hanya ingin menulis

 hari ini cukup menguras emosi.


bukan karena apa, tapi lagi dan lagi karena ekspektasi terlalu besar atas keadaan hari ini.


dipikiran ingin mengerjakan semuanya sesuai runtutan yang ada di kepala. dari bersih-bersih hingga semua rapi jali.


namun, kenyataannya benar-benar diluar kendali. di tambah dengan kondisi si adek yang sedang kurang sehat plus suami yang banyak mengerjakan ini itu hingga tak bisa untuk diandalkan.


ending dari semua ini, ketika harus melihat si anak kedua diganggu oleh beberapa santri dan menyebabkan da marah dan menangis, saya auto meradang, marah-marah dengan emosi yang cukup mengoyak. 


yang dmarahin tak merasa melakukan kesalahan, padahal saya melihat dengan mata kepala sendiri, apa yang si santri itu lakukan hingga membuat anak saya marah hingga menangis.


well, ketika saya menyalurkan amarah yang disaksikan oleh banyak santri membuat saya malu. malu sebenarnya tapi bercampur dengan lega, akhirnya mereka tau bagaimana saya seerius dengan tindakan yang benar-benar saya tidak sukai.


saya paham, tindakan itu tidaklah baik, dan kedepannya pasti menimbulkan efek yang luar biasa kacaunya. tapi, saya puas dengan sikap penegasan saya.


jika beberapa orang bisa bilang, bisa dialihkan dengan hukuman, tapi, menurut saya ada beberapa anak yang tidak akan jera dengan cara hukuman seperti itu.


saya banyak memperhatikan sikap santri selama ini. 

(mungkin saya telah menceritakan sisi tidak baik tentang santri ya...tapi, saya juga pernah menjadi santri, jadi kurang lebih saya paham bagamana menanggapi "tingkah" mereka. plus saya juga termasuk santri yang badung heuheu)

ada beberapa anak yang memang sangat sepele dengan berbagai hukuman.

ada lagi yang sangat lihai mencari perhatian dengan lawan jenis, saya  tidak menyalahi dengan perkembangan usia mereka. ya...usia anak SMP pada umumnya. tapi banyak juga yang kurang mengontrolnya.

masa anak pesantren begitu? apa beda dengan anak reguler?


yaelah, anak-anak mah dimana-mana ya...sama aja, cuma bedanya di disiplin waktunya saja yang berbeda.


hasil jangan berharap terlalu berlebihan. 


bagaimanapun mereka hanya anak-anak yang memang harus diperhatikan dan diberi pemahaman serta pendampingan selayaknya ya...

bagaimanapun bijaklah kita mengendalikan amarah.

(saya menyayangi mereka sudah seperti anak saya sendiri, mohon do'akan mereka menjadi generasi penerus yang mampu menebarkan nilai bermanfaat untuk khalayak ramai)


(ini hanya bagian sedikit saja)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Naik Level, Tapi Kok Hidup Masih Gitu-Gitu Aja?

  Setiap harus memperbaiki keadaan berarti kita telah menemukan formula baru untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang selama ini seperti...