Banyak
pertanyaan dalam benak kita Ketika harus berurusan dengan orang yang menurut
kita tidak pantas mendapat julukan baik, apalagi jika beliau belum memberikan
efek untuk diri sendiri, kebanyakan hanya menilai dari apa yang sudah di
rasakan saja, tanpa mencari tahu lebih dalam tentang latar belakang orang
tersebut “belum” melakukan apapun yang membuat kitab isa menilai tanpa harus
merasakan efek berlebih.
sumber: pinterest
Jangan
terbiasa menilai hanya dari informasi tidak seimbang
Tidak
membiasakan diri untuk mudah percaya ketika mendengar selentingan penjelasan
seseorang tentang orang atau kelompok tertentu tanpa adanya interaksi. agaknya
sangat tidak adil jika menilainya tidak seimbang. Karena banyak sebab yang
membuat ia berprilaku menyesuaikan dengan karakter orang tersebut.
Karena
seharusnya kita pun bisa menempatkan diri jika mendapat penilaian yang tidak
sesuai, apakah kita akan mudah menerimanya? Atau merasa di fitnah atas tuduhan
yang tidak jelas. Sepertinya akan lebih bijaksana jika hal kurang mengenakkan
itu di tempatkan kepada diri sendiri terlebih dahulu sebelum menyematkannya
terhadap orang lain.
Instrospeksi
diri adalah kunci
Sebelum
memudah-mudahkan diri dalam memberikan penilaian kepada orang lain sepertinya
instrospeksi diri adalah kewajiban yang harus kita tuntaskan. Banyak sekali
nasehat dari orang yang piawai dalam ilmunya selalu mengatakan agar jaangan
mudah memberikan label kepada siapapun sebelum jelas dalam menerima informasi
tersebut. Apalagi jika tidak dibarengi dengan informasi yang valid, di
khawatirkan akan menimbulkan fitnah nantinya.
Allah
dan Rasulullah sangat keras melarangnya
Bahkan banyak
sekali ayat AlQuran mengisahkan seputar menilai orang lain. Salahsatunya pada
surat Al-Hujurat ayat 13. Allah hanya melihat ketakwaan seseorang. Bukan karena
apa yang menjadi penilaian manusia yang menajdi patokan. Takwa itu merasa bahwa
Allah ada di dekatnya, jadi tidak berani macam-macam adalah kunci, menyadari
bahwa semua hal memiliki balasan. Maka menilai manusia hanya dari lapisan
luarnya saja sangatlah tidak di benarkan.
![]() |
| sumber: pinterest.com |
Harus
adil
Pada salahsatu
video ceramah buya yahya, beliau mengatakan untuk adil dalam menilai orang
lain. Harus seimbang dalam memberikan penilaian, latar belakang apapun yang
kita ketahui, mau itu keluarga, sahabat ataupun orang terdekat adil. Jangan di
lebih-lebihkan jangan pula menafikan. Karena setiap orang memiliki kebaikan dan
keburukan, begitu juga kita sendiri. Bahkan Ali bin abi thalib yang paling
populer “Jangan menjelaskan
tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang mencintaimu tidak butuh itu dan
yang membencimu tidak akan percaya itu” begitu juga dalam memberikan penilaian
terhadap orang lain.
Menilai
dari latar belakang keluarga
Sedang dalam
masa perbincangan saat ini. Banyak sekali orang-orang yang merasa paling mengetahui orang lain apalagi menilai public figure hingga
mengulitinya hanis-habisam, padahalhanyalah masyarakat biasa yang keberadaannya
pun belum tentu dapat di ketahui oleh public figure tersebut, apalagi menilai
dari perspektif pemuka agama dan memiliki perbedaan pandangan dalam banyak hal.
Lalu, menilai dari berbagai macam pandangan yangs eringnya tidak adil.
Anak
yang bermasalah, orangtuanya yang kena getahnya. Padahal bisa jdi bukan hanya
orangtua yang menajdi sumber masalah, tapi karena pergaulan si anak yang
mungkin terlewat dari pengawasan orangtuanya. Banyak sebab yang tidak bisa
menjadi patokan semua kesalahan, tapi semuanya bisa di ambil pelajarannya.
![]() |
| sumber: pinterest.com |
Kesimpulan
Jangan
mudah menilai apapun yang terjadi pada diri orang lain. Di pikir-pikir lagi ke
diri sendiri terlebih dahulu, dan fokus pada diri sendiri saja.
Eleanor
Roosevelt mengatakan
“Great
minds talking about Ideas, average minds talking about events, small minds
talking about people”
Semua
pilihan ada di kamu sendiri.



