingat kita itu seperti apa? Misal: Kak Seto, Ibu Elly Risman, Pak Cahyadi
Takariawan, sepertinya kita pasti akan mengenalnya dan langsung aja gitu otak
mengingat “mereka yang ahli membicaraakan permasalahan rumah tangga, hubungan suami
istri dan perkembangan anak”. Begitu maksud dari personal branding, kita ingin
di kenal seperti apa, jadi berbuat seperti aapa yang ingin dikenal oleh orang
lain.
Misalnya juga,
ketika kita ingin dikenal sebagai penulis dengan cara kita menuliskaan sesuatu
hal. Lalu, di proses menjadi kegiataan yang rutin di lakukan, pastilah lambat
laun, orang akan mengenal kita sebagai penulis. Sebenarnya tidak harus dengan
kegiatan menulis sih, seperti Ibu Retno Hening yang awal-awal menggunakan
Instagram sangat rutin sekali mebagikan kegiatannya bersama Kirana, dengan
polah dan ucapan Kirana yang menggemaskaan, belum lagi dengan cara “ibuk”
(panggilan, kebanggaan Kirana dan netijen) mendidik Kirana. Setau saya, itu
semua bermula dari iseng-iseng karena ingin membagikan kabar kepada keluarga
hingga akhirnya bisa menciptakan karya, karena orang lain ingin belajar cara
beliau mendampingi Kirana jadilah tercipta buku “Happy Little Soul”.
Lalu,
Writerpreneur. Kalau kata kak Ms Wijaya writerpreneur adalah istilah yang
merupakan gabungaan dua kata. “writer” dan “entrepreneur”. “writer” itu
penulis, sedangkan “entrepreneur” adalah pebisnis. Jadi, arti writerpreneur
sendiri adalah penulis yang erbisnis dengan menjual karyaanya sendiri yang
berupa tulisan. Walau tidak harus yang bekerja didunia literasi, dia juga
mencakup penerbitan dan perfilman, juga tergolong sebagai writerpreneur.
Sebenarnya tidak
harus menjadi penulis bisa tergolong sebagai writerpreneur masih banyak hal
yang termasuk didalam kategori writerpreneur, ia juga tak hanya sebagai
pencipta buku dari tulisannya, misal: penuliss yang membisniskan karya tulisnya
bisa melalui beberapaa perusahaan yang mau bergabung dengan salahsatu penulis
yang mampu untuk mendeskripsikan prodduk yang ddiciptaakan oleh perusahaan
tersebut dan jika tulisannyaa menarik dan bisa menjadi daya Tarik pembaca
dengan penjelasan-penjelasan yang telah di tuliskan, maka bisa menjadi daya Tarik
pembeli.
Media social
sendiri menjadi wadah seorang writerpreneur yang ingin membangun personal branding
miliknya. Apalagi di era sekarang, yang mana banyak masyarakat yang sudah
menggunakan media social sebagai wadahnya mencari teman di dunia maya. Nah sebagai
penulis, kita bisa menarik pembaca dengan pemaparaan pikiran kita di media social
tersebut.. mau itu facebook, Instagraam, what’sapp, blog atau apapun media yang
lainnya. Kita mengenalkan profesi baru yang sudah kita jalani agar orang lain
mengenal kita lewat karya-karya yang sudah kita buat.

Berbicara tentang personal Branding, hal palaing menantang adlaah merenungkan personal branding apa yang akan kita ambil.
BalasHapusbener banget pak, toss kita
Hapusmelihat tulisan ini agaknya aku bisa tau mbak rara menginginkan apa (sok tau yaa)
BalasHapus