Tentang teman
By: Rabby Radhiya
Beberapa hari yang lalu, sempat
menonton sebuah film yang berjudul “3 idiot” besutan aamiir khan.
Sebenarnya itu adalah film lama yang
saya tonton lebih dari 3 kali, itupun
ketika beberapa kali setelahnya baru bisa fokus menontonnya dan mampu mengambil
kesimpulan setelahnya.
Dulu tidak bisa fokus karena sibuk
dengan aktifitas lain plus kondisi mata juga tidak mendukung.
Banyak sekali pelajaran yang dapat
diambil. Tak hnya sebagai orangtua, tapi juga ketika memposisikan diri sebagai
teman.
Ketika menjadi orangtua.
1.
Jangan
memaksakan kehendak kita, cita-cita kita kepada anak.
Karena mereka memiliki cita-cita
lain yang tidak bisa kita paksakan. Mereka memang anak-anak kita, namun
merekabuknlah milik kita, mereka hany dititipkan. Selebihnya, kita menjalankn
amanah yang Allah beri dengan cara mendidiknya.
“tapi ada koq, anak-anak yang bisa
mengikuti keinginan orangtuanya”
Benar, memang ada, tapi berapa
persen sih? Dan itu semua terjadi biasanya karena ada pendekatan emosional yang
baik ntar anak dan orangtuanya.
Dan, biasanya pu ketika orangtua
dapat melakukan bonding tsb. Mereka malh lebih memilih “kebahagiaan” si anak.
Anak dengan cita-citanya, dan kita
hanya bagian mendidik dan mendukungnya.
2.
Jadilah
sahabat anak kita dan menjadi sahabat teman-temannya.
Jangan tuntut anak dengan tuntutan
yang macam-macam. Misal: memberi perintah pada mereka untuk memilih teman yang
baik, tanpa memberikan contoh yang akurat. Betapa banyak orangtua yang melkukan
hal ini? Itu dikarenakan anak tidak memenuhi “karakter yang baik” menurut
orangtuanya. Padahal, anak memiliki hak untuk memilih teman yang klop sesuai
dengan keinginannya. Mungkin tidak sesuai dengan keinginan orangtua, namun, ada
yng lebih bijak yang mungkin bisa dilakukan orangtuanya, yaitu, mendekati
mereka secara emosional.
Dan, jika ternyata di teman memiliki
efek negative kepada si anak, alangkah lebih baiknya jika menanyakan secara hati
dan pikiran yang dewasa “kenapa dengan dia bisa nyaman? Apa yang membuat
nyaman, dan apakah ayah bunda dapat menggantikannya” pastinya harus dengan
alasan yang masuk akal menurutnya.
Kenapa? Sebenarnya hanya orangtuanya
yang dapat memahami mereka.
3.
Berusahalah
untuk menjadi orangtua yang mampu mengikuti zaman.
Kita hidup dengan anak-anak kita
sudah lengkap dengan perbedaan zaman, seharusnya, orangtua mampu menguasai itu.
jangan paksakan gaya orangtua kita dulu kepada diri kita, karena, mereka tak
memahami, dan merkea juga mendapatinya dr orangtuanya.
Belajarlah untuk mengolah itu
semua,berempatilah, jika kita dulu tidak suka diperlakukan dengan cara
negative, begitu juga anak-anak kita. Berusahalan untuk memperbaikinya.
Tanggul, 29 januari 2021